ENSIKLOPEDIA
Kererū
| Kererū | |
|---|---|
| Di Pegunungan Waitākere, Selandia Baru | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Columbiformes |
| Famili: | Columbidae |
| Genus: | Hemiphaga |
| Spesies: | H. novaeseelandiae |
| Nama binomial | |
| Hemiphaga novaeseelandiae (Gmelin, 1789) | |
| Sinonim | |
| |
Kererū (Hemiphaga novaeseelandiae), yang juga dikenal sebagai kūkupa (dialek utara bahasa Māori), merpati Selandia Baru, atau merpati kayu, adalah spesies merpati endemik Selandia Baru. Johann Friedrich Gmelin mendeskripsikan burung ini pada tahun 1789 sebagai merpati yang besar dan mencolok dengan panjang tubuh mencapai 50 cm (20 in) dan berat 550–850 g (19–30 oz), serta memiliki dada berwarna putih dan bulu iridesen berwarna hijau kebiruan. Terdapat dua subspesies yang telah diakui; subspesies kedua—merpati Norfolk dari Pulau Norfolk—telah punah pada awal abad ke-20. Pasangan kererū bersifat monogami, berkembang biak selama musim-musim yang berurutan dan tetap bersama saat tidak sedang berkembang biak. Burung ini membangun sarang dari ranting di pepohonan, dengan sangkak berisi satu butir telur.
Ditemukan di berbagai habitat di seluruh penjuru negeri, makanan utama kererū adalah buah-buahan, serta dedaunan, kuncup, dan bunga. Meskipun tersebar luas baik di habitat hutan maupun perkotaan, populasinya telah menurun secara signifikan sejak kolonisasi Eropa dan kedatangan mamalia invasif seperti tikus, cerpelai, dan posum. Meskipun demikian, hasil survei burung berskala nasional menunjukkan adanya pemulihan populasi yang signifikan di daerah pinggiran kota. Hingga tahun 2022, Daftar Merah IUCN mengklasifikasikan spesies ini ke dalam kategori risiko rendah, sementara Departemen Konservasi (DOC) mengklasifikasikan kererū sebagai "tidak terancam" namun bergantung pada konservasi.
Dianggap sebagai taongacode: mi is deprecated (harta karun budaya) bagi suku Māori, secara historis kererū merupakan sumber makanan utama dalam budaya Māori. Namun, akibat penurunan populasinya, perburuan burung ini kini berstatus ilegal. Pemanfaatan kererū secara adat dibatasi hanya pada penggunaan bulu dan tulang yang diperoleh dari burung yang telah mati dan dikumpulkan oleh DOC. Isu ini telah mendapat perhatian besar secara publik dan politik, karena beberapa pihak berpendapat bahwa larangan berburu kererū merugikan tradisi Māori. Pada tahun 2018, kererū dinobatkan sebagai Burung Tahun Ini oleh organisasi Selandia Baru Forest & Bird, dan pada tahun 2019, eksoplanet HD 137388 b diubah namanya menjadi Kererū sebagai bentuk penghormatan.
Taksonomi dan tata nama
Sejarah dan nama binomial
Ornitolog Inggris John Latham menulis tentang kererū dalam karyanya A General Synopsis of Birds pada tahun 1783 tetapi tidak memberinya nama ilmiah.[2] Naturalis Jerman Johann Friedrich Gmelin memberikan deskripsi formal pertamanya pada tahun 1789, menempatkannya dalam genus Columba sebagai C. novaeseelandiae,[3] kemudian Latham menamainya Columba zealandica dalam Index Ornithologicus miliknya pada tahun 1790.[4] Genus Hemiphaga diperkenalkan oleh naturalis Prancis Charles Lucien Bonaparte pada tahun 1854 dengan kererū (Hemiphaga novaeseelandiae) sebagai spesies tipe untuk genus tersebut.[5] Nama ini menggabungkan bahasa Yunani Kuno hēmi yang berarti "setengah-" atau "kecil", dengan akhiran nama genus Carpophaga, "pemakan buah", karena Bonaparte menganggap genus ini berkerabat baik dengan genus tersebut maupun dengan Megaloprepia (yang kini dimasukkan ke dalam Ptilinopus).[6]
Subspesies

Dua subspesies telah diakui: H. n. novaseelandiae, yang ditemukan di seluruh wilayah Selandia Baru, dan merpati Norfolk (H. n. spadicea) dari Pulau Norfolk yang jarang dipelajari serta kini telah punah. Kedua subspesies ini berbeda dalam warna dan bentuk bulunya.[7] Pada tahun 2001, diusulkan bahwa subspesies ketiga—H. n. chathamensis atau merpati Kepulauan Chatham—harus dinaikkan statusnya menjadi spesies secara utuh sebagai H. chathamensis berdasarkan bulunya yang khas, ukurannya yang lebih besar, dan struktur tulangnya yang berbeda.[8] Usulan ini sejak saat itu telah diterima secara luas.[9][10] Analisis DNA mitokondria mengonfirmasi bahwa kererū dan merpati Norfolk berkerabat lebih dekat satu sama lain dibandingkan dengan merpati Chatham, dan persebaran di antara ketiga daratan tersebut kemungkinan besar terjadi selama Kala Pleistosen.[11]
Klasifikasi
Kererū tergabung dalam famili Columbidae, dan subfamili Ptilinopinae, yang dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara, Malaya, Australia, serta Selandia Baru. Anggota subfamili ini sebagian besar memakan buah-buahan, terutama jenis buah berbiji keras.[12] Di dalam subfamili ini, kererū dan merpati Kepulauan Chatham berada dalam satu klade dengan garis keturunan yang menghasilkan merpati jambul (Lopholaimus antarcticus) dari Australia dan merpati gunung (Gymnophaps) dari Nugini, seperti yang ditunjukkan pada kladogram di bawah ini.[13]
| |||||||||||||||||||
Nama umum
"Merpati Selandia Baru" telah ditetapkan sebagai nama umum resmi untuk kererū oleh Persatuan Ornitologis Internasional (IOU).[14] Kata kererū (yang merupakan bentuk tunggal sekaligus jamak) adalah nama Māori yang paling umum,[15] dan berbagai sumber arus utama kini menggunakan nama kererū untuk spesies ini.[16][17][18][19][20][21] Pengejaan kata serapan bahasa Māori dengan makron—yang menunjukkan vokal panjang—kini lazim digunakan dalam bahasa Inggris Selandia Baru apabila memungkinkan secara teknis.[22][23] Burung ini juga dikenal sebagai kūkupa dan kūkū di beberapa wilayah Pulau Utara, khususnya di Northland,[15] dan Latham telah melaporkan nama "Hagarrèroo" pada tahun 1783.[2] Kererū juga sering disebut "merpati kayu" (wood pigeons).[24]
Deskripsi

Kererū adalah burung merpati arboreal berukuran besar dengan berat 550–850 g (19–30 oz),[25] dan panjang mencapai 50 cm (20 in), dengan rentang sayap sekitar 75 cm (30 in).[7] Penampilannya menyerupai burung merpati pada umumnya, di mana ia memiliki kepala yang relatif kecil, paruh lurus berpangkal lunak, dan bulu yang melekat longgar.[12] Kedua jenis kelamin memiliki bulu yang serupa. Kepala, leher, dan dada bagian atas berwarna hijau tua dengan kilau perunggu keemasan, sedangkan tengkuk, punggung bagian atas, dan bulu penutup sekunder berwarna ungu berkilau tembaga, yang memudar menjadi lebih hijau keabu-abuan pada punggung bagian bawah, tunggir, dan sisa permukaan atas sayap. Ekornya berwarna cokelat tua dengan kilau hijau dan tepi yang pucat. Dadanya berwarna putih, dan terpisah jelas dari bagian bulunya yang lebih gelap. Bulu penutup bawah ekor dan bawah sayapnya sebagian besar berwarna abu-abu pucat. Paruhnya berwarna merah dengan ujung oranye, kakinya merah tua, dan matanya berwarna merah dengan cincin lingkar mata berwarna merah muda.[7]Burung remaja memiliki corak warna yang serupa tetapi umumnya lebih pucat dengan warna kusam pada paruh, mata, dan kaki, serta ekor yang lebih pendek.[26] Subspesies Pulau Norfolk yang telah punah memiliki mantel berwarna cokelat kastanye, bagian sayap luar dan tunggir yang lebih abu-abu, ekor berwarna ungu tua, serta bulu penutup bawah sayap dan bawah ekor berwarna putih.[7]
Kererū sesekali mengeluarkan suara dekut yang lembut, dan sayapnya menghasilkan suara "wus" yang khas saat terbang.[27] Cara terbang burung ini juga khas; mereka sering kali terbang naik secara perlahan sebelum melakukan tukikan parabola yang tajam.[26]
Lingkungan dan persebaran

Kererū biasanya ditemukan mulai dari Northland hingga Pulau Stewart dan pulau-pulau lepas pantai,[28] dan secara historis burung ini sangat berlimpah di seluruh penjuru negeri.[17] Kurangnya keragaman genetik menunjukkan bahwa spesies ini mundur ke refugia hutan selama periode Glasiasi Kuarter dan menyebar dengan cepat ke seluruh negeri kembali ketika iklim menjadi lebih hangat.[11] Tulang belulang kererū telah ditemukan di Pulau Raoul di Kermadec, yang memastikan bahwa spesies ini pernah menghuni pulau tersebut, meskipun telah punah secara lokal akibat perburuan dan pemangsaan oleh kucing pada akhir tahun 1800-an.[29] Mereka dapat ditemukan di berbagai habitat termasuk di hutan dataran rendah asli, semak belukar, pedesaan, serta taman dan kebun kota.[30]
Kererū hidup di habitat yang ketinggiannya berkisar dari daerah pesisir hingga pegunungan.[31] Namun, jumlah mereka menurun secara signifikan setelah penjajahan Eropa.[17] Hal ini terutama disebabkan oleh berkurangnya habitat, masuknya predator pendatang, dan perburuan.[17] Saat ini, ada atau tidaknya kererū di suatu lokasi tertentu di Selandia Baru bergantung pada berbagai faktor seperti tutupan hutan, jenis hutan, dan kepadatan predator.[17] Meskipun bersifat sedenter (menetap), kererū dapat menempuh jarak yang cukup jauh di dalam wilayah jelajahnya; sebagian besar kerja lapangan menunjukkan bahwa mereka berpindah hingga sejauh 25 km (16 mi), umumnya untuk mencari makan.[7] Sebuah penelitian pada tahun 2011 di Southland mengungkapkan bahwa tiga dari empat kererū yang ditandai di sekitar Invercargill menyeberangi Selat Foveaux menuju Pulau Stewart, dan menempuh perjalanan hingga 100 km (62 mi).[32]
Makanan

Kererū pada dasarnya adalah hewan pemakan buah, lebih menyukai buah dari pohon asli, namun juga memakan daun, bunga, dan kuncup.[28][33] Kererū memangsa banyak spesies dengan ciri khas tropis, termasuk famili Lauraceae dan Arecaceae,[34][35][36] yang berlimpah di hutan utara Selandia Baru yang pada dasarnya beriklim subtropis. Mereka juga memakan spesies podokarpus seperti miro (Pectinopitys ferruginea) dan kahikatea (Dacrycarpus dacrydioides).[34][35][36][37] Buah lain yang dicari oleh kererū meliputi buah tawa (Beilschmiedia tawa), taraire (Beilschmiedia tarairi), pūriri (Vitex lucens), pigeonwood (Hedycarya arborea), serta tītoki (Alectryon excelsus), nīkau (Rhopalostylis sapida), karaka (Corynocarpus laevigatus), Coprosma, dan spesies pendatang seperti elder (Sambucus nigra), privet (spesies Ligustrum), dan prem.[38] Karena pola makannya yang beragam dan persebarannya yang luas, kererū memainkan peran ekologis yang penting, dan sangat vital bagi kesehatan hutan berdaun lebar-podokarpus.[39][40]
Meskipun buah merupakan bagian utama dari pola makannya, kererū juga memakan daun dan kuncup dari berbagai spesies asli maupun eksotis, terutama dedaunan yang kaya akan nitrogen selama masa berkembang biak.[19][41] Makanan burung ini berubah secara musiman seiring dengan ketersediaan buah, dan daun dapat menjadi sebagian besar dari menu makanannya pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.[42] Daun yang disukainya meliputi kōwhai, lusern pohon, willow, elm, dan poplar.[28]
Setelah makan, kererū sering berjemur sambil mencerna makanannya. Perilaku ini dapat menyebabkan buah berfermentasi di dalam tembolok burung tersebut, khususnya selama cuaca musim panas yang hangat, dan menghasilkan alkohol yang menyebabkan burung itu menjadi mabuk.[24] Kererū menunjukkan perilaku merpati pada umumnya, termasuk minum dengan cara mengisap (tidak seperti banyak burung lain yang minum dengan mengangkat kepala mereka dengan memanfaatkan bantuan gravitasi).[43] Kererū juga memberi makan susu tembolok kepada anakannya yang baru menetas.[12]
Perkembangbiakan dan rentang hidup
Kererū bersifat monogami; pasangan diyakini berkembang biak bersama selama beberapa musim, dan tetap bersama saat tidak sedang berbiak.[7] Masa berbiak umumnya bergantung pada ketersediaan buah matang, yang bervariasi secara musiman, tahunan, dan berdasarkan lokasi. Di wilayah Northland yang lebih hangat, kererū mampu membesarkan anakannya sepanjang tahun, asalkan tersedia cukup buah.[40] Mereka tidak berbiak saat meranggas, yang cenderung terjadi antara bulan Maret dan Mei.[40] Lebih jauh ke selatan, lebih sedikit spesies pohon subtropis yang tumbuh, dan di wilayah ini perkembangbiakan biasanya terjadi antara bulan Oktober (awal musim semi) dan April (akhir musim panas/awal musim gugur), lagi-lagi bergantung pada ketersediaan buah. Selama musim kawin, kererū jantan melakukan penerbangan peragaan, di mana ia terbang menanjak tajam dan tampak terhenti di puncak penerbangan, sebelum menukik turun dengan curam. Peragaan tarian kawin tersebut meliputi pejantan yang berputar di tempat bertengger di dekat betina, menyembunyikan ujung paruhnya ke dalam sayap, dan menjulurkan lehernya sambil menundukkan kepala. Ia kemudian memantul-mantul naik turun dengan paruh bersandar di dada, dan melanjutkan untuk kawin dengan betina jika sang betina reseptif,[44] yang ditunjukkannya dengan cara merendahkan tubuhnya agar pejantan dapat menaikinya.[7]
Kererū bersarang di tajuk pohon, semak belukar, perdu, atau tanaman pagar, pada ketinggian antara 18 hingga 91 m (59 hingga 299 ft) di atas permukaan tanah. Kedua burung membangun landasan datar tanpa alas dari ranting—sebagian besar dari kānuka (Kunzea ericoides)—yang lebarnya dapat mencapai 30 cm (12 in). Satu siklus bertelur terdiri dari sebutir telur putih lonjong, yang panjangnya 49 mm dan lebar 34 mm.[7]Telur ini dierami selama 28–29 hari, di mana jantan dan betina bergiliran mengerami dalam pergantian waktu sekitar enam jam.[27] Kerja lapangan di Hutan Motatau di Northland menemukan bahwa kedua induk kemudian merawat anakannya di sarang selama 9–13 hari, diikuti oleh betina saja. Setelah 13–27 hari, induk memberi makan anakannya tanpa mengeraminya secara terus-menerus. Pertambahan berat badan terjadi dengan cepat pada 8 hari pertama, sementara bulu-bulu mulai muncul antara hari ke-5 dan ke-8.[45]Burung muda tersebut mulai belajar terbang setelah 30–45 hari.[46] Sepasang kererū dapat mulai membangun sarang kedua sebelum anak mereka di sarang pertama belajar terbang.[7] Pada musim saat buah melimpah, kererū dapat berhasil bersarang hingga empat kali.[40] Kererū memiliki rentang hidup 15 hingga 25 tahun; pada tahun 2020, seekor burung berusia 29 tahun yang dijuluki "Pidge" muncul di Rotorua setelah tidak terlihat selama 24 tahun.[47]
Konservasi

Jumlah kererū sangat banyak hingga tahun 1960-an, namun sejak saat itu mereka berada di bawah ancaman spesies mamalia pendatang, perburuan, degradasi habitat, dan rendahnya keberhasilan reproduksi.[46][48][49][50] Hewan pendatang dari Australia, yaitu posum ekor sikat biasa (Trichosurus vulpecula) dan spesies tikus pendatang—terutama tikus hitam (Rattus rattus), tetapi juga tikus polinesia (R. exulans) dan tikus cokelat (R. norvegicus)—telah berperan dalam mengurangi populasi kererū. Baik posum maupun tikus secara signifikan mengurangi jumlah buah yang tersedia bagi kererū, dan mereka juga memangsa telur serta anak burung kererū; kucing dan cerpelai ekor-pendek memangsa burung dewasa maupun burung muda.[40][51] Di Pulau Norfolk, subspesies lokal terakhir kali terlihat pada tahun 1900; perburuan langsung oleh manusia mungkin menjadi penyebab utama kepunahan.[52]
Undang-Undang Perlindungan Burung Liar tahun 1864 menetapkan musim berburu untuk spesies ini dari bulan April hingga Juli.[53] Dengan menurunnya populasi kererū di seluruh negeri, perburuan menjadi semakin dibatasi oleh pemerintah.[54] Hal ini memuncak pada Undang-Undang Perlindungan Hewan dan Hewan Buruan tahun 1921–1922, yang menetapkan kererū sebagai spesies yang dilindungi sepenuhnya, meskipun penegakan hukum terhadap perburuannya tidak konsisten.[12][55] Undang-undang ini dicabut dan digantikan oleh Undang-Undang Margasatwa 1953, yang menegaskan kembali status kererū sebagai spesies yang dilindungi dan melarang segala bentuk penangkapan burung tersebut. Penuntutan hukum telah dilakukan untuk menegakkan undang-undang ini.[55] Suku Māori telah memprotes setiap perubahan undang-undang tersebut, dengan mengeklaim hak tradisional untuk berburu merpati ini.[56]
Kererū juga rentan terhadap cedera atau kematian akibat tabrakan dengan kendaraan. Sejumlah besar kematian kererū telah dilaporkan di sepanjang Jalan Raya Negara Bagian 2 di Wellington, sebagai akibat dari burung yang terbang rendah tertabrak oleh kendaraan saat mereka terbang melintasi jalan tol untuk memakan bunga lusern pohon.[57] Kererū juga dapat terluka atau mati setelah menabrak jendela gedung.[58] Pada tahun 2021, Urban Wildlife Trust memulai kampanye untuk membantu melindungi kererū dan burung lainnya agar tidak menabrak area berkaca besar yang mengelilingi bangunan terminal atas Kereta Gantung Wellington, yang berdekatan dengan Kebun Raya Wellington. Solusi yang diusulkan adalah pemasangan pola titik-titik yang dipasang permanen pada kaca seluas sekitar 150 m2 (1.600 sq ft).[59]
Hingga tahun 2022, kererū telah diklasifikasikan dalam Daftar Merah IUCN sebagai "Risiko Rendah", dan daftar tersebut melaporkan adanya tren populasi yang meningkat.[1] Departemen Konservasi (DOC) mengklasifikasikan kererū di bawah sistem klasifikasi ancaman Selandia Baru sebagai "tidak terancam" dengan populasi yang meningkat tetapi memandang spesies ini sebagai hewan yang bergantung pada konservasi.[60] Akan tetapi, ada pendapat yang menyatakan bahwa beberapa faktor penyebab penurunan populasi pada masa lalu masih tetap ada dan dapat terus merusak populasi.[17]
Penghitungan Besar Kererū
Survei populasi kererū dilakukan selama 10 hari berturut-turut setiap tahun dari tahun 2013 hingga 2021, menggunakan pengamatan dari anggota masyarakat. Penghitungan Besar Kererū diklaim sebagai proyek sains warga terbesar di Selandia Baru. Proyek ini dipimpin oleh organisasi konservasi Kererū Discovery dan Urban Wildlife Trust, bekerja sama dengan dewan kota di Wellington, Dunedin, dan Nelson, serta Victoria University of Wellington.[61][62]
Temuan dari penghitungan tahunan tersebut, bersama dengan hasil dari proyek sains warga terpisah—Survei Burung Taman Selandia Baru tahunan—menunjukkan bahwa telah terjadi pemulihan populasi kererū di daerah pinggiran kota, dengan peningkatan penampakan sebesar 79% dari tahun 2010 hingga 2020.[63] Penghitungan Besar Kererū yang terakhir diadakan pada tahun 2021, dengan lebih banyak penampakan yang tercatat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terdapat 24.562 ekor kererū yang dihitung dalam periode 10 hari dari tanggal 17–26 September, dengan 28% di antaranya berasal dari Auckland.[64]
Hubungan dengan manusia

Dalam budaya Māori
Secara tradisional dimanfaatkan baik untuk daging maupun bulunya, kererū dianggap sebagai taonga (harta karun) bagi suku Māori; oleh karena itu, bagi berbagai iwi (suku) seperti Ngāi Tūhoe, kererū membentuk bagian penting dari identitas budaya mereka.[65] Kererū merupakan makanan pilihan yang dikaitkan dengan perayaan Puanga karena burung-burung tersebut menjadi gemuk akibat memakan buah beri yang matang pada masa ini.[66] Mereka juga cenderung lebih mudah ditangkap pada masa-masa ini dalam setahun karena keracunan (mabuk) akibat buah beri yang terfermentasi.[66] Bulu kererū terus dipertahankan untuk pembuatan kākahu (jubah halus), sementara bulu ekornya digunakan untuk menghiasi tahā huahua (wadah penyimpanan makanan).[48][65][67]
Penjeratan adalah metode yang paling umum untuk menangkap kererū; lebih jarang lagi, burung ini ditombak.[48][68] Salah satu jenis jerat menggunakan waka waituhi, sebuah perangkap di mana jerat dipasang pada sisi palungan air yang digantung di pohon.[68] Saat kererū mendarat untuk minum dari palungan tersebut, mereka akan terperangkap oleh jerat. Terkadang, kererū jinak digunakan sebagai pemikat untuk menarik kererū lainnya.[69] Setelah tertangkap, kererū biasanya diawetkan di dalam lemaknya sendiri di dalam tahā huahua (wadah penyimpanan makanan).[48][67] Mereka sangat berlimpah sehingga ornitolog Selandia Baru Walter Buller melaporkan setidaknya 8.000 ekor burung ditangkap dan disiapkan dengan cara ini dari hutan miro di dekat Danau Taupō selama bulan Juli dan Agustus 1882.[70]
Dalam sebuah legenda Māori, pahlawan dan penipu Māui mengambil wujud kererū ketika ia turun ke dunia bawah untuk mencari orang tuanya. Menurut legenda ini, alasan mengapa kererū memiliki bulu berwarna hijau-biru berkilau dan putih adalah karena ketika Māui berubah menjadi kererū, ia membawa rok/celemek dan sabuk milik ibunya, Tāranga.[48] Celemek tersebut, Te Taro o Tāranga, diwakili oleh bulu dada yang berwarna putih; sementara sabuknya, Te Tātua a Tāranga, ditandai oleh bulu hijau-biru di leher kererū.[71]
Di situs arkeologi
Sisa-sisa kererū telah ditemukan baik di situs pedalaman maupun pesisir di seluruh Selandia Baru.[72] Identifikasi spesimen tulang di situs-situs arkeologi mengalami kesulitan karena kondisinya yang terpecah-pecah selama persiapan untuk dijadikan makanan,[73] atau karena pengayakan berjaring halus tidak dilakukan selama penggalian untuk memperoleh sampel tulang.[74] Analisis genetik terhadap tulang belulang dari situs-situs paleontologi dan arkeologi, untuk menentukan keberagaman fauna dan dampak manusia terhadap mereka, berhasil mengidentifikasi tulang kererū di tujuh situs arkeologi.[73][75][76] Situs-situs ini memberikan wawasan tentang interaksi antara manusia dan kererū, termasuk efek perburuan oleh suku Māori terhadap populasi kererū pada masa lampau.[73][76] Selain ditemukan di pulau-pulau utama Selandia Baru, tulang kererū juga ditemukan dari situs-situs yang digali di Teluk Harataonga di Pulau Great Barrier.[74] Di Pulau Selatan, penggalian pada tahun 2018 di cagar seni cadas Raincliff di Canterbury Selatan, mengungkap keberadaan kererū bersama dengan tulang tikus, moa yang telah punah, dan puyuh Selandia Baru.[77] Tulang kererū, bersama dengan tulang burung hutan lainnya seperti kākā, kākāpō, dan parkit mahkota-merah, juga ditemukan di situs ceruk batu di Pulau Lee, Danau Te Anau di Southland.[78]
Pemanenan

Sejak tahun 1990-an, isu mengenai apakah pemanenan adat kererū harus diperbolehkan kembali telah mendapat perhatian publik dan politik yang signifikan.[18] Pada tahun 1994, Otoritas Konservasi Selandia Baru menerbitkan makalah diskusi tentang izin pemanenan berbagai spesies yang dilindungi di bawah Undang-Undang Margasatwa 1953, termasuk kererū.[79] Ada argumen bahwa pelarangan pemanenan adat atas taonga seperti kererū sebagian telah mendegradasi atau mempercepat hilangnya mātauranga (pengetahuan tradisional) di kalangan suku Māori.[65] Selain itu, sebagian orang berpendapat bahwa karena Perjanjian Waitangi menjamin kepemilikan tangata whenua atas taonga seperti kererū, maka perjanjian tersebut juga menjamin hak mereka untuk memanen taonga tersebut.[80] Saat ini, penggunaan adat kererū dibatasi hanya pada pemanfaatan bulu dan tulang yang diperoleh dari burung mati yang dikumpulkan oleh pihak DOC.[81]
Pengakuan
Kererū ditampilkan pada sisi sebaliknya dari uang kertas dua puluh dolar Selandia Baru seri 3 (1967–1981) dan seri 4 (1981–1991).[82] Pada tahun 2018, kererū memenangkan kompetisi tahunan Burung Tahun Ini yang diselenggarakan oleh organisasi Forest & Bird Selandia Baru.[83][84] Pada tahun 2019, eksoplanet yang awalnya bernama HD 137388 b diganti namanya untuk menghormati kererū.[85][86]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 BirdLife International (2022). "Hemiphaga novaeseelandiae". 2022 e.T22727557A209064496. Diakses tanggal 23 Juli 2022.
- 1 2 Latham, John (1783). General Synopsis of Birds. Vol. 2. London, England: Benj. White. hlm. 640. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 September 2021. Diakses tanggal 21 September 2021.
- ↑ Gmelin, Johann Friedrich (1789). Systema naturae per regna tria naturae: secundum classes, ordines, genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymis, locis (dalam bahasa Latin). Vol. 1. Leipzig, Germany: Impensis Georg Emanuel Beer. hlm. 773. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 September 2021. Diakses tanggal 21 September 2021.
- ↑ Latham, John (1790). Index ornithologicus. Vol. 2. London, England: Leigh & Sotheby. hlm. 603. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 September 2021. Diakses tanggal 21 September 2021.
- ↑ Bonaparte, Charles Lucien (1854). "Coup d'oeil sur les pigeons (deuxième partie)". Comptes Rendus Hebdomadaires des Séances de l'Académie des Sciences (dalam bahasa French). 39: 1072–1078 [1076–1077]. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 October 2021. Diakses tanggal 15 October 2021. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Gray, Jeannie; Fraser, Ian (2013). Australian Bird Names: A Complete Guide. Collingwood, Australia: CSIRO Publishing. hlm. 23. ISBN 978-0-643-10470-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 February 2022. Diakses tanggal 23 October 2021.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Higgins, P. J.; Davies, S. J. J. F., ed. (1996). Handbook of Australian, New Zealand and Antarctic Birds: Volume 3: Snipe to Pigeons (PDF). Melbourne, Victoria: Oxford University Press. hlm. 1016–1025. ISBN 978-0-19-553070-4. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 29 October 2021. Diakses tanggal 16 October 2021.
- ↑ Millener, P. R.; Powlesland, R. G. (2001). "The Chatham Islands pigeon (Parea) deserves full species status; Hemiphaga chathamensis (Rothschild 1891); Aves: Columbidae". Journal of the Royal Society of New Zealand (dalam bahasa Inggris). 31 (2): 365–383. Bibcode:2001JRSNZ..31..365M. doi:10.1080/03014223.2001.9517659. ISSN 0303-6758.
- ↑ "Updates & Corrections – Clements Checklist". Cornell Lab of Ornithology. Cornell University. December 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 May 2021. Diakses tanggal 23 January 2020.
- ↑ "Species Updates – Version 1.5". World Bird List. International Ornithologists' Union. 16 January 2008. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 May 2021. Diakses tanggal 23 January 2020.
- 1 2 Goldberg, Julia; Trewick, Steven A.; Powlesland, Ralph G. (2011). "Population structure and biogeography of Hemiphaga pigeons (Aves: Columbidae) on islands in the New Zealand region". Journal of Biogeography. 38 (2): 285–298. Bibcode:2011JBiog..38..285G. doi:10.1111/j.1365-2699.2010.02414.x. S2CID 55640412.
- 1 2 3 4 Falla, Robert A.; Sibson, Richard B.; Turbott, Evan Graham (1979). The New Guide to the Birds of New Zealand and Outlying Islands. Auckland, New Zealand: Collins. ISBN 978-0-00-216928-8. OCLC 6061643.
- ↑ Gibb, Gillian C.; Penny, David (2010). "Two aspects along the continuum of pigeon evolution: A South-Pacific radiation and the relationship of pigeons within Neoaves". Molecular Phylogenetics and Evolution. 56 (2): 698–706. Bibcode:2010MolPE..56..698G. doi:10.1016/j.ympev.2010.04.016. PMID 20399870.
- ↑ Gill, Frank; Donsker, David, ed. (2021). "Pigeons". World Bird List Version 11.2. International Ornithologists' Union. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 October 2021. Diakses tanggal 14 September 2021.
- 1 2 "New Zealand pigeon / kererū / kūkū / kūkupa" (dalam bahasa New Zealand English). Department of Conservation, Government of New Zealand. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 July 2021. Diakses tanggal 3 July 2021.
- ↑ Ward, Janelle (2019). Rehabilitation guide for Kererū. Wellington, New Zealand: Department of Conservation. ISBN 978-0-473-50912-5. OCLC 1195888312.
- 1 2 3 4 5 6 Carpenter, Joanna K.; Walker, Susan; Monks, Adrian; Innes, John; Binny, Rachelle N.; Schlesselmann, Ann-Kathrin V. (2021). "Factors limiting kererū (Hemiphaga novaeseelandia) populations across New Zealand" (PDF). New Zealand Journal of Ecology (dalam bahasa Inggris). 45 (2): 15. ISSN 0110-6465. Wikidata Q107407131. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 Juni 2021.
- 1 2 Weaver, S. (1997). "The Call of the Kererū: The Question of Customary Use". The Contemporary Pacific. 9 (2): 383–398. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 February 2022. Diakses tanggal 3 July 2021.
- 1 2 Emeny, Myfanwy T.; Powlesland, Ralph G.; Henderson, Ian M.; Fordham, Robin A. (2009). "Feeding ecology of kererū (Hemiphaga novaeseelandiae) in podocarp–hardwood forest, Whirinaki Forest Park, New Zealand". New Zealand Journal of Ecology. 33 (2): 114–124. JSTOR 24060614.
- ↑ "Help us save the kererū". World Wide Fund for Nature (New Zealand). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2021. Diakses tanggal 28 September 2021.
- ↑ "Public asked to help with Great Kererū Count". Stuff (dalam bahasa Inggris). 17 September 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2021. Diakses tanggal 28 September 2021.
- ↑ Crewdson, Patrick (10 September 2017). "Why Stuff is introducing macrons for te reo Māori words". Stuff (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 August 2021. Diakses tanggal 17 August 2021.
- ↑ Nicholls, Jenny (23 April 2021). "These grumpy old pūkeko need to get off the grass". Stuff (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 August 2021. Diakses tanggal 17 August 2021.
- 1 2 Mills, Laura; Bayer, Kurt (22 February 2013). "Drunk kereru fall from trees". New Zealand Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 December 2020. Diakses tanggal 3 July 2021.
- ↑ Clout, M. N. (1990). "The kereru and its forests". Birds International. 2 (4): 10–19.
- 1 2 Robertson, Hugh A.; Heather, Barrie D. (2017). The Hand Guide to the Birds of New Zealand. Derek J. Onley (Edisi 3rd). Auckland, New Zealand: Penguin Random House New Zealand. hlm. 146. ISBN 978-0-14-357093-6. OCLC 917304045.
- 1 2 Moon, Geoff (1988). New Zealand Birds in Focus. Auckland, New Zealand: Weldon New Zealand. hlm. 71–72. ISBN 978-0-86866-120-9.
- 1 2 3 Powlesland, Ralph (2017). "New Zealand pigeon". New Zealand Birds Online. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 June 2021. Diakses tanggal 24 January 2020.
- ↑ Worthy, T. H.; Brassey, R. (2000). "New Zealand pigeon (Hemiphaga novaeseelandiae) on Raoul Island, Kermadec Group" (PDF). Notornis. 47 (1): 36–38. doi:10.63172/383560hgaaii. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 February 2019.
- ↑ "Kererū begin winter wandering". Christchurch City Council. 16 May 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 August 2018. Diakses tanggal 3 August 2018.
- ↑ Clout, M. N.; Gaze, P. D.; Hay, J. R.; Karl, B. J. (1986). "Habitat use and spring movements of New Zealand pigeons at Lake Rotoroa, Nelson Lakes National Park" (PDF). Notornis. 33: 37–44. doi:10.63172/088502edcntr. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 18 February 2021.
- ↑ Powlesland, Ralph G.; Moran, Less R.; Wotton, Debra M. (2011). "Satellite tracking of Kereru (Hemiphaga novaeseelandiae) in Southland, New Zealand: impacts, movements and home range". New Zealand Journal of Ecology. 35 (3): 229–235. JSTOR 24060733.
- ↑ Campbell, Kirsten L.; Schotborgh, H. Maaike; Wilson, Kerry-Jayne; Ogilvie, Shaun C. (2008). "Diet of kereru (Hemiphaga novaeseelandiae) in a rural-urban landscape, Banks Peninsula, New Zealand" (PDF). Notornis. 55 (4): 173–183. doi:10.63172/241081pfetuc. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 September 2021. Diakses tanggal 28 September 2021.
- 1 2 Clout, M. N.; Hay, J. R. (1989). "The importance of birds as browsers, pollinators and seed dispersers in New Zealand forests" (PDF). New Zealand Journal of Ecology. 12(s): 27–33. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 March 2021.
- 1 2 Clout, M. N.; Karl, B. J.; Gaze, P. D. (1991). "Seasonal movements of New Zealand pigeons from a lowland forest reserve" (PDF). Notornis. 38: 37–47. doi:10.63172/583687kxpuye. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 February 2019.
- 1 2 McEwen, W. Mary (1978). "The food of the New Zealand pigeon (Hemiphaga novaeseelandiae)" (PDF). New Zealand Journal of Ecology. 1: 99–108. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 7 March 2021.
- ↑ Clout, M. N.; Tilley, J. A. V. (January 1992). "Germination of miro ( Prumnopitys ferruginea ) seeds after consumption by New Zealand pigeons ( Hemiphaga novaeseelandiae)". New Zealand Journal of Botany (dalam bahasa Inggris). 30 (1): 25–28. Bibcode:1992NZJB...30...25C. doi:10.1080/0028825X.1992.10412882. ISSN 0028-825X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 May 2021. Diakses tanggal 3 July 2021.
- ↑ Heather, Barrie D.; Robertson, Hugh A. (2005). The Field Guide to the Birds of New Zealand (PDF). Auckland, New Zealand: Penguin Books. hlm. 348–350. ISBN 978-0-14-302040-0. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 August 2021. Diakses tanggal 18 October 2021.
- ↑ Carpenter, J.; Kelly, D.; Clout, M.; Karl, B.; Ladley, J. (2017). "Trends in the detections of a large frugivore (Hemiphaga novaeseelandiae) and fleshy-fruited seed dispersal over three decades". New Zealand Journal of Ecology. 41 (1). New Zealand Ecological Society: 41–46. doi:10.20417/nzjecol.41.17. JSTOR 26198781.
- 1 2 3 4 5 Mander, Christine; Hay, Rod; Powlesland, Ralph (1998). "Monitoring and management of kereru (Hemiphaga novaeseelandiae)" (PDF). Department of Conservation Technical Series. 15: 1–40. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 3 August 2018.
- ↑ "Counting kererū helps answer questions about unique NZ bird". Waikato Herald. 17 September 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 3 October 2021. Diakses tanggal 4 October 2021.
- ↑ O'Donnell, Colin F. J.; Dilks, Peter J. (1994). "Foods and foraging of forest birds in temperate rainforest, South Westland, New Zealand" (PDF). New Zealand Journal of Ecology. 18 (2): 87–107. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 September 2021. Diakses tanggal 3 July 2021.
- ↑ Zweers, G. A. (1982). "Drinking of the pigeon (Columba livia L.)". Behaviour. 80 (3/4): 274–317. doi:10.1163/156853982X00391. JSTOR 4534190.
- ↑ Hadden, Don (March 1993). "NZ Pigeon – courtship to laying". OSNZ News. 66. Ornithological Society of New Zealand: 1–2.
- ↑ Thorsen, Michael James; Nugent, Graham; Innes, John; Prime, Kevin (2004). "Parental care and growth rates of New Zealand pigeon (Hemiphaga novaeseelandiae) nestlings". Notornis. 51: 136–140. doi:10.63172/766495vlpkyj.
- 1 2 Clout, M. N.; Denyer, K.; James, R. E.; Mcfadden, I. G. (1995). "Breeding success of New Zealand pigeons (Hemiphaga novaeseelandiae) in relation to control of introduced mammals" (PDF). New Zealand Journal of Ecology. 19 (2): 209–212. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 March 2021. Diakses tanggal 3 July 2021.
- ↑ Graham-McLay, Charlotte (28 September 2020). "Rehoming pigeon: kererū returns to hatchery 24 years after flying the coop". Guardian Online. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 October 2021. Diakses tanggal 17 October 2021.
- 1 2 3 4 5 Best, Elsdon (1977) [1942]. Forest lore of the Maori. Wellington, New Zealand: E.C. Keating. hlm. 229. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 June 2020. Diakses tanggal 12 June 2020.
- ↑ Clout, M. N.; Karl, B. J.; Pierce, R. J.; Robertson, H. A. (1995). "Breeding and survival of New Zealand Pigeons Hemiphaga novaeseelandiae". Ibis. 137 (2): 264–271. Bibcode:1995Ibis..137..264C. doi:10.1111/j.1474-919X.1995.tb03248.x.
- ↑ Clout, Michael N.; Saunders, Alan J. (1995). "Conservation and ecological restoration in New Zealand". Pacific Conservation Biology (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 91. Bibcode:1995PacSB...2...91N. doi:10.1071/PC950091.
- ↑ James, R. E.; Clout, M. N. (1996). "Nesting success of the New Zealand pigeons (Hemiphaga novaeseelandiae) in response to a rat (Rattus rattus) poisoning programme at Wenderholm Regional Park". New Zealand Journal of Ecology. 20 (1): 45–51. JSTOR 24053733.
- ↑ Stephen T. Garnett & Gabriel M. Crowley (2000). "New Zealand Pigeon (Norfolk Island)" (PDF). The Action Plan for Australian Birds 2000. Environment Australia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 21 May 2011. Diakses tanggal 8 December 2008.
- ↑ "28 Victoriae 1864 No 11 The Wild Birds' Protection Act 1864 (28 Victoriae 1864 No 11)". New Zealand Acts As Enacted. NZLII. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2019. Diakses tanggal 11 October 2021.
- ↑ Gibbs, M. (2003). "Indigenous rights to natural resources in Australia and New Zealand: Kereru, dugong and pounamu". Australasian Journal of Environmental Management. 10 (3): 138–151. Bibcode:2003AuJEM..10..138G. doi:10.1080/14486563.2003.10648585. S2CID 153431463.
- 1 2 Miskelly, C. M. (2014). "Legal protection of New Zealand's indigenous terrestrial fauna – an historical review" (PDF). Tuhinga. 25: 25–101. doi:10.3897/tuhinga.25.e34213. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 19 February 2021. Diakses tanggal 12 June 2020.
- ↑ Feldman, James W. (2001). "3:Enforcement, 1922–60". Treaty Rights and Pigeon Poaching: Alienation of Maori Access to Kereru, 1864–1960 (PDF). Wellington, New Zealand: Waitangi Tribunal. ISBN 978-0-908810-55-0. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 21 June 2007.
- ↑ Heron, Mei (12 May 2018). "The injuries are horrific – Kereru dying in big numbers on Wellington highway". TVNZ. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 August 2021. Diakses tanggal 17 August 2021.
- ↑ Harwood, Brenda (21 April 2019). "Young kereru hitting the skies – and windows". Otago Daily Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 June 2021. Diakses tanggal 27 June 2021.
- ↑ Green, Kate (2 June 2021). "Innovative decals proposed as solution to native birds crashing into Wellington's cable car terminal". Stuff. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 June 2021. Diakses tanggal 27 June 2021.
- ↑ Robertson, H.A.; Baird, K.; Dowding, J.E.; Elliott, G.P.; Hitchmough, R.A.; Miskelly, C.M.; McArthur, N.; O'Donnell, C.F.J.; Sagar, P.M.; Scofield, R.P.; Taylor, G.A. (2017). Conservation status of New Zealand birds, 2016 (PDF). Wellington, New Zealand: Department of Conservation, Government of New Zealand. ISBN 978-1-988514-23-9. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 26 October 2021. Diakses tanggal 23 October 2021.
- ↑ "The Great Kererū Count". Science Learning Hub – Pokapū Akoranga Pūtaiao. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 June 2021. Diakses tanggal 27 June 2021.
- ↑ "The Great Kererū Count". Urban Wildlife Trust. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 June 2021. Diakses tanggal 27 June 2021.
- ↑ "Why this hefty bird is making a backyard comeback". The New Zealand Herald. 17 June 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 June 2021. Diakses tanggal 27 June 2021.
- ↑ Green, Kate (6 October 2021). "More kererū than ever recorded as final national count wraps up". Stuff. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 October 2021. Diakses tanggal 7 October 2021.
- 1 2 3 Lyver, P. O'B.; Taputu, T. M.; Kutia, S. T.; Tahi, B. (2008). "Tūhoe Tuawhenua mātauranga of kererū (Hemiphaga novaseelandiae novaseelandiae) in Te Urewera" (PDF). New Zealand Journal of Ecology. 32 (1): 7–17. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 12 June 2020. Diakses tanggal 12 June 2020.
- 1 2 Wilson, Che (2021). "The difference between Puanga and Matariki. Ko Puanga, ko Matariki me ō rāua hononga". Museum of New Zealand. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 August 2021. Diakses tanggal 22 August 2021.
- 1 2 Keane, Basil (24 September 2007). "Te tāhere manu – bird catching". Te Ara. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 February 2021. Diakses tanggal 12 June 2020.
- 1 2 "Snaring birds". Waipā District Council. 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 February 2021. Diakses tanggal 14 October 2021.
- ↑ Downes, T. W. (1928). "Bird-snaring, etc., in the Whanganui river district". The Journal of the Polynesian Society. 37 (145): 1–29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 February 2021.
- ↑ Buller, Walter (1888). A History of the Birds of New Zealand. Vol. 1 (Edisi 2nd). London, England: Buller. hlm. 234. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 October 2021. Diakses tanggal 23 October 2021.
- ↑ Timoti, P.; Lyver, P. O'B.; Matamua, R.; Jones, C. J.; Tahi, B. L. (2017). "A representation of a Tuawhenua worldview guides environmental conservation". Ecology and Society. 22 (4) art20. Bibcode:2017EcSoc..22Tr.20T. doi:10.5751/ES-09768-220420. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 March 2021. Diakses tanggal 12 June 2020.
- ↑ Challis, Aidan J. (1995). Ka Pakihi Whakatekateka o Waitaha: the archaeology of Canterbury in Maori times (PDF) (dalam bahasa English). Wellington, New Zealand: Department of Conservation, Government of New Zealand. ISBN 978-0-478-01717-5. OCLC 154289926. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 February 2022. Diakses tanggal 28 August 2021. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- 1 2 3 Seersholm, Frederik V.; Cole, Theresa L.; Grealy, Alicia; Rawlence, Nicolas J.; Greig, Karen; Knapp, Michael; Stat, Michael; Hansen, Anders J.; Easton, Luke J.; Shepherd, Lara; Tennyson, Alan J. D. (2018). "Subsistence practices, past biodiversity, and anthropogenic impacts revealed by New Zealand-wide ancient DNA survey". Proceedings of the National Academy of Sciences. 115 (30): 7771–7776. Bibcode:2018PNAS..115.7771S. doi:10.1073/pnas.1803573115. ISSN 0027-8424. PMC 6065006. PMID 29987016.
- 1 2 Allen, Melinda S.; Holdaway, Richard N. (2010). "Archaeological avifauna of Harataonga, Great Barrier Island, New Zealand: implications for avian palaeontology, Maori prehistory, and archaeofaunal recovery techniques". Journal of the Royal Society of New Zealand. 40 (1): 11–25. Bibcode:2010JRSNZ..40...11A. doi:10.1080/03036751003641719.
- ↑ Seersholm, Frederik V.; Cole, Theresa L.; Grealy, Alicia; Rawlence, Nicolas J.; Greig, Karen; Knapp, Michael; Stat, Michael; Hansen, Anders J.; Easton, Luke J.; Shepherd, Lara; Tennyson, Alan J. D.; Scofield, R. Paul; Walter, Richard; Bunce, Michael (2018). "Supplementary information for subsistence practices, past biodiversity, and anthropogenic impacts revealed by New Zealand-wide ancient DNA survey" (PDF). Proceedings of the National Academy of Sciences. 115 (30): 7771–7776. Bibcode:2018PNAS..115.7771S. doi:10.1073/pnas.1803573115. PMC 6065006. PMID 29987016. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 27 July 2021. Diakses tanggal 28 August 2021.
- 1 2 Daly, Michael (10 July 2018). "With new DNA technique, fossil fragments reveal human impact on Aotearoa". Stuff (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 July 2021. Diakses tanggal 27 July 2021.
- ↑ "Department of Conservation blog: Archaeological site exposed near Geraldine". Department of Conservation, Government of New Zealand. 24 January 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 July 2021. Diakses tanggal 27 July 2021.
- ↑ Anderson, Atholl; McGovern-Wilson, Richard, ed. (1991). Beech forest hunters: the archaeology of Maori rockshelter sites on Lee Island, Lake Te Anau, in Southern New Zealand. New Zealand Archaeological Association monograph 18. Auckland, New Zealand : New Zealand Archaeological Association. hlm. 59–65. ISBN 0-9597915-1-5. OCLC 24578263.
- ↑ New Zealand Conservation Authority (1997). Maori customary use of native birds, plants & other traditional materials (Interim report and discussion paper) (PDF) (Report). Wellington, New Zealand: New Zealand Conservation Authority. ISBN 0-9583301-6-6. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 February 2018. Diakses tanggal 12 June 2020.
- ↑ Gillman, L. (16 August 2016). "Len Gillman: Sustainable harvest solution to kereru conflict". New Zealand Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 June 2020. Diakses tanggal 12 June 2020.
- ↑ Fuller, P. (4 September 2018). "Dead native birds become tomorrow's taonga". Dominion Post. Stuff. Diarsipkan dari asli tanggal 12 June 2020. Diakses tanggal 12 June 2020.
- ↑ Pollock, Kerryn (20 June 2012). "Third series of banknotes: $20". Te Ara – Encyclopedia of New Zealand. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 October 2021. Diakses tanggal 17 October 2021.
- ↑ Rosenberg, Matthew (15 October 2018). "Bird of the Year win follows nationwide census of kererū". Stuff. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 June 2021. Diakses tanggal 27 June 2021.
- ↑ Ainge Roy, Eleanor (14 October 2018). "New Zealand bird of the year: 'drunk, gluttonous' kererū pigeon wins". The Guardian. Diakses tanggal 4 July 2021.
- ↑ Jones, Katy (16 June 2019). "New Zealand gets to name an exoplanet and its host star". Stuff (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 December 2019. Diakses tanggal 3 July 2021.
- ↑ "Distant celestial objects now 'Kererū' and 'Karaka'". University of Auckland. 18 December 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 August 2020. Diakses tanggal 14 October 2021.
Pranala luar
- The Kererū Discovery Project, a programme for New Zealanders to help arrest the decline of the species through awareness and action in their own gardens
- The Great Kererū Count Diarsipkan 27 June 2021 di Wayback Machine., an annual citizen science project counting kererū throughout New Zealand
- Project Kererū, a voluntary community based conservation project
- Photo of pigeon trough (snare) in Te Ara
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |