Kedatuan Suppa (Bugis:ᨕᨀᨑᨘᨂᨛ ᨑᨗ ᨔᨘᨄcode: bug is deprecated , translit.Akkarungeng ri Suppa) adalah salah satu Akkarungeng (terj. har.'kerajaan') Bugis yang disegani di wilayah Ajatappareng dan didaerah Sulawesi Selatan. Setelah masa kemerdekaan Indonesia kerajaan ini menjadi suatu kecamatan yang berada di kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Kedatuan Suppa sendiri dapat di lihat asal-usulnya dalam naskah Lontaraq, I Lagaligo yang disebut dengan Toloqna Iyarega Minruranna Suppa.[1] Kerajaan Suppa secara astronomi berada pada titik koordinat 03˚55’26.40” LS, 119˚33’59.11” BT.
Sejarah berdirinya
Seperti epik kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang pembentukan melalui konsep To Manurung atau dikenal dengan kepemimpinan To Manurung
[2] sebagai mana pula di tertuang dalam Sure' Galigo atau I Lagaligo, Kedatuan Suppa pun pembentukannya diawali dengan pengangkatan Manurung’nge sebagai Datu Suppa pertama oleh orang-orang yang menyaksikan dan mendengar berita kedatangannya di Tanah Suppa diperkirakan pada abad ke-14.
Kerajaan Suppa merupakan salah satu kerajaan anggota konfederasi Ajatappareng yang letaknya di sebelah barat Danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Buaya. Sekitar abad ke-15, konfederasi ini terbangun yang dicetuskan oleh La Makkarawi Datu Suppa (tapi hal ini masih menjadi kajian lebih lanjut) yang hasilnya bergabungnya Lima Kerajaan yaitu kerajaan Sidenreng, Suppa, Sawitto, Rappang, dan Alitta.
[3]
Salah satu motif bergabungnya kerajaan-kerajaan ini karena dikenal sebagai penghasil beras terbesar di Sulawesi Selatan dan menjadi rebutan bagi kerajaan-kerajaan besar yakni Luwu, Bone, dan Gowa.
Pasca persekutuan terbentuk, tampak eksistensi Ajatappareng makin maju, hal itu ditandai hadirnya beberapa pedagang dari luar antara lain Antonio de Paiva pada tahun 1544, seorang pedagang asal Portugis. Kemajuan perdagangan hasil-hasil pertanian telah mengundang kerajaan yang lebih besar untuk melakukan penguasaan.
Jejak kerajaan Suppa
Jejak Kerajaan Suppa sendiri masih dapat di telusuri dengan menemukan rumah Soraja (kini berada di pare-pare), benda-benda pusaka seperti keris, tombak, perlengkapan raja lainnya,[4] dan rumah Datu di dekat Pantai Mara'bombang di kecamatan Suppa. Selain itu dapat dijumpa makam raja-raja kerajaan Suppa di Kota Pare-Pare.[5]
Kepemimpinan Kerajaan Suppa
Dalam Lontara Suppa diceritakan, manurung’nge mompo ri lura malowangnge (muncul didanau yg besar; maksudnya ialah laut. pen.) bersama dengan sarung lumut dan benda-benda arajang (kebesarannya) yang serba emas, seperti periuk emas, sendok nasi emas, periuk sayur emas, dan peralatan dapur lain-lainnya yang terbuat dari emas.[6]
Berikut daftar Manurungnge ri Suppa (Datu Supa) yang dihimpun dari berbagai sumber:[7]
No.
Tahun
Nama
Peristiwa
-
ca1370
Terbentuknya kerajaan Suppa
1
We Tipulinge Tompoe
Kawin dengan La Bangenge Manurung di Bacukiki
2
Lateddung Loppo
Juga Addatuang Sawitto
3
1490–1544
La Putebulu
Menikah dengan We Jiwa Datu Bulu Cendrana dan We Tamppatana Daeng Mabello Datui Mario Ri Wawo Soppeng, Antonio de Payva dan bangsa Portugis datang pada tahun 1544, La Putebulu dan keluarganya dibabtis memeluk agama Katolik
↑"Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-12-10. Diakses tanggal 2017-05-27.
↑Mattulada, Andi (1998). Sejarah Masyarakat dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Hasanuddin University Press. ISBN979-530-020-2.
↑Poelinggomang, dkk. 2004 (dalam Muhaeminah & Makmur) Sejarah Sulawesi Selatan jilid I Cetakan Pertama. Makassar: Kerjasama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Balai Penelitian Daerah (Balitbangda) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Sulawesi Selatan.