Karl Franz Gebhardt (23 November 1897 – 2 Juni 1948) adalah seorang dokter Jerman dan penjahat perang. Gebhardt merupakan koordinator utama dari serangkaian kekejaman medis yang dilakukan terhadap para tahanan kamp konsentrasi di Ravensbrück dan Auschwitz. Eksperimen-eksperimen ini merupakan upaya untuk mempertahankan pendekatannya dalam penanganan bedah terhadap luka trauma yang terkontaminasi parah, guna melawan inovasi baru berupa pengobatan antibiotik untuk luka-luka yang didapat di medan perang.[1]
Karier Nazi Gebhardt dimulai ketika ia bergabung dengan Partai Nazi (NSDAP) pada 1 Mei 1933. Pada tahun 1935, ia pindah ke Berlin, di mana ia diangkat sebagai profesor madya. Pada tahun tersebut, Gebhardt bergabung dengan Schutzstaffel (SS) dan juga diangkat sebagai Pengawas Medis Sanatorium Hohenlychen di Uckermark,[1] yang ia ubah dari sebuah sanatorium untuk pasien tuberkulosis menjadi sebuah klinik ortopedi. Di Sanatorium Hohenlychen, Gebhardt mendirikan klinik kedokteran olahraga pertama di Jerman dan mengembangkan program olahraga bagi orang yang diamputasi serta penyandang disabilitas lainnya. Gebhardt juga ditunjuk untuk mengajar di Deutsche Hochschule für Leibesübungen (Sekolah Tinggi Pendidikan Jasmani Jerman) pada tahun 1935, di mana ia menjadi profesor kedokteran olahraga pertama di Berlin.[5]
Pada tahun 1936, ia menunjukkan prestasi dalam jabatannya sebagai kepala Departemen Medis Akademie für Sport und Leibeserziehung (Akademi Latihan Jasmani dan Pendidikan Fisik) sebagai dokter senior Olimpiade Musim Panas 1936. Sanatorium Hohenlychen menjadi sanatorium olahraga bagi Jerman Nazi dan berfungsi sebagai rumah sakit pusat bagi para atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Panas 1936. Pada tahun 1937, ia memegang kursi profesor bedah ortopedi di Universitas Berlin. Pada tahun 1938, Gebhardt diangkat sebagai dokter pribadi pemimpin SSHeinrich Himmler.[5]
Gebhardt menjabat sebagai Kepala Dokter Bedah Staf Reich selama Perang Dunia II, dan di bawah arahannya, Sanatorium Hohenlychen menjadi rumah sakit militer untuk Waffen-SS.[5]
Pada tanggal 27 Mei 1942, Himmler memerintahkan Gebhardt untuk dikirim ke Praha guna merawat Reinhard Heydrich yang terluka oleh sebuah granat antitank dalam Operasi Anthropoid pada hari itu.[6] Heydrich menjabat sebagai SS-Obergruppenführer dan General der Polizei, serta pelaksana tugas ReichsprotektorProtektorat Bohemia dan Moravia. Ketika Heydrich mengalami demam setelah operasi untuk luka-lukanya yang parah, Theodor Morell, dokter pribadi Adolf Hitler, menyarankan kepada Gebhardt agar ia mengobati Heydrich dengan sulfonamida (sejenis antibiotik awal). Gebhardt menolak saran Morell karena memperkirakan Heydrich akan pulih tanpa terapi antibiotik. Heydrich meninggal karena sepsis pada tanggal 4 Juni 1942, delapan hari setelah serangan tersebut.[7] Penolakan Gebhardt untuk meresepkan sulfonamida turut andil dalam kematian Heydrich dan memiliki banyak implikasi buruk bagi para tahanan kamp konsentrasi yang kelak ia jadikan subjek eksperimen medis.[8][9]
Pada awal tahun 1944, Gebhardt merawat Albert Speer yang mengalami kelelahan dan lutut bengkak. Ia hampir menewaskan Speer sebelum posisinya digantikan oleh dokter lain, Dr. Friedrich Koch, yang mengintervensi demi keselamatan Speer.[10] Gebhardt akhirnya naik pangkat menjadi Gruppenführer di Allgemeine SS dan Generalleutnant di Waffen-SS.[butuh rujukan]
Pada tanggal 22 April 1945, sehari sebelum Tentara Merah memasuki pinggiran kota Berlin, Joseph Goebbels membawa istri dan anak-anaknya untuk tinggal di dalam Vorbunker. Adolf Hitler dan beberapa personel setianya berada di Führerbunker yang bersebelahan untuk memimpin pertahanan terakhir Berlin.[11] Gebhardt, dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Palang Merah Jerman, mendekati Goebbels untuk membawa anak-anak tersebut keluar dari kota bersamanya, tetapi tawarannya ditolak oleh Goebbels.[12]
Eksperimen medis di kamp konsentrasi
Selama perang, Gebhardt melakukan eksperimen medis dan bedah terhadap para tahanan di kamp konsentrasi di Ravensbrück (yang terletak dekat dengan Sanatorium Hohenlychen) dan Auschwitz. Di Ravensbrück, ia awalnya menghadapi penolakan dari komandan kamp Fritz Suhren, yang mengkhawatirkan masalah hukum di masa depan mengingat status sebagian besar penghuni kamp adalah tahanan politik, tetapi Himmler mendukung Gebhardt, dan Suhren terpaksa bekerja sama.[13]
Untuk membebaskan Gebhardt dari tanggung jawab atas kegagalannya meresepkan sulfonamida bagi Heydrich, Himmler menyarankan kepada Gebhardt agar ia melakukan eksperimen guna membuktikan bahwa sulfonamida tidak berguna dalam pengobatan gangren dan sepsis. Guna membenarkan keputusannya untuk tidak memberikan obat sulfa dalam merawat luka-luka Heydrich, ia melakukan serangkaian eksperimen terhadap para tahanan kamp konsentrasi Ravensbrück, dengan mematahkan kaki mereka dan menginfeksinya dengan berbagai organisme demi membuktikan ketidakgunaan obat tersebut dalam mengobati gangren gas. Ia juga mencoba mentransplantasikan anggota tubuh dari para korban kamp ke tentara Jerman yang terluka di Front Timur. Eksperimen di Ravensbrück direkayasa agar menguntungkan Gebhardt; para wanita dalam kelompok eksperimen yang diobati dengan sulfonamida menerima sedikit atau bahkan tidak ada perawatan sama sekali, sementara mereka yang berada dalam kelompok kontrol tanpa pengobatan menerima perawatan yang lebih baik. Tidak mengherankan jika mereka yang berada di kelompok kontrol memiliki kemungkinan lebih besar untuk bertahan hidup dari eksperimen tersebut.[8][9]
Dua asisten Gebhardt juga diadili dan dinyatakan bersalah di Nürnberg. Fritz Fischer bekerja di rumah sakit kamp konsentrasi Ravensbrück sebagai asisten bedah Gebhardt dan berpartisipasi dalam eksperimen bedah yang dilakukan terhadap para tahanan.[15] Ia awalnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, tetapi hukumannya dikurangi menjadi 15tahun pada tahun 1951 dan ia dibebaskan pada Maret 1954.[butuh rujukan] Fischer kemudian mendapatkan kembali izin praktiknya dan melanjutkan kariernya di perusahaan kimia Boehringer Ingelheim, tempat ia tetap bekerja hingga masa pensiunnya.[16] Ia meninggal dunia pada tahun 2003 dalam usia 90 atau 91 tahun.[butuh rujukan]
Herta Oberheuser adalah asisten Gebhardt lainnya di kamp konsentrasi Ravensbrück. Ia merupakan satu-satunya terdakwa wanita dalam Peradilan Dokter, di mana ia dijatuhi hukuman 20tahun penjara. Ia dibebaskan pada April 1952 dan menjadi dokter keluarga di Stocksee, Jerman. Ia kehilangan jabatannya pada tahun 1956 setelah seorang penyintas Ravensbrück mengenalinya, dan izin praktik medisnya dicabut pada tahun 1958.[17][butuh sumber yang lebih baik] Ia meninggal dunia pada tanggal 24 Januari 1978 dalam usia 66 tahun.[18]
Referensi
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Karl Gebhardt.
↑Le Tissier, Tony (1999). Race for the Reichstag: The 1945 Battle for Berlin, Routledge, hlm. 62
↑Heberer P., Matthäus J. (2008). Atrocities on Trial: Historical Perspectives on the Politics of Prosecuting War Crimes, University of Nebraska Press, hlm. 136