Ini merupakan album kedua dari kelompok Kantata yang dirilis sekitar tahun 1997, dengan mengangkat sub tema Samsara yang bermakna 'Kelahiran Kembali'. Judul tersebut tak lain karena mereka telah kurang lebih tujuh tahun berpisah, kemudian ada keinginan untuk kembali bersama menggarap lagu maupun lirik, pada momen ini mereka serasa dilahirkan kembali, sehingga mereka sepakat untuk menamakan album reuni ini dengan nama tersebut. Mereka berkumpul, mengasingkan diri demi totalitas dalam menggarap materi lagu dan aransemen secara bersama sama di sebuah villa mewah nan asri milik Setiawan Djody. Karena digarap bersama sama sehingga jika kita simak di album ini akan langsung terasa aura ramai, bukan hanya suara Iwan Fals saja yang dominan sebagai vokalis seperti di album Kantata Takwa, semua ikut bernyanyi bersama, bersahut sahutan dan berbagi porsi untuk vokal. Sangat terasa album kolaborasinya disini, Iwan Fals sendiri hanya bernyanyi secara penuh di dua lagu saja yang juga diciptakan olehnya sendiri yaitu Lagu Buat Penyaksi dan Songsonglah. Sementara untuk lagu unggulan seperti Panji Panji Demokrasi dan Pangeran Brengsek dipercayakan kepada yang menciptakan lagu yaitu Sawung Jabo untuk menyanyikannya, dua nomor lagu yang paling ekspresif di album ini.[4]
Rilis & Tanggapan
"Lagu-lagu dalam Kantata Samsara memiliki nuansa yang lebih kontemplatif dan liris dibandingkan dengan album pertama. Lagu seperti “Anak Zaman” dan “Lagu Buat Penyaksi” memperlihatkan refleksi mendalam terhadap kondisi sosial, sementara “Nyanyian Preman” dan “Asmaragama” menggunakan bahasa simbolis yang lebih puitis. Pada titik ini, Kantata Takwa semakin memantapkan diri sebagai entitas yang tidak hanya memproduksi musik, tetapi juga pemikiran." - Netralnews [5]
"Momen Reformasi 1998 membawa pengaruh besar di seluruh lini kehidupan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali di lingkup industri rekaman. Sebagai bagian dari media massa, produk rekaman seperti lagu tentu sangat terpengaruh dengan kondisi sosial politik Indonesia kala itu. Ada beberapa nama “langganan” seperti Iwan Fals yang tentu tidak ketinggalan merekam momen-momen kejatuhan Soeharto. Di tahun tersebut, Iwan bersama Setiawan Djody, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, dan W.S Rendra “menghidupkan lagi” proyek supergrup Kantata Takwa lewat Kantata Samsara. Mungkin karena semangat zamannya sudah berubah, album tadi tidak sefenomenal pendahulunya. Lebih ke proyek temu kangen semata." - Pophariini [6]