Album ini dirilis berjarak sekitar dua tahun dari album Kantata Samsara, formulanya kurang lebih masih sama dengan album terdahulu, hanya saja pada album ini materi tentang kritik sosial dan politik porsinya lebih banyak. Lirik lagu di dalam album ini beberapa di antaranya ada yang sedikit nyeleneh, unik dan terkesan seenaknya sendiri seperti dalam lagu Partai Bonek, Walah Walah dan Tumbal, asik saja rasanya menyimak album ini. Dalam beberapa lagu kita bisa melihat potret aktual masa itu, masa di mana keran kebebasan baru saja terbuka bebas setelah mengalami bertahun lamanya dalam kungkungan tirani.[1]
Isi
Lirik lagu yang nyentrik unik dan terkesan seenaknya seperti ini memang cocok di balut dengan musik rock, pesan yang di sampaikan akan lebih mengena. Bisa di katakan nuansa musiknya sedikit berbeda dengan album Kantata Samsara atau Kantata Takwa yang lebih elegan, di sini para personilnya lebih bebas berekspresi sembari mengeluarkan skill yang dimiliki, tetapi tetap pas dengan tema besar yang diusung yaitu semangat kebebasan era Reformasi. Admin sangat menikmati cabikan bass skill tinggi Donny Fattah dalam album ini, pada beberapa lagu di album ini juga masih menggunakan orkestrasi grande diantaranya pada track Kantata Revolvere dan Kantata Bella Vita.[2]
Absennya Iwan Fals Pada Album Ini
Kekurangannya album ini hanya satu saja, Iwan Fals sebagai salah satu ikon Kantata tidak ikut dalam rekaman album ini, tidak di ketahui apa alasan pastinya, banyak berita yang beredar namun semuanya tidak bisa dijamin kebenarannya. Frontman atau vokalis di album ini berpindah kepada Sawung Jabo dan Setiawan Djody, di banyak lagu mereka bergantian bernyanyi/ berkolaborasi, sesekali di isi oleh Jockie S. atau Doddy Katamsi. Aning Katamsi dan Nicky Astria juga didapuk dalam album ini sebagai guest star, mereka bernyanyi masing masing satu nomor lagu secara kolaborasi bersama personil Kantata lainnya.[3]