Kalender Julius atau Penanggalan Julian adalah penanggalan surya dengan 365 hari dalam setahun ditambah satu hari kabisat setiap empat tahun sekali (tanpa pengecualian). Kalender ini masih digunakan sebagai kalender keagamaan di beberapa bagian Gereja Ortodoks Timur dan di beberapa bagian Gereja Ortodoks Oriental sebagaimana juga dalam kalender Berber.[1] Untuk perhitungan cepat, antara tahun 1901 dan 2099, setiap satu hari dalam kalender Gregorius sama dengan satu hari dalam kalender Julius ditambah tiga belas hari (misalnya, 1 Januari Julius jatuh pada 14 Januari Gregorius).
Kalender Julius diusulkan pada tahun 46 SM oleh (dan mengambil namanya dari) Yulius Kaesar, sebagai reformasi kalender Romawi sebelumnya, yang sebagian besar merupakan penanggalan lunisolar.[2] Kalender ini mulai berlaku pada 1 Januari 45 SM, melalui dekritnya. Kalender Julius menjadi penanggalan yang dominan di Kekaisaran Romawi dan kemudian di sebagian besar Dunia Barat selama lebih dari 1.600 tahun, hingga tahun 1582 ketika Paus Gregorius XIII mengumumkan kalender yang direvisi. Penduduk Romawi Kuno biasanya menetapkan tahun berdasarkan nama-nama konsul yang berkuasa. Sistem penomoran tahun Anno Domini baru diciptakan pada tahun 525, dan menjadi tersebar luas di Eropa pada abad kedelapan.
Kalender Julius memiliki dua jenis tahun: tahun biasa dengan 365 hari dan tahun kabisat dengan 366 hari. Keduanya mengikuti siklus sederhana tiga tahun biasa dan satu tahun kabisat, sehingga rata-rata tahunnya adalah 364,25 hari. Jumlah ini lebih banyak daripada nilai tahun surya sebenarnya, sekitar 365,2422 hari (nilai saat ini, yang bervariasi), yang berarti kalender Julius bertambah satu hari setiap 128 tahun. Dengan kata lain, kalender Julius bertambah 3,1 hari setiap empat ratus tahun.
Reformasi kalender Gregorius memodifikasi aturan Julius dengan menghilangkan hari kabisat sesekali, untuk mengurangi panjang rata-rata tahun kalender dari 365,25 hari menjadi 365,2425 hari. Dengan demikian, kalender Gregorian hanya bertambah 0,1 hari selama empat ratus tahun yang secara dramatis mengurangi penyimpangan kalender Julian terhadap tahun surya. Sebagian besar negara Katolik langsung mengadopsi kalender baru tersebut. Berbagai negara Protestanmelakukannya secara perlahan selama kurang lebih dua abad berikutnya. Sebagian besar negara Ortodoks mempertahankan kalender Julius untuk keperluan keagamaan, tetapi mulai mengadopsi kalender Gregorian sebagai kalender sipil pada awal abad kedua puluh.
Dalam kalender Romawi sebelumnya, tahun biasa terdiri atas 12 bulan dengan 355 hari. Sebagai tambahan, satu bulan kabisat 27 hari, Mensis Intercalaris, beberapa kali disisipkan di antara Februari dan Maret. Bulan kabisat ini dibentuk dengan menyisipkan 22 hari setelah 23 atau 24 hari pertama Februari; lima hari terakhir Februari, yang menghitung mundur hari-hari memasuki bulan Maret, menjadi lima hari terakhir Intercalaris. Efeknya adalah menambah 22 atau 23 hari dalam tahun tersebut, membentuk satu tahun kabisat yang memiliki 377 atau 378 hari.[5]
Menurut penulis Censorinus dan Macrobius, siklus kabisat yang ideal terdiri atas tahun biasa dengan 355 hari bergantian dengan tahun kabisat, dengan jumlah hari bergantian 377 dan 378 hari. Dengan sistem ini, secara merata tahun Romawi akan memiliki 366¼ hari setiap empat tahun, yang menghasilkan penyimpangan rata-rata satu hari per tahun terkait dengan titik balik matahari atau ekuinoks. Macrobius menjelaskan perbaikan lebih lanjut, yaitu dalam satu periode 8 tahun dalam satu siklus 24 tahunan, hanya ada tiga tahun kabisat dengan setiap tahun kabisat memiliki 377 hari (sehingga ada 11 tahun kabisat setiap 24 tahun). Perbaikan ini menjadikan rata-rata lamanya satu tahun adalah 365,25 hari untuk jangka waktu 24 tahun.
Dalam praktiknya, kabisat tidak terjadi secara sistematis berdasarkan sistem ideal tersebut, tetapi ditentukan oleh Pontifex. Sejauh yang ditunjukkan oleh bukti sejarah, penentuan tersebut jauh kurang teratur daripada skema ideal yang disarankan. Tahun kabisat biasanya terjadi setiap tahun kedua atau ketiga, tetapi beberapa kali dihilangkan selama jangka waktu yang lebih lama, dan kadang-kadang tahun kabisat terjadi dua tahun berturut-turut.
Jika dikelola dengan benar, sistem ini memungkinkan tahun Romawi untuk tetap sejajar dengan tahun tropis. Namun, karena Pontifex seringnya adalah politisi dan periode jabatan hakim/pejabat pengadilan Romawi terkait dengan tahun kalender, wewenang ini rentan disalahgunakan: seorang Pontifex dapat memperpanjang lamanya satu tahun ketika ia atau salah satu sekutu politiknya sedang menjabat, atau menolak memperpanjang lamanya ketika lawannya yang berkuasa.[6]
Jika terlalu banyak kabisat dihilangkan, seperti yang terjadi setelah Perang Punisia Kedua dan selama Perang Saudara, kalender akan menympang jauh dari kalender tropis. Lebih jauh, karena kabisat sering ditentukan terlambat, rata-rata warga Romawi tidak mengetahui tanggal, khususnya jika ia jauh dari kota. Untuk alasan ini, tahun-tahun terakhir sebelum kalender Julius kemudian dikenal sebagai "era bingung". Masalah menjadi mendesak selama periode Julius Caesar menjadi Pontifex sebelum reformasi, 63–46 SM, ketika hanya ada lima bulan kabisat (seharusnya delapan), tidak pernah ada kabisat selama lima tahun Romawi sebelum 46 SM.
Reformasi Caesar ditujukan untuk menyelesaikan masalah ini secara permanen, dengan membuat suatu kalender yang tetap sesuai dengan matahari tanpa adanya intervensi manusia. Hal ini terbukti berguna segera setelah kalender baru diefektifkan. Varro menggunakannya pada 37 SM untuk memperbaiki penanggalan kalender untuk awal empat musim, yang mustahil hanya delapan tahun sebelumnya.[7] Seabad kemudian, ketika Plinius menetapkan titik balik matahari musim dingin jatuh tanggal 25 December karena matahari berada di derajat ke-8 Kaprikornus pada tanggal tersebut.[8]
Referensi
↑"Berbers mark New Year in Algeria, welcoming 2968". Daily Sabah (dalam bahasa Inggris). 12 Januari 2018. Diakses tanggal 23 Juni 2026. The Berber calendar is an agrarian system, based around the seasons and agricultural work, that was inspired by the Julian calendar.