Artikel ini mengenai Imlek sebagai kalender Tionghoa. Lihat Tahun Baru Imlek untuk hari rayanya.
Tongshu (通书), yakni catatan almanak yang sangat terkait dengan kalender Imlek, mencatat berbagai ramalan dan panduan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari dan menandai hari-hari baik untuk melakukan perayaan besar.
Imlek (Hanzi sederhana:阴历; Hanzi tradisional:陰曆; Pinyin:Yīnlì; Pe̍h-ōe-jī:im-le̍k) atau Kalender Tionghoa merupakan suatu kalender lunisolar yang diciptakan dan digunakan oleh orang-orang Tionghoa di seluruh dunia, baik oleh warga negara Tiongkok maupun oleh etnik Tionghoa di luar Tiongkok. Saat ini, kalender Imlek masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan untuk memilih hari-hari baik untuk melangsungkan acara-acara seperti perkawinan atau pembukaan usaha.
Kalender Imlek modern terdiri atas dua belas bulan, yang masing-masingnya mengikuti perhitungan fase bulan, dan setiap bulan terdiri atas 29-30 hari. Sebuah bulan kabisat ditambahkan setiap 2-3 tahun sekali untuk menjaga agar kalender ini tetap sesuai dengan musim. Kalender ini juga mencakup 24 jieqi, yakni titik-titik acuan yang melacak posisi matahari dan terkait erat dengan pola iklim. Di antara istilah-istilah ini, titik balik musim dingin adalah titik acuan yang paling signifikan dan harus berada pada bulan kesebelas dalam setahun. Selain itu, sistem ganzhi juga digunakan secara masif dalam sistem penanggalan Imlek sebagai acuan dan penanda tahun, bulan, hari, dan bahkan jam.
Berbagai macam variasi penanggalan telah digunakan sepanjang sejarah, serta telah diadaptasi ke dalam kalender tradisional masing-masing oleh bangsa-bangsa lain yang memperoleh pengaruh Tionghoa yang kuat, seperti orang Jepang, bangsa Korea, dan suku Vietnam.[1] Perhitungan kalender yang sangat beragam itu umumnya muncul akibat adanya penyimpangan dan perbedaan dalam perhitungan waktu untuk kalender (seperti halnya dalam kasus kalender Julius dan kalender Gregorius). Selain itu, kalender Imlek juga sensitif akan lokasi, sehingga perhitungan di dua tempat, misalnya di Beijing dan di Nanjing, dapat menghasilkan perhitungan penanggalan yang sama sekali berbeda.
Penamaan
Istilah "Imlek" dalam bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa Hokkien "im-le̍k" (阴历/陰曆) yang berarti "kalender candra" atau "kalender lunar". Kalender ini juga dikenal dengan sebutan lain, seperti 农历/農曆 (nónglì, "kalender pertanian"), 旧历/舊曆 (jiùlì, "kalender lama"), 夏历/夏曆 (xiàlì, "kalender musim panas"), 老历/老曆 (lǎolì, "kalender tua"), 中历/中曆 (zhōnglì, "kalender Tionghoa"), dan 华历/華曆 (huálì, "kalender Tionghoa")
Sejarah
Huang Di
Kalender Tionghoa mulai dikembangkan pada milenium ke-3 SM, konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì, yang memerintah antara tahun 2698 SM-2599 SM, dan dikembangkan lagi oleh penguasa legendaris ke-4, Kaisar Yáo. Siklus 60 tahun (gānzhī atau liùshí jiǎzǐ) mulai digunakan pada milenium ke-2 SM. Kalender yang lebih lengkap ditetapkan pada tahun 841 SM pada zaman Dinasti Zhōu dengan menambahkan penerapan bulan ganda dan bulan pertama setiap tahun dimulai dekat dengan titik balik Matahari[2] pada musim dingin.
Dinasti Qin
Kalender Sìfēn (4 triwulan), yang mulai diterapkan sekitar tahun 484 SM, adalah kalender Tionghoa pertama yang memakai perhitungan lebih akurat, menggunakan penanggalan matahari 365,25 hari, dengan siklus 19 tahun (235 bulan), yang dalam ilmu pengetahuan Barat dikenal sebagai Peredaran Metonik. Titik balik matahari musim dingin adalah bulan pertamanya dan bulan gandanya disisipkan mengikuti bulan ke-12. Pada tahun 256 SM, kalender ini mulai digunakan oleh negara Qín, kemudian diterapkan di seluruh negeri Tiongkok setelah Qín mengambil alih keseluruhan negeri Tiongkok dan menjadi Dinasti Qín. Kalender ini tetap digunakan sepanjang separuh pertama Dinasti Hàn Barat.
Dinasti Han
Kaisar Wǔ dari Dinasti Han Barat memperkenalkan reformasi kalender baru. Kalender Tàichū (Permulaan Agung) pada tahun 104 SM mempunyai tahun dengan titik balik matahari musim dingin pada bulan ke-12 dan menentukan jumlah hari untuk penanggalan bulan (1 bulan lamanya 29 atau 30 hari) dan bukan sesuai dengan prinsip terminologi matahari (yang secara keseluruhan sama dengan tanda zodiak), karena gerakan matahari digunakan untuk mengalkulasi Jiéqì (ciri-ciri musim).
Dinasti Tang
Sedangkan pada zaman Dinasti Jin dan Dinasti Tang juga sempat dikembangkan Kalender Dàyǎn dan Huángjí, walaupun tidak sempat dipergunakan. Dengan pengenalan ilmu astronomi Barat ke Tiongkok melalui misi penyebaran agama Kristen, gerakan bulan dan matahari mulai dihitung pada tahun 1645 dalam Kalender Shíxiàn Dinasti Qīng, yang dibuat oleh Misionaris Adam Schall.
Cara perhitungan
Kalender Tionghoa memiliki aturan yang sedikit berbeda dengan kalender umum, seperti: perhitungan bulan adalah perjalanan (revolusi) bulan mengelilingi atau mengorbit bumi. Berarti hari pertama setiap bulan dimulai pada tengah malam hari bulan muda astronomi. (Catatan, "hari" dalam Kalender Tionghoa dimulai dari pukul 23:00 dan bukan pukul 00:00 tengah malam). Terdapat 12 bulan dalam 1 tahun, tetapi setiap 2 atau 3 tahun sekali terdapat bulan ganda (rùnyuè, 19 tahun 7 kali). Berselang satu kali jiéqì (musim) tahun matahari Tiongkok adalah setara dengan satu pemulaan matahari ke dalam tanda zodiak tropis. Matahari selalu melewati titik balik matahari musim dingin (masuk Capricorn) selama bulan 11.
Penerapan pada masa kini
Penggunaan utama dalam kegiatan sehari-hari adalah menentukan fase bulan, yang penting bagi petani dan dimungkinkan karena setiap hari dalam kalender sesuai dengan fase tertentu dalam suatu bulan. Kalender tradisional Asia Timur lainnya mirip, atau sama dengan kalender Tionghoa: kalender Korea sama, dalam kalender Vietnam digunakan kucing, bukan kelinci dalam shio-nya, dan kalender Jepang tradisional menggunakan metode penghitungan yang berbeda, sehingga ada ketidaksesuaian antara kedua kalender itu dalam tahun-tahun tertentu.
Dua belas shio
Kedua belas binatang (十二生肖 shíèr shēngxiào, atau 十二屬相 shíèr shǔxiāng) yang melambangkan kedua belas Cabang Bumi adalah, sesuai urutannya:
Berikut adalah tanggal jatuhnya tahun baru Imlek mulai dari tahun imlek 2535 (1984) hingga 2594 (2043). Daftar ini mungkin akan berkembang di waktu mendatang.
Kalender tradisional Korea diambil secara langsung dari kalender Tionghoa. Pada awal abad ke-19 Korea tidak bergantung dengan negara lain sama sekali dan hanya bergantung kepada hubungan diplomatik yang dekat dengan Tiongkok. Sebagai tanda hormat terhadap hubungan ini, pemimpin Korea akan menerima secara hormat kalender Tionghoa baru setiap tahunnya dari kaisar Tiongkok. Kalender lunar/bulan ini kini jarang digunakan di Korea kecuali untuk peringatan hari-hari libur tradisional dan penandaan hari lahir oleh orang-orang Korea yang lebih tua.
Hidangan Imlek
Dalam pelaksanaan Imlek, hidangan yang disajikan terdiri atas empat jenis makanan yaitu sajian utama, kue wajib, manisan wajib dan buah-buahan wajib. Semua jenis hidangan ini diletakkan dan ditata di atas meja sajian sembahyang Imlek.[5]
Sajian utama
Sajian utama Imlek terdiri atas Cah rebung iris kasar (dicampur dengan juhi, haisom, kerang mata tujuh dan tauco), Cah rebung iris halus (dicampur kepiting, udang atau hisit), Daging masak kecap, sosis daging masak kecap, masakan dari kaki, masakan dari paru, masakan dari lambung, sate daging, ayam-oh, opor ayam, sambal goreng dan mi goreng.
Kue wajib
Di meja sajian akan disajikan kue keranjang (disusun tiga, empat atau lima dan dihias kertas minyak warna merah), kue moho atau kue mangkok (biasanya berwarna merah muda), ku ku (warna merah), kue lapis, wajik, nagasari, kue bugis, lemper (dibungkus seperti burung), madu mongso, bongko cunduk (bongko meniran atau bongko kopyor), coro bikang dan ketan tetal (ketan warna biru disajikan bersama sambal ebi).
Wajik berwarna merah dan berbentuk kerucut melambangkan harapan yang baik yang makin tinggi dan keeratan anggota keluarga. Kue Moho yang berwarna merah juga melambangkan persatuan anggota keluarga. Sedangkan kue Ku melambangkan panjang umur. Penggunaan warna merah di sajian berasal dari legenda untuk menakuti monster bernama "Nian" (dibaca: nien) yang takut dengan warna merah dan suara keras.
Manisan wajib
Untuk manisan yang wajib tersedia adalah tangkue dan angco (kurma merah atau ceremai merah) yang disajikan dalam piring kecil atau ditusuk seperti satu dengan tiap tusuk mewakili satu leluhur dan ditata di atas meja khusus bernama cenap.
Buah wajib
Sedangkan buah-buahan yang wajib tersedia antara lain pisang raja atau pisang mas satu sisir, tebu, srikaya, jeruk bali (disajikan lengkap dengan tangkai dan daun) yang melambangkan persatuan, delima merah, nanas, lengkeng, jeruk lokam dan belimbing. Buah-buahan ini biasanya akan dibungkus dengan kertas minyak warna merah.
↑Agus Winarso, Hendrik. Mengenal Hari Raya Konfusiani, Semarang: Effhar & Dahara Prize, 2003.
↑A.S, Marcus, Hari-Hari Raya Tionghoa, Jakarta: Marwin, 2002.
↑Bromokusumo, Aji Kristi (2013). Peranakan Tionghoa dalam kuliner Nusantara: plus resep-resep khas Peranakan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. hlm.81. ISBN978-979-709-740-0.