Kakawin Bhāratayuddha (Jawa: ꦏꦏꦮꦶꦤ꧀ꦨꦴꦫꦠꦪꦸꦢ꧀ꦣ,Bali: ᬓᬓᬯᬶᬦ᭄ᬪᬵᬭᬢᬬᬸᬤ᭄ᬥ) adalah salah satu kakawin paling terkenal di antara karya-karya sastra Jawa Kuno.[1] Kakawin ini menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa, yang disebut peperanganBharatayuddha.
Penulisan
Menurut kronogram yang terdapat pada awal kakawin ini, karya sastra ini ditulis ketika, sanga-kuda-śuddha-candramā. Sangkala ini memberikan nilai: 1079 Saka atau 1157Masehi, pada masa pemerintahan prabu Jayabaya. Persisnya kakawin ini selesai ditulis pada tanggal 6 November 1157.
Kakawin ini digubah oleh dua orang empu, yaitu: Empu Sedah dan Empu Panuluh. Bagian permulaan sampai tampilnya prabu Salya ke medan perang adalah karya Empu Sedah, selanjutnya adalah karya Empu Panuluh.[2]:168
Konon ketika Empu Sedah ingin menuliskan kecantikan Dewi Setyawati, permaisuri prabu Salya, ia membutuhkan contoh supaya dapat berhasil. Maka putri prabu Jayabaya yang diberikan kepadanya. Namun, Empu Sedah berbuat kurang ajar sehingga ia dihukum dan karyanya harus diberikan kepada orang lain. Namun, menurut Empu Panuluh sendiri, setelah hasil karya Empu Sedah hampir sampai kisah sang prabu Salya yang akan berangkat ke medan perang, maka tak sampailah hatinya akan melanjutkannya. Maka Empu Panuluh diminta melanjutkannya. Cerita ini disebutkan pada akhir kakawin Bharatayuddha.
Budaya Jawa Baru
Kakawin Bharatayuddha adalah salah satu dari beberapa dari karya sastra Jawa Kuno yang tetap dikenal pada masa Islam. Dalam pertunjukan wayang, beberapa bagian dari Bharatayuddha dinyanyikan sebagai bagian dari nyanyian suluk, bahkan juga dalam pertunjukan wayang yang bernafaskan Islam, misalkan cerita wayang Menak. Terutama cuplikan dari pupuh kelima, bait satu sangat sering dipakai:
Pupuh V.1
Wirama/Metrum:Śārddūlawikrīḍita — — —|00—|0—0|00—|— —0|— —0|0̲ = 19 suku kata
(Belanda)(Jawa)J. G. H. Gunning, 1903, Bhârata-yuddha: Oudjavaansch Heldendicht. ‘s Gravenhage:Martinus Nijhoff. (Suntingan teks saja dalam aksara Jawa).