Jangilus atau layaran indo-pasifik (Istiophorus platypterus) merupakan spesies ikan laut pelagik yang tersebar luas di perairan tropis dan subtropis dunia. Spesies ini termasuk dalam famili Istiophoridae dan dikenal sebagai ikan berparuh yang memiliki kemampuan berenang cepat di laut terbuka.[3] Sebagai predator puncak, jangilus berperan penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan laut serta menjadi komoditas perikanan bernilai ekonomi.[4]
Secara taksonomi, Istiophorus platypterus diklasifikasikan dalam filum Chordata, kelas Actinopterygii, ordo Istiophoriformes, dan famili Istiophoridae.[5] Kelompok ini memiliki ciri khas berupa sirip punggung yang memanjang menyerupai layar serta rahang atas berbentuk rostrum yang digunakan dalam aktivitas pemangsaan.[6]
Secara morfologis, tubuh jangilus berbentuk memanjang dan ramping dengan warna punggung biru gelap yang bertransisi menjadi perak keputihan pada bagian perut. Struktur tubuhnya bersifat hidrodinamis dan didukung oleh otot yang kuat sehingga memungkinkan spesies ini mencapai kecepatan renang tinggi di perairan pelagik.[7]
Persebaran geografis Istiophorus platypterus mencakup Samudra Hindia, Pasifik, dan Atlantik pada wilayah tropis hingga subtropis. Spesies ini umumnya ditemukan pada suhu permukaan sekitar 20–28 °C dan menghuni zona epipelagik hingga mesopelagik.[8] Keberadaannya sering berkaitan dengan massa air hangat serta fitur oseanografis yang mendukung konsentrasi mangsa.[9][10]
Sebagai predator pelagik bermobilitas tinggi, jangilus memainkan peran penting dalam dinamika jaring-jaring makanan laut.[11] Perubahan iklim global dilaporkan berpotensi memengaruhi distribusi habitat dan pola migrasi predator pelagik melalui perubahan kondisi oseanografis.[12] Selain itu, tekanan penangkapan yang tinggi dapat memengaruhi struktur populasi dan stabilitas ekosistem laut.[13]
Secara ekonomi, jangilus merupakan spesies bernilai tinggi dalam perikanan tangkap maupun rekreasi. Dagingnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, termasuk untuk produk olahan seperti bakso dan abon ikan. Namun, peningkatan tekanan penangkapan dan perubahan lingkungan laut menimbulkan perhatian terhadap keberlanjutan populasinya.[14]