Dengan melihat prospek bisnis trem uap ringan yang lebih mudah menjangkau rakyat pedesaan, MS kemudian mengincar daerah-daerah subur di wilayah Malang Raya sehingga rakyat pribumi dapat menjual dagangannya ke kota tanpa membutuhkan waktu lama.[1]
Oleh karena itulah, jalur pertama MS ini difungsikan untuk menghubungkan salah satu stasiun antarmoda MS, Stasiun Malang Kotalama, dengan wilayah timur Kabupaten Malang. Dibagi menjadi dua segmen. Untuk segmen Malang Kotalama–Bululawang sendiri dibuka pada tanggal 14 November 1897, sedangkan untuk Bululawang–Gondanglegi dibuka pada tanggal 4 Februari 1898.[2] Operasional angkutan barang di jalur ini didominasi oleh tebu dan gula dari Pabrik Gula Kebonagung dan Pabrik Gula Krebet.[3]
Dengan melanjutkan segmen Malang Kotalama–Gondanglegi, jalur diperpanjang menuju Dampit di dekat perbatasan dengan Kabupaten Lumajang dan dibagi menjadi dua segmen. Untuk segmen Gondanglegi–Talok sendiri dibuka pada tanggal 9 September 1898, sedangkan untuk Talok–Dampit dibuka pada tanggal 14 Januari 1899.[4]
Untuk menunjang operasional dibangun stasiun antarmoda dengan kereta api rel berat milik Staatsspoorwegen. Ada empat stasiun antarmoda yang dibangun oleh MS, yaitu Stasiun Malang Kotalama, Blimbing, Singosari MS, dan Kepanjen MS. Stasiun Malang Jagalan ditetapkan sebagai stasiun utama untuk MS.[3]
Jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1978 karena semakin meningkatnya penggunaan mobil pribadi dan angkutan umum seperti mikrolet dan bus lokal. Kini semua aset di jalur ini dikuasai oleh PT Kereta Api Indonesia. Sisa-sisa berupa pilar jembatan, fasad stasiun, railbed masih relatif mudah ditemukan.
Sisa-sisa pilar jembatan di sekitar Bululawang, dipotret pada Juli 2024 saat penelusuran bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian bersama Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Sahabat KeretaSisa-sisa pilar jembatan di dekat Stasiun Bululawang, dipotret pada Juli 2024 saat penelusuran bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian bersama Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Sahabat KeretaSisa-sisa pilar jembatan di sekitar Stasiun Gondanglegi, dipotret pada Juli 2024 saat penelusuran bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian bersama Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Sahabat KeretaSinyal mekanik tipe Alkmaar sebagai sinyal masuk Stasiun Gondanglegi, dipotret pada Juli 2024 saat penelusuran bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian bersama Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Sahabat Kereta