Lahan bekas pengontrol sepur simpang dekat Stasiun Kebonagung, belakang Gedung PDAM Kabupaten Malang. Tidak terdapat bekas bangunan hanya meninggalkan sisa fondasi dan semak belukar
Selama masa kolonial Belanda, Stasiun Kebonagung berstatus sebagai stopplaats atau perhentian kecil. Berdasarkan peta yang diterbitkan oleh Belanda pada 1914, Perhentian Kebonagung berada di timur laut Pabrik Gula Kebonagung.[3] Kini, jalan menuju perhentian tersebut menjadi Jalan Tarupala.
Terdapat sepur simpang yang bercabang di selatan perhentian untuk mengarah ke Pabrik Gula Kebonagung. Sepur simpang tersebut dapat diakses dari arah Stasiun Pakisaji (selatan), kemudian berbelok ke barat dan berjalan sejajar dengan jalur lori pabrik gula. Jalur lori pabrik gula tersebut memotong jalur kereta api di utara percabangan. Sepur simpang kemungkinan mulai beroperasi antara tahun 1908 dan 1914 karena tidak ditemukan dalam peta terbitan 1908.[4][3]
Selain sepur simpang menuju pabrik gula, dahulu terdapat pula sepur simpang menuju penampungan ampas tebu milik Pabrik Kertas Leces. Leces bekerja sama dengan Pabrik Gula Kebonagung untuk mengolah ampas tebu menjadi bahan mentah dalam pembuatan kertas.[5] Berlawanan dengan sepur simpang pabrik gula, sepur simpang Leces dapat diakses dari utara. Sepur simpang tersebut kemungkinan dibangun pascakemerdekaan karena tidak ditemukan dalam peta tahun 1944.[6] Menurut warga sekitar, percabangan dari rel utama dinonaktifkan sejak tahun 2004.
Jika dilihat dari tata letaknya, Stasiun Kebonagung sebenarnya merupakan tempat pengontrolan sepur simpang. Di selatan stasiun ini, terdapat tikungan yang sudah tidak asing lagi bagi kalangan penggemar kereta api dan masyarakat umum untuk memotret dan berburu kereta api.
Galeri
Percabangan dari rel utama menuju tempat penyimpanan ampas tebu milik Pabrik Kertas Leces.