Awal pendirian
Sekembalinya dari menuntut Ilmu, Ibnu Tumart memperoleh pengaruh yang besar di Maghribi. Ia akhirnya diundang oleh Khalifah Dinasti Muraabithun, Ali bin Tasyifin. Khalifah mengajak Ibnu Tumart berdebat dengan para ulama. Ibnu Tumart memenangkan perdebatan tersebut. Hasutan dari para penasehat kerajaan kepada Ali bin Tasyifin membuat Ibnu Tumart diusir dari wilayah Dinasti Murabhitun.
Ibnu Tumart kemudian pergi menuju ke Aghmat dan Al-Jabal. Di kedua tempat ini, ia memperoleh pengikut setelah mengisahkan mengenai Al-Mahdi. Ia kemudian memperoleh 10 orang pengikut dan seorang pendukung bernama Ali Mukmin. Mereka melakukan baiat kepada Ibnu Tumart dan memberinya gelar Al-Mahdi Al-Muntazhar. Setelah itu, pengikutnya bertambah banyak dan mulai mengancam kedudukan Dinasti Murabhitun.
Ibnu Tumart kemudian mendirikan Dinasti Muwahhidun.[8] Awalnya. Muwahhidun hanya didirikan sebagai gerakan reformasi keagamaan yang menentang pemikiran Dinasti Murabithun.[9] Ia mendasarkan pendirian dinastinya pada literalisme Ibnu Hazm. Ia melakukan rekonstruksi terhadap pemikiran epistemologinya. Dinasti Muwahhidun yang didirikan oleh Ibnu Tumart hanya mencakup wilayah Afrika Utara yang sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Murabithun.[11]
Ad Dzahabi menulis dalam siyar alam an nubala :
"Alyasa’ bin Hazm berkata, “Ibnu Tumart menamakan kelompok Al Murabithun sebagai Al Mujassimun. Penduduk Magribi hanya beragama dengan menyucikan Allah dari sifat yang tidak wajib bagi-Nya, menetapkan sifat yang wajib bagi-Nya dan tidak membahas sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh akal.” Hingga Alyasa’ berkata, “Lalu Ibnu Tumart mengafirkan mereka kerana tidak tahu makna aradh (zat sifat) dan jauhar. Barangsiapa yang tidak tahu keduanya, maka dia tidak tahu antara makhluk dan Pencipta (Al Khaliq). Barangsiapa tidak hijrah dan berperang bersamanya, maka halal darahnya kerana marahnya Ibnu Tumart adalah kerana Allah.”
Pada 1125M, serangan Tentera Muwahhidun gagal daalam serangannya keatas Magribi. Kemudian pada tahun 1129M, dengan kekuatan 40,000 dibawakn panglima Abu Muhammad Al-Basyir Al-Wansyarisi, Kaum Asya’irah ini melancarkan perang yang disebut “Perang Buhairah”, tetapi mereka sekali lagi tewas.
Siri peperangan antara pemberontak dengan Kerajaan Murabitun berlanjutan sehinggalah pada tahun 1145 M menyaksikan jatuhnya Andalusia kepada kaum pemberontak ini. Selang beberapa tahun iaitu tepatnya pada 1147 M, seluruh kerajaan Murabitun tewas dan hancur. Dalam satu siri serangan Ibnu Tumart membunuh 70 ribu orang muslim yang tidak menjadi pengikut beliau.