Kisah cinta
Ibnu bertemu dengan Zaleha pertama kali di Martapura, sewaktu ia bekerja di sana sebagai dokter. Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran Belanda di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya tahun 1940 pada usia 26 tahun. Ia kemudian ditugaskan Pemerintah Hindia Belanda bertugas di daerah Sumatera Selatan. Persisnya di daerah Belitung yang merupakan wilayah kolonisasi.
Belitung adalah daerah transmigrasi. Tugasnya adalah untuk membasmi penyakit malaria yang terkenal di sana pada masa itu, serta untuk memperbaiki gizi masyarakat. Selain di Belitung, ia juga kemudian ditugaskan sebagai dokter untuk wilayah Martapura, Sumatera Selatan, secara keseluruhan.
Sebagai dokter yang masih berstatus bujangan, ia kemudian berkenalan dengan seorang gadis bernama Zaleha, yang biasa dipanggil Saly, putri pasirah Haji Syafe'ie, tokoh masyarakat yang sangat disegani di Martapura saat itu. Ibunya adalah seorang guru tamatan MULO di Palembang.
Setelah lulus MULO di Palembang, Zaleha pulang ke Martapura. Zaman perang ketika itu menyebabkan Zaleha tinggal di rumah saja sambil secara sukarela menolong anak-anak belajar. Ketika Jepang datang, Zaleha mengajar anak-anak perempuan bersekolah. Kebetulan sekolah Zaleha berada di depan polikliniknya, sehingga ada banyak kesempatan buat mereka berdua untuk saling memandang, dan akhirnya saling jatuh cinta dan berpacaran.
Mereka selalu bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Ibnu bahkan lebih terbiasa berbicara dalam bahasa Belanda, atau kalau tidak bahasa Jawa. Ia mulai terbiasa berbahasa Indonesia setelah berkenalan dengan Zaleha.
Meskipun sudah berpacaran dan sudah disetujui kedua orangtua, Pak Haji Syafe'ie dan Ibu Haji, tetapi jalan menuju pernikahan tidaklah terlalu mulus. Masih ada tanggapan yang kurang menggembirakan dari keluarga besar Pak Syafe'ie karena Ibnu berasal dari suku lain, yakni suku Jawa. Waktu itu orang Jawa yang berada di Sumatera Selatan kurang dihargai oleh masyarakat setempat. Mereka yang kebanyakan berasal dari Banyumas umumnya adalah orang-orang transmigran, atau bekerja sebagai kuli kereta api.
Oleh karena Zaleha memang sudah jatuh hati sama Ibnu, dan kedua orangtuanya juga sudah tidak berkeberatan, keluarga besar Pak Syafe'ie pun akhirnya mengalah. Mereka akhirnya menikah pada 12 Desember 1943 di Martapura. Acara syukuran pernikahan diadakan secara sederhana pada malam harinya. Resepsi pernikahan baru diadakan sebulan kemudian. Maklum, adat-istiadat di Sumatera Selatan waktu itu memerlukan persiapan ini dan itu. Meskipun waktu itu masih zaman Jepang, tetapi resepsinya berjalan lancar.