Hubungan luar negeri antara Argentina dan Turki telah terjalin selama lebih dari satu abad. Argentina memiliki kedutaan besar di Ankara dan Turki memiliki kedutaan besar di Buenos Aires. Dukungan kuat Turki terhadap sesama anggota NATO, Inggris, selama Perang Falkland dan pengakuan genosida Armenia oleh parlemen Argentina telah memperburuk hubungan antara kedua negara.[1]
Hubungan antara Turki dan Argentina berawal dari penandatanganan protokol urusan konsuler antara Kekaisaran Ottoman dan Argentina pada tahun 1910.[2]
Setelah berdirinya Republik Turki, Perjanjian Persahabatan ditandatangani di Roma pada tahun 1926.[3]
Pada tahun 1992, Presiden Argentina Carlos Menem mengunjungi Turki. Presiden Turki Süleyman Demirel mengunjungi Argentina pada tahun 1995. Pada tahun 1998, İsmail Cem adalah Menteri Luar Negeri Turki pertama yang mengunjungi Argentina.[4]
Hubungan ekonomi
Turki dan Argentina telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan. Volume perdagangan antara kedua negara tersebut mencapai sekitar US$455 juta, dengan Turki mengekspor US$161 juta dan mengimpor US$294 juta dari Argentina pada akhir tahun 2019.[4]
Kerja sama nuklir
Pada tanggal 3 Mei 1988, Argentina dan Turki menandatangani perjanjian kerja sama nuklir selama 15 tahun, menyusul dorongan Turki untuk kemandirian siklus bahan bakar nuklir. Argentina setuju untuk mempelajari kelayakan pembangunan PWR 300 MWe yang dirancang oleh Empresa Nuclear Argentina de Centrales.[5] Aktivitas siklus bahan bakar nuklir lainnya juga dieksplorasi.[6]
Pada Oktober 1990, perusahaan Turki Sezai Turkes-Fevzi Akkaya dan TEK membentuk perjanjian rekayasa bersama dengan lembaga Argentina Comisión Nacional de Energía Atómica dan Investigaciones Aplicadas untuk mengembangkan dua reaktor nuklir CAREM-25, satu di masing-masing negara, dengan konstruksi yang akan dimulai pada tahun 1991 di Argentina dan pada tahun 1992 di Turki.[5] Mantan Perdana Menteri Turki Turgut Ozal dan Presiden Argentina Carlos Menem secara pribadi menegosiasikan kesepakatan tersebut. Namun, kesepakatan tersebut dibatalkan setahun kemudian karena tekanan internasional akibat kekhawatiran proliferasi.[5][6]
12Kibaroglu, Mustafa. "TURKEY'S QUEST FOR PEACEFUL NUCLEAR POWER"(PDF). James Martin Center for Nonproliferation Studies: The Non-Proliferation Review (Spring-Summer 1997). hlm.37–38. Diakses tanggal 2009-08-13.