ENSIKLOPEDIA
Historiografi Perang Salib

Historiografi Perang Salib adalah kajian mengenai penulisan sejarah dan karya sejarah, khususnya sebagai disiplin akademik, yang berkaitan dengan ekspedisi militer yang pada awalnya dilakukan oleh umat Kristen Eropa pada abad ke-11, ke-12, dan ke-13 menuju Tanah Suci. Cakupannya kemudian diperluas hingga mencakup berbagai kampanye lain yang diprakarsai, didukung, dan kadang-kadang diarahkan oleh Gereja Katolik Roma. Historiografi tersebut telah melahirkan berbagai penafsiran yang saling bersaing dan terus berkembang sejak penaklukan Yerusalem pada 1099 hingga masa kini. Idealisme keagamaan, penggunaan kekuatan militer, dan kompromi pragmatis yang dilakukan oleh para pelaku Perang Salib telah menjadi persoalan kontroversial, baik pada masanya maupun sesudahnya. Perang Salib merupakan bagian penting dari kebudayaan Eropa Barat. Gagasan yang membentuk perilaku pada Abad Pertengahan Akhir tetap berpengaruh setelah abad ke-15, meskipun lebih sebagai sikap daripada tindakan.
Sejak abad ke-17, para sejarawan mulai mengesampingkan penjelasan yang semata-mata menekankan motivasi keagamaan dan beralih mengkaji faktor-faktor sekuler. Pembentukan negara-negara kebangsaan mendorong munculnya penafsiran yang mendukung kepentingan nasional dan secara mendasar memisahkan Perang Salib dari ranah keagamaan. Hal tersebut menimbulkan kesulitan dalam mempertemukan motif idealistis dengan motif materialistis para pelakunya. Sifat internasional Perang Salib juga menjadi hambatan bagi sejarawan yang berusaha menggambarkan gagasan dan ekspedisi Perang Salib sebagai pendahulu nasionalisme. Para pemikir Abad Pencerahan memandang para tentara salib lebih rendah secara kebudayaan, sedangkan kalangan Protestan menganggap mereka lebih rendah secara moral.
Pada abad ke-19, perkembangan nasionalisme, politik kolonial, dan sejarah kritis meningkatkan minat terhadap Perang Salib, baik sebagai hiburan maupun sarana penyampaian pesan moral. Pada awal abad ke-20, perhatian mulai diarahkan kepada peranan Perang Salib sebagai pendorong penaklukan abad pertengahan, perkembangan ekonomi, dan warisan yang ditinggalkannya. Historiografi Perang Salib terus berkembang dan mencakup berbagai persoalan politik, sosial, ekonomi, budaya, agama, gender, sastra, dan kajian sumber.
Terminologi
Oxford English Dictionary mendefinisikan historiografi sebagai, pertama, “penulisan sejarah; sejarah tertulis”, dan kedua, “kajian mengenai penulisan sejarah, khususnya sebagai disiplin akademik”.[1] Istilah “perang salib” mula-mula merujuk kepada ekspedisi militer yang dilakukan oleh umat Kristen Eropa pada abad ke-11, ke-12, dan ke-13 menuju Tanah Suci. Istilah tersebut kemudian diperluas untuk mencakup kampanye lain yang diprakarsai, didukung, dan kadang-kadang diarahkan oleh Gereja Katolik Roma terhadap kaum pagan, penganut ajaran sesat, atau untuk tujuan keagamaan lainnya.[2]
Sejak ketetapan kepausan pertama pada 1095, Perang Salib dibedakan dari perang keagamaan Kristen lainnya karena dianggap sebagai tindakan penitensi yang memberikan pengampunan atas dosa-dosa yang telah diakui kepada para pesertanya. Pernyataan Paus Urbanus II diterjemahkan oleh Robert Somerville sebagai berikut: “Barang siapa yang semata-mata karena pengabdian, bukan untuk memperoleh kehormatan atau uang, pergi ke Yerusalem guna membebaskan Gereja Allah, dapat menggantikan seluruh penitensinya dengan perjalanan tersebut.”[3]
Penggunaan istilah “perang salib” dapat menciptakan kesan yang menyesatkan mengenai adanya kesatuan atau keteraturan, khususnya berkenaan dengan Perang Salib awal. Definisinya masih menjadi bahan perdebatan historiografis di antara para sejarawan modern.[4] Pada masa Perang Salib Pertama, istilah Latin itercode: la is deprecated , yang berarti “perjalanan”, dan peregrinatiocode: la is deprecated , yang berarti “ziarah”, digunakan untuk menggambarkan kampanye tersebut. Istilah yang digunakan untuk para tentara salib hampir tidak dapat dibedakan dari istilah untuk peziarah Kristen sepanjang abad ke-12.
Bahasa khusus mengenai Perang Salib baru berkembang pada akhir abad tersebut melalui istilah Latin crucesignatuscode: la is deprecated , yaitu “orang yang ditandai dengan salib”, untuk menyebut seorang tentara salib. Istilah ini kemudian melahirkan kata Prancis croisadecode: fr is deprecated , yang berarti “jalan salib”.[4] Pada pertengahan abad ke-13, salib telah menjadi penanda utama Perang Salib. Istilah crux transmarinacode: la is deprecated , “salib seberang laut”, digunakan untuk kampanye yang melintasi Laut Tengah, sedangkan crux cismarinacode: la is deprecated , “salib di sisi laut ini”, digunakan untuk kampanye di Eropa.[5][6]
Jonathan Riley-Smith, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam kajian akademik Perang Salib, mendefinisikan “Perang Salib” sebagai ekspedisi yang dilakukan berdasarkan kewenangan kepausan.[7] Definisi tersebut tidak memasukkan Reconquista di Semenanjung Iberia, meskipun para pesertanya menerima indulgensi kepausan yang memberikan hak-hak istimewa serupa. Sejarawan Giles Constable mengidentifikasi empat bidang utama dalam kajian Perang Salib modern, yaitu tujuan politik atau geografis kampanye, cara kampanye tersebut diorganisasi, tingkat dukungan masyarakat, dan alasan keagamaan yang mendasarinya.[8]
Kerangka kronologis dan geografis

Negara-negara Tentara Salib yang didirikan di kawasan Laut Tengah bagian timur sejak 1098 bertahan dalam berbagai bentuk selama lebih dari dua abad. Keberadaan negara-negara tersebut bergantung pada arus manusia dan dana yang terus-menerus dari Eropa Barat. Para kesatria dapat melakukan perjalanan ke Tanah Suci secara perseorangan atau sebagai anggota salah satu ordo keagamaan militer, termasuk Kesatria Kenisah, Kesatria Penyantunan, dan Ordo Teutonik. Gereja memberikan kekebalan terhadap tuntutan hukum, pengampunan utang, serta perlindungan terhadap harta benda dan keluarga mereka.[9]
Dengan demikian, pengalaman dan ideologi Perang Salib jauh lebih luas daripada “Perang-Perang Salib” sebagai ekspedisi besar yang dilancarkan dengan dukungan paus.[10] Pengacara Katolik Prancis Étienne Pasquier (1529–1615) dianggap sebagai sejarawan pertama yang mencoba memberi nomor kepada setiap Perang Salib di Tanah Suci. Ia menyebutkan adanya enam ekspedisi.[11]
Para sejarawan abad ke-18 mempersempit cakupan kronologis dan geografis Perang Salib pada kawasan Levant dan Outremer antara 1095 dan 1291. Beberapa sejarawan, seperti Georg Christoph Müller, hanya menghitung lima ekspedisi besar yang mencapai Laut Tengah bagian timur, yaitu ekspedisi 1096–1099, 1147–1149, 1189–1192, 1217–1229, dan 1248–1254.[12] Pada 1820, Charles Mills menghitung sembilan Perang Salib. Sistem penomoran masih dipertahankan, terutama karena alasan kemudahan dan tradisi, meskipun bersifat agak sewenang-wenang terhadap apa yang oleh sebagian sejarawan dianggap sebagai tujuh kampanye besar dan sejumlah besar kampanye kecil.[13]
Perang Salib menuju Tanah Suci menyediakan pola bagi kampanye lain yang dilakukan untuk kepentingan Gereja Latin, antara lain:
- kerajaan-kerajaan Kristen Spanyol yang menaklukkan kembali wilayah Muslim Al-Andalus pada abad ke-12 dan ke-13;
- ekspansi Jerman ke wilayah pagan di kawasan Baltik antara abad ke-12 dan ke-15;
- penindasan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap menyimpang, khususnya di Languedoc, dalam kampanye yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib Albigensian;
- penegasan ambisi kekuasaan duniawi paus di Italia dan Jerman, yang sekarang dikenal sebagai Perang Salib politik.
Selain itu, pada abad ke-13 dan ke-14 muncul berbagai gerakan rakyat yang tidak memperoleh pengesahan resmi, tetapi berkaitan dengan upaya merebut kembali Yerusalem. Gerakan tersebut antara lain dikenal sebagai Perang Salib Para Gembala dan Perang Salib Anak-Anak.[14]
Kajian sumber primer
Pada 1841, sejarawan Jerman Heinrich von Sybel menerbitkan History of the Crusades, sebuah kajian kritis terhadap sumber-sumber Barat yang tersedia pada masa itu. Karya tersebut memulai rangkaian penelitian serupa, termasuk karya-karya yang diterbitkan Heinrich Hagenmeyer antara 1877 dan 1913. Akibat perkembangan tersebut, edisi teks-teks Barat dalam seri berbahasa Prancis Recueil des historiens des croisades kemudian banyak digantikan oleh edisi-edisi yang dinilai lebih baik.[15]
Sumber dokumenter mencakup piagam, diploma, surat, hak istimewa, dan teks-teks sejenis. Piagam yang mencatat transaksi hukum, seperti penjualan atau pemberian harta benda dan penyerahan hak, merupakan sumber dokumenter yang paling umum dari Abad Pertengahan. Sejumlah besar piagam yang dikeluarkan oleh tentara salib masih bertahan. Dokumen tersebut mencakup catatan transaksi pengumpulan dana dan sumbangan keagamaan. Oleh karena itu, piagam dapat memberikan informasi mengenai pembiayaan Perang Salib, motivasi dan keadaan pikiran para pesertanya, serta tradisi Perang Salib dalam keluarga.
Piagam sangat penting dalam kajian Perang Salib di Outremer, Yunani, dan kawasan Baltik, khususnya koleksi yang berkaitan dengan ordo militer dan lembaga gerejawi. Meskipun banyak surat tidak lagi bertahan, keberadaannya disebutkan dalam sumber-sumber naratif. Korespondensi mencakup surat diplomatik dan pribadi, bulla kepausan yang menyerukan dan mengatur Perang Salib, ketentuan mengenai hak rohani dan duniawi tentara salib, serta permohonan bantuan militer.
Perjanjian dan kontrak, seperti Perjanjian Adrianopel tahun 1190 antara Friedrich Barbarossa dan Kekaisaran Bizantium selama Perang Salib Ketiga, Perjanjian Venesia, dan Perjanjian Christburg, memberikan informasi mengenai organisasi dan hasil berbagai kampanye. Para sejarawan juga memanfaatkan khotbah, kitab hukum, silsilah, catatan keuangan, aturan dan kebiasaan ordo militer, serta prasasti. Sumber naratif mengenai Perang Salib telah banyak tersedia dalam edisi yang baik, tetapi jenis sumber lainnya masih lebih sulit diakses.[16]
Kajian abad ke-21 semakin memperhatikan proses penyuntingan, penerjemahan, pemilihan, dan penggolongan sumber. James Wilson, misalnya, menilai ulang pilihan editorial dan kebahasaan dalam bagian sumber-sumber “Timur” dari Recueil des historiens des croisades serta pengaruhnya terhadap perkembangan kajian Perang Salib modern.[17]
Sumber Barat abad pertengahan
Ketika Perang Salib dimulai, sebagian besar sumber primer Barat ditulis dalam bahasa Latin. Bahasa tersebut tetap digunakan dalam dokumen resmi hingga akhir Abad Pertengahan. Namun, sejak akhir abad ke-12, kesaksian para saksi mata semakin sering ditulis dalam bahasa-bahasa vernakular, termasuk bahasa Prancis, bahasa Oksitan, bahasa Inggris Pertengahan, bahasa Jerman Hulu Pertengahan, dan bahasa Belanda Pertengahan.
Banyak informasi mengenai gerakan Perang Salib dicatat dalam sejarah umum, sejarah kota atau wilayah tertentu, serta sejumlah besar kronik, karya sejarah, dan biografi yang secara khusus membahas Perang Salib. Perang Salib Pertama menghasilkan narasi terperinci yang ditulis oleh peserta yang menyadari bahwa mereka terlibat dalam peristiwa luar biasa dan memandang keberhasilan atau kegagalan sebagai akibat campur tangan ilahi. Kegagalan relatif ekspedisi-ekspedisi berikutnya menyebabkan perbedaan yang cukup besar dalam jumlah, cakupan, dan mutu sumber mengenai Perang Salib selanjutnya.[18]
Sumber Barat mengenai Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101

Penggambaran dan penafsiran Perang Salib dimulai segera setelah penaklukan Yerusalem pada 1099 dan satu dasawarsa konsolidasi yang menyusulnya. Kampanye-kampanye baru pada abad ke-12 menggunakan citra dan pesan moral Perang Salib Pertama untuk kepentingan propaganda.[20]
Tiga rohaniwan yang turut serta dan mengikuti kontingen berbeda menulis dalam bahasa Latin mengenai Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, yaitu penulis anonim Gesta Francorum, Raymond dari Aguilers, dan Fulcher dari Chartres. Terdapat keterkaitan di antara ketiga sumber tersebut. Raymond dan Fulcher tampaknya merujuk kepada Gesta Francorum. Selain itu, Peter Tudebode dan Historia Belli Sacri mengolah kembali Gesta. Karya tersebut juga ditulis ulang secara menyeluruh dalam tiga versi oleh para rahib Benediktin Prancis pada awal abad ke-12:
- Guibert dari Nogent memberi judul karyanya Dei Gesta per Francos dan menyertakan sejumlah informasi yang tidak ditemukan dalam sumber lain.
- Baldric dari Dol melakukan perubahan gaya dan menjadi sumber bagi tulisan rahib Anglo-Norman, Orderic Vitalis, yang memberikan informasi dari sumber lisan serta rincian biografis mengenai peserta asal Norman.
- Robert sang Rahib dari Reims merupakan pengolah konservatif, tetapi sangat berpengaruh dan banyak disalin. Versi Latin aslinya bertahan dalam lebih dari 120 manuskrip, selain lebih dari empat terjemahan Jerman dari akhir Abad Pertengahan. Pengaruhnya terlihat dalam karya Henry dari Huntingdon dan Gilo dari Paris.
Penulis kronik lain juga menghasilkan catatan pada awal abad tersebut, seperti Ekkehard dari Aura dari Jerman dan Caffaro di Rustico da Caschifellone dari Genova. Keduanya telah berada di Outremer pada 1101. Ralph dari Caen, yang tiba pada 1108, menulis Gesta Tancredi. Karya tersebut hanya bertahan dalam satu manuskrip, ditulis dalam bahasa Latin yang khas, dan membahas tindakan Tancred, Pangeran Galilea.[21][22]
Teks seperti Gesta Francorum menampilkan pandangan mengenai Perang Salib dari sudut pandang Prancis, Benediktin, dan pendukung kepausan. Karya tersebut menekankan pentingnya kekuatan militer serta menghubungkan keberhasilan dan kegagalan dengan kehendak Tuhan. Rohaniwan Jerman Albert dari Aachen menulis catatan terpanjang dan paling terperinci mengenai Perang Salib Pertama dan dua puluh tahun sesudahnya, meskipun ia tidak pernah mengunjungi Outremer.
Karya Albert, Historia Iherosolimitana, memberikan informasi mengenai permulaan dan penyebaran khotbah Perang Salib di Rhineland, pengkhotbah Petrus sang Pertapa, Perang Salib Rakyat, dan pembantaian komunitas Yahudi di kota-kota Rhineland. Karya tersebut merupakan tantangan penting terhadap tradisi kepausan Prancis utara. Pengaruhnya meningkat menjelang akhir abad ke-12 ketika William dari Tirus, seorang penduduk Yerusalem yang berwawasan kosmopolitan, mengembangkan tulisan Albert.
Chronicon karya William ditulis di Outremer dengan menggunakan berbagai sumber terdahulu. Karya tersebut menjadi catatan sejarah standar mengenai Perang Salib selama beberapa abad, sebelum mulai dipersoalkan oleh para sejarawan pada abad ke-19. Permasalahan sumber juga terlihat dalam dua catatan vernakular mengenai Perang Salib Pertama:
- Zimmern Chronicle kini dianggap sebagai pemalsuan abad ke-16.
- Chanson d'Antioche, meskipun disusun pada akhir abad ke-12, mengandung tambahan-tambahan yang lebih kemudian dan sulit dibedakan dari bagian aslinya.
Perang Salib Pertama juga dibuktikan oleh sejumlah kecil surat yang dikirim oleh para peserta ke Eropa Barat. Surat-surat tersebut meliputi Surat Laodikeia yang dikirim oleh para pemimpin Perang Salib kepada paus pada musim gugur 1099, surat dari Anselmus IV, Uskup Agung Milan, dan surat Étienne dari Blois.[23][16]
Sumber dari Outremer

Fulcher tidak menyaksikan peristiwa puncak Perang Salib Pertama karena mendampingi Baudouin dari Boulogne ke Edessa. Ketika Baudouin menjadi raja Yerusalem pada 1100, Fulcher bergabung dengannya dan selama 27 tahun berikutnya menulis catatan yang paling kaya informasi mengenai kerajaan tersebut.
Antara 1114 dan 1122, Walter sang Kanselir mencatat peperangan yang dilakukan oleh Kepangeranan Antiokhia melawan bangsa Turki di Suriah utara dalam Bella Antiochena. Kedua karya tersebut digunakan oleh William dari Tirus. Chronicon karya William membahas sejarah wilayah itu sejak masa Kaisar Heraklius hingga 1184.
Karya William diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Catatan para penerusnya penting untuk memahami akhir Kerajaan Yerusalem pertama pada 1187 dan perkembangan abad ke-13. Karya-karya tersebut mencakup:
- Eracles, sebuah kumpulan teks yang saling berkaitan dan ditulis dalam bahasa Prancis Kuno di Prancis;
- Chronique d'Ernoul, yang ditulis di Outremer.
Pertempuran Hattin dan penaklukan wilayah oleh Salahuddin Ayyubi dibahas dalam karya pendek tetapi terperinci Libellus de expugnatione Terrae Sanctae per Saladinum expeditione, serta dua karya Petrus dari Blois, yaitu Passio Reginaldi dan Conquestio de dilatione vie Ierosolimitane. Peristiwa tersebut juga dicatat dalam sejumlah karya sejarah umum.[24]
Banyak arsip hilang setelah wilayah-wilayah Tentara Salib direbut Salahuddin pada 1187 dan setelah keruntuhan terakhir Outremer pada 1291. Catatan perjalanan para peziarah, seperti John dari Würzburg, Saewulf, dan Nikulás dari Munkathverá, memberikan keterangan mengenai topografi dan masyarakat. Assizes of Jerusalem memberikan informasi mengenai sistem hukum, sedangkan Lignages d'Outremer mencatat sejarah dan hubungan keluarga, meskipun ketepatannya untuk awal abad ke-12 masih dipersoalkan.
Gestes des Chiprois merupakan satu-satunya catatan saksi mata yang masih bertahan mengenai berakhirnya negara-negara Tentara Salib. Karya tersebut menjadi dasar tulisan Marino Sanuto Tua. Sumber lain, seperti De excidio urbis Acconis yang anonim dan Hystoria de desolacione civitatis Acconensis karya Thaddeus dari Napoli, menuduh pasukan Acre bersikap pengecut.
Hanya sedikit bukti tertulis yang bertahan dari County Edessa, sedangkan sumber yang berkaitan dengan raja-raja Yerusalem, pangeran Antiokhia, comte Tripoli, dan wilayah kekuasaan Joscelin III dari Courtenay jauh lebih banyak. Ordo-ordo militer, Gereja Makam Kudus, dan Biara Santa Maria di Lembah Yosafat juga meninggalkan dokumen dan surat. Sebagian besar belum tersedia dalam edisi teks lengkap sehingga para peneliti masih bergantung pada ringkasan yang disusun Reinhold Röhricht dalam Regesta Regni Hierosolymitani pada akhir abad ke-19.[16]
Sumber akhir abad ke-12
Kegagalan Perang Salib Kedua menyebabkan jumlah sumber mengenai kampanye tersebut lebih sedikit. Tiga narasi utamanya adalah De Ludovici VII profectione in Orientem karya Odo dari Deuil, riwayat Louis VII dari Prancis karya Suger, dan Gesta Friderici karya Otto dari Freising. William dari Tirus tidak berada di Levant selama kampanye tersebut, tetapi berusaha mengumpulkan informasi untuk menjelaskan kegagalannya.
Para sejarawan sekarang umumnya menganggap bahwa pada masa tersebut gagasan Perang Salib telah diperluas hingga mencakup peperangan melawan bangsa Slavia pagan di Eropa utara dan bangsa Moor di Semenanjung Iberia. Kampanye di Iberia dicatat dalam De expugnatione Lyxbonensi dan karya yang dikenal sebagai “Sumber Teutonik” atau “Surat Lisboa”. Rencana kepausan terhadap bangsa Slavia di sebelah timur Sungai Elbe dicatat oleh Helmold dari Bosau.
Perang Salib Ketiga lebih banyak dicatat karena keterlibatan Richard I dari Inggris dan keberhasilan relatif kampanye tersebut. Itinerarium peregrinorum et Gesta Regis Ricardi memiliki hubungan tekstual yang masih diperdebatkan dengan “Kelanjutan Latin” karya William dari Tirus. Ambroise mengaku sebagai saksi mata dan meninggalkan sebuah puisi panjang dalam bahasa Prancis Kuno.
Para penulis Anglo-Norman yang memberikan informasi meliputi:
- Roger dari Howden, yang berangkat bersama armada menuju Outremer dan kembali pada 1191;
- Richard dari Devizes, yang memperoleh informasi dari seseorang yang melakukan perjalanan hingga Sisilia;
- Ralph de Diceto, yang memiliki seorang kapelan dalam ekspedisi;
- Ralph dari Coggeshall, yang menyebutkan nama-nama pemberi informasinya;
- William dari Newburgh, yang memiliki informasi cukup baik, tetapi mungkin menggunakan “Kelanjutan Latin”.
Sudut pandang Prancis terutama terdapat dalam Gesta Philippi Augusti karya Rigord. Para penulis kronik Jerman mencatat perjalanan Kaisar Friedrich I hingga kematiannya, termasuk dalam Historia de expeditione Friderici imperatoris yang dikaitkan dengan Ansbert.
Seorang rahib dari biara Norwegia di Tønsberg mencatat pelayaran armada Denmark–Norwegia dalam Historia de profectione Danorum in Hierosolymam. Narratio de primordiis ordinis Theutonici menggambarkan pendirian rumah sakit Jerman di Acre yang kemudian berkembang menjadi Ordo Teutonik.[25]
Sumber abad ke-13 hingga ke-15

Conquête de Constantinople karya Geoffrey dari Villehardouin merupakan catatan langsung, terperinci, dan berwibawa dari sudut pandang elite mengenai Perang Salib Keempat (1202–1204) dan wilayah Yunani Franka. Karya berjudul serupa oleh Robert dari Clari memberikan sudut pandang kelompok yang lebih rendah, meskipun tidak lengkap dan kadang-kadang tidak dapat diandalkan. Dalam beberapa hal, karya Robert dapat digunakan untuk mengoreksi Villehardouin.
Kedua karya tersebut dilengkapi oleh Devastatio Constantinopolitana, sebuah karya anonim yang kemungkinan berasal dari Rhineland dan menggambarkan kekecewaan tentara salib yang lebih miskin. Kepulangan para tentara salib dan harta rampasan mereka dicatat dalam tiga sumber:
- pembelaan Gunther dari Pairis terhadap pelindungnya, Abas Martin;
- karya anonim dari Halberstadt yang membela Uskup Conrad dari Krosigk;
- karya anonim dari Soissons mengenai relik yang dibawa ke gerejanya.
Gesta Innocentii III merupakan biografi paus yang tidak kritis. Catatan mengenai permukiman Latin di Kekaisaran Konstantinopel dan Yunani Franka terbatas. Karya Villehardouin dilanjutkan oleh Henry dari Valenciennes. Chronicle of the Morea merupakan sumber utama bagi wilayah Franka di Yunani tengah dan selatan pada abad ke-13 dan ke-14, sedangkan Assises de Romanie memberikan bukti mengenai sistem hukumnya.[26]
Tiga karya mendokumentasikan Perang Salib Albigensian antara 1209 dan 1219 melawan kaum Katar di Prancis selatan:
- Peter dari Vaux-de-Cernay, keponakan Uskup Carcassonne, menyaksikan banyak peristiwa yang dicatatnya dalam Historia Albigensis. Karya tersebut menyampaikan sudut pandang para tentara salib dan secara efektif berakhir dengan kematian Simon de Montfort, Earl Leicester ke-5.
- Song of the Albigensian Crusade atau Chanson de la Croisade albigeoise mulai ditulis pada 1218 dalam bahasa Oksitan. Bagian pertama ditulis oleh William dari Tudela, yang mendukung kepausan, sedangkan bagian berikutnya ditulis oleh pengarang anonim yang menentangnya. Karya tersebut bersifat sastra, tetapi dalam banyak hal sejalan dengan catatan Peter, kecuali dalam penggambaran Simon de Montfort sebagai tokoh antagonis.
- Chronica karya Guillaume de Puylaurens, seorang notaris dari Prancis selatan yang berhubungan dengan Inkuisisi, memberikan uraian singkat mengenai peristiwa tersebut dalam sejarah yang mencakup periode 1146–1272.[27]
Peserta kampanye rakyat, seperti Perang Salib Anak-Anak 1212 serta Perang Salib Para Gembala tahun 1251 dan 1320, umumnya miskin dan tidak berpendidikan sehingga tidak menghasilkan catatan khusus. Hanya tersedia beberapa sumber naratif yang singkat dan tidak lengkap.
Historia Damiatana karya Oliver dari Paderborn merupakan catatan paling berguna mengenai Perang Salib Kelima. Sumber lain yang bernilai meliputi surat-surat Jacques dari Vitry dan kronik universal Alberic dari Trois-Fontaines. Karya Alberic juga memberikan informasi mengenai Perang Salib Keempat dan Perang Salib Albigensian.
Riwayat Louis IX dari Prancis karya Jean de Joinville, Livre de saintes paroles et des bons faiz nostre saint roy Looÿs, memiliki informasi yang baik mengenai kampanye di Timur yang diikuti Joinville, tetapi kurang dapat diandalkan mengenai Perang Salib Tunis yang tidak diikutinya.
Sejarah berbahasa syair La Prise d’Alixandre karya Guillaume de Machaut merupakan sumber utama mengenai penaklukan Aleksandria di Mesir pada 1365 oleh Peter I dari Siprus. Biografi kesatriaan Louis II, Adipati Bourbon, Chronique du bon Loys de Bourbon, serta biografi Jean II Le Maingre, Livre des Fais, memberikan informasi mengenai Perang Salib Mahdia 1390, Perang Salib Nikopolis 1396, dan ekspedisi ke Prusia pada 1384 dan 1385.[27]
Penulis kronik Saxo Grammaticus menggambarkan kampanye Denmark di Baltik, tetapi Henry dari Livonia merupakan sumber terpenting bagi konflik di Livonia melalui Kronik Livonia Henry. Sebagian besar sumber naratif mengenai Perang Salib Baltik ditulis dalam bahasa Jerman Hulu atau Jerman Hilir oleh orang-orang yang berhubungan dengan Ordo Teutonik:
- Livonian Rhymed Chronicle atau Livländische Reimchronik;
- Ältere Hochmeisterchronik;
- kronik karya Nicolaus von Jeroschin, Hermann von Wartberge, Wigand von Marburg, dan Johann von Posilge.
Sumber Latin lainnya adalah kronik yang ditulis oleh imam Ordo Teutonik, Peter dari Dusburg. Jenis sumber yang khas bagi kampanye militer tersebut mencakup catatan pembayaran tentara bayaran dan sekitar seratus Litauische Wegeberichte, yaitu laporan mengenai rute-rute kampanye menuju Lituania yang disusun berdasarkan informasi pengintai dan penduduk setempat.
Dokumen lain mengenai Prusia dan Livonia, yang hanya sebagian telah diterbitkan, disimpan dalam koleksi Yayasan Warisan Budaya Prusia atau Geheimes Staatsarchiv Preußischer Kulturbesitz di Berlin. Pada akhir abad ke-15, sebuah kronik besar mengenai Ordo Teutonik dan Perang Salib di Tanah Suci ditulis dalam bahasa Belanda, yaitu Jüngere Hochmeisterchronik atau Utrecht Chronicle of the Teutonic Order.[28]
Teks pemulihan Tanah Suci

Setelah Suriah dan Palestina direbut oleh Mamluk, khususnya setelah jatuhnya Acre pada 1291, penulisan sejarah Perang Salib dalam bahasa Latin menurun. Sebagai gantinya, berkembang sebuah genre baru berupa teks-teks pemulihan. Teks tersebut merupakan risalah atau memorandum yang menguraikan proyek dan strategi untuk merebut kembali Tanah Suci, yang dikenal sebagai de recuperatione Terrae Sanctae.
Penulis seperti Fidenzio dari Padua, Marino Sanudo Torsello melalui Liber secretorum fidelium crucis, Philippe de Mézières, Bertrandon de la Broquière, Ramon Llull, dan Pierre Dubois menulis dan menyebarkan karya semacam itu dalam jumlah besar. Tingkat kepraktisan dan pengaruhnya sangat bervariasi.[29] Sumber yang digunakan Sanudo antara lain Speculum historiale karya rahib Dominikan abad ke-13 Vincent dari Beauvais.[30]
Pada abad ke-14 dan ke-15, meningkatnya ancaman Utsmaniyah dan jatuhnya Konstantinopel pada 1453 mendorong munculnya kembali minat terhadap Perang Salib Abad Pertengahan Tinggi di kalangan humanis Renaisans. Historiografi humanis menggunakan retorika yang halus dan mengidealkan Perang Salib Pertama sebagai teladan bagi propaganda yang mendukung persekutuan Eropa melawan musuh yang dianggap barbar.
Flavio Biondo secara langsung menghubungkan jatuhnya Konstantinopel dengan Konsili Clermont dalam Historiarum decades. Karya Benedetto Accolti Tua, De bello a Christianis contra barbaros gesto pro Christi sepulchro et Iudaea recuperandis, berhubungan erat dengan persiapan perang Paus Pius II.
Perang Salib Pertama kemudian dibentuk ulang menjadi sumber kebanggaan dan nasionalisme dalam karya-karya berdasarkan Robert dari Reims dan William dari Tirus, seperti Historiarum rerum Venetarum decades karya Marcus Antonius Coccius Sabellicus dan De rebus gestis Francorum libri karya Paolo Emilio, yang dipersembahkan kepada Louis XII dari Prancis.[31]
Kesusastraan masa Reformasi

Pandangan terhadap Perang Salib pada masa Reformasi dibentuk oleh perdebatan antarkonfesi dan perluasan wilayah Utsmaniyah. Dalam History of the Turks yang diterbitkan pada 1566, penulis martirologi Protestan John Foxe menyalahkan dosa-dosa Gereja Katolik atas kegagalan Perang Salib. Ia juga mengecam penggunaan Perang Salib terhadap kelompok yang menurutnya mempertahankan iman yang benar, seperti kaum Albigensian dan Waldensian.
Cendekiawan Lutheran Matthew Dresser (1536–1607) mengembangkan pandangan tersebut. Para tentara salib dipuji karena iman mereka, tetapi motivasi Urbanus II dipandang sebagai bagian dari pertikaiannya dengan Kaisar Heinrich IV. Dalam pandangan ini, Perang Salib memiliki landasan yang keliru dan gagasan mengenai pemulihan tempat-tempat suci secara fisik dianggap sebagai “takhayul yang menjijikkan”.[32]
Étienne Pasquier menekankan kegagalan Perang Salib dan kerusakan yang ditimbulkan konflik keagamaan terhadap Prancis dan Gereja. Ia menyebutkan korban agresi kepausan, penjualan indulgensi, penyalahgunaan kekuasaan Gereja, korupsi, dan konflik dalam negeri.[33]
Pada awal abad ke-17, ahli hukum Katolik reformis Alberico Gentili dan humanis Belanda Hugo Grotius berpendapat bahwa hanya perang yang dilancarkan karena alasan sekuler, seperti mempertahankan wilayah yang dimiliki secara sah, yang dapat dianggap sebagai “perang yang adil”. Perang yang dilakukan untuk memaksa orang lain berpindah agama dianggap tidak adil.
Keduanya menafsirkan kembali Perang Salib sebagai perang untuk mempertahankan dunia Kristen, bukan sebagai peragaan iman. Dengan menghindari penekanan tradisional terhadap indulgensi yang diberikan Gereja Katolik, mereka menciptakan suatu pandangan yang dapat diterima oleh umat Kristen Protestan maupun Katolik.[34]
Perpecahan akibat Perang Agama Prancis menyebabkan cendekiawan Protestan dan Katolik, seperti Jacques Bongars dan Pasquier, menggunakan Perang Salib sebagai lambang persatuan Prancis. Mereka menggambarkannya terutama sebagai pengalaman Prancis, bukan sebagai persekutuan umat Kristen Eropa. Mereka memuji tokoh-tokoh tertentu, tetapi pada saat yang sama menganggap Perang Salib secara keseluruhan tidak bermoral.[33]
Kesusastraan Abad Pencerahan
Para penulis Abad Pencerahan, seperti David Hume, Voltaire, dan Edward Gibbon, menggunakan Perang Salib sebagai alat konseptual untuk mengkritik agama, peradaban, dan kebiasaan budaya. Menurut mereka, satu-satunya dampak positif Perang Salib adalah melemahnya feodalisme yang kemudian mendukung perkembangan rasionalisme. Dampak negatifnya dianggap mencakup berkurangnya penduduk, kehancuran ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan paus, ketidakbertanggungjawaban, dan kebiadaban. Pendapat tersebut kemudian dikritik oleh para sejarawan abad ke-19 karena dianggap terlalu bermusuhan dan kurang memahami Perang Salib.[35]
Sebaliknya, Claude Fleury dan Gottfried Wilhelm Leibniz mengemukakan bahwa Perang Salib merupakan salah satu tahap dalam perkembangan peradaban Eropa. Paradigma tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh kalangan rasionalis.[36] Di Prancis, gagasan bahwa Perang Salib merupakan bagian penting dari sejarah dan identitas nasional terus berkembang. Dalam kepustakaan ilmiah, istilah “perang suci” mulai digantikan oleh istilah Jerman yang lebih netral, Kreuzzug, dan istilah Prancis croisade.[37]
Pada 1671, ketika bekerja untuk Elektor Mainz, Leibniz menulis sebuah usulan kepada Louis XIV dari Prancis mengenai penaklukan Mesir oleh Prancis dengan meniru strategi tentara salib. Tujuan strategisnya kemungkinan untuk mengalihkan agresi Prancis. Namun, Leibniz berpendapat bahwa peranan Prancis dalam Perang Salib sesuai dengan takdir negara tersebut, akan menguntungkan dunia Kristen, memanfaatkan kemerosotan Utsmaniyah, dan mendukung kolonisasi Prancis di Timur Dekat.
Usulan tersebut tidak diterima. Duta besar Prancis di Mainz menulis, “Saya tidak mengatakan apa-apa mengenai rencana perang suci; tetapi Anda mengetahui bahwa hal semacam itu telah tidak lagi menjadi mode sejak masa Santo Louis.” Usulan tersebut ditemukan kembali dan gagasan Leibniz memperoleh perhatian baru menjelang Kampanye Prancis di Mesir dan Suriah yang dipimpin Napoleon pada akhir abad ke-18.[38]
Gibbon mengikuti Thomas Fuller dalam menolak gagasan bahwa Perang Salib merupakan tindakan pertahanan yang sah karena dinilai tidak sebanding dengan ancaman yang dihadapi. Palestina dijadikan sasaran bukan berdasarkan pertimbangan rasional, melainkan karena fanatisme dan takhayul.[39]
William Robertson mengembangkan pemikiran Fleury melalui pendekatan baru yang bersifat empiris dan berusaha objektif. Ia menempatkan Perang Salib dalam narasi perjalanan menuju modernitas. Karyanya membahas perkembangan kebudayaan, pertumbuhan perdagangan, dan kebangkitan kota-kota Italia. Pendekatan tersebut memengaruhi muridnya, Walter Scott.[40]
Kesusastraan Barat abad ke-19

Sebagian besar pemahaman populer mengenai Perang Salib berasal dari novel-novel abad ke-19 karya Walter Scott dan sejarah yang ditulis Joseph-François Michaud.[41] Scott menerbitkan empat novel yang berkaitan dengan Perang Salib antara 1819 dan 1831. Ia menggambarkan Perang Salib sebagai serbuan orang Eropa Barat yang menarik tetapi kurang berpendidikan terhadap suatu peradaban yang lebih maju.
Michaud menerbitkan Histoire des croisades yang sangat berpengaruh antara 1812 dan 1822. Ia menggambarkan Perang Salib sebagai instrumen kejayaan nasionalisme Prancis dan bentuk awal imperialisme. Kedua pandangan yang bertentangan tersebut hanya memiliki satu kesamaan, yaitu mendefinisikan Perang Salib berdasarkan pertentangannya terhadap Islam.
Gambaran Scott mengenai kebudayaan yang lebih rendah menyerang peradaban yang lebih maju berpadu dengan keyakinan protokolonial Michaud. Pada 1950-an, gabungan tersebut telah menghasilkan pandangan ortodoks yang bersifat neoimperialis dan materialistis, yang tetap berpengaruh dalam pemahaman populer.[42]
Kaum Romantik dan pendukung konservatif rezim lama Eropa menggunakan citra Perang Salib untuk tujuan politik. Mereka mengurangi penekanan terhadap unsur agama agar sesuai dengan konteks sekuler modern dan menggambarkan Perang Salib sebagai tandingan terhadap gagasan liberal mengenai nasionalisme.[43]
Tokoh yang kemudian menjadi Perdana Menteri Britania Raya, Benjamin Disraeli, menunjukkan minat mendalam terhadap Perang Salib. Ia mengunjungi Timur Dekat pada 1831 dan menulis novel bertema Perang Salib pada 1847 yang berjudul Tancred atau The New Crusade.[44]
Para sejarawan Barat secara tradisional berpendapat bahwa dunia Muslim hanya menunjukkan sedikit minat terhadap Perang Salib hingga pertengahan abad ke-19. Carole Hillenbrand menyatakan bahwa Perang Salib merupakan persoalan yang relatif kecil dibandingkan dengan keruntuhan kekhalifahan dan invasi Mongol. Penulis Arab juga sering menggunakan sudut pandang Barat karena menentang Kesultanan Utsmaniyah, yang dianggap menekan nasionalisme Arab.[45]
Pada 1841, jilid pertama dari 15 jilid Recueil des historiens des croisades diterbitkan berdasarkan sumber asli yang dikumpulkan para rahib Kongregasi Saint-Maur sebelum Revolusi Prancis.[46] Raja Louis-Philippe membuka Salle des Croisades di Istana Versailles pada 1843. Ruangan tersebut dihiasi lebih dari 120 lukisan bertema Perang Salib yang dibuat secara khusus.[47]
Historiografi Barat modern
Sejarawan Prancis seperti Emmanuel Guillaume-Rey, Louis Madelin, dan René Grousset mengembangkan gagasan Michaud, mendukung propaganda kolonial Prancis di Laut Tengah, serta menciptakan model populer yang kemudian dikritik dan dibongkar ketika imperialisme tidak lagi memperoleh penerimaan akademik.[48]
Spanyol pada periode modern awal dan masa pemerintahan Francisco Franco merupakan kasus khusus karena nasionalisme dan identitas nasional diproyeksikan melalui Perang Salib.[49] Gereja Katolik Spanyol menyatakan perang salib terhadap Marxisme dan ateisme. Selama 36 tahun masa Katolik Nasional, gagasan Reconquista sebagai dasar ingatan sejarah, perayaan, dan identitas nasional Spanyol tertanam kuat di lingkungan konservatif.
Pandangan tersebut kehilangan kedudukan dominannya dalam historiografi setelah demokrasi dipulihkan pada 1978. Namun, gagasan Reconquista tetap penting dalam sebagian lingkungan konservatif di dunia akademik, politik, dan media Spanyol ketika menafsirkan Abad Pertengahan karena konotasi ideologisnya yang kuat.[50] Dibandingkan dengan Spanyol, Prancis, Jerman, dan Italia, para sejarawan Britania cenderung menggunakan pendekatan yang lebih sedikit dipengaruhi ideologi nasional.[51]
Karya tiga jilid Steven Runciman, A History of the Crusades, yang diterbitkan antara 1951 dan 1954, memberikan pengaruh terbesar terhadap historiografi Perang Salib sejak Michaud. Salah satu penyebabnya adalah gaya penulisannya yang elegan. Jonathan Riley-Smith mengutip pernyataan Runciman bahwa ia lebih merupakan penulis kesusastraan daripada sejarawan.
Sebagai sejarawan Kekaisaran Bizantium, pendekatan Runciman mencerminkan konsep abad ke-19 mengenai benturan peradaban. Sejarawan Thomas F. Madden berpendapat bahwa Runciman seorang diri membentuk konsep populer modern mengenai Perang Salib. Banyak akademisi lain menilai karyanya telah usang, terkadang tidak tepat, dan terbuka untuk diperdebatkan.
Karya Runciman sebagian besar didasarkan pada Histoire de la Première Croisade jusqu'à l'élection de Godefroi de Bouillon karya Ferdinand Chalandon, Gesta Francorum, William dari Tirus, sumber Bizantium seperti Niketas Choniates, Gestes des Chiprois, dan karya Grousset.[52][53][54]
Pada 1940-an, karya Claude Cahen, La Syrie du Nord à l'époque des croisades, menetapkan kajian Outremer sebagai bagian dari sejarah Timur Dekat yang dapat diteliti secara terpisah dari sejarah Barat.[55]
Dengan meneliti kembali praktik hukum dan kelembagaan, sejarawan Israel Joshua Prawer dan sejarawan Prancis Jean Richard membentuk ulang historiografi Timur Latin. Sejarah konstitusional yang baru menggantikan paradigma Timur Latin sebagai model dunia feodal.
Dalam Histoire du royaume latin de Jérusalem, Richard mengkaji kembali permukiman Latin di Timur dan gagasan bahwa permukiman tersebut merupakan bentuk awal koloni. Dalam The Latin Kingdom of Jerusalem: European Colonialism in the Middle Ages, Prawer berpendapat bahwa permukiman Franka terlalu terbatas untuk bertahan secara permanen dan bahwa orang Franka tidak menyatu dengan kebudayaan atau lingkungan setempat. Oleh karena itu, menurutnya, kerajaan tersebut tidak dapat disamakan dengan negara Israel.
Pandangan itu sejalan dengan karya berpengaruh R. C. Smail pada 1956 mengenai peperangan Tentara Salib dan secara langsung menantang pandangan Madelin dan Grousset. Namun, karya Ronnie Ellenblum tahun 1998, Frankish Rural Settlement in the Latin Kingdom of Jerusalem, memodifikasi model Prawer dengan menunjukkan adanya permukiman pedesaan Latin yang lebih luas.[56]
Atas prakarsa John La Monte dari Universitas Pennsylvania dan kemudian disunting oleh Kenneth Setton, proyek kolaboratif berjilid-jilid Wisconsin Collaborative History of the Crusades berusaha mengisi kekosongan pengetahuan mengenai Perang Salib. Karya tersebut mengandung banyak bahan berguna, peta, tata nama, daftar pustaka, dan glosarium.
Namun, pendekatan kolaboratif menyebabkan proses penerbitannya berlangsung sangat lama, yaitu antara 1955 dan 1989. Karya tersebut juga kurang memiliki kesatuan dan sebagian sumbangannya terhadap perdebatan Perang Salib telah menjadi usang akibat perkembangan penelitian baru.[57]
Dalam artikel tahun 2001, “The Historiography of the Crusades”, Giles Constable berusaha menggolongkan pengertian Perang Salib ke dalam empat pendekatan:
- kelompok tradisionalis, seperti Hans Eberhard Mayer, menekankan tujuan atau sasaran Perang Salib;
- kelompok pluralis, seperti Riley-Smith, menekankan cara Perang Salib diorganisasi;
- kelompok popularis, termasuk Paul Alphandéry dan Étienne Delaruelle, meneliti gelombang semangat keagamaan masyarakat;
- kelompok generalis, seperti Ernst-Dieter Hehl, menempatkan Perang Salib dalam fenomena perang suci Kristen Latin.
Definisi Perang Salib tetap menjadi bahan perdebatan.[58][59][8]
Sebelum akhir abad ke-20, istilah “Perang Salib” dan cakupannya umumnya dianggap hanya merujuk kepada upaya umat Kristen untuk merebut kembali Yerusalem. Sejak awal zaman modern, hanya sedikit perhatian diberikan kepada wilayah perang lainnya.
Sejarawan Jerman Carl Erdmann memberikan tantangan besar terhadap pandangan tersebut. Ia berpendapat bahwa Perang Salib merupakan ideologi politik dalam masyarakat Barat, bukan sekadar konflik perbatasan yang diromantisasi. Pada 1965, karya Hans Eberhard Mayer, Geschichte der Kreuzzüge, mengajukan berbagai pertanyaan mengenai definisi Perang Salib.
Riley-Smith menghubungkan dua aliran pemikiran mengenai tindakan dan motivasi tentara salib. Pada 1977 ia telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam kajian akademik Perang Salib dan mengajukan definisi yang lebih luas.[60] Unsur utama dalam definisinya adalah kewenangan kepausan.[7]
Pandangan Riley-Smith bahwa Perang Salib ke Timur merupakan kampanye yang paling bergengsi dan menjadi ukuran bagi kampanye lainnya diterima secara luas. Namun, masih terdapat perbedaan mengenai apakah hanya kampanye untuk merebut atau mempertahankan Yerusalem yang dapat disebut Perang Salib, sebagaimana pendapat Mayer dan Jean Flori, atau apakah semua perang yang diberi hak rohani dan duniawi setara oleh paus juga merupakan Perang Salib yang sah, sebagaimana pendapat Riley-Smith dan Norman Housley.
Menurut John Gilchrist, perdebatan tersebut sering gagal menempatkan paradigma Perang Salib, yang baru menjadi koheren sekitar 1200, dalam konteks perang suci Kristen abad pertengahan. Ia berpendapat bahwa Perang Salib berasal dari prakarsa gerejawi, tetapi Gereja kemudian tunduk kepada militerisme sekuler pada awal abad ke-13.
Bagi Paul E. Chevedden, konsep Perang Salib tidak hanya terwujud dalam satu bentuk, seperti Perang Salib Yerusalem, tetapi dalam keseluruhan bentuk Perang Salib. Kesatuan fenomena tersebut hanya dapat dipahami dengan mengkaji berbagai perwujudannya secara bersamaan.[61]
Mengembangkan gagasan Chevedden, Paul Srodecki menyebut Perang Salib sebagai “bunglon evolusioner”. Menurutnya, kemampuan untuk menyesuaikan diri memungkinkan gagasan tersebut bertahan dalam dunia Kristen Latin hingga awal zaman modern dan tetap menjadi alat ideologis, retoris, legitimasi, serta propaganda selama Perang Husite dan perang melawan Turki.[62]
Sejarawan masa kini mengkaji Perang Salib di kawasan Baltik, Laut Tengah, Timur Dekat, bahkan Atlantik. Mereka juga meneliti kedudukan dan asal-usul Perang Salib dalam masyarakat pelaku maupun masyarakat yang menjadi sasaran. Cakupan kronologisnya dapat diperpanjang hingga awal zaman modern, misalnya melalui keberadaan Ordo Santo Yohanes di Malta sampai 1798.[55]
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, para sejarawan menggunakan pendekatan kajian gender, teori sastra, sejarah emosi, kajian memori, dan analisis manuskrip untuk menilai sumber naratif serta memahami pengalaman dan representasi perempuan dalam Perang Salib.[63][64]
Penelitian pada 2020-an semakin menekankan bahwa penulisan sejarah Perang Salib merupakan proses aktif dalam pembentukan ingatan, identitas, kekuasaan, dan legitimasi. Kumpulan kajian yang disunting Andrew D. Buck, James H. Kane, dan Stephen J. Spencer meneliti surat, kronik, tradisi manuskrip, narasi William dari Tirus, konsep maskulinitas, serta penulisan dan penyalinan sejarah di Acre.[65]
Kajian sastra juga memperlihatkan bahwa teks-teks Perang Salib tidak selalu berisi propaganda sederhana. Marcel Elias menunjukkan bahwa roman Perang Salib dalam bahasa Inggris Pertengahan pada periode 1291–1453 dapat mencerminkan ambivalensi, kecemasan, dan kritik terhadap gagasan perang suci.[66]
Historiografi Arab dan Muslim

Banyak sumber Arab telah hilang, belum diterjemahkan, atau hanya bertahan dalam bentuk manuskrip. Keadaan tersebut menyulitkan penelitian bagi sejarawan yang tidak menguasai bahasanya. Motivasi para penulis juga perlu diperhatikan. Selain itu, konsep Kristen mengenai Perang Salib merupakan gagasan yang asing bagi umat Muslim abad pertengahan, yang sering memandang para tentara salib sebagai orang-orang yang digerakkan oleh keserakahan.
Hanya sedikit karya Muslim yang membahas Perang Salib sebagai fenomena tersendiri. Kampanye Tentara Salib biasanya dicatat sebagai bagian dari narasi peristiwa yang lebih luas, disebutkan secara tidak berkala, dan sering kali tanpa uraian terperinci.[67]
Sebagian besar karya Arab pada masa Perang Salib ditulis oleh orang Muslim dalam bahasa Arab Klasik. Namun, terdapat pula karya Arab yang ditulis oleh orang Kristen dan Yahudi. Beberapa sumber dari komunitas Yahudi menggunakan bahasa Arab dengan aksara Ibrani, yang dikenal sebagai bahasa Arab Yahudi. Contohnya adalah dokumen dari Geniza Kairo yang ditemukan pada akhir abad ke-19 di Sinagoge Ben Ezra, Kairo.
Jenis sumber tersebut mencakup:[68]
- Kronik universal, seperti al-Kāmil fī al-Tārīkh atau The Complete History karya Ali bin al-Atsir. Sejarah lokal menggunakan bentuk serupa, tetapi berpusat pada kota atau wilayah tertentu. Ibnu al-Qalanisi menulis The Continuation of the History of Damascus, sedangkan sejumlah penulis menulis sejarah Aleppo. Ibnu al-Atsir juga menulis sejarah Dinasti Zankiyah, The Dazzling History of the State of the Atabegs. Jamaluddin Muhammad bin Wasil menulis mengenai Dinasti Ayyubiyah, sedangkan Abu Shama membahas Dinasti Zankiyah dan Ayyubiyah. Informasi mengenai para patriark Gereja Koptik Mesir dicatat dalam Biographies of the Holy Patriarchs, yang disusun oleh sejumlah penulis setelah masa Severus ibn al-Muqaffa.
- Biografi dan autobiografi, termasuk riwayat penguasa, pejabat, ulama, penyair, dan tokoh militer.
- Teks keagamaan, termasuk risalah jihad, khotbah, dan penafsiran keagamaan terhadap kemenangan atau kekalahan.
- Karya geografi dan sastra perjalanan, yang memberikan informasi mengenai kota, rute perdagangan, tempat suci, dan hubungan sosial.
- Sastra rakyat populer, yang sering mengembangkan tokoh-tokoh sejarah menjadi pahlawan legendaris.
- Teks hukum dan perjanjian, yang memberikan informasi mengenai hubungan diplomatik dan pengaturan antara penguasa Muslim dan Franka.
- Ungkapan kutukan tambahan, seperti doa agar Tuhan mengutuk atau meninggalkan bangsa Franka, yang dicantumkan setelah penyebutan mereka dalam sejumlah sumber.
Dunia Muslim menunjukkan perhatian yang terbatas terhadap Perang Salib sebagai fenomena sejarah tersendiri hingga pertengahan abad ke-19. Salah satu penjelasannya adalah bahwa Perang Salib dipandang sebagai persoalan yang lebih kecil dibandingkan dengan kehancuran kekhalifahan akibat invasi Mongol dan penggantian pemerintahan Arab oleh Kesultanan Utsmaniyah.
Carole Hillenbrand berpendapat bahwa para sejarawan Arab sering menggunakan sudut pandang Barat karena secara historis menentang kekuasaan Turki atas wilayah mereka.[45]
Umat Kristen Suriah berbahasa Arab mulai menerjemahkan karya sejarah Prancis ke dalam bahasa Arab. Perkembangan tersebut mendorong penggantian istilah “perang bangsa Ifranjcode: ar is deprecated ” atau Franka dengan istilah al-ḥurūb al-ṣalībiyyacode: ar is deprecated , “perang-perang salib”.
Penulis Utsmaniyah Namık Kemal menerbitkan biografi modern pertama Salahuddin pada 1872. Kunjungan Kaisar Wilhelm II ke Yerusalem pada 1898 mendorong meningkatnya perhatian terhadap Perang Salib. Sayyid Ali al-Hariri dari Mesir kemudian menghasilkan sejarah Perang Salib modern pertama dalam bahasa Arab.
Kajian modern tersebut sering didorong oleh tujuan politik, yaitu mengambil pelajaran dari keberhasilan pasukan Muslim dalam mengalahkan musuh mereka.[69]
Sebelum kunjungan Wilhelm, reputasi Salahuddin sebagai tokoh kesatria di Barat tidak memiliki padanan yang sama kuatnya di dunia Muslim. Salahuddin sebagian besar telah dilupakan dan berada di bawah bayang-bayang tokoh yang dianggap lebih berhasil, seperti Baibars dari Mesir. Kunjungan Wilhelm dan berkembangnya sentimen antiimperialis membantu membentuk kembali reputasi Salahuddin sebagai pahlawan nasional Arab dalam perjuangan melawan Barat.[70]
Negara-negara Arab modern kemudian memperingati Salahuddin melalui berbagai cara, sering kali berdasarkan gambaran yang sebelumnya dikembangkan di Barat pada abad ke-19.[71]
Penggunaan kesejajaran sejarah dan pencarian inspirasi dari Abad Pertengahan menjadi unsur penting dalam Islam politik, yang mendorong gagasan mengenai jihad modern dan perjuangan panjang. Nasionalisme Arab sekuler, sebaliknya, menekankan peranan imperialisme Barat.[72]
Pemikir, politikus, dan sejarawan Muslim menarik kesejajaran antara Perang Salib dan perkembangan politik modern, seperti pendirian negara Israel pada 1948.[73]
Kelompok sayap kanan di dunia Barat membuat kesejajaran yang berlawanan dengan menyatakan bahwa Kekristenan menghadapi ancaman agama dan demografi dari Islam yang menyerupai keadaan pada masa Perang Salib. Lambang Tentara Salib dan retorika anti-Islam digunakan sebagai tanggapan, setidaknya untuk kepentingan propaganda. Simbol dan retorika tersebut digunakan untuk memberikan pembenaran serta inspirasi keagamaan dalam perjuangan melawan musuh yang didefinisikan berdasarkan agama.[74]
Madden berpendapat bahwa ketegangan modern merupakan hasil gambaran Perang Salib yang dibentuk oleh kekuasaan kolonial pada abad ke-19 dan kemudian diwariskan kepada nasionalisme Arab. Menurutnya, Perang Salib merupakan fenomena abad pertengahan dan para tentara salib melakukan perang pertahanan atas nama umat seagama mereka.[75]
Penelitian terbaru terhadap sumber Arab menekankan keberagaman genre, kepentingan politik penulis, dan sikap yang tidak selalu seragam terhadap bangsa Franka. Kumpulan kajian yang disunting Alexander Mallett pada 2024 membahas sembilan penulis sumber berbahasa Arab, termasuk penulis historiografi, biografi, geografi, teks keagamaan, dan sastra perjalanan.[76]
Catatan kaki
- ↑ "Historiography". Oxford English Dictionary (Edisi Online). Oxford University Press. (Subscription or participating institution membership required.)
- ↑ "crusades". Oxford English Dictionary (Edisi Online). Oxford University Press. (Subscription or participating institution membership required.)
- ↑ Tyerman 2019, hlm. 1.
- 1 2 Asbridge 2012, hlm. 40.
- ↑ Tyerman 2019, hlm. 5.
- ↑ "Outremer". Oxford English Dictionary (Edisi Online). Oxford University Press. (Subscription or participating institution membership required.)
- 1 2 Riley-Smith 2009, hlm. xi.
- 1 2 Constable 2001, hlm. 1–22.
- ↑ Tyerman 2019, hlm. 1–6.
- ↑ Richard 1979, hlm. 376–380.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 47–50
- ↑ Tyerman 2006b, hlm. 584.
- ↑ Davies 1997, hlm. 358
- ↑ Housley 1992.
- ↑ Murray & Edgington 2006, hlm. 1270.
- 1 2 3 Murray & Edgington 2006, hlm. 1270–1271.
- ↑ Wilson 2025, hlm. 230–253.
- ↑ Murray & Edgington 2006, hlm. 1269–1270.
- ↑ Thomson 2001, hlm. 72–73.
- ↑ Tyerman 2006b, hlm. 582.
- ↑ Murray & Edgington 2006, hlm. 1271.
- ↑ Lapina, Elizabeth (2015). Warfare and the Miraculous in the Chronicles of the First Crusade. Pennsylvania State University Press. ISBN 978-0-271-06670-7.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 8–12.
- ↑ Murray & Edgington 2006, hlm. 1272.
- ↑ Murray & Edgington 2006, hlm. 1273.
- ↑ Murray & Edgington 2006, hlm. 1273–1274.
- 1 2 Murray & Edgington 2006, hlm. 1274.
- ↑ Stapel, Rombert (2021). Medieval Authorship and Cultural Exchange in the Late Fifteenth Century: The Utrecht Chronicle of the Teutonic Order. London: Routledge. ISBN 978-1-000-33376-3. OCLC 1228889216.
- ↑ Murray & Edgington 2006, hlm. 1274–1275.
- ↑ Orth 2006, hlm. 718.
- ↑ Orth 2006, hlm. 718–719.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 38–42.
- 1 2 Tyerman 2011, hlm. 47–50.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 38–40.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 79.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 67.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 71.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 51–52.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 87.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 80–86.
- ↑ Tyerman 2019, hlm. 448–456.
- ↑ Riley-Smith 2009, hlm. xiv
- ↑ Riley-Smith 2009, hlm. xiv.
- ↑ Asbridge 2012, hlm. 672.
- 1 2 Hillenbrand 1999, hlm. 5.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 142–143.
- ↑ Riley-Smith 2008, hlm. 54.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 116–117.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 4.
- ↑ García-Sanjuán 2018, hlm. 4
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 228–229.
- ↑ Tyerman 2006, hlm. 29, 560.
- ↑ Madden 2013, hlm. 216.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 192–199.
- 1 2 Tyerman 2006b, hlm. 587.
- ↑ Tyerman 2006b, hlm. 586–587.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 161–163.
- ↑ Gilchrist 1985, hlm. 225–226.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 225–226.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 218–221.
- ↑ Chevedden 2013, hlm. 36.
- ↑ Srodecki 2022, hlm. 39–40.
- ↑ Tyerman 2011, hlm. 216–217, 235.
- ↑ Nicholson 2023.
- ↑ Buck, Kane & Spencer 2024.
- ↑ Elias 2024.
- ↑ Christie 2006, hlm. 81.
- ↑ Christie 2006, hlm. 81–84.
- ↑ Asbridge 2012, hlm. 675–677.
- ↑ Riley-Smith 2009, hlm. 6–66.
- ↑ Madden 2013, hlm. 201–204.
- ↑ Asbridge 2012, hlm. 675–680.
- ↑ Asbridge 2012, hlm. 674–675.
- ↑ Koch 2017, hlm. 1.
- ↑ Madden 2013, hlm. 204–205.
- ↑ Mallett 2024.
Daftar pustaka
- Asbridge, Thomas (2012). The Crusades: The War for the Holy Land. Simon & Schuster. ISBN 978-1-84983-688-3.
- Buck, Andrew D.; Kane, James H.; Spencer, Stephen J. (2024). Buck, Andrew D.; Kane, James H.; Spencer, Stephen J. (ed.). Crusade, Settlement and Historical Writing in the Latin East and Latin West, c. 1100–c. 1300. Boydell Press. doi:10.1017/9781805431510. ISBN 978-1-78327-733-9.
- Chevedden, Paul E. (2013). "Crusade Creationism versus Pope Urban II's Conceptualization of the Crusades". The Historian. 75: 1–46. doi:10.1111/hisn.12000.
- Christie, Niall (2006). "Arabic Sources". Dalam Murray, Alan V. (ed.). The Crusades: An Encyclopedia. Vol. I: A–C. ABC-CLIO. hlm. 81–84. ISBN 978-1-57607-862-4.
- Constable, Giles (2001). "The Historiography of the Crusades". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy P. (ed.). The Crusades from the Perspective of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks. hlm. 1–22. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Davies, Norman (1997). Europe: A History. Pimlico. ISBN 978-0-7126-6633-6.
- Elias, Marcel (2024). English Literature and the Crusades: Anxieties of Holy War, 1291–1453. Cambridge University Press. doi:10.1017/9781108935463. ISBN 978-1-10883-221-2.
- García-Sanjuán, Alejandro (2018). "Rejecting al-Andalus, Exalting the Reconquista: Historical Memory in Contemporary Spain". Journal of Medieval Iberian Studies. 10 (1): 127–145. doi:10.1080/17546559.2016.1268263. S2CID 157964339.
- Gilchrist, John T. (1985). "The Erdmann Thesis and Canon Law, 1083–1141". Dalam Edbury, Peter W. (ed.). Crusade and Settlement: Papers Read at the First Conference of the Society for the Study of the Crusades and the Latin East and Presented to R. C. Smail. University College Cardiff Press. hlm. 37–45. ISBN 978-0-90644-978-3.
- Hillenbrand, Carole (1999). The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-0630-6.
- Housley, Norman (1992). The Later Crusades, 1274–1580: From Lyons to Alcazar. Oxford University Press. ISBN 978-0-19822-136-4.
- Koch, Ariel (2017). "The New Crusaders: Contemporary Extreme Right Symbolism and Rhetoric". Perspectives on Terrorism. 11 (5): 13–24. ISSN 2334-3745. Diarsipkan dari versi asli pada 14 November 2017.
- Madden, Thomas F. (2013). The Concise History of the Crusades. Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-442-21576-4.
- Mallett, Alexander (2024). Mallett, Alexander (ed.). Arabic Textual Sources for the Crusades. The Muslim World in the Age of the Crusades. Vol. 5. Leiden: Brill. doi:10.1163/9789004690127. ISBN 978-90-04-67758-6.
- Murray, Alan V.; Edgington, Susan (2006). "Western Sources". Dalam Murray, Alan V. (ed.). The Crusades: An Encyclopedia. Vol. IV: R–Z. ABC-CLIO. hlm. 1269–1276. ISBN 1-57607-862-0.
- Nicholson, Helen J. (2023). Women and the Crusades. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-880672-1.
- Orth, Peter (2006). "Latin Literature". Dalam Murray, Alan V. (ed.). The Crusades: An Encyclopedia. Vol. III: K–O. ABC-CLIO. hlm. 717–720. ISBN 978-1-57607-862-4.
- Richard, Jean (1979). The Latin Kingdom of Jerusalem. Vol. II. Elsevier. ISBN 978-0-44485-092-8.
- Riley-Smith, Jonathan (2009). What Were the Crusades?. Palgrave Macmillan. ISBN 978-0-230-22069-0.
- Riley-Smith, Jonathan (2008). The Crusades, Christianity, and Islam. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-14624-1.
- Srodecki, Paul (2022). "Crusading on the Periphery in the High Middle Ages: Main Debates, New Approaches". Dalam Srodecki, Paul; Kersken, Norbert (ed.). The Expansion of the Faith: Crusading on the Frontiers of Latin Christendom in the High Middle Ages. Brepols. hlm. 29–52. ISBN 978-2-503-58880-3.
- Thomson, Robert W. (2001). "The Crusades through Armenian Eyes". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy P. (ed.). The Crusades from the Perspective of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks. hlm. 71–82. ISBN 978-0-88402-277-0.
- Tyerman, Christopher (2006). God's War: A New History of the Crusades. Cambridge, Massachusetts: Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 0-674-02387-0.
- Tyerman, Christopher (2006b). "Historiography, Modern". Dalam Murray, Alan V. (ed.). The Crusades: An Encyclopedia. Vol. II: D–J. ABC-CLIO. hlm. 582–587. ISBN 1-57607-862-0.
- Tyerman, Christopher (2011). The Debate on the Crusades, 1099–2010. Manchester University Press. ISBN 978-0-7190-7320-5.
- Tyerman, Christopher (2019). The World of the Crusades. Yale University Press. ISBN 978-0-300-21739-1.
- Wilson, James (2025). "Curating the Enemy? Re-reading the Recueil des historiens des croisades: historiens orientaux". Crusades. 23 (2): 230–253. doi:10.1080/14765276.2024.2430777.
Bacaan lanjutan
- Housley, Norman (1995). "The Crusading Movement 1271–1700". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford Illustrated History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 260–294. ISBN 978-0-19285-428-5.
- Manion, Lee (2014). Narrating the Crusades: Loss and Recovery in Medieval and Early Modern English Literature. Cambridge University Press.
- La Monte, J. L. (1940). "Problems in Crusade Historiography". Speculum. 15 (1): 57–75. doi:10.2307/2849087. JSTOR 2849087. S2CID 225085821.
- Murray, Alan V. (2007). "Kingship, Identity and Name Giving in the Family of Baldwin of Bourcq". Dalam Housley, Norman (ed.). Knighthoods of Christ: Essays on the History of the Crusades and the Knights Templar. Routledge. ISBN 978-0-75465-527-5.
- Stapel, Rombert (2021). Medieval Authorship and Cultural Exchange in the Late Fifteenth Century: The Utrecht Chronicle of the Teutonic Order. Routledge. ISBN 978-1-000-33376-3.
| Konflik pra-abad ke-18 | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Konflik abad ke-18 dan ke-19 |
| ||||||||
| Perang Dunia I |
| ||||||||
| Periode antarperang | |||||||||
| Perang Dunia II |
| ||||||||
| Perang Dingin |
| ||||||||
| Pasca-Perang Dingin |
| ||||||||
| Terkait | |||||||||