Al-Hasan Al-Bashri (bahasa Arab:الحسن بن أبي الحسن البصري; Abu Sa'id al-Hasan ibn Abil-Hasan Yasar al-Bashri) (Madinah, 642 - 10 Oktober728) adalah ulama dan cendekiawan muslimTabiin yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah. Wajahnya tampan dan biasa memakai surban hitam. Ia mengajak penduduk Basrah untuk bersikap nonblok terhadap konflik antara Hajjaj dan Ibnu Asy'at.[1]
Biografi
Al-Hasan adalah Maula Al-Anshari. Ibunya bernama Khairah, budak Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad yang dimerdekakan, dikatakan Ibnu Sa’ad dalam kitab tabaqat Hasan adalah seorang alim yang luas dan tinggi ilmunya, tepercaya, seorang hamba yang ahli ibadah dan fasih bicaranya. Bapaknya bernama Pirouz (kemudian dikenal sebagai Abul Hasan), yang menjadi budak pada zaman pemerintahan KhalifahUmar bin Al-Khattab. Dari kampungnya Pirouz kemudian dibawa ke Madinah sebagai seorang tawanan. Pirouz dan seorang perempuan dari kampungnya, diberikan kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah memberikan mereka berdua kepada saudara terdekat dia dan keduanya lantas menikah dengan tuan mereka dan dibebaskan.
Hasan al-Basri dilahirkan di Madinah pada tahun 21 Hijrah (642 Masehi), 2 tahun terakhir masa Khalifah Umar bin Khatab.[2] Dia pernah menyusu dengan Ummu Salamah. Pada usia 14 bulan, Al-Hasan pindah ke kota Basrah, Irak, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri. Hasan kemudian dikategorikan sebagai seorang Tabi'in (generasi setelah sahabat). Hasan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah. sehingga dia muncul sebagai Ulama terkemuka dalam peradaban Islam.
Dia salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Dia menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali, Muawiyah, Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Dan kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain.
Keberanian pidato Hasan dalam menyinggung penguasa Umayah membuatnya dipanggil Gubernur Irak, Hajjaj yang terkenal kejam, yang bersiap membunuhnya, namun setelah menghadap dan berdoa, Hajjaj berubah sikap menghormati Hasan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi kagum dan bertanya apa doanya. Hasan menjawab, aku hanya mengucapkan doa, "Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."[3]
Pemberontakan Ibnu al-Asy'at mencoba mengajak Hasan bergabung, namun Hasan menolak, Hajjaj berhasil mengalahkan pasukan Ibnu Asy'at hingga banyak yang terbunuh. Hajjaj yang mengira Hasan terlibat sempat mencari Hasan yang sedang berada di tepi sungai, tetapi ia menceburkan diri sehingga lepas dari pengejaran Hajjaj.[4]
Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat digantikan Yazid bin Abdul Malik, lalu Yazid menunjuk Umar bin Hubairah sebagai Gubernur Irak. Umar lalu mengundang asy-Sya'bi dan Hasan untuk berdiskusi dan meminta nasihat mengenai pidato mereka yang sering mengkritik penguasa. Hasan lalu memberi nasihat yang membuat Umar menangis agar takut pada Allah bukan pada Yazid,"Karena diminta berbicara, maka Hasan al-Bashri pun berkata, "Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid."[3]
Pandangan Ulama
Abu Nu'aim berkata, "Di antara para tabi'in itu ada yang menjadikan takut dan rasa sedih sebagai teman, berkawan dengan kesusahan dan kehidupan yang keras serta sedikit tidumya. Dialah Abu Said Al-Hasan bin Abi Al-Hasan, seorang yang ahli fikih dan zuhud, tekun beribadah dan dermawan, sangat menjauhi gemerlapnya dunia dengan segala keindahannya serta menjauhi syahwat dan menghalaunya jauh-jauh hingga tidak kembali."[1]
Anas bin Malik berkata, "Bertanyalah kepada Al-Hasan, karena dia orang yang kuat hafalannya, sedang kami terkadang lupa."
Ayyub berkata, "Jika Al-Hasan telah mengucapkan suatu perkataan, sepertinya mutiaralah yang terucap. Akan tetapi perkataan yang keluar dari kaum sesudahnya, bagaikan muntahan orang sakit."
Qatadah, dia berkata, "Jika ilmu Al-Hasan dikumpulkan da dibandingkan dengan ilmu siapapun, pasti ilmu Al-Hasan lebih utama, hanya saja jika dia menemui kesulitan, dia menulisnya dan menanyakannya kepada Said bin Al-Miusayyib."
Al-Hasan mempunyai majelis pengajian yang khusus di rumahnya. Dalam pengajian ini, dia lebih banyak membahas tema-tema kezuhudan dan ibadah serta tentang ilmu-ilmu kebathinan sufi. Jika ada di antara para jamaah yang hadir menanyakan kepadanya tentang selain tema di atas (politik misalnya), maka dia akan menutupnya dengan berkata, "Kita bersama-sama membuat kelompok ini bersama dengan saudara-sudara kita di sini hanya untuk saling mengingatkan."
Adapun pengajiannya di masjid, banyak membicarakan tentang hadits, fikih, ilrnu-ilmu Al-Qur'an, bahasa dan beberapa cabang ilmu lainnya. Dalam pengajian ini, mungkin saja seorang jamaah menanyakan tentang sufi dan yang lain dan pasti dia mau menjawabnya. Mereka yang hadir terbagi dalam beberapa kelompok; ada yang senang hadits, Al-Qur'an dan Ilmu Balaghah, Al-Badi' dan Al-Bayan, ada yang senang dengan masalah keikhlasan dan ilmu-ilmu yang sifatnya khusus.[1]
Ibadahnya
Makam Hasan al-Basri.
As-Sari bin Yahya berkata, "Al-Hasan sering melakukan puasa Al-Bidh (pada tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulan Qamariyah), pada Asyhur Al-Hurum (bulan-bulan yang dihormati; 4 bulan) dan di setiap hari Senin dan Kamis."[1]
Ath-Thayalisi berkata, "Aku melihat Al-Hasan adalah seorang yang sering membaca Al-Qur'an dengan meneteskan air mata hingga membasahi jenggotnya."
Yunus berkata, "Al-Hasan adalah orang yang selalu bersedih, lain halnya dengan Ibnu Sirin yang selalu penuh canda dan tawa."
Murid-muridnya antara lain Humaid Ath-Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Ayyub, Watadah, 'Auf Al-A'rabi, Bakar bin Abdullah Al-Muzni, Jarir bin Hazim, Abu Al-Asyhab, Ar-Rabi'bin Subaih, Said Al-|ariri, Sa'ad bin Ibrahim bin Abdirrahman bin 'Auf, Sammak bin Harb, Syaiban An-Nahwi, Ibnu 'Aun, Khalid Al-Hadzdza', 'Atha' bin As-Sa'ib, Utsman bin Al-Bati, Qurrah bin Khalid, Mubarak bin Fadhalah, Ma'bad bin Hilal dan yang lain. Dan, yang paling akhir adalah; Yazid bin Ibrahim At-Tustari, Mu'awiyah bin Abdul Karim Ats-Tsaqafi yang terkenal dengan sebutan Adh-Dha'al.[1]
Kematian
Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum'at 5 Rajab 110 Hijrah[2] (728 Masehi), pada umur 89 tahun, ribuan penduduk Basrah berdesak-desakan mensolatkannya hingga waktu ashar.[4]
Urwah bin Az-Zubair berkata, "Ada seorang lelaki berkata kepada Ibnu Sirin, "Aku bermimpi melihat burung mencengkeram Al-Hasan dan tongkatnya di masjid." Kemudian Ibnu Sirin berkata, "Jika mimpi yang kamu katakan itu benar, maka Al-Hasan akan meninggal dunia." Dia berkata,"Tidak berapa lama kemudian, Al-Hasan meninggal dunia."[1]
Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan dunia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. Khutbah-khutbah dia dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab.[5]
Sesungguhnya seorang mukmin akan bersedih pada waktu pagi dan sore hari, dan tidak ada yang lain selain itu, karena seorang mukmin itu berada di antara dua ketakutan (kekhawatiran); antara dosa yang telah lalu; dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Allah terhadap dosa-dosa itu dengan umur yang masih tersisa dan dia juga tidak tahu apa yang akan menimpanya nanti.
Tidak ada seorang pun yang mengagungkan harta kecuali Allah akan memperhinakannya.
Berhati-hatilah dari dua teman; Dinar dan Dirham. Kedua-duanya tidak akan memberikan manfaat apapun kepadamu hingga kamu meninggalkannya.
Wahai anak Adam, menjauhi kesalahan dan dosa itu lebih mudah bagi kalian daripada bertaubat. Karena tidak ada yang menjamin bahwa ketika kalian banyak berdosa, pintu taubat tidak akan ditutup, karena kalian tidak sedang dalam uji coba.