Lokasinya yang berada di dekat pusat kecamatan menyebabkan halte ini menjadi ramai dan dibutuhkan bagi warga setempat yang menggunakan jasa layanan kereta api mengingat stasiun yang lebih besar (Karangsari) yang notabene berada di kecamatan yang sama terlalu jauh.
Sejarah
Pada awal pembukaannya, Leuwigoong diklasifikasikan sebagai Halte, klasifikasi untuk stasiun kecil selama masa Hindia Belanda. Berdasarkan peta yang diterbitkan pada 1944, tampak indikasi jalur belok dan notasi "H. Leuwigoong" yang menandakan bahwa Leuwigoong sebelumnya merupakan stasiun kecil.[4] Hal ini juga diperkuat oleh peta tahun 1908[5] dan insiden anjlokan yang terjadi pada 1939.
Bangunan dan tata letak
Halte ini hanya memiliki satu jalur kereta api saja.
Perjalanan menuju Padalarang hanya pada pagi hari, sedangkan sebaliknya pada malam hari.
Insiden
Pada 28 Desember 1939, dua gerbong kereta api barang anjlok saat melakukan gerak langsir di Leuwigoong. Anjlokan ini menutupi sepur lurus sehingga kereta api dari Bandung tidak dapat melintas. Evakuasi gerbong yang anjlok memakan waktu setidaknya 54 menit.[7]
Pada 4 Februari 1978, Mat Peci, seorang residivis terkenal asal Garut yang banyak melakukan aksinya di Kota Bandung, ditembak oleh aparat kepolisian saat berada di Halte Leuwigoong. Kisah-kisah Mat Peci menjadi dikenal dalam budaya populer di kalangan masyarakat Jawa Barat dan telah diangkat dalam film berjudul Mat Peci, Pembunuh Berdarah Dingin produksi PT Diah Pitaloka Film, dirilis 12 September 1978.[8]
Galeri
Bangunan Halte Leuwigoong pada 2020, sebelum penambahan bagian kanopi tempat parkir