George II lahir pada 10 November 1683 di Herrenhausen, Hanover, Kekaisaran Romawi Suci. Ia adalah putra tunggal George Louis (kemudian George I) dan Sophia Dorothea dari Celle. Sebagai keturunan Protestan dari keluarga Stuart melalui neneknya, Elizabeth Stuart, ia masuk dalam garis suksesi takhta Britania Raya berdasarkan Undang-Undang Pewarisan 1701 yang mengecualikan pemeluk Katolik dari pewarisan takhta.
George menerima pendidikan menyeluruh dalam bahasa, politik, dan militer, tetapi hubungan dengan ayahnya sering tegang. Ia juga menunjukkan minat dalam seni dan musik, yang terus ia dukung selama masa pemerintahannya.
Pernikahan dan Keluarga
Pada 1705, George menikahi Caroline dari Ansbach, seorang wanita cerdas dan ambisius. Pernikahan ini dianggap sukses secara pribadi dan politik. Mereka memiliki delapan anak, termasuk Frederick, Pangeran Wales, dan William Augustus, Adipati Cumberland. Hubungan George dengan putra sulungnya, Frederick, memburuk seiring waktu, mencerminkan pola ketegangan ayah-anak yang sama dengan generasi sebelumnya.
Kenaikan Takhta
George menjadi Pangeran Wales pada 1714, ketika ayahnya naik takhta sebagai George I setelah kematian Ratu Anne. Ketika George I wafat pada 1727, George II naik takhta pada usia 43 tahun. Penobatannya berlangsung di Westminster Abbey pada 11 Oktober 1727.
Pemerintahan
Pemerintahan George II ditandai oleh sejumlah konflik militer, termasuk:
Perang Tujuh Tahun (1756–1763): Dimulai pada akhir pemerintahannya, perang ini mengukuhkan posisi Britania sebagai kekuatan kolonial global.
Di dalam negeri, pemerintahan George II menyaksikan penguatan sistem parlementer. Perdana Menteri Robert Walpole menjadi tokoh utama dalam pemerintahan, mencerminkan penurunan langsung pengaruh raja dalam politik sehari-hari.
Hubungan dengan Parlemen
George II sering berselisih dengan Walpole, tetapi tetap mempertahankannya karena popularitas Walpole di parlemen. Setelah pengunduran diri Walpole pada 1742, George II harus bekerja sama dengan berbagai perdana menteri lainnya, seperti William Pitt yang berperan besar dalam Perang Tujuh Tahun.
Perkembangan Seni dan Sains
Pemerintahan George II mendukung perkembangan seni dan sains. Di bawah patronase kerajaan, seniman seperti George Frideric Handel berkembang pesat. Universitas dan lembaga ilmiah seperti Royal Society juga menikmati dukungan selama periode ini.
Kehidupan Pribadi
George II dikenal karena kebiasaan hidupnya yang sederhana dibandingkan dengan standar kerajaan. Ia berbicara dengan aksen Jerman yang kental dan memiliki minat besar pada musik dan taman. Ia juga menjaga hubungan erat dengan istrinya, Caroline, hingga kematiannya pada 1737, yang sangat memengaruhi dirinya.
Hubungan dengan anak-anaknya, terutama Frederick, sering kali bermasalah. Ketegangan antara George II dan Frederick menyebabkan perpecahan keluarga kerajaan yang berdampak pada opini publik.
Akhir Hayat dan Warisan
Patung George II, Golden Square, Soho, London. 14 Januari 2006.
Warisan George II mencakup peranannya dalam memperkuat sistem parlementer di Britania Raya dan mendukung kebijakan ekspansi kolonial yang akhirnya menjadikan Britania sebagai kekuatan global. Meski sering dianggap sebagai raja yang tidak menonjol, pemerintahannya adalah periode penting dalam transisi kekuasaan dari monarki absolut ke sistem parlementer modern.