Jubail (bahasa Arab:جبيلcode: ar is deprecated ; bahasa Yunani Kuno:Βύβλοςcode: grc is deprecated Byblos) adalah nama Arab untuk kota Fenisia bernama Gebal (awalnya Gubla; Fenisia: 𐤂𐤁𐤋). Kota ini berada di bawah pemerintahan Kegubernuran Gunung Lebanon, Libanon dengan nama Arab (جبيل Ǧubayl). Jubail diyakini telah dihuni pertama kali antara tahun 8800 dan 7000 SM,[1] dan menurut fragmen-fragmen yang dibuat oleh imam Fenisia legendaris dari zaman sebelum Homer yang bernama Sanchuniathon, kota ini pertama kali dibangun oleh Cronus sebagai kota pertama di Fenisia.[2] Merupakan salah satu kota tertua di dunia yang terus menerus dihuni dan situs yang terus menerus dihuni sejak tahun 5000 SM.[3] Sekarang dinyatakan sebagai sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, dan merupakan salah satu objek pariwisata di Lebanon.
Nama
Souk tua di Jubail, LibanonKota tua JubailJubailGuci terracotta dari Jubail (sekarang di Louvre), Zaman Perunggu Akhir (1600–1200 SM)Beach volleyball pada pantai Jubail
Pada masa kemudian dirujuk sebagai Gibelet, dalam zaman Perang Salib. Nama Fenisia kuno kota ini (GBL, yaitu Gubal, Gebal, dsb.) dapat diturunkan dari gb, artinya "sumur" atau "sumber", dan El, nama dewa tertinggi dalam kepercayaan Biblos. Kota yang sekarang dikenal dengan nama Arab Jubayl atau Jbeil (جبيل), turunan langsung dari nama Kanaan. Namun, nama Arab ini kemungkinan besar diturunkan dari kata Fenisia GBL yang berarti "batas", "distrik" atau "puncak gunung"; dalam bahasa UgaritGBL dapat berarti "gunung", mirip dengan kata Arab jabal.
Nama "Biblos" berasal dari bahasa Yunani (bahasa Yunani:Βύβλοςcode: el is deprecated ). Papirus menerima nama kuno Yunani (byblos, byblinos) karena diekspor ke wilayah Laut Aegea melalui Biblos, dan kata-kata Yunani biblion, jamak biblia, serta akhirnya kata "Bible" ("kitab (papirus)") dapat dilacak dari nama itu.[6][7][8]
Sejarah dan arkeologi
Jubail terletak sekitar 42 kilometer (26mi) sebelah utara Beirut. Sangat menarik bagi para arkeolog karena adanya lapisan-lapisan berurutan dari bekas-bekas hunian manusia selama berabad-abad. Pertama kali di ekskavasi oleh Pierre Montet dari tahun 1921 sampai 1924, diikuti oleh Maurice Dunand dari tahun 1925 selama periode 40 tahun.[9][10]
Kontak dengan Mesir
Watson Mills dan Roger Bullard berpendapat selama Kerajaan Lama Mesir, Jubail terus merupakan koloni dari Mesir.[9] Kota ini berkembang menjadi kaya dan tampaknya menjadi sekutu Mesir ("di antara yang berada di perairannya") selama berabad-abad. Makam firaun Dinasti pertama Mesir menggunakan kayu-kayu dari Biblos. Salah satu kata Mesir tertua untuk kapal yang mengarungi samudra adalah "kapal Biblos". Para arkeolog telah menemukan di artefak-artefak buatan Mesir pada fragmen tempayan yang memuat nama penguasa dari Dinasti kedua Mesir,Khasekhemwy, meskipun barang ini "dapat saja mencapai Biblosmelalui perdagangan pada kemudian hari."[11] Selain itu juga ditemukan di Biblos barang-barang yang menyebut nama raja Dinasti ke-13 Mesir, Neferhotep I, dan juga diketahui bahwa para penguasa Biblosmemelihara hubungan dekat dengan para firaun Kerajaan Baru Mesir kuno.
Sekitar tahun 1350 SM, Surat-surat Amarna meliputi 60 surat dari Rib-Hadda dan penerusnya Ili-Rapih yang merupakan penguasa-penguasa Biblos, menulis kepada pemerintah Mesir. Komunikasi ini terutama menyangkut permohonan terus menerus dari Rib-Hadda kepada raja Akhenaten guna meminta bantuan militer, serta menyebutkan penyerangan negara-kota di sekitarnya oleh orang Hapiru (atau Habiru).
Bukti arkeologi di Biblos kira-kira dibuat sejak sekitar 1200 SM, menunjukkan adanya abjad Fenisia yang terdiri dari 22 huruf. Sebuah contoh penting tulisan aksara ini ditemukan pada kotak mayat ("sarkofagus"; sarcophagus) raja Ahiram. Penggunaan aksara ini disebarkan oleh para pedagang Fenisia melalui perdagangan maritim ke bagian-bagian Afrika Utara dan Eropa. Salah satu monumen terpenting pada periode ini adalah kuil Resheph, dewa perang Kanaan, tetapi sudah menjadi reruntuhan pada zaman Aleksander Agung.
Gereja abad pertengahan Santo Yohanes di Jubail, LebanonRumah tradisional Lebanon memandang Laut Tengah di Jubail. Rumah ini di dalam kompleks daerah tua dan menunjukkan dataran tanah modern yang diekskavasi.
↑Dumper, Michael; Stanley, Bruce E.; Abu-Lughod, Janet L. (2006). Cities of the Middle East and North Africa. ABC-CLIO. hlm.104. ISBN1-57607-919-8. Diakses tanggal 2009-07-22. Archaeological excavations at Byblos indicate that the site has been continually inhabited since at least 5000 B.C.