ENSIKLOPEDIA
Friedrich III, Kaisar Jerman
Templat:About-distinguish-text
| Friedrich III | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Friedrich sebagai Putra Mahkota, 1878 | |||||
| Kaisar Jerman Raja Prusia | |||||
| Berkuasa | 9 Maret 1888 – 15 Juni 1888 | ||||
| Pendahulu | Wilhelm I | ||||
| Penerus | Wilhelm II | ||||
| Kanselir | Otto von Bismarck | ||||
| Kelahiran | Pangeran Friedrich Wilhelm dari Prusia (1831-10-18)18 Oktober 1831 Istana Baru, Potsdam, Prusia | ||||
| Kematian | 15 Juni 1888(1888-06-15) (umur 56) Istana Baru, Potsdam, Jerman | ||||
| Pemakaman | 18 Juni 1888 Mausoleum Kaiser Friedrich, Friedenskirche, Potsdam | ||||
| Pasangan | |||||
| Keturunan | |||||
| |||||
| Wangsa | Hohenzollern | ||||
| Ayah | Wilhelm I, Kaisar Jerman | ||||
| Ibu | Augusta dari Saxe-Weimar-Eisenach | ||||
| Agama | Lutheranisme (Persatuan Prusia) | ||||
| Tanda tangan | |||||
| Jajaran Kerajaan Prusia |
| Wangsa Hohenzollern |
|---|
| Friedrich III |
|
Friedrich III (Friedrich Wilhelm Nikolaus Karl; 18 Oktober 1831 – 15 Juni 1888) adalah Kaisar Jerman dan Raja Prusia selama 99 hari dari tanggal 9 Maret 1888 hingga kematiannya pada bulan Juni tahun tersebut, dalam periode yang dikenal sebagai Tahun Tiga Kaisar.
Dikenal secara informal sebagai "Fritz", ia merupakan putra tunggal Kaisar Wilhelm I dan dibesarkan dalam tradisi dinas militer keluarganya. Menyusul Unifikasi Jerman pada tahun 1871, ayahnya, yang kala itu menjabat sebagai Raja Prusia, menjadi Kaisar Jerman. Setelah Wilhelm meninggal dalam usia 90 tahun pada tanggal 9 Maret 1888, takhta diwariskan kepada Friedrich, yang telah menjadi Putra Mahkota Jerman selama 17 tahun dan Putra Mahkota Prusia selama 27 tahun. Friedrich sedang menderita kanker laring ketika ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah serangkaian tindakan medis yang gagal untuk menangani kondisinya.
Friedrich menikah dengan Victoria, Putri Kerajaan, anak tertua dari Ratu Victoria dari Britania Raya. Pasangan ini sangat serasi; ideologi liberal yang mereka anut mendorong mereka untuk mendukung reformasi progresif dan demokratis. Terlepas dari latar belakang keluarganya yang konservatif dan militeristik, Friedrich mengembangkan kecenderungan liberal sebagai hasil dari hubungannya dengan Britania dan studinya di Universitas Bonn. Sebagai putra mahkota, ia sering menentang Kanselir konservatif Otto von Bismarck, terutama dalam menyuarakan penolakan terhadap kebijakan Bismarck untuk menyatukan Jerman melalui jalur kekerasan, serta mendesak agar kekuasaan eksekutif dibatasi demi keuntungan Reichstag. Kaum liberal di Jerman maupun Britania Raya berharap bahwa sebagai kaisar, Friedrich akan bergerak untuk melembagakan reformasi demokratis di Kekaisaran Jerman.
Friedrich dan Victoria adalah pengagum berat Pangeran Albert, suami Ratu Victoria. Mereka berencana untuk memerintah sebagai monarki bersama dan mereformasi apa yang mereka anggap sebagai kelemahan dalam pemerintahan. Friedrich berencana untuk melembagakan pemerintahan bertanggung jawab, mengubah Kekaisaran menjadi sebuah monarki konstitusional liberal yang terinspirasi oleh Britania, dengan menteri-menteri yang terikat pada instruksi Reichstag, alih-alih kepada Kaisar. Namun, penyakit Friedrich menghalanginya untuk menetapkan kebijakan dan langkah secara efektif demi mencapai hal tersebut, dan langkah-langkah kecil yang sempat ia lakukan kemudian ditinggalkan oleh putra sekaligus penerusnya, Wilhelm II. Waktu kematian Friedrich dan singkatnya masa pemerintahannya menjadi topik penting di kalangan sejarawan. Kematiannya yang terlalu dini dianggap sebagai titik balik potensial dalam sejarah Jerman; apakah ia akan membuat Kekaisaran menjadi lebih liberal atau tidak jika ia hidup lebih lama masih menjadi diskusi yang populer di kalangan sejarawan.
Kehidupan pribadi
Kehidupan awal dan pendidikan

Friedrich Wilhelm lahir di Istana Baru di Potsdam, Prusia, pada tanggal 18 Oktober 1831.[1] Ia adalah keturunan dari Wangsa Hohenzollern, penguasa Prusia yang saat itu merupakan negara bagian Jerman yang paling kuat. Ayah Friedrich, Pangeran Wilhelm, adalah putra kedua dari Raja Friedrich Wilhelm III dan, karena dibesarkan dalam tradisi militer Hohenzollern, ia tumbuh menjadi seorang disipliner yang ketat. Wilhelm sempat jatuh cinta dengan sepupunya Elisa Radziwill, seorang putri dari bangsawan Polandia, tetapi pengadilan menganggap pangkat Elisa tidak cocok untuk pengantin seorang pangeran Prusia dan memaksanya mencari jodoh lain yang lebih serasi.[2] Wanita yang dipilih untuk menjadi istrinya, Putri Augusta dari Saxe-Weimar, dibesarkan dalam atmosfer yang lebih intelektual dan artistik di Weimar, yang memberikan partisipasi politik lebih besar kepada warganya dan membatasi kekuasaan penguasanya melalui sebuah konstitusi;[3][4] Augusta dikenal luas di seluruh Eropa karena pandangan liberalnya.[5] Karena perbedaan mereka, pasangan ini tidak memiliki pernikahan yang bahagia,[3][4] dan akibatnya, Friedrich tumbuh dalam rumah tangga yang penuh perselisihan, yang meninggalkan kenangan masa kecil yang sepi baginya.[3][6] Ia memiliki seorang adik perempuan, Louise (kemudian menjadi Adipatni Utama Baden), yang berusia enam tahun lebih muda dan sangat dekat dengannya. Friedrich juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan pamannya, calon Raja Friedrich Wilhelm IV, yang dijuluki sebagai "pria romantis di atas takhta".[7]
Dikenal secara informal sebagai "Fritz",[8] Friedrich tumbuh selama periode politik yang bergejolak ketika konsep liberalisme di Jerman, yang berkembang selama dekade 1840-an, mulai mendapatkan dukungan yang luas dan antusias.[9] Kaum liberal mendambakan Jerman yang bersatu dan merupakan penganut monarki konstitusional yang menginginkan konstitusi guna memastikan perlindungan hukum yang setara, perlindungan hak milik, dan jaminan hak-hak sipil dasar.[10] Secara keseluruhan, kaum liberal menginginkan pemerintahan yang diatur oleh perwakilan rakyat.[11] Ketika Friedrich berusia 17 tahun, sentimen nasionalistik dan liberal yang baru muncul ini memicu serangkaian pergolakan politik di seluruh negara bagian Jerman dan tempat lain di Eropa. Di Jerman, tujuan mereka adalah untuk melindungi kebebasan, seperti kebebasan berkumpul dan kebebasan pers, serta membentuk parlemen dan konstitusi Jerman.[9][12] Meskipun pergolakan tersebut pada akhirnya tidak membawa perubahan yang langgeng, sentimen liberal tetap menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam politik Jerman sepanjang hidup Friedrich.[13]

Meskipun keluarga Hohenzollern sangat mementingkan pendidikan militer tradisional, Augusta bersikeras agar putranya juga menerima pendidikan klasik.[6] Oleh karena itu, Friedrich dididik secara menyeluruh baik dalam tradisi militer maupun humaniora. Tutor pribadinya adalah Ernst Curtius, seorang arkeolog terkenal.[14] Friedrich adalah siswa yang berbakat, terutama dalam bahasa asing; ia fasih berbahasa Inggris dan Prancis, serta mempelajari bahasa Latin. Ia juga mempelajari sejarah, geografi, fisika, musik, dan agama, serta mahir dalam senam; sebagaimana diwajibkan bagi seorang pangeran Prusia, ia menjadi penunggang kuda yang sangat baik.[15] Pangeran-pangeran Hohenzollern sudah diperkenalkan dengan tradisi militer dinasti mereka sejak usia dini; Friedrich berusia sepuluh tahun ketika ia diangkat sebagai letnan dua dalam Resimen Kaki Pengawal Infanteri Pertama. Seiring bertambahnya usia, ia diharapkan mempertahankan keterlibatan aktif dalam urusan militer.[16] Namun, pada usia 18 tahun, ia mendobrak tradisi keluarga dan masuk ke Universitas Bonn untuk mempelajari sejarah, hukum dan pemerintahan, serta kebijakan publik. Selama waktunya di Bonn (1850–1852), dosen-dosennya termasuk Ernst Moritz Arndt dan Friedrich Christoph Dahlmann.[14] Waktu yang dihabiskannya di universitas, ditambah dengan pengaruh anggota keluarga yang kurang konservatif, menjadi instrumen penting dalam adopsi keyakinan liberalnya.[17]
Pada tahun 1853, Friedrich diinisiasi ke dalam Freemasonry oleh ayahnya, yang kala itu menjabat sebagai Pangeran Wilhelm dari Prusia, dan di kemudian hari menjadi Master Besar Ordo dari Loji Besar Nasional Freemason Jerman.[18]
Pernikahan dan keluarga


Pernikahan kerajaan pada abad ke-19 sering kali diatur untuk mengamankan aliansi dan menjaga ikatan darah di antara negara-negara Eropa. Sejak awal tahun 1851, Ratu Victoria dari Britania Raya dan suaminya yang kelahiran Jerman, Pangeran Albert, telah menyusun rencana untuk menikahkan putri sulung mereka, Victoria, Putri Kerajaan, dengan Friedrich. Dinasti kerajaan di Britania saat itu didominasi oleh unsur Jerman; hanya ada sedikit darah Britania dalam diri Ratu Victoria, dan tidak ada sama sekali dalam diri suaminya.[19] Mereka berkeinginan untuk mempertahankan ikatan darah keluarga mereka dengan Jerman, dan Pangeran Albert lebih lanjut berharap bahwa pernikahan ini akan membawa liberalisasi dan modernisasi bagi Prusia. Raja Leopold I dari Belgia, yang merupakan paman dari Victoria sekaligus Albert, juga mendukung perjodohan ini; ia telah lama mengagumi gagasan Baron Stockmar mengenai aliansi pernikahan antara Britania dan Prusia.[20] Ayah Friedrich, Pangeran Wilhelm, awalnya tidak tertarik dengan pengaturan ini dan lebih mengharapkan seorang Adipatni Utama Rusia sebagai menantunya.[19] Namun, Putri Augusta sangat mendukung perjodohan putranya yang dapat membawa hubungan lebih erat dengan Britania.[8] Pada tahun 1851, ibunya mengirim Friedrich ke Inggris dengan dalih untuk mengunjungi Pameran Besar, tetapi kenyataannya, ia berharap bahwa tempat lahirnya liberalisme dan rumah dari revolusi industri tersebut akan memberikan pengaruh positif bagi putranya. Pangeran Albert membimbing Friedrich selama masa tinggalnya, namun putri Albert yang kala itu baru berusia sebelas tahunlah yang memandu pangeran Jerman tersebut berkeliling Pameran. Friedrich hanya menguasai beberapa kata dalam bahasa Inggris, sementara Putri Victoria dapat bercakap-cakap dengan lancar dalam bahasa Jerman. Friedrich terkesan dengan perpaduan antara kepolosan, rasa ingin tahu intelektual, dan kesederhanaan sang putri, dan pertemuan mereka terbukti sukses. Hubungan mereka kemudian berlanjut melalui surat-menyurat secara rutin.[14]

Friedrich melamar Victoria pada tahun 1855, ketika sang putri baru berusia 14 tahun. Pertunangan pasangan muda ini diumumkan pada tanggal 19 Mei 1857 di Istana Buckingham dan di Pengadilan Prusia,[21] dan pernikahan mereka dilangsungkan pada tanggal 25 Januari 1858 di Kapel Kerajaan di Istana St. James, London. Untuk menandai momen tersebut, Friedrich dinaikkan pangkatnya menjadi mayor jenderal dalam angkatan darat Prusia. Meskipun merupakan pernikahan yang dijodohkan, pasangan pengantin baru ini langsung merasa cocok sejak awal dan pernikahan mereka dipenuhi rasa cinta;[22][23] Victoria juga telah menerima pendidikan liberal dan memiliki pandangan yang sama dengan suaminya. Dari keduanya, Victoria merupakan sosok yang lebih dominan dalam hubungan mereka.[14] Pasangan ini sering tinggal di Istana Putra Mahkota dan dikaruniai delapan anak: Wilhelm pada 1859, Charlotte pada 1860, Heinrich pada 1862, Sigismund pada 1864, Victoria pada 1866, Waldemar pada 1868, Sophia pada 1870, dan Margaret pada 1872. Sigismund meninggal pada usia 2 tahun dan Waldemar pada usia 11 tahun,[24] sementara putra sulung mereka, Wilhelm, menderita cacat pada lengannya yang mengecil—kemungkinan akibat Kelumpuhan Erb karena proses persalinan sungsang yang sulit dan berbahaya, meskipun bisa juga disebabkan oleh kasus ringan kelumpuhan otak.[25][26] Wilhelm, yang kelak menjadi kaisar setelah kematian Friedrich, tidak mewarisi satu pun gagasan liberal orang tuanya; ibunya bahkan memandang Wilhelm sebagai seorang "Prusia sejati".[27] Perbedaan ideologi ini menciptakan jurang pemisah antara Wilhelm dan orang tuanya (yang diperparah oleh campur tangan Bismarck), dan hubungan di antara mereka tetap tegang sepanjang hidup mereka.[27][28]
Putra Mahkota Prusia

Ketika ayahnya naik takhta Prusia sebagai Raja Wilhelm I pada tanggal 2 Januari 1861, Friedrich resmi menjadi Putra Mahkota. Saat itu ia sudah berusia 29 tahun, dan ia memegang posisi Putra Mahkota tersebut selama 27 tahun berikutnya. Raja yang baru awalnya dianggap netral secara politik; Friedrich dan elemen-elemen liberal Prusia berharap ia akan membuka era baru kebijakan liberal. Kaum liberal berhasil meningkatkan mayoritas mereka secara signifikan di Parlemen Prusia (Landtag), tetapi Wilhelm segera menunjukkan bahwa ia lebih menyukai cara-cara konservatif. Di sisi lain, Friedrich menyatakan dirinya sepakat sepenuhnya dengan "kebijakan liberal yang esensial untuk urusan dalam negeri dan luar negeri".[29] Sebagai Putra Mahkota, ia kerap terlibat konflik dengan Otto von Bismarck, kanselir yang ditunjuk oleh ayahnya.[30]
Karena Wilhelm adalah seorang prajurit yang dogmatis dan tidak mungkin mengubah pemikirannya pada usia 64 tahun,[31] ia secara teratur berselisih dengan Parlemen mengenai kebijakan. Pada bulan September 1862, salah satu perselisihan tersebut hampir membuat Friedrich dinobatkan untuk menggantikan ayahnya sebagai raja; Wilhelm mengancam akan turun takhta ketika Parlemen menolak mendanai rencananya untuk reorganisasi tentara. Friedrich merasa ngeri dengan tindakan ini dan mengatakan bahwa turunnya takhta akan "merupakan ancaman bagi dinasti, negara, dan Mahkota".[32] Wilhelm mempertimbangkan kembali keputusannya, dan sebaliknya, atas saran Menteri Perang Albrecht von Roon, ia menunjuk Otto von Bismarck, yang telah menawarkan diri untuk meloloskan reformasi militer bahkan tanpa persetujuan mayoritas Parlemen, sebagai Perdana Menteri Prusia. Penunjukan Bismarck, seorang otoriter yang sering mengabaikan atau menolak Parlemen, menempatkan Friedrich pada jalur perselisihan dengan ayahnya dan menyebabkan dirinya dikucilkan dari urusan negara selama sisa masa pemerintahan Wilhelm. Friedrich mendesak dilakukannya "penaklukan moral" tanpa pertumpahan darah, menyatukan Jerman dengan cara-cara liberal dan damai, tetapi kebijakan darah dan besi milik Bismarck-lah yang menang.[17] Protes Friedrich terhadap kebijakan Bismarck memuncak di Danzig pada tanggal 4 Juni 1863, di mana dalam sebuah resepsi resmi di kota tersebut ia secara lantang mengecam pembatasan kebebasan pers yang diberlakukan oleh Bismarck.[33][34][35] Tindakan ini menjadikannya musuh Bismarck dan membuat ayahnya sangat marah.[14] Akibatnya, Friedrich didepak dari posisi-posisi kekuasaan politik sepanjang sisa masa pemerintahan ayahnya. Dengan tetap memegang portofolio militernya, ia terus mewakili Jerman dan Kaisarnya dalam upacara-upacara, pernikahan, dan perayaan seperti Yubileum Emas Ratu Victoria pada tahun 1887.[36] Friedrich juga menghabiskan sebagian besar waktunya di Britania, di mana Ratu Victoria sering mengizinkannya untuk mewakili sang ratu dalam upacara dan acara sosial.[37]
Friedrich ikut bertempur dalam perang melawan Denmark, Austria, dan Prancis. Meskipun ia menentang tindakan militer dalam setiap kasus tersebut, begitu perang dimulai ia mendukung militer Prusia dengan sepenuh hati dan mengambil posisi komando. Karena tidak memiliki pengaruh politik sama sekali, momen-momen ini menjadi kesempatan baginya untuk membuktikan kemampuan diri.[14] Friedrich mengalami pertempuran pertamanya dalam Perang Schleswig Kedua. Ditunjuk untuk mengawasi panglima tertinggi Konfederasi Jerman Field Marshal Wrangel dan stafnya, Sang Putra Mahkota dengan bijaksana meredam perselisihan antara Wrangel dan perwira lainnya. Pasukan Prusia dan sekutu Austria mereka berhasil mengalahkan pasukan Denmark dan menaklukkan bagian selatan Jutlandia, tetapi setelah perang, mereka menghabiskan waktu selama dua tahun dalam intrik politik demi memegang kepemimpinan atas negara-negara bagian Jerman. Hal ini memuncak dalam Perang Austro-Prusia. Friedrich "adalah satu-satunya anggota Dewan Mahkota Prusia yang membela hak-hak Adipati Augustenberg dan menentang gagasan perang dengan Austria yang ia gambarkan sebagai fratrisida (pembunuhan saudara)." Meskipun ia mendukung unifikasi dan pemulihan kekaisaran abad pertengahan, "Fritz tidak bisa menerima bahwa perang adalah jalan yang benar untuk menyatukan Jerman."[38]
Namun, ketika perang dengan Austria pecah, Friedrich menerima komando atas salah satu dari tiga angkatan darat Prusia. Ia memimpin Angkatan Darat Kedua, dengan Jenderal Leonhard Graf von Blumenthal sebagai kepala stafnya. Pada awalnya, Angkatan Darat Austria mengalahkan Angkatan Darat Kedua dalam Pertempuran Trautenau pada tanggal 27 Juni 1866.[39] Namun keesokan harinya, Friedrich memerintahkan divisinya untuk menyerang Korps X Austria sejak pagi hari, yang membawa kemenangan bagi Prusia. Rencananya berhasil, memicu kemenangan dalam Pertempuran Burkersdorf. Pada hari itu, ketika dua pertempuran (Pertempuran Burkersdorf dan Pertempuran Skalitz) berkecamuk di bawah komando Angkatan Darat Kedua, ia berada di Kosteletz agar dapat mencapai medan perang dengan mudah.[40] Pada tanggal 29 Juni, Friedrich memerintahkan pasukannya untuk maju. Ia mendirikan markas besarnya di Kaile. Pada saat inilah ia mencapai Elbe.[41] Pada tanggal 30 Juni, Helmuth von Moltke memerintahkannya untuk menempatkan pasukannya di Elbe.[42] Atas perintah Moltke, ia tidak memerintahkan pergerakan maju segera, tetapi sejak pukul 8 pagi tanggal 3 Juli, pasukannya mulai bergerak maju.[43] Kedatangan pasukannya yang tepat waktu menjadi faktor krusial bagi kemenangan Prusia pada tahun 1866 dalam Pertempuran Königgrätz yang menentukan, yang sekaligus memenangkan perang bagi Prusia.[44] Kendati demikian, pertumpahan darah tersebut membuatnya sangat sedih.[14] Beberapa hari sebelum Königgrätz, Friedrich sempat menulis surat kepada istrinya, mengungkapkan harapannya bahwa ini akan menjadi perang terakhir yang harus ia jalani. Pada hari ketiga pertempuran, ia menulis lagi kepadanya: "Siapa yang tahu apakah kita tidak harus mengobarkan perang ketiga demi mempertahankan apa yang telah kita menangkan sekarang?"[45]
Empat tahun kemudian, Friedrich kembali turun ke medan laga, kali ini dalam Perang Prancis-Prusia tahun 1870, di mana ia kembali dipasangkan dengan Blumenthal dan memimpin Angkatan Darat Ketiga, yang karena alasan politik tertentu terdiri atas pasukan dari negara-negara bagian Jerman selatan.[46][47][48] Ia dipuji atas kepemimpinannya setelah mengalahkan pasukan Prancis dalam Pertempuran Wissembourg dan Wörth,[48] serta meraih kesuksesan lebih lanjut dalam Pertempuran Sedan dan selama pengepungan Paris. Friedrich dinaikkan pangkatnya menjadi field marshal pada tanggal 28 October 1870. Perlakuan manusiawi Friedrich terhadap musuh-musuh negaranya membuahkan rasa hormat dari pihak lawan serta pujian dari para pengamat netral.[49] Setelah Pertempuran Wörth, seorang jurnalis London menyaksikan langsung kunjungan Putra Mahkota ke prajurit Prusia yang terluka dan memuji tindakan tersebut, mengagungkan rasa cinta serta hormat yang dimiliki para prajurit kepada Friedrich. Menyusul kemenangannya, Friedrich sempat berbincang dengan dua jurnalis Paris, "Saya tidak menyukai perang, Tuan-tuan. Jika saya memerintah, saya tidak akan pernah mengobarkannya."[50] Seorang jurnalis Prancis berkomentar bahwa "Putra Mahkota telah meninggalkan jejak kebaikan dan kemanusiaan yang tak terhitung jumlahnya di tanah tempat ia bertempur."[49] Atas perilaku dan pencapaiannya, surat kabar The Times menulis sebuah penghormatan untuk Friedrich pada bulan Juli 1871, menyatakan bahwa "Sang Pangeran telah memenangkan kehormatan yang sama besarnya atas kelembutannya sebagaimana atas kehebatannya dalam perang".[49] Setelah perang usai, Friedrich dianugerahi Salib Agung dari Salib Besi.[30]
Putra Mahkota Kekaisaran Jerman


Pada tahun 1871, menyusul kemenangan-kemenangan Prusia, negara-negara bagian Jerman dipersatukan menjadi Kekaisaran Jerman, dengan Wilhelm sebagai Kaisar dan Friedrich sebagai putra mahkota (pewaris takhta) bagi Monarki Jerman yang baru. Meskipun Wilhelm menganggap hari penobatannya sebagai kaisar sebagai hari paling menyedihkan dalam hidupnya, Friedrich justru sangat antusias menjadi saksi bagi hari agung dalam sejarah Jerman ini.[14] Bismarck, yang kini menjabat sebagai Kanselir, tidak menyukai Friedrich dan tidak memercayai sikap liberal yang dianut oleh Sang Putra Mahkota beserta istrinya. Karena sering berseberangan dengan kebijakan serta tindakan ayahnya dan Bismarck, Friedrich memihak kaum liberal negara tersebut[51] dalam menentang perluasan kekuatan angkatan darat kekaisaran.[52] Sang Putra Mahkota juga terlibat dalam banyak proyek pekerjaan umum, seperti pembangunan sekolah dan gereja di kawasan Bornstedt dekat Potsdam.[53][54] Untuk membantu upaya ayahnya dalam mengubah ibu kota Berlin menjadi pusat budaya yang megah, ia ditunjuk sebagai Pelindung Museum Publik; berkat andil besar Friedrich-lah berbagai koleksi seni yang luar biasa berhasil diakuisisi dan kemudian ditempatkan di Museum Kaiser Friedrich Berlin yang baru (kelak dikenal sebagai Museum Bode) setelah kematiannya.[55] Pada tahun 1878, ketika ayahnya tidak berdaya akibat terluka dalam sebuah upaya pembunuhan, Friedrich sempat mengambil alih tugas-tugasnya untuk sementara waktu, namun ia segera didepak kembali ke pinggiran tak lama setelahnya. Minimnya pengaruh ini sangat memukul batinnya, bahkan sempat membuatnya mempertimbangkan untuk bunuh diri.[14]

Selama adanya upaya pencabutan emansipasi Yahudi Jerman antara tahun 1879 dan 1881 yang dipimpin oleh sejarawan völkisch Heinrich von Treitschke serta pendeta istana Adolf Stoecker,[56] Putra Mahkota dan Putri Mahkota berdiri di kubu penentang. Victoria menulis bahwa ia melihat "Treitschke dan para pendukungnya sebagai orang gila dari jenis yang paling berbahaya", dan beropini bahwa Pastor Stoecker seharusya ditempatkan di rumah sakit jiwa.[57] Ia lebih lanjut menulis bahwa ia merasa malu dengan negara adopsinya tersebut karena orang-orang seperti Treitschke dan Stoecker "berperilaku begitu penuh kebencian terhadap orang-orang dari keyakinan berbeda dan ras lain yang telah menjadi bagian integral (dan sama sekali bukan yang terburuk) dari bangsa kami!".[57] Dengan mengenakan seragam field marshal Prusia, Friedrich bersama Victoria menghadiri ibadah di sebuah sinagoge di Berlin pada tahun 1880 untuk menunjukkan dukungan bagi toleransi, sebagai kontras terhadap apa yang disebut Victoria sebagai "serangan-serangan memuakkan" dari Treitschke.[57] Tak lama kemudian, Friedrich menyampaikan pidato yang mengecam gerakan anti-Semit di Jerman sebagai "bercak memalukan pada zaman kita", seraya menambahkan bahwa "Kita malu dengan Judenhetze [agitasi terhadap Yahudi] yang telah melanggar batas-batas kesopanan di Berlin, tetapi tampaknya subur di bawah perlindungan para ulama Istana."[57] Pada tahun 1881, Friedrich dan Victoria kembali menghadiri ibadah sinagoge, kali ini di Wiesbaden "untuk menunjukkan sejelas mungkin apa keyakinan kami".[57] Friedrich menindaklanjutinya dengan memberikan pidato yang membela "orang-orang Yahudi Eropa yang malang dan diperlakukan dengan buruk".[57] Ibu mertua Friedrich, Ratu Victoria, menulis surat untuk berterima kasih atas pidatonya, menyatakan bahwa ia bangga putrinya menikah dengan orang seperti dia. Namun di kalangan Junker (kaum bangsawan tuan tanah), Friedrich dikritik secara luas karena tindakannya yang mendukung kaum Yahudi.[57] Sosok yang paling menonjol di antara para pengkritik Putra Mahkota adalah putra sulungnya sendiri, Wilhelm, yang menyebut ayahnya sebagai pria yang lemah dan penakut yang dikendalikan oleh istrinya yang berkebangsaan Inggris serta kaum Yahudi.[57] Di luar Wilhelm, banyak dari "kalangan reaksioner dan 'chauvinistik' di Jerman" telah sampai pada kesimpulan—meminjam istilah sejarawan Britania John C. G. Röhl—bahwa "Putra Mahkota dan istrinya yang liberal asal Inggris adalah kekuatan asing yang tidak mencerminkan Jerman, sehingga tidak boleh dibiarkan naik takhta".[57]
Penyakit dan penurunan kondisi

Friedrich telah menjadi perokok berat selama bertahun-tahun.[58] Pada sebuah pesta dansa yang diadakan oleh Wilhelm pada tanggal 31 Januari 1887, seorang tamu melaporkan bahwa Sang Putra Mahkota "begitu serak hingga hampir tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun."[58] Suara seraknya terus berlanjut hingga bulan Februari, dan didiagnosis sebagai penebalan selaput lendir di atas pita suara yang disebabkan oleh "katak laring kronis."[58] Pada tanggal 7 Februari, Friedrich berkonsultasi dengan seorang dokter bernama Karl Gerhardt, yang mengikis selaput tersebut dengan kawat selama 10 hari dalam upaya mengangkat jaringan yang menebal. Setelah prosedur tersebut terbukti gagal, Gerhardt mengauterisasi pita suara kiri dengan kawat listrik pada tanggal 15 Maret untuk mengangkat apa yang saat itu diduga sebagai nodul pita suara.[58] Karena tenggorokan Friedrich mengalami peradangan hebat, Gerhardt tidak dapat mengangkat seluruh pertumbuhan jaringan tersebut. Setelah beberapa kali auterisasi tanpa menunjukkan tanda-tanda perbaikan, Friedrich dan istrinya pergi ke pemandian air panas di Bad Ems. Di sana ia meminum air mineral serta menjalani rejimen berkumur dan menghirup udara segar, tetapi tidak membuahkan hasil.[58]
Pada tanggal 17 May, Gerhardt dan dokter-dokter lain, termasuk Ernst von Bergmann, mendiagnosis pertumbuhan jaringan tersebut sebagai kanker laring.[58] Bergmann menyarankan untuk berkonsultasi dengan spesialis kanker terkemuka asal Britania, Morell Mackenzie; ia juga merekomendasikan tindakan tirotomi untuk mendapatkan akses yang lebih baik ke bagian dalam laring, diikuti dengan pengangkatan laring secara total—laringektomi total—jika situasinya terbukti serius. Walaupun Victoria diberi tahu tentang perlunya operasi segera, Friedrich tidak diberi tahu.[59] Terlepas dari diagnosis sementara yang mengarah pada kanker, para dokter berharap pertumbuhan itu ternyata adalah epitelioma jinak. Sebuah ruangan di lantai atas istana Putra Mahkota kemudian dilengkapi peralatan sebagai ruang operasi, tetapi Bergmann memilih untuk menunda operasi sampai Mackenzie dapat memberikan penilaiannya.[59] Mackenzie tiba di Berlin pada tanggal 20 Mei, tetapi setelah memeriksa Friedrich, ia menyarankan tindakan biopsi pada pertumbuhan tersebut untuk memastikan apakah itu ganas atau tidak. Ia melakukan biopsi keesokan paginya, lalu mengirim sampel jaringan tersebut kepada ahli patologi terkemuka Rudolf Virchow untuk pemeriksaan mikroskopis. Ketika Virchow gagal mendeteksi adanya sel kanker meskipun telah melakukan beberapa analisis terpisah, Mackenzie menyatakan penolakannya terhadap tindakan laringektomi, karena ia merasa operasi itu pasti akan berakibat fatal, dan menyatakan bahwa ia akan mengambil alih penanganan kasus ini. Ia memberikan jaminan bahwa Friedrich akan pulih sepenuhnya "dalam beberapa bulan."[60] Sementara Gerhardt dan Jenderal-Dokter August Wegner sependapat dengan Mackenzie, Bergmann dan koleganya Adalbert Tobold tetap berpegang pada diagnosis awal mereka bahwa itu adalah kanker. Selain opini dari Mackenzie, Bismarck juga sangat menentang operasi besar apa pun pada tenggorokan Friedrich, dan mendesak Kaisar untuk memvetonya.[60] Pada tanggal 9 Juni, Mackenzie kembali melakukan biopsi dan mengirim sampelnya ke Virchow, yang keesokan harinya melaporkan bahwa ia kembali gagal mendeteksi tanda-tanda kanker.[60]
Pada tanggal 13 Juni, Putra Mahkota meninggalkan Potsdam menuju London untuk menghadiri Yubileum Emas ibu mertuanya sekaligus untuk berkonsultasi dengan Mackenzie. Ia tidak pernah lagi melihat ayahnya dalam keadaan hidup. Ia ditemani oleh Victoria dan tiga putri mereka yang lebih muda, bersama dengan Gerhardt; pada tanggal 29 Juni, Mackenzie melaporkan bahwa ia telah berhasil mengoperasi Friedrich di kliniknya di Harley Street, dan telah mengangkat "hampir seluruh pertumbuhan jaringan."[61] Friedrich menghabiskan bulan Juli bersama keluarganya di Kastel Norris di Isle of Wight. Namun, ketika Friedrich mengunjungi praktik Mackenzie pada tanggal 2 Agustus untuk pemeriksaan lanjutan, pertumbuhan tersebut telah muncul kembali, sehingga harus dikauterisasi pada hari yang sama, dan sekali lagi pada tanggal 8 Agustus—sebuah indikasi buruk bahwa jaringan tersebut memang ganas. Felix Semon, seorang spesialis tenggorokan terkemuka asal Jerman yang berpraktik di Inggris dan telah mengikuti kasus Friedrich dari dekat, mengirimkan laporan kepada Sekretaris Luar Negeri Jerman yang isinya mengkritik keras tindakan auterisasi Mackenzie, dan memberikan opininya bahwa pertumbuhan tersebut, jika tidak ganas, sangat mencurigakan, dan harus terus dibiopsi serta diperiksa.[62] Pada tanggal 9 Agustus, Friedrich melakukan perjalanan ke Braemar di Dataran Tinggi Skotlandia bersama Dr. Mark Hovell, seorang ahli bedah senior di Rumah Sakit Tenggorokan di London. Meskipun pemeriksaan lebih lanjut oleh Mackenzie pada tanggal 20 Agustus tidak menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan berulang, Friedrich mengatakan ia memiliki "perasaan terus-menerus" bahwa ada sesuatu yang "tidak beres di dalam"; meskipun demikian, ia meminta Ratu Victoria untuk menganugerahkan gelar ksatria kepada Mackenzie, yang kemudian resmi menerima gelar Sir pada bulan September.[63]
Meskipun telah menjalani operasi pada tenggorokannya dan menghirup udara laut di Cowes, Friedrich tetap serak dan disarankan oleh Mackenzie untuk menghabiskan musim dingin mendatang di Italian Riviera. Pada bulan Agustus, menyusul laporan bahwa ayahnya sakit keras, ia sempat mempertimbangkan untuk kembali ke Jerman, tetapi diurungkan oleh istrinya, dan ia pergi ke Toblach di Tirol Selatan bersama keluarganya, tempat Victoria telah menyewa sebuah rumah.[64] Ia tiba di Toblach pada tanggal 7 September dalam kondisi lelah dan serak.[64] Merasa khawatir karena Friedrich tidak menunjukkan perbaikan yang nyata setelah pertemuan singkat dengannya di Munich, Philipp, Pangeran Eulenburg, berkonsultasi dengan ahli laringologi terkemuka Max Joseph Oertel, yang mendesak dilakukannya operasi drastis dan menyeluruh pada tenggorokan Friedrich, serta menyatakan bahwa ia mencurigai adanya tumor jinak yang dapat segera berubah menjadi ganas.[65] Pada saat ini, metode pengobatan Mackenzie terhadap Friedrich mulai menuai kritik tajam. Setelah dua minggu di Toblach, Mackenzie datang untuk memeriksa kembali Friedrich yang terus menderita flu dan suara serak; namun di depan publik, sang dokter tetap bersikap santai dan mengaitkan suara serak itu dengan "masuk angin sesaat." Kendati demikian, ia menyarankan agar Friedrich meninggalkan Toblach menuju Venesia, yang kemudian diikuti oleh Victoria. Cuaca segera berubah menjadi dingin, dan tenggorokan Friedrich mulai terasa sakit, yang membuatnya harus menerima suntikan kokain.[66]

Setibanya di Venesia, Friedrich kembali terserang flu; secara pribadi, Mackenzie mulai merasa sangat khawatir setelah mengamati adanya kecenderungan pembengkakan yang terus berlanjut pada tenggorokan dan laring Friedrich. Ia melarang Friedrich berbicara dalam durasi lama, seraya mencatat bahwa jika Sang Putra Mahkota bersikeras berbicara dan terserang flu lebih lanjut, ia hanya bisa memberi sisa waktu hidup tidak lebih dari tiga bulan.[66] Di awal bulan Oktober, Victoria mencatat bahwa "tenggorokan Fritz tidak memberikan alasan untuk kecemasan baru & dia benar-benar sedikit lebih berhati-hati dan berbicara sedikit lebih jarang."[67] Pada tanggal 6 Oktober, Friedrich, keluarganya, dan Mackenzie berangkat menuju sebuah vila di Baveno di tepi Danau Maggiore, dengan Mackenzie meninggalkan Baveno pada tanggal 8 Oktober setelah memprediksi kesembuhan Friedrich "dalam 3 atau 4 bulan," tulis Victoria.[67] Putra tertua mereka, Wilhelm, menyusul mereka di Baveno pada tanggal 17 Oktober untuk merayakan ulang tahun Friedrich yang ke-56 keesokan harinya.[67] Di akhir bulan Oktober, kondisi Friedrich tiba-tiba memburuk. Victoria menulis surat kepada ibunya pada tanggal 2 November bahwa tenggorokan Friedrich kembali meradang, tetapi bukan karena flu, dan bahwa ia "sangat serak lagi" serta mudah menjadi depresi memikirkan kesehatannya. Jenderal Alfred von Waldersee mengamati bahwa kesehatan Friedrich membawa implikasi serius, karena jika Wilhelm (tua) segera meninggal dan putranya menggantikan, "seorang Kaisar baru yang tidak diizinkan berbicara adalah hal yang mustahil, terlepas dari fakta bahwa kita sangat membutuhkan kaisar yang sangat energik." Putranya, Wilhelm, melaporkan kepada Albert, Raja Sachsen bahwa ayahnya sering kali lekas marah dan melankolis, meskipun suaranya tampak sedikit membaik, dan bahwa tenggorokan Friedrich dirawat dengan cara "meniupkan bubuk dua kali sehari untuk menenangkan laring."[67]
Pada tanggal 3 November, Friedrich dan rombongannya berangkat ke Sanremo.[67] Di Sanremo dua hari kemudian, pada tanggal 5 November, Friedrich kehilangan suaranya sama sekali dan mengalami rasa sakit yang hebat di seluruh tenggorokannya.[68] Setelah memeriksa, Dr. Hovell menemukan adanya pertumbuhan jaringan baru di bawah pita suara kiri; ketika kabar ini sampai ke telinga Wilhelm dan pemerintah Jerman, hal itu memicu kepanikan besar. Keesokan harinya, Mackenzie mengeluarkan buletin yang menyatakan bahwa meskipun tidak ada bahaya langsung bagi Putra Mahkota, penyakitnya "sayangnya telah berbalik ke arah yang tidak menguntungkan," dan bahwa ia telah meminta saran dari spesialis lain, termasuk profesor laringologi asal Austria Leopold von Schrötter dan Dr. Hermann Krause dari Berlin.[68] Pada tanggal 9 November, Schrötter dan Krause mendiagnosis pertumbuhan baru tersebut sebagai tumor ganas, dan mengatakan kecil kemungkinan Friedrich dapat bertahan hidup satu tahun lagi.[68] Semua dokter yang hadir, termasuk Mackenzie, kini menyimpulkan bahwa penyakit Friedrich memang kanker laring, karena lesi baru telah muncul di sisi kanan laring, dan bahwa tindakan laringektomi total segera diperlukan untuk menyelamatkan nyawanya; Moritz Schmidt, salah satu dokter, di kemudian hari mengatakan bahwa pertumbuhan awal yang ditemukan pada bulan Mei juga bersifat kanker.[69] Friedrich sangat terpukul oleh kabar tersebut, ia meneteskan air mata saat diberi tahu oleh Mackenzie dan menangis, "Berpikir bahwa saya harus menderita penyakit yang begitu mengerikan dan menjijikkan ... Saya sangat berharap bisa berguna bagi negara saya. Mengapa Langit begitu kejam kepada saya? Apa yang telah saya lakukan hingga dipukul dan dihukum seperti ini?"[70][69] Namun, bahkan pada tahap ini, Friedrich dalam diskusi pribadi dengan istrinya memutuskan untuk menolak laringektomi karena operasi itu sendiri sangat berisiko tinggi. Ia mengirimkan pernyataan tertulis kepada para dokternya bahwa ia akan tetap berada di Italia dan hanya bersedia menjalani trakeotomi jika ia berada dalam risiko mati lemas akibat kondisinya.[69] Kabar tersebut disambut dengan syok di Berlin dan memicu kebencian lebih lanjut terhadap Victoria, yang kini dipandang sebagai "orang asing" dominan yang memanipulasi suaminya. Beberapa politikus menyarankan agar Friedrich dipaksa melepaskan posisinya dalam garis suksesi demi putranya, Wilhelm, tetapi Bismarck dengan tegas menyatakan bahwa Friedrich akan tetap menggantikan ayahnya yang sakit "apakah dia sakit atau tidak, [dan] apakah Kaisar saat itu secara permanen tidak dapat menjalankan tugasnya," yang kemudian akan ditentukan sesuai dengan ketentuan Konstitusi Prusia yang relevan.[71] Terlepas dari diagnosis kanker yang diperbarui, kondisi Friedrich tampak membaik setelah tanggal 5 November, dan ia menjadi lebih optimis; sepanjang bulan Januari 1888 masih ada harapan bahwa diagnosis tersebut keliru. Baik Friedrich maupun Victoria tetap menaruh kepercayaan mereka pada Mackenzie, yang memeriksa kembali tenggorokan Friedrich beberapa kali pada bulan Desember dan memberikan prognosis yang baik, serta kembali meragukan apakah pertumbuhan jaringan tersebut bersifat kanker.[72]

Pada tanggal 26 Desember 1887, Friedrich menulis bahwa "katak kronis"-nya tampaknya menuju "ke arah yang lebih baik", dan bahwa "ikatan lebih lanjut telah terjalin antara rakyat kami dan saya sendiri; semoga Tuhan melestarikannya dengan memberi saya kemampuan, ketika saya melanjutkan tugas nanti, untuk membuktikan diri saya layak atas kepercayaan besar yang telah ditunjukkan kepada saya!"[72] Namun seminggu kemudian, pada tanggal 5 Januari 1888, suara serak dan pembengkakan di bawah pita suara kirinya kembali muncul, disertai peradangan pada sisi kanan tenggorokannya yang sebelumnya tidak terdampak.[73] Ia mengalami demam tinggi dan mulai batuk dengan hebat, disertai pernapasannya yang menjadi semakin berat. Para dokter mendiagnosis perikondritis, sebuah infeksi pada selaput tenggorokan.[73] Friedrich kembali kehilangan kemampuan berbicara, serta menderita sakit kepala hebat dan insomnia.[73] Pada tanggal 29 Januari, Mackenzie kembali ke Sanremo dari perjalanannya ke Spanyol, dan setelah memeriksa pasiennya, ia merekomendasikan trakeotomi segera.[74][75] Operasi dilaksanakan pada pukul 4 sore tanggal 8 Februari, di mana pada saat itu Friedrich terus-menerus menderita insomnia dan "serangan mati lemas yang menyiksa".[75] Sebuah tabung trakea dipasang untuk membantu Friedrich bernapas;[76] di sisa hidupnya ia tidak mampu lagi berbicara dan sering kali berkomunikasi melalui tulisan.[77] Selama operasi berlangsung, Bergmann hampir saja menewaskan Friedrich karena salah membuat sayatan pada trakea dan memasukkan kanula ke tempat yang salah.[74] Friedrich mulai batuk dan mengalami pendarahan, lalu Bergmann memasukkan jari telunjuknya ke dalam luka untuk memperlebarnya. Pendarahan mereda setelah dua jam, tetapi tindakan Bergmann tersebut mengakibatkan abses pada leher Friedrich, menghasilkan nanah yang terus memberikan rasa tidak nyaman bagi Friedrich selama bulan-bulan sisa hidupnya.[76] Di kemudian hari, Friedrich sempat menuliskan pertanyaan, "Mengapa Bergmann memasukkan jarinya ke dalam tenggorokanku?"[76] dan mengeluh bahwa "Bergmann telah memperlakukan [saya] dengan buruk".[76]
Bahkan setelah menjalani trakeotomi, Friedrich terus mengalami demam tinggi serta menderita sakit kepala dan insomnia. Batuk hebatnya terus berlanjut, mengeluarkan dahak yang bercampur darah. Selain Mackenzie, dokter-dokter lain yang dipimpin oleh Bergmann kini berpegang teguh pada opini mereka bahwa penyakit Sang Putra Mahkota adalah kanker dan kemungkinan telah menyebar ke paru-parunya. Diagnosis kanker laring tersebut akhirnya terkonfirmasi secara meyakinkan pada tanggal 6 Maret, ketika ahli anatomi Profesor Wilhelm Waldeyer yang datang ke Sanremo, memeriksa dahak Friedrich di bawah mikroskop dan memastikan adanya "apa yang disebut sel-sel kankroid... dari pertumbuhan jaringan kanker baru" di dalam laring. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda pertumbuhan jaringan apa pun di paru-parunya.[75] Meskipun berhasil menyelesaikan perdebatan, diagnosis Waldeyer ini membuat seluruh metode pengobatan Mackenzie terhadap Friedrich dipertanyakan.[75] Diagnosis dan pengobatan penyakit fatal Friedrich ini memicu beberapa kontroversi medis yang terus berlanjut hingga abad berikutnya.[78]
Masa pemerintahan singkat dan kematian

Tiga hari setelah Friedrich dikonfirmasi menderita kanker, ayahnya, Kaisar Wilhelm I, meninggal dunia pada usia 90 tahun pukul 08.22 pagi tanggal 9 Maret 1888. Atas peristiwa tersebut, Friedrich resmi menjadi Kaisar Jerman dan Raja Prusia.[79] Putranya, Wilhelm, yang kini menjadi Putra Mahkota, mengirim telegram berisi kabar duka tersebut kepada ayahnya di Italia. Belakangan pada hari yang sama, Friedrich menulis dalam catatan hariannya bahwa ia menerima telegram tersebut setibanya dari berjalan-jalan, "...dan dengan demikian saya telah menaiki takhta para leluhur saya dan takhta Kaisar Jerman! Tuhan tolonglah saya dalam menjalankan tugas-tugas saya dengan penuh kesadaran dan demi kemaslahatan Tanah Air saya, baik dalam arti sempit maupun luas."[79] Elemen-elemen progresif di Jerman berharap bahwa kematian Wilhelm, yang diikuti dengan suksesi Friedrich, akan membawa negara tersebut ke dalam era baru yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip liberal.[52][80] Atas saran Bismarck, ia memilih untuk menggunakan nama takhta Friedrich (Friedrich III). Kaisar yang baru tiba di Berlin pukul 11 malam pada tanggal 11 Maret; mereka yang melihatnya merasa ngeri dengan penampilannya yang "mengenaskan".[81] Pertanyaan yang muncul saat itu adalah berapa lama lagi sang kaisar yang sakit parah tersebut dapat bertahan hidup, dan apa yang bisa ia capai dalam waktu sesingkat itu.[79] Meskipun didera penyakit, Friedrich berupaya sebaik mungkin untuk memenuhi kewajibannya sebagai kaisar. Segera setelah pengumuman naik takhtanya, ia melepas pita dan bintang Ordo Elang Hitam dari tunik seragamnya lalu menyematkannya pada gaun istrinya; ia bertekad untuk menghormati posisi istrinya sebagai permaisuri.[82] Karena terlalu sakit untuk ikut berbaris dalam prosesi pemakaman ayahnya, ia diwakili oleh Wilhelm, Sang Putra Mahkota baru, sementara ia sendiri menyaksikan prosesi itu sambil menangis dari kamar-kamarnya di Istana Charlottenburg.[81]
Sebagai Kaisar Jerman, ia secara resmi menerima kunjungan Ratu Victoria dari Britania Raya (ibu mertuanya) dan Raja Oscar II dari Swedia dan Norwegia, serta menghadiri pernikahan putranya, Pangeran Heinrich, dengan keponakannya, Putri Irene. Namun, Friedrich hanya memerintah selama 99 hari,[83] dan tidak sempat membawa banyak perubahan yang langgeng.[84] Mayoritas elit penguasa Jerman memandang masa pemerintahan Friedrich III sekadar sebagai periode interim (peralihan) yang singkat sebelum penobatan putranya, Wilhelm II, ke atas takhta.[85] Sebuah maklumat yang ia konsep sebelum naik takhta untuk membatasi kekuasaan kanselir dan monarki di bawah konstitusi tidak pernah diberlakukan,[86] meskipun ia sempat memaksa Robert von Puttkamer untuk mengundurkan diri sebagai Menteri Dalam Negeri Prusia pada tanggal 8 Juni, setelah adanya bukti yang menunjukkan bahwa Puttkamer telah mengintervensi pemilihan Reichstag. Dr. Mackenzie menulis bahwa sang kaisar memiliki "rasa tanggung jawab yang nyaris luar biasa besar terhadap tugas-tugas di posisinya".[87] Dalam sebuah surat kepada Lord Napier, Permaisuri Victoria menulis, "Kaisar mampu mengurus urusannya, dan melakukan banyak hal, tetapi tidak bisa berbicara tentu saja adalah hal yang paling menyiksa."[88] Friedrich memiliki semangat membara tetapi tidak memiliki waktu untuk mewujudkan keinginan-keinginannya, meratap pada bulan Mei 1888, "Saya tidak boleh mati ... Apa yang akan terjadi dengan Jerman?"[89]
Sejak April 1888, Friedrich menjadi begitu lemah hingga tidak mampu lagi berjalan, dan sebagian besar waktunya dihabiskan di tempat tidur; batuknya yang terus-menerus mengeluarkan nanah dalam jumlah besar. Pada awal Juni, kankernya menyebar ke dan melubangi esofagusnya, menyebabkannya tidak dapat makan.[90] Ia menderita muntah-muntah dan demam tinggi, namun tetap cukup sadar untuk menulis entri catatan harian terakhir pada tanggal 11 Juni: "Apa yang terjadi dengan saya? Saya harus sembuh kembali; ada begitu banyak yang harus saya lakukan!"[90] Friedrich III meninggal dunia di Potsdam pada pukul 11.30 siang tanggal 15 Juni 1888, dan digantikan oleh putranya yang berusia 29 tahun, Wilhelm II.[90] Friedrich III dimakamkan di sebuah mausoleum yang menyatu dengan Friedenskirche di Potsdam.[91] Setelah kematiannya, William Ewart Gladstone menjulukinya sebagai "Barbarossa-nya liberalisme Jerman".[92] Permaisuri Victoria terus melanjutkan upaya menyebarkan pemikiran dan cita-cita Friedrich di seluruh Jerman, tetapi ia tidak lagi memiliki kekuasaan di dalam pemerintahan.[93] Kematian dininya dianggap sebagai salah satu titik balik potensial dalam sejarah Jerman.[94]
Warisan


Meskipun di masa mudanya dipuja karena kepemimpinan dan keberhasilannya selama perang Schleswig Kedua, Austro-Prusia, dan Perang Prancis-Prusia,[95][50] ia sendiri mengaku membenci peperangan dan dipuji baik oleh kawan maupun lawan atas perilakunya yang manusiawi. Friedrich percaya bahwa suatu negara tidak boleh bertindak melawan opini populer dari rakyatnya.[33][96] Ia memiliki rekam jejak liberalisme yang panjang, dan telah mendiskusikan gagasan serta niatnya tersebut dengan Victoria dan tokoh-tokoh lain sebelum masa pemerintahannya. Karena mengagumi Pangeran Albert dan sistem parlementer Britania,[52][97] Friedrich dan istrinya berencana untuk memerintah bersama sebagai rekan-monarki (co-monarchs) dan meliberalisasi Jerman melalui penunjukan menteri-menteri yang lebih liberal.[98] Mereka berniat untuk sangat membatasi jabatan Kanselir,[86] dan mengorganisasi ulang Jerman agar mencakup banyak elemen liberalisme Britania. Banyak sejarawan, termasuk William Harbutt Dawson dan Erich Eyck, menganggap bahwa kematian dini Friedrich mengakhiri perkembangan liberalisme di dalam Kekaisaran Jerman.[99] Mereka meyakini bahwa, seandainya ia memiliki masa pemerintahan yang lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik, Friedrich mungkin benar-benar telah mengubah Jerman menjadi negara yang lebih demokratis liberal, dan mencegah jalur militeristiknya menuju perang.[83][100][101] Dr. J. McCullough mengklaim bahwa Friedrich akan dapat mencegah Perang Dunia I—dan dengan sendirinya mencegah runtuhnya kekaisaran yang melahirkan Republik Weimar[101]—sementara sejarawan lain seperti Michael Balfour melangkah lebih jauh dengan merumuskan bahwa, karena akhir Perang Dunia I secara langsung memengaruhi konstelasi perkembangan dunia, Kaisar Jerman yang liberal tersebut mungkin juga akan mencegah bangkitnya Adolf Hitler dan secara tidak langsung, mencegah pecahnya Perang Dunia II.[102] Penulis Michael Freund menyatakan secara langsung bahwa kedua perang dunia akan dapat dihindari seandainya Friedrich hidup lebih lama.[103] Jalur hidup Friedrich menginspirasi sejarawan Frank Tipton untuk berspekulasi: "Apa yang akan terjadi seandainya ayahnya meninggal lebih awal atau jika dia sendiri hidup lebih lama?"[104]

Sejarawan lain, termasuk Wilhelm Mommsen dan Arthur Rosenberg, menentang gagasan bahwa Friedrich bisa, atau akan, meliberalisasi Jerman.[99] Mereka percaya bahwa ia tidak akan berani menentang warisan ayahnya sekaligus melawan Bismarck untuk mengubah haluan Jerman. Sebagai seorang prajurit alami, ia dibesarkan dalam tradisi militer keluarganya yang kuat, dan dengan senang hati melapor kepada ayahnya sejak ia bergabung dengan tentara pada usia sepuluh tahun.[8] Andreas Dorpalen mencatat bahwa Friedrich telah mematuhi sebagian besar kebijakan Wilhelm dan Bismarck di masa awal hidupnya, dan kecil kemungkinan akan mengubah perilakunya.[97][105] Menurut Arthur Rosenberg, terlepas dari kecenderungan liberalnya, Friedrich tetap percaya teguh pada Bismarck dan sistemnya,[106] dengan Dorpalen menambahkan bahwa dalam hal apa pun Friedrich memiliki karakter yang terlalu lemah dan tidak efisien untuk dapat membawa perubahan nyata, tidak peduli seberapa lama ia memerintah.[80][107] James J. Sheehan menyatakan bahwa iklim politik dan sistem partai di Jerman selama periode tersebut terlalu terpaku pada cara-cara lama bagi Friedrich untuk bisa mengatasinya dengan liberalisasi.[108] Dorpalen juga mengamati bahwa citra liberal Friedrich mungkin telah dibesar-besarkan setelah kematiannya demi menjaga agar gerakan liberal di Jerman tetap kuat,[109] dan ia menunjukkan bahwa banyak kesalahan yang dibuat oleh Wilhelm II membantu menggambarkan ayahnya dalam sudut pandang yang lebih menguntungkan.[110]
Anak-anak Friedrich—khususnya Wilhelm—memegang berbagai posisi politik dan sangat memengaruhi Eropa. Berbeda dengan ayahnya, Wilhelm tidak mengalami sendiri kengerian perang secara langsung, dan ia dengan antusias merangkul warisan militer keluarganya serta berada di bawah bimbingan langsung Bismarck. Sang Kanselir, yang tidak menyetujui cara-cara liberal Friedrich dan Victoria, merasa berkepentingan untuk memperuncing ketegangan antara Wilhelm dan orang tuanya.[111] Wilhelm tumbuh besar dengan penuh rasa hina terhadap pandangan orang tuanya mengenai pemerintahan; tak lama setelah kematian ayahnya, ia memaklumkan bahwa ia akan mengikuti jalur kakeknya, Wilhelm I, dan sama sekali tidak merujuk pada Friedrich III.[112] Wilhelm II meninggalkan seluruh kebijakan dan gagasan ayahnya, yang pada akhirnya membawa Jerman terjerumus ke dalam Perang Dunia I.[99][110]
Rencana Bismarck untuk merongrong Friedrich dan Victoria, serta menggunakan Wilhelm II sebagai alat demi mempertahankan kekuasaannya sendiri, justru menjadi senjata makan tuan yang berujung pada kejatuhannya sendiri. Pada kenyataannya, Wilhelm memiliki keyakinan yang sama dengan ayahnya bahwa posisi kanselir terlalu kuat dan harus diubah demi menguntungkan posisi Kaisar yang lebih berkuasa.[14] Bismarck baru menyadari hal ini ketika Wilhelm II hendak memberhentikannya:
Seluruh sumber daya Bismarck dikerahkan; ia bahkan meminta Permaisuri Victoria untuk menggunakan pengaruhnya pada putranya demi kepentingannya. Namun sang penyihir telah kehilangan sihirnya; mantra-mantranya tidak lagi berdaya karena dikerahkan pada orang-orang yang tidak menghormatinya, dan ia yang telah mengabaikan perintah Kant untuk memperlakukan orang lain sebagai tujuan itu sendiri kini memiliki simpanan loyalitas yang terlalu sedikit untuk ditarik. Seperti yang dikatakan Lord Salisbury kepada Ratu Victoria: 'Kualitas-kualitas yang dipupuk Bismarck pada diri Kaisar demi memperkuat dirinya sendiri ketika Kaisar Friedrich naik takhta kelak, justru menjadi kualitas-kualitas yang mendepak dirinya sendiri.' Sang Permaisuri, dengan perasaan yang pastilah bercampur antara iba dan kemenangan, memberi tahu Bismarck bahwa pengaruhnya pada putranya tidak dapat menyelamatkannya karena ia sendiri yang telah menghancurkan pengaruh tersebut.[113]
Gereja-gereja yang dibangun untuk menghormati Friedrich antara lain Kaiser-Friedrich-Gedächtniskirche di Berlin dan bekas Gereja Kalthof di Königsberg (Kaliningrad, Rusia). Gunung Frederick William di area Jervis Inlet di pesisir Columbia Britania di Kanada dinamai untuk menghormati dirinya.[114]
Friedrich "menggambarkan Konstitusi Kekaisaran sebagai kekacauan yang dirancang dengan cerdik."[115] Menurut Michael Balfour:
Putra Mahkota dan Putri Mahkota berbagi pandangan yang sama dengan Partai Kemajuan Jerman, dan Bismarck dihantui oleh ketakutan bahwa seandainya Kaisar tua meninggal—dan saat itu usianya sudah tujuh puluhan—mereka akan menunjuk salah satu pemimpin Partai Kemajuan untuk menjadi Kanselir. Ia berupaya mengantisipasi peralihan tersebut dengan menjauhkan Putra Mahkota dari posisi pengaruh mana pun dan menggunakan cara-cara kotor maupun adil untuk membuatnya tidak populer.[116]
Tanda kehormatan
- Penghargaan Jerman[117]
Prusia:
- Ksatria Elang Hitam, 18 Oktober 1841; dengan Kalung (Collar), 1849[118]
- Salib Panglima Besar Ordo Wangsa Hohenzollern, 1851; dengan Bintang, 11 September 1869; dengan Pedang, 1873[118]
- Salib Besar Elang Merah, dengan Daun Ek, 18 Oktober 1861; dengan Pedang, 1864[118]
- Ksatria Ordo Mahkota Kerajaan, Kelas 1, 18 Oktober 1861[118]
- Pour le Mérite (militer), 29 Juni 1866; dengan Daun Ek, 3 Agustus 1866; Salib Besar, 20 September 1866; dengan Daun Ek, 2 September 1873[118]
- Salib Besar dari Salib Besi, 22 Maret 1871[119]
- Salib Penghargaan Pengabdian (Service Award Cross)
Hohenzollern: Salib Kehormatan Ordo Wangsa Kepangeranan Hohenzollern, Kelas 1 dengan Pedang
Adipati-adipati Askania: Salib Besar Ordo Albert si Beruang, 14 Februari 1853; dengan Pedang, 12 September 1864[120]
Baden:[121]
- Ksatria Ordo Kesetiaan Wangsa, 1850
- Salib Besar Singa Zähringer, 1850
- Salib Besar Ordo Jasa Militer Karl-Friedrich, 1867
Kerajaan Bayern:
- Ksatria Santo Hubertus, 1853[122]
- Salib Besar Ordo Militer Max Joseph, 28 Agustus 1870[123]
- Templat:Country data Duchy of Brunswick: Salib Besar Ordo Heinrich si Singa
- Templat:Country data Saxe-Coburg and Gotha Templat:Country data Saxe-Altenburg Templat:Country data Saxe-Meiningen Adipati Ernestine: Salib Besar Ordo Wangsa Saxe-Ernestine, November 1854[124]
- Templat:Country data Kingdom of Hanover:[125]
- Ksatria Santo Georgius, 1858
- Salib Besar Ordo Guelph Kerajaan, 1858
Hesse-Kassel: Ksatria Singa Emas, 16 April 1853[126]
Hesse-Darmstadt:[127]
- Salib Besar Ordo Ludwig, 11 Oktober 1855
- Salib Jasa Militer untuk tahun 1870/71, 15 Maret 1871
Mecklenburg:
- Salib Besar Mahkota Wendish, dengan Mahkota Bijih (Crown in Ore)
- Salib Jasa Militer, Kelas 1 (Schwerin)
- Salib Tanda Kehormatan dalam Perang (Strelitz)
- Templat:Country data Nassau: Ksatria Singa Emas Nassau, Maret 1861[128]
- Templat:Country data Oldenburg: Salib Besar Ordo Adipati Peter Friedrich Ludwig, dengan Mahkota Emas, 17 April 1859'; dengan Pedang, 31 Desember 1870[129]
- Templat:Country data Saxe-Weimar-Eisenach: Salib Besar Elang Putih, 15 Desober 1848;[130] dengan Pedang, 1870[131]
- Templat:Country data Kingdom of Saxony:
- Ksatria Mahkota Rue, 1857[132]
- Salib Besar Ordo Militer Santo Heinrich, 1870[133]
- Templat:Country data Schaumburg-Lippe: Medali Jasa Militer
Württemberg:[134]
- Salib Besar Mahkota Württemberg, 1867
- Salib Besar Ordo Jasa Militer, 23 Oktober 1870
- Penghargaan luar negeri[117]
Kekaisaran Austria:
- Salib Besar Ordo Kerajaan Hongaria Santo Stefanus, 1852[135]
- Ksatria Ordo Militer Maria Theresa, 1864[135]
- Medali Pengabdian Perwira (25 tahun)
Belgia: Selempang Besar (Grand Cordon) Ordo Leopold, 6 Mei 1853[136]
Kekaisaran Brasil: Salib Besar Salib Selatan
Denmark: Ksatria Gajah (Order of the Elephant), 19 Agustus 1873[137]
Prancis: Salib Besar Legion d'honneur, Desober 1856[138]
Yunani: Salib Besar Sang Penebus- Templat:Country data Kingdom of Hawaii: Salib Besar Ordo Kamehameha I
Kekaisaran Jepang: Selempang Besar Ordo Serunai, 20 Mei 1880[139]
Meksiko: Salib Besar Ordo Kekaisaran Guadalupe
Belanda:
- Salib Besar Ordo Militer William, 23 Agustus 1878[140]
- Salib Besar Singa Belanda
Kekaisaran Utsmaniyah:
- Ordo Distingsi, Berhias Berlian
- Ordo Osmanieh, Kelas 1
- Medali Emas Imtiyaz
Tunisia: Ordo Keluarga Husainiyah
Persia: Ordo Potret Agung, Berhias Berlian- Templat:Country data Kingdom of Portugal:
- Salib Besar Selempang Dua Ordo
- Salib Besar Menara dan Pedang, dengan Pedang
Dinasti Qing: Ordo Naga Ganda, Kelas I Tingkat I
Kerajaan Rumania: Salib Besar Bintang Rumania, dengan Pedang
Kekaisaran Rusia:
- Ksatria Santo Andreas, September 1843[141]
- Ksatria Santo Aleksander Nevsky, September 1843
- Ksatria Elang Putih, September 1843
- Ksatria Santa Anna, Kelas 1, September 1843
- Ksatria Santo Stanislaus, Kelas 1, September 1843
- Ksatria Santo Georgius, Kelas 4, 1869; Kelas 2, 1870[142]
San Marino: Komandan Ordo San Marino
Kerajaan Sardinia:
- Ksatria Anunsiasi, 11 Juni 1850[143]
- Salib Besar Ordo Militer Savoia
- Medali Emas Keberanian Militer, 3 Juli 1866[144]
Takhta Suci: Salib Besar Makam Kudus Yerusalem
Serbia:
Siam: Salib Besar Gajah Putih
Spanyol:
- Ksatria Bulu Domba Emas, 29 Januari 1862[145]
- Salib Besar Ordo Militer Santo Ferdinand
Swedia-Norwegia:
- Ksatria Ordo Karl XIII, 3 Mei 1858[146]
- Ksatria Serafim, 8 Januari 1861[147]
- Salib Besar Santo Olav, 5 Agustus 1873[148]
Dua Sisilia: Salib Besar Santo Ferdinand dan Jasa
Britania Raya:
- Ksatria Garter (Stranger Knight), 28 Januari 1858[149]
- Ksatria Salib Besar Bath (Kehormatan) (militer), 25 Januari 1883[150]
Venezuela: Kalung Ordo Sang Pembebas
Keturunan
| Foto | Nama | Lahir | Kematian | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Wilhelm II | 27 Januari 1859 | 4 Juni 1941 | menikah (1), 27 Februari 1881, Putri Auguste Viktoria dari Schleswig-Holstein; wafat 1921; memiliki anak (2), 9 November 1922, Putri Hermine Reuss dari Greiz, tidak memiliki anak | |
| Charlotte, Adipati Wanita Saxe-Meiningen | 24 Juli 1860 | 1 Oktober 1919 | menikah, 18 Februari 1878, Bernhard III, Adipati Saxe-Meiningen; memiliki anak | |
| Pangeran Heinrich dari Prusia | 14 Agustus 1862 | 20 April 1929 | menikah, 24 May 1888, sepupu pertamanya Putri Irene dari Hessen dan oleh Rhine; memiliki anak | |
| Pangeran Sigismund dari Prusia | 15 September 1864 | 18 Juni 1866 | wafat karena meningitis pada usia 21 bulan. Cucu pertama Ratu Victoria yang meninggal dunia. | |
| Viktoria, Putri Adolf dari Schaumburg-Lippe | 12 April 1866 | 13 November 1929 | menikah (1), 19 November 1890, Pangeran Adolf dari Schaumburg-Lippe; wafat 1916; tidak memiliki anak (2), 19 November 1927, Alexander Zoubkov; tidak memiliki anak | |
| Pangeran Waldemar dari Prusia | 10 Februari 1868 | 27 Maret 1879 | wafat karena difteri pada usia 11 tahun | |
| Sophia, Ratu Hellenes | 14 Juni 1870 | 13 Januari 1932 | menikah, 27 Oktober 1889, Konstantinus I, Raja Hellenes; memiliki anak | |
| Margaret, Landgravine Hesse-Kassel, Ratu Finlandia | 22 April 1872 | 22 Januari 1954 | menikah, 25 Januari 1893, Pangeran Friedrich Karl dari Hessen, raja-terpilih Finlandia, kemudian Landgrave Hesse-Kassel; memiliki anak |
Silsilah
Lihat pula
- "A Legend of Old Egypt"—sebuah cerita pendek tahun 1888 karya Bolesław Prus, yang terinspirasi oleh kematian tragis dini Friedrich III.
Referensi
- ↑ Allgemeine Deutsche Biographie. Bavaria: Komisi Sejarah. 1875.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 10.
- 1 2 3 Dorpalen 1948, hlm. 2.
- 1 2 Kollander 1995, hlm. 1.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 11.
- 1 2 Van der Kiste, hlm. 12.
- ↑ Oster 2013, hlm. 60–65.
- 1 2 3 MacDonogh, hlm. 17.
- 1 2 Palmowski, hlm. 43.
- ↑ Sperber, hlm. 64.
- ↑ Kollander, hlm. 1.
- ↑ Sperber, hlm. 128–129.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 554.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Oster, hlm. 60–65.
- ↑ Mueller-Bohn, hlm. 44.
- ↑ Mueller-Bohn, hlm. 14.
- 1 2 Nichols, hlm. 7.
- ↑ Speth, George William. Royal Freemasons. Masonic Publishing Company, 1885, hlm. 24–29.
- 1 2 Van der Kiste, hlm. 15.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 16.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 31.
- ↑ MacDonogh, hlm. 17–18.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 43.
- ↑ Kollander, hlm. 21.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 12.
- ↑ MacDonogh, hlm. 22.
- 1 2 Röhl 1998, hlm. 101.
- ↑ Röhl 1998, hlm. xiii.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 68.
- 1 2 "Friedrich III. deutscher Kaiser und König von Preußen K.u.K.H." prussianmachine.com. Diakses tanggal 2021-12-11.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 61.
- ↑ Pakula, hlm. 168.
- 1 2 Dorpalen, hlm. 11.
- ↑ Kollander, hlm. 38–45
- ↑ Oster, hlm. 63–64
- ↑ Van der Kiste, hlm. 130–31.
- ↑ Pakula, hlm. 69.
- ↑ Balfour, hlm. 66–67.
- ↑ Wagner 1899, hlm. 26-30.
- ↑ Wagner 1899, hlm. 36-37.
- ↑ Wagner 1899, hlm. 40.
- ↑ Wagner 1899, hlm. 45.
- ↑ Wagner 1899, hlm. 62-63.
- ↑ Lord, hlm. 125.
- ↑ Pakula, hlm. 98.
- ↑ Howard, Michael (2013-05-13). The Franco-Prussian War: The German Invasion of France 1870–1871 (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-75306-0.
- ↑ Howard, hlm. 60.
- 1 2 Kollander, hlm. 92.
- 1 2 3 Kollander, hlm. 109.
- 1 2 The Illustrated London News
- ↑ Dorpalen, hlm. 6.
- 1 2 3 Dorpalen, hlm. 1.
- ↑ Mueller-Bohn, hlm. 420.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 89.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 128.
- ↑ Röhl 1994, hlm. 198–199.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Röhl 1994, hlm. 198.
- 1 2 3 4 5 6 Röhl 1998, hlm. 645–646.
- 1 2 Röhl 1998, hlm. 647–648.
- 1 2 3 Röhl 1998, hlm. 649–650.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 654.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 656–657.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 658–659.
- 1 2 Röhl 1998, hlm. 659–662.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 662–663.
- 1 2 Röhl 1998, hlm. 664–666.
- 1 2 3 4 5 Röhl 1998, hlm. 671–673.
- 1 2 3 Röhl 1998, hlm. 690–691.
- 1 2 3 Röhl 1998, hlm. 694–697.
- ↑ Pakula, hlm. 448.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 702–705.
- 1 2 Röhl 1998, hlm. 699–701.
- 1 2 3 Röhl 1998, hlm. 773–777.
- 1 2 Mackenzie, hlm. 200–201.
- 1 2 3 4 Röhl 1998, hlm. 778–782.
- 1 2 3 4 Sinclair, hlm. 204.
- ↑ Dorpalen, hlm. 27.
- ↑ Westman, hlm. 20–21.
- 1 2 3 Röhl 1998, hlm. 788–789.
- 1 2 Sheehan, hlm. 217.
- 1 2 Röhl 1998, hlm. 790–791.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 193.
- 1 2 Kitchen, hlm. 214.
- ↑ Cecil, hlm. 110.
- ↑ Röhl 1998, hlm. 792.
- 1 2 Kollander, hlm. 147.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 195.
- ↑ Van der Kiste, hlm. 196.
- ↑ Pakula, hlm. 484.
- 1 2 3 Röhl 1998, hlm. 823–825.
- ↑ Wanckel
- ↑ Kollander, hlm. xi.
- ↑ Kollander, hlm. 179.
- ↑ Tipton, hlm. 175.
- ↑ Kollander, hlm. 79.
- ↑ Dorpalen, hlm. 22.
- 1 2 Dorpalen, hlm. 3.
- ↑ Farago, hlm. 264.
- 1 2 3 Dorpalen, hlm. 2.
- ↑ Chalat, hlm. 1307.
- 1 2 McCullough, hlm. 403.
- ↑ Balfour, hlm. v.
- ↑ Freund, hlm. 9.
- ↑ Tipton, hlm. 176.
- ↑ Dorpalen, hlm. 18.
- ↑ Rosenberg, hlm. 34.
- ↑ Dorpalen, hlm. 4.
- ↑ Sheehan, hlm. 216.
- ↑ Dorpalen, hlm. 30.
- 1 2 Dorpalen, hlm. 31.
- ↑ Feuchtwanger, hlm. 243.
- ↑ Kollander, hlm. 178.
- ↑ Balfour, hlm. 132.
- ↑ Hitz, hlm. 54
- ↑ Balfour, hlm. 69.
- ↑ Balfour, hlm. 70.
- 1 2 Hof- und Staats-Handbuch des Königreich Preußen (1886–87), Silsilah hlm. 1
- 1 2 3 4 5 Königlich Preussische Ordensliste (dalam bahasa German), vol. 1, Berlin: Gedruckt in der Reichsdruckerei, 1886, hlm. 4, 11, 21, 549, 932 – via hathitrust.org Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ "Eisernen Kreuz vom 1870", Königlich Preussische Ordensliste (dalam bahasa German), vol. 3, Berlin: Gedruckt in der Reichsdruckerei, 1877, hlm. 5 – via hathitrust.org Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Hof- und Staats-Handbuch des Herzogtum Anhalt (1867) "Herzoglicher Haus-orden Albrecht des Bären" hlm. 17
- ↑ Hof- und Staats-Handbuch des Großherzogtum Baden (1873), "Großherzogliche Orden" hlm. 59, 63, 73
- ↑ Hof- und Staats-Handbuch des Königreichs Bayern (dalam bahasa Jerman). Königl. Oberpostamt. 1867. hlm. 10. Diakses tanggal 2019-07-15.
- ↑ Ruith, Max (1882). Der K. Bayerische Militär-Max-Joseph-Orden. Ingolstadt: Ganghofer'sche Buchdruckerei. hlm. 83 – via hathitrust.org.
- ↑ Staatshandbücher für das Herzogtums Sachsen-Altenburg (1869), "Herzogliche Sachsen-Ernestinischer Hausorden" hlm. 21
- ↑ Staat Hannover (1865). Hof- und Staatshandbuch für das Königreich Hannover: 1865. Berenberg. hlm. 38, 79.
- ↑ Hof- und Staats-Handbuch des Großherzogtum Hessen (1879), "Großherzogliche Orden und Ehrenzeichen" hlm. 44
- ↑ Hof- und Staats-Handbuch ... Hessen (1879), "Großherzogliche Orden und Ehrenzeichen" hlm. 10, 130
- ↑ Staats- und Adreß-Handbuch des Herzogthums Nassau (1866), "Herzogliche Orden" hlm. 9
- ↑ Hof- und Staatshandbuch des Großherzogtums Oldenburg: für das Jahr 1872/73, "Der Großherzogliche Haus-und Verdienst Orden" hlm. 31
- ↑ Staatshandbuch für das Großherzogtum Sachsen / Sachsen-Weimar-Eisenach (1855), "Großherzogliche Hausorden" hlm. 11 Diarsipkan 2019-12-05 di Wayback Machine.
- ↑ Staatshandbuch ... Großherzogtum Sachsen / Sachsen-Weimar-Eisenach (1885), "Großherzogliche Hausorden" hlm. 13 Diarsipkan 2019-08-01 di Wayback Machine.
- ↑ Staatshandbuch für den Freistaat Sachsen (1867) (in German), "Königliche Ritter-Orden", hlm. 4
- ↑ Staatshandbuch für den Freistaat Sachsen: 1873. Heinrich. 1873. hlm. 35.
- ↑ Württemberg (1873). Hof- und Staats-Handbuch des Königreichs Württemberg: 1873. hlm. 32, 71.
- 1 2 "Ritter-Orden", Hof- und Staatshandbuch der Österreichisch-Ungarischen Monarchie, 1887, hlm. 124, 128, diakses tanggal 22 May 2020
- ↑ H. Tarlier (1854). Almanach royal officiel, publié, exécution d'un arrête du roi (dalam bahasa Prancis). Vol. 1. hlm. 37.
- ↑ Jørgen Pedersen (2009). Riddere af Elefantordenen, 1559–2009 (dalam bahasa Dansk). Syddansk Universitetsforlag. hlm. 468. ISBN 978-87-7674-434-2.
- ↑ M. Wattel, B. Wattel. (2009). Les Grand'Croix de la Légion d'honneur de 1805 à nos jours. Titulaires français et étrangers. Paris: Archives & Culture. hlm. 509. ISBN 978-2-35077-135-9.
- ↑ 刑部芳則 (2017). 明治時代の勲章外交儀礼 (PDF) (dalam bahasa Jepang). 明治聖徳記念学会紀要. hlm. 143.
- ↑ Militaire Willems-Orde: Preussen, Friedrich Wilhelm Nikolaus Karl Prinz von (in Dutch)
- ↑ Sergey Semenovich Levin (2003). "Lists of Knights and Ladies". Order of the Holy Apostle Andrew the First-called (1699-1917). Order of the Holy Great Martyr Catherine (1714-1917). Moscow. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
- ↑ Tentara Kekaisaran Rusia - Kaisar Jerman dan Raja Prusia Friedrich III Diarsipkan 2019-09-30 di Wayback Machine. (Dalam bahasa Rusia)
- ↑ Cibrario, Luigi (1869). Notizia storica del nobilissimo ordine supremo della santissima Annunziata. Sunto degli statuti, catalogo dei cavalieri (dalam bahasa Italia). Eredi Botta. hlm. 113. Diakses tanggal 2019-03-04.
- ↑ "Hohenzollern Principe Federico Guglielmo" (in Italian), Il sito ufficiale della Presidenza della Repubblica. Diakses tanggal 5 Agustus 2018.
- ↑ "Caballeros de la insigne orden del toisón de oro". Guía Oficial de España (dalam bahasa Spanyol). 1887. hlm. 146. Diakses tanggal 21 March 2019.
- ↑ Anton Anjou (1900). "Utländske Riddare". Riddare af Konung Carl XIII:s orden: 1811–1900: biografiska anteckningar (dalam bahasa Swedia). Eksjö, Eksjö tryckeri-aktiebolag. hlm. 176.
- ↑ Sveriges statskalender (dalam bahasa Swedia), 1877, hlm. 368, diakses tanggal 2018-01-06 – via runeberg.org
- ↑ Sveriges och Norges statskalender. Liberförlag. 1874. hlm. 704.
- ↑ Shaw, Wm. A. (1906) The Knights of England, I, London, hlm. 60
- ↑ Shaw, hlm. 198
- 1 2 Haussherr, Hans (1961) (bahasa Jerman). "Friedrich Wilhelm III ". Di Neue Deutsche Biographie (NDB). 5. Berlin: Duncker & Humblot. pp. 560–563. (full text online)
- 1 2 Marcks, Erich ADB:Wilhelm I. (deutscher Kaiser) (1897), "Wilhelm I. (deutscher Kaiser)", Allgemeine Deutsche Biographie (ADB) (dalam bahasa Jerman), vol. 42, Leipzig: Duncker & Humblot, hlm. 527–692
- 1 2 Backs, Silvia (1987) (bahasa Jerman). "Luise ". Di Neue Deutsche Biographie (NDB). 15. Berlin: Duncker & Humblot. pp. 500–502. (full text online)
- 1 2 Wülcker, Ernst (1882), "Karl Friedrich (Großherzog von Sachsen-Weimar-Eisenach)", Allgemeine Deutsche Biographie (ADB) (dalam bahasa Jerman), vol. 15, Leipzig: Duncker & Humblot, hlm. 355–358
- 1 2 Goetz, Walter (1953) (bahasa Jerman). "Augusta ". Di Neue Deutsche Biographie (NDB). 1. Berlin: Duncker & Humblot. pp. 451 et seq.. (full text online)
- 1 2 Helmolt, Hans Ferdinand (1907). The World's History: South-eastern and eastern Europe (dalam bahasa Inggris). W. Heinemann. grafik di antara hlm. 582–583.
Sumber
- Balfour, Michael (1964). The Kaiser and his Times. Boston: Houghton Mifflin. ISBN 978-0-3930-0661-2. OCLC 807459. OL 23264393M.
- Cecil, Lamar (1989). Wilhelm II: Prince and Emperor 1859-1900. Chapel Hill: University of North Carolina Press. ISBN 978-0-8078-1828-2.
- Chalat, Ned (October 1984). "Sir Morell Mackenzie Revisited". The Laryngoscope. 94 (10): 1307–1310. doi:10.1288/00005537-198410000-00009. PMID 6384708. S2CID 9353853.
- Corti, Egon (1957). The English Empress: A Study in the Relations Between Queen Victoria and Her Eldest Daughter, Empress Frederick of Germany. London: Cassell. OCLC 60222037. OL 10437417W.
- Dorpalen, Andreas [in Jerman] (October 1948). "Emperor Frederick III and the German Liberal Movement". The American Historical Review. 54 (1): 1–31. doi:10.2307/1841754. JSTOR 1841754.
- Dyos, H.; Wolff, Michael (1999). The Victorian City. Vol. 1. London: Routledge. ISBN 978-0-4151-9323-8. OL 7485937M.
- Hitz, Charles W. (2004). Through the Rapids - The History of Princess Louisa Inlet. Kirkland, Washington: Sikta 2 Publishing. ISBN 978-0-9720-2550-8.
- Farago, Lalas; Sinclair, Andrew (1981). Royal Web: The Story of Princess Victoria and Frederick of Prussia. New York: McGraw-Hill Book Company.
- Feuchtwanger, Edgar (2002). Bismarck. London: Routledge. ISBN 978-0-4152-1614-2.
- Freund, Michael (1966). Das Drama der 99 Tage (dalam bahasa Jerman). Cologne: Kiepenheuer und Witsch.
- Howard, Michael (2001). The Franco-Prussian War: The German Invasion of France, 1870–1871. London: Routledge. ISBN 978-0-4152-6671-0.
- Judd, Denis (1976). Eclipse of Kings: European Monarchies in the Twentieth Century. New York: Stein and Day. ISBN 978-0-6857-0119-5. OCLC 2074280.
- Kitchen, Martin (1996). The Cambridge Illustrated History of Germany. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-5214-5341-7. OCLC 46909896.
- Kollander, Patricia (1995). Frederick III: Germany's Liberal Emperor. London: Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-3132-9483-9.
- Lord, John (2004). Beacon Lights of History Volume X. Montana: Kessinger Publishing. ISBN 978-1-4191-0920-1.
- MacDonogh, Giles (2003). The Last Kaiser: The Life of Wilhelm II. London: Macmillan. ISBN 978-0-3123-0557-4.
- Mackenzie, Morell (1888). The case of Emperor Frederick III.: full official reports by the German physicians and by Sir Morell Mackenzie. New York: Edgar S. Werner.
- McCullough, J. (March 1930). "An Imperial Tragedy: Frederick III and the Letters of the Empress". The Canadian Medical Association Journal. 22 (3): 403–409. PMC 381777.
- Müller, Frank Lorenz (2012). 'Our Fritz': Emperor Frederick III and the Political Culture of Imperial Germany (dalam bahasa Inggris). Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN 978-0-6740-6269-6.
- Mueller-Bohn, Hermann (1900). Kaiser Friedrich der gütige: Vaterländisches Ehrenbuch (dalam bahasa Jerman). Berlin: Verlag Von Paul Kittel. OCLC 11475860.
- Nichols, J. (1987). The Year of the Three Kaisers: Bismarck and the German Succession, 1887–88. Chicago: University of Illinois Press. ISBN 978-0-2520-1307-2.
- Oster, Uwe A. (2013). "Zur Untätigkeit verdammt" [Condemned to Inactivity]. Damals (dalam bahasa Jerman). 45 (3): 60–65.
- Pakula, Hannah (1995). An Uncommon Woman – The Empress Frederick: Daughter of Queen Victoria, Wife of the Crown Prince of Prussia, Mother of Kaiser Wilhelm. New York: Simon and Schuster. ISBN 978-0-6848-0818-5. OCLC 59592048.
- Palmowski, Jan (1999). Urban Liberalism in Imperial Germany. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-1982-0750-4.
- Röhl, John (1994). The Kaiser and His Court. Cambridge: Cambridge University Press.
- Röhl, John (1998). Young Wilhelm: The Kaiser's Early Life, 1859–1888. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-5214-9752-7.
- Rosenberg, Arthur (1931). The Birth of the German Republic 1871-1918. Oxford: Oxford University Press.
- Sheehan, James (1978). German Liberalism in the Nineteenth Century. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-1-5739-2606-5.
- Sinclair, Andrew (1981). The Other Victoria: The Princess Royal and the Grand Game of Europe. London: Weidenfeld & Nicolson. ISBN 978-0-2977-7987-2. OCLC 8845833.
- Sperber, Jonathan (1994). The European Revolutions, 1848-1851. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-5213-8685-2.
- "The Crown Prince Frederick William of Prussia". The Illustrated London News. 20 August 1870. hlm. 185 – via Wikimedia Commons.
- Tipton, Frank (2003). A History of Modern Germany Since 1815. London: Continuum International Publishing Group. ISBN 978-0-8264-4910-8.
- Van der Kiste, John (1981). Frederick III: German Emperor 1888. Gloucester: Alan Sutton. ISBN 978-0-9043-8777-3. OCLC 10605825.
- Wanckel, Regine (2008). "Evangelische Friedenskirchgemeinde Potsdam" (dalam bahasa Jerman). Evkirchepotsdam.de. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-05-03. Diakses tanggal 2008-09-29.
- Wagner, Arthur (1899). The Campaign of Königgrätz: A Study of the Austro-Prussian Conflict in the Light of the American Civil War.
- Westman, Stephan (1968). Surgeon with the Kaiser's Army. Kimber. ISBN 978-0-7183-0021-0. OL 5656848M.
Bacaan lanjutan
- The War Diary of the Emperor Frederick III, (1870–1871). Ditulis oleh Friedrich III, diterjemahkan dan disunting oleh Alfred Richard Allinson. New York: Frederick A. Stokes Company, 1927. Ini adalah kumpulan terjemahan dari catatan harian perang yang disimpan oleh Putra Mahkota Friedrich Wilhelm selama Perang Prancis-Prusia.
- Life of the Emperor Frederick. Disunting dari karya bahasa Jerman Margaretha Von Poschinger. New York dan London: Harper & Brothers, 1901.
- Van der Kiste, John (2001). Dearest Vicky, Darling Fritz: Queen Victoria's Eldest Daughter and the German Emperor. Stroud, UK: Sutton Publishing. ISBN 978-0-750-93052-9.
Pranala luar
- Karya oleh/tentang Friedrich III dari Jerman di Internet Archive (pencarian dioptimalkan untuk situs non-Beta)
- 1888 Friedrich III (dalam bahasa Jerman)—Informasi mengenai Friedrich III dari situs Preussen.de.
- "Myths and Counter-Myths" Diarsipkan 2023-03-27 di Wayback Machine., Frank Lorenz Müller, Berfrois, 6 Februari 2012
- Potret Frederick III, Emperor of Germany and King of Prussia di National Portrait Gallery, London
- King Frederick III of Prussia di IMDb (dalam bahasa Inggris)
Friedrich III dari Jerman Lahir: 18 Oktober 1831 Meninggal: 15 Juni 1888 | ||
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Wilhelm I |
Kaisar Jerman Raja Prusia 9 Maret 1888 – 15 Juni 1888 |
Diteruskan oleh: Wilhelm II |