Dalam biologi, keturunan atau zuriah adalah generasi muda hasil kreasi organisme hidup, yang diproduksi baik melalui reproduksi seksual maupun reproduksi aseksual. Keturunan secara kolektif dapat disebut sebagai perindukan (brood) atau progeni. Istilah ini dapat merujuk pada sekumpulan keturunan yang lahir secara bersamaan, seperti anak-anak burung yang menetas dari satu kelompok telur, atau merujuk pada seluruh keturunan yang dihasilkan seiring waktu, seperti pada lebah madu. Keturunan dapat terlahir setelah proses perkawinan, inseminasi buatan, atau sebagai hasil dari kloning.
Keturunan memiliki berbagai bagian dan sifat yang presisi dan akurat terkait komposisi penyusun serta definisinya. Sebagai keturunan dari spesies baru, yang juga dikenal sebagai anak atau generasi f1, mereka terdiri dari gen ayah dan ibu, yang disebut sebagai generasi induk.[1] Setiap individu keturunan ini mengandung sejumlah besar gen yang mengodekan tugas dan sifat spesifik. Jantan dan betina keduanya berkontribusi secara setara terhadap genotipe keturunan mereka melalui proses peleburan gamet. Aspek krusial dalam pembentukan keturunan dari induk adalah kromosom, yakni struktur DNA yang membawa banyak gen.[1]
Untuk lebih memahami proses terbentuknya generasi f1, terdapat mekanisme pewarisan yang disebut tautan seks,[1] yaitu keberadaan gen yang terletak pada kromosom seks, di mana pola pewarisannya berbeda antara jantan dan betina. Teori yang menyatakan bahwa keturunan memiliki gen dari kedua generasi induk dibuktikan melalui proses yang disebut pindah silang, yang melibatkan pertukaran materi genetik dari kromosom jantan dan kromosom betina selama proses meiosis, yang berujung pada pembelahan kromosom secara merata.[2] Jenis kelamin keturunan ditentukan oleh gen mana yang diekspresikan secara dominan. Pihak betina akan selalu memberikan kromosom X, sedangkan pihak jantan, tergantung pada kondisinya, akan memberikan kromosom X atau kromosom Y. Jika keturunan jantan yang dihasilkan, maka gennya akan terdiri dari kromosom X dan Y, dan jika keturunan betina yang dihasilkan, maka gennya akan terdiri dari dua kromosom X.[2]
Kloning adalah produksi keturunan yang merepresentasikan gen yang identik dengan induknya. Kloning reproduksi dimulai dengan pengangkatan nukleus dari sel telur yang memuat materi genetik.[3] Untuk mengkloning suatu organ, sel punca harus diproduksi terlebih dahulu untuk kemudian digunakan dalam mengkloning organ spesifik tersebut.[4] Terdapat kesalahpahaman umum bahwa kloning menghasilkan salinan persis dari induk yang dikloning. Kloning menyalin DNA/gen induk dan menciptakan duplikat genetik. Namun, hasil kloning tidak akan menjadi salinan yang serupa secara mutlak karena mereka tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dari induknya dan mungkin menghadapi peluang serta pengalaman berbeda yang dapat memicu perubahan epigenetik. Meskipun sebagian besar berdampak positif, kloning juga menghadapi hambatan dalam hal etika dan kesehatan manusia. Kendati pembelahan sel dan replikasi DNA adalah bagian vital bagi kelangsungan hidup, terdapat banyak tahapan yang terlibat di dalamnya sehingga mutasi dapat terjadi, yang mengakibatkan perubahan permanen pada DNA organisme dan keturunannya.[5] Beberapa mutasi dapat bersifat menguntungkan karena memicu periode evolusi acak yang mungkin baik bagi spesies, namun sebagian besar mutasi bersifat merugikan karena dapat mengubah genotipe keturunan yang berujung pada perubahan yang membahayakan spesies tersebut.