Fokker (N.V. Koninklijke Nederlandse Vliegtuigenfabriek Fokker; terj. har.'Pabrik Pesawat Kerajaan Belanda Fokker') adalah produsen pesawat terbang asal Belanda yang beroperasi dari tahun 1912 hingga 1996. Perusahaan ini didirikan oleh penerbang asal Belanda, Anthony Fokker dan menjadi terkenal selama Perang Dunia I berkat pesawat tempurnya. Selama masa kejayaannya pada tahun 1920-an dan 1930-an, Fokker mendominasi pasar penerbangan sipil. Nasib perusahaan ini menurun sepanjang akhir abad ke-20; perusahaan ini menyatakan kebangkrutan pada tahun 1996, dan operasinya dijual kepada pesaing.
Sejarah
Pesawat terbang pertama Fokker, Spin (laba-laba) (1910)
Perusahaan ini didirikan pada 21 Juli 1919 oleh seorang Belanda, Anthony Fokker (1890–1939), salah seorang penjelajah penerbangan dunia. Anthony Fokker dilahirkan di Blitar, Jawa Timur, Indonesia6 April1890 yang mana masa itu orang tuanya bekerja pada pengawas perkebunan kopi di wilayah Kediri. Pada usia 20, dia telah membuat kapal terbang pertamanya, Spin (laba-laba), kapal terbang buatan Belanda yang pertama terbang di negara asalnya. Pada tahun 1912, dia mendirikan perusahaan pertamanya, Fokker Aeroplanbau di Berlin, Jerman, kemudian berpindah ke Schwerin.
Perang Dunia I
Di sana, Fokker membuat kapal terbang bagi pihak tentara Jerman semasa Perang Dunia I, dipaksa sebagai rekan kongsi Hugo Junkers oleh kekaisaran Jerman. Dia mencipta nama dengan kapal terbangnya Fokker E.III, yang menggunakan mekanisme yang memungkinkan penerbang menggunakan senapan mesin di kapal terbang mereka tanpa memusnahkan kipas mereka (menggunakan gigi pengganggu), Fokker D.VII, dan Fokker Dr.I tiga sayap yang terkenal karena pernah digunakan oleh Manfred von Richthofen, lebih dikenal sebagai Baron Merah.
Kembali ke Belanda
Pada tahun 1919, Fokker berpisah dari Junkers, kembali ke Belanda, dan memulai perusahaannya sendiri. Dia tidak kembali dengan tangan kosong; Fokker berhasil menyelundupkan satu kereta api penuh pesawat tentara D.VII dan C.I termasuk alat ganti menyeberangi perbatasan Jerman-Belanda. Simpanan permulaan ini memungkinkannya mendirikan kedai dengan cepat.
Selepas pemindahan perusahaannya, keberhasilan utamanya terletak pada kapal terbang perdagangan, pesawat penumpang bukannya pesawat tentara, walaupun Fokker masih terus mereka dan membuatnya, sebagian besar untuk tentara udara Belanda. Pengecualian jelas hanyalah bagi tentera udara Finlandia, yang sebagian besar dilengkapi dengan kapal terbang C.V, C.X and D.XXI.
Pada tahun 1920-an, kejayaan Fokker terbesar adalah pesawat penumpang tiga motor, yang menguasai pasaran Eropa hingga tibanya kapal terbang logam sepenuhnya dari Amerika Serikat dan Jerman pada pertengahan 1930-an.
Pada Desember1939, Anthony Fokker meninggal di Amerika Serikat, di mana cabang Amerika perusahaannya amat sukses.
Proses pemulihan pasca-perang ternyata sulit. Pasar dibanjiri pesawat-pesawat sisa perang yang murah. Perusahaan tersebut secara hati-hati mulai memproduksi pesawat layang (glider) dan pesawat angkut, serta mengubah pesawat angkut Dakota menjadi versi sipil. Beberapa F25 diproduksi. Meskipun demikian, pesawat latih S-11 sukses besar dan dibeli oleh beberapa angkatan udara. S-14 Machtrainer menjadi salah satu pesawat latih jet pertama, dan meskipun tidak sukses di pasar ekspor, pesawat ini digunakan selama lebih dari satu dekade oleh Angkatan Udara Kerajaan Belanda.
Sebuah pabrik baru dibangun di sebelah Bandara Schiphol dekat Amsterdam pada tahun 1951. Sejumlah pesawat militer diproduksi di sana berdasarkan lisensi, di antaranya pesawat tempur jet ganda Gloster Meteor dan F-104 Starfighter dari Lockheed. Fasilitas produksi dan pemeliharaan kedua didirikan di Woensdrecht.
Pada tahun 1958, F-27 Friendship diluncurkan, pesawat penumpang pascaperang paling sukses buatan Fokker. Pemerintah Belanda menyumbang 27 juta gulden untuk pengembangan pesawat ini. Ditenagai oleh mesin Rolls-Royce Dart, pesawat ini menjadi pesawat penumpang turboprop terlaris di dunia, dengan total penjualan mencapai hampir 800 unit pada tahun 1986, termasuk 206 unit yang diproduksi di bawah lisensi oleh Fairchild. Selain itu, versi militer dari F-27, yaitu F-27 Troopship, juga diproduksi.
Pada tahun 1962, F-27 digantikan oleh F-28 Fellowship yang bertenaga jet. Hingga produksi dihentikan pada tahun 1987, total 241 unit diproduksi dalam berbagai versi. Baik F-27 maupun kemudian F-28 pernah bertugas di Dutch Royal Flight, dengan Pangeran Bernhard sendiri sebagai pilot.
Pada tahun, 1969, perusahaan Fokker setuju untuk bekerja sama dengan Bremen-berdasarkan Vereinigte Flugtechnische Werke (mewakili ERNO) di bawah pengawalan perusahaan pemegang saham transnasional. Mereka bekerja sama untuk membuat VFW-614, regional jetliner yang gagal.
Fokker merupakan salah satu mitra utama dalam konsorsium F-16 Fighting Falcon (European Participating Air Forces), yang bertanggung jawab atas produksi pesawat tempur ini untuk Angkatan Udara Belgia, Denmark, Belanda, dan Norwegia. Konsorsium ini terdiri dari perusahaan dan lembaga pemerintah dari keempat negara tersebut serta Amerika Serikat. Pesawat F-16 dirakit di Fokker dan di SABCA di Belgia menggunakan suku cadang dari kelima negara yang terlibat.
Dirgantara
Pada tahun 1967, Fokker mendirikan divisi antariksa berskala kecil yang memproduksi komponen untuk satelit-satelit Eropa. Sebuah kemajuan besar terjadi pada tahun 1968 ketika Fokker mengembangkan satelit Belanda pertama (Astronomical Netherlands Satellite) bersama dengan Philips dan universitas-universitas Belanda. Hal ini diikuti oleh proyek satelit besar kedua, IRAS, yang berhasil diluncurkan pada tahun 1983. Badan Antariksa Eropa (ESA) pada bulan Juni 1974 menunjuk sebuah konsorsium yang dipimpin oleh ERNO-VFW-Fokker GmbH untuk membangun modul bertekanan untuk Spacelab.
Selanjutnya, Fokker berkontribusi pada banyak proyek satelit Eropa, serta pada roket Ariane dalam berbagai modelnya. Bersama dengan kontraktor Rusia, mereka mengembangkan sistem parasut raksasa untuk pendorong roket Ariane 5 yang memungkinkan pendorong tersebut kembali ke Bumi dengan aman dan dapat digunakan kembali.
Divisi antariksa tersebut semakin mandiri, hingga menjelang kebangkrutan Fokker pada tahun 1996, divisi tersebut menjadi perusahaan yang sepenuhnya berdiri sendiri, yang secara berturut-turut dikenal sebagai Fokker Space and Systems, Fokker Space, dan Dutch Space. Pada tanggal 1 Januari 2006, divisi tersebut diambil alih oleh EADS-Space Transportation.
Setelah upaya kolaborasi singkat yang gagal (proyek konsep Fokker F29) bersama McDonnell Douglas pada tahun 1981, Fokker memulai proyek ambisius untuk mengembangkan dua pesawat baru secara bersamaan. Fokker 50 dirancang sebagai versi yang sepenuhnya dimodernisasi dari F-27, sedangkan Fokker 100 merupakan pesawat penumpang baru yang dikembangkan berdasarkan F-28. Biaya pengembangan membengkak tak terkendali, hampir memaksa Fokker gulung tikar pada tahun 1987. Pemerintah Belanda menyelamatkan perusahaan tersebut dengan dana sebesar 212 juta gulden, tetapi menuntut Fokker untuk mencari "mitra strategis", dengan British Aerospace dan DASA disebut-sebut sebagai kandidat yang paling mungkin.
Penjualan awal Fokker 100 cukup baik, sehingga Fokker mulai mengembangkan Fokker 70, versi yang lebih kecil dari F100, pada tahun 1991, namun penjualan F70 di bawah ekspektasi dan F100 sudah menghadapi persaingan ketat dari Boeing dan Airbus. Pesawat pemerintah Belanda antara tahun 1996 dan 2017 adalah Fokker 70.[1]
Pada tahun 1992, setelah proses negosiasi yang panjang dan melelahkan, Fokker menandatangani perjanjian dengan DASA. Namun, hal ini tidak menyelesaikan masalah Fokker, terutama karena perusahaan induk DASA, Daimler-Benz, juga harus mengatasi masalah organisasionalnya sendiri.
Akhir
Pada tahun 1996 perusahaan Fokker dinyatakan bangkrut, tetapi sebagian perusahaan tersebut masih beroperasi. Divisi angkasa menjadi prusahaan bebas yang masa kini dikenal sebagai Dutch Space. Cabang perusahaan yang menghasilkan bagian kapal terbang dan meneruskan kerja-kerja memperbaiki dan penyelengaraan diambil alih oleh Stork N.V.; kini dikenal sebagai Stork Aerospace Group. Stork Fokker ada untuk melestarikan pemasaran kembali kapal terbang syarikat Fokker yang sudah ada.
Sementara itu, Rekkof Aircraft ("Fokker" terbalik) sedang mencoba memulai kembali penghasilan Fokker 70 NT, disokong oleh pembekal dan perusahaan penerbangan.
Pada November 2009, Stork Aerospace mengubah namanya menjadi Fokker Aerospace Group. Pada tahun 2011, Fokker Aerospace Group mengubah namanya menjadi Fokker Technologies. Kelima unit bisnis individual di dalam Fokker Technologies semuanya menggunakan nama Fokker:
Fokker Aerostructures
Fokker Landing Gear
Fokker Elmo
Fokker Techniek
Fokker Services
Pada tahun 2021, Fokker Services dan Fokker Techniek diakuisisi oleh Panta Holdings, sebuah dana investasi Belanda. Akuisisi ini bertujuan untuk memperkuat jejak Panta Holdings di bidang kedirgantaraan.[2] Panta Holdings juga memiliki Fokker Next Gen.
Fokker terkemuka
Pengenalan Fokker E.I kepada pasukan tentara udara Jerman pada tahun 1915 mendorong kepada Fokker Scourge pertama.
Amelia Earhart, wanita pertama yang terbang menyeberangi Atlantik (dari US ke kota kecil Wales di Burry Port) melakukannya pada tahun 1928 menggunakan Fokker F.VII