Ficus benghalensis var. krishnae (C. D. C.) Corner
Ficus chauvieri G. Nicholson
Ficus cotoneifolia Vahl
Ficus cotonifolia Stokes
Ficus crassinervia Kunth & C. D. Bouché
Ficus indica L.
Ficus karet Baill.
Ficus lancifolia Moench
Ficus lasiophylla Link
Ficus procera Salisb.
Ficus pubescens B. Heyne ex Roth
Ficus umbrosa Salisb.
Perula benghalensis Raf.
Urostigma benghalense (L.) Gasp.
Ficus benghalensis, Ficus indica, atau Ficus audrey, yang umum dikenal sebagai banyan, ara banyan, ara audrey, dan banyan india,[2] adalah pohon yang berasal dari anak benua India. Spesimen di India termasuk di antara pohon terbesar di dunia jika diukur dari luas tajuknya. Pohon ini juga dikenal sebagai "ara pencekik" karena, seperti banyak pohon lain dalam genus Ficus, ia memulai hidup sebagai epifit, yakni bertumpu pada pohon lain yang pada akhirnya akan tercekik olehnya.
Deskripsi
Cetakan alam daun, memperlihatkan bentuk dan tulang daun
Ficus benghalensis adalah pohon hijau abadi, berumah satu, dan tumbuh cepat, yang terutama ditemukan di hutan monsun dan hutan hujan, mampu mencapai tinggi hingga 30 meter.[3] Pohon ini tahan terhadap kekeringan dan embun beku ringan. Ia menghasilkan akar gantung yang tumbuh ke bawah. Setelah mencapai tanah, akar-akar tersebut akan menancap dan berkembang menjadi batang berkayu yang kokoh.
Buah ara yang dihasilkan pohon ini dimakan oleh burung seperti burung kerak ungu (Acridotheres tristis). Biji ara yang telah melewati sistem pencernaan burung lebih mungkin berkecambah dibandingkan biji yang tidak.[4]
Pohon beringin mudah berkembang biak melalui biji maupun stek, dan sering menyebar dari tempat asal dengan perantaraan akar gantung yang menancap ke tanah lalu tumbuh dan menebal hingga akhirnya "mandiri" dari batang utama, sehingga seolah-olah dapat "bermigrasi" ke tempat lain, kadang dalam jarak yang cukup jauh. Buah aranya dimakan oleh berbagai jenis burung pemakan buah seperti Psilopogon haemacephalus dan Acridotheres tristis. Biji yang telah melewati sistem pencernaan burung lebih mungkin untuk berkecambah dan tumbuh lebih cepat.
Biji beringin dapat jatuh dan tumbuh di dekat pohon induknya, dan sering pula berkecambah di lubang batang, dinding, atau bebatuan. Secara bertahap, biji ini mulai tumbuh sebagai epifit dengan memanfaatkan benda apa pun untuk memanjat demi mendapatkan sinar matahari. Dalam kondisi normal, pohon akan tumbuh hingga mencapai titik dengan sinar matahari terbanyak, sehingga ketinggiannya bervariasi. Karena itu, di tempat di mana beringin mendominasi, alih-alih tumbuh menjulang, ia cenderung melebar ke permukaan tanah untuk mengisi celah tanpa vegetasi. Secara umum, tajuk beringin jauh lebih lebar dibandingkan tingginya.
Pohon ini dianggap suci di India,[6] dan kuil sering dibangun di dekatnya. Karena ukuran tajuknya yang besar, pohon ini juga memberi keteduhan yang bermanfaat di iklim panas.
Dalam Buddhisme Theravada, pohon ini disebut sebagai pohon yang digunakan untuk mencapai pencerahan atau Bodhi oleh Buddha ke-24 bernama "Kassapa - කස්සප". Tumbuhan suci ini dikenal sebagai "Nuga - නුග" atau "Maha nuga - මහ නුග" di Sri Lanka.[7]
Pohon ini juga dipercaya sebagai tempat di mana Adhinath, Tirthankara pertama dalam Jainisme, mencapai Kewal Gyan atau pencerahan spiritual.
Pohon terbesar yang diketahui di dunia dalam hal luas dua dimensi yang ditutupi tajuknya adalah Thimmamma Marrimanu di Andhra Pradesh, India, yang menutupi area seluas 19.107 meter persegi (205.670sqft). Kelilingnya, 846 meter (2.776ft), juga merupakan yang terbesar dari pohon mana pun yang pernah tercatat.[8]
Nearchus, seorang laksamana Alexander Agung, menggambarkan sebuah spesimen besar di tepi Sungai Narmada di wilayah Bharuch modern, Gujarat, India; kemungkinan besar ia menggambarkan pohon yang kini dikenal sebagai "Kabirvad". Tajuk pohon yang digambarkan Nearchus disebut-sebut begitu luas hingga mampu menaungi 7.000 orang. James Forbes kemudian menuliskannya dalam Oriental Memoirs (1813–5) sebagai pohon dengan keliling hampir 610m (2.000ft) dan memiliki lebih dari 3.000 batang.[9] Saat ini, tajuk Kabirvad memiliki luas 17.520 meter persegi (188.600sqft) dengan keliling 641 meter (2.103ft).[8]
Spesimen India terkenal lainnya termasuk The Great Banyan di Kebun Raya Jagadish Chandra Bose di Shibpur, Howrah, yang memiliki tajuk seluas 18.918 meter persegi (203.630sqft) dan berusia sekitar 250 tahun, serta Dodda Aladha Mara di Kettohalli, Karnataka, yang memiliki tajuk seluas 12.000 meter persegi (130.000sqft) dan berusia sekitar 400 tahun.
↑"Ficus benghalensis". Royal Botanic Gardens KEW Plants of the World Online (dalam bahasa British English). Diakses tanggal 19
June 2022.;
↑Midya, S.; Brahmachary, R. L. (1991) "The Effect of Birds Upon Germination of Banyan (Ficus bengalensis) Seeds". Journal of Tropical Ecology. 7(4):537-538.
↑"National Tree". Govt
. of India Official website. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-01-19. Diakses tanggal 2019-04-26.