Pattiasina lahir pada tanggal di Palembang pada tanggal 2 Oktober 1950. Ayahnya adalah Brigadir Jenderal TNI (Purn.) H. J. M. Pattiasina, seorang pendiri dan direktur Pertamina.[1]
Pattiasina pindah ke Jerman Barat pada tahun 1972 dan tinggal di sana selama sepuluh tahun. Ia menjalani perkuliahan sampai mendapat gelar pascasarjana di bidang ekonomi (Dipl.-Oek) dari Universitas Bremen di Jerman pada tahun 1982. Ia kemudian sempat mengikuti program doktoral di universitas yang sama, namun studinya tidak selesai.
Setelah kembali ke Indonesia, Pattiasina bekerja sebagai seorang peneliti dan ekonom di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mulai tahun 1982 sampai 1991.
Karier Politik
Pada tahun 1992, Pattiasina masuk ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan duduk dalam Departemen Penelitian dan Pengembangan PDI. Pattiasina ditunjuk menjadi anggota MPR RI pada periode 1992-1997. Sebagai seorang anggota MPR RI, Pattiasina menjadi salah satu dari 17 orang anggota MPR dari fraksi PDI yang menentang pemilihan kembali Suharto sebagai Presiden.[2] Karena memilih mengikut kubu Megawati dalam Peristiwa 27 Juli (Kudatuli), Pattiasina tidak lagi menjadi anggota MPR pada tahun 1997.
Setelah Reformasi, Pattiasina masuk ke dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarnoputri dan terpilih sebagai anggota DPR-RI mewakili Kota Bitung, Sulawesi Utara. Dalam DPR-RI ia duduk sebagai Wakil Ketua Fraksi PDI-P dalam parlemen.
Selama duduk dalam parlemen, Pattiasina duduk sebagai anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP), anggota Badan Anggaran DPR (1999-2002), dan Wakil Ketua Badan Anggaran DPR (2002-2004). Pada Pemilu 2004, Pattiasina menjadi calon anggota legislatif dari PDI-P untuk daerah pemilihan Maluku, namun tidak terpilih.
Setelah tidak lagi duduk sebagai anggota DPR, pada tahun 2005 Pattiasina bersama beberapa tokoh PDI-P lainnya mendirikan Gerakan Pembaharuan (GP PDI-P) yang bertujuan melakukan reformasi internal dalam tubuh PDI-P yang dianggap otoriter, namun gerakan ini gagal sehingga Pattiasina mengundurkan diri dari PDI-P. Pattiasina kemudian masuk menjadi anggota Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) yang merupakan partai yang didirikan oleh beberapa kader PDI-P yang tidak puas dengan arah PDI-P. Dalam PDP pimpinan Roy B.B. Janis itu, Pattiasina duduk sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Daerah Tertinggal, Bencana dan Konflik.
Tidak lama kemudian, PDP mengalami perpecahan antara kubu Roy Janis dan Laksamana Sukardi. Pattiasina turut ikut dalam dualisme itu dan menentang Laksamana Sukardi, duduk sebagai Koordinator Pimpinan Kolektif Nasional.
Pada tanggal 25 Mei 2008, Pattiasina mendeklarasikan Partai Pembaruan Bangsa (PPB) di mana ia duduk sebagai ketua umumnya. PPB pimpinan Pattiasina gagal lolos sebagai partai peserta Pemilihan Umum 2009 dan menjadi non-aktif.[3]
Pattiasina pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPD-RI pada Pemilihan Umum 2014, namun ia tidak terpilih. Ia kemudian menjadi salah satu bakal calon Gubernur Maluku pada pemilihan umum Gubernur Maluku 2018, namun ia tidak berhasil masuk sebagai calon dalam surat suara.
Dalam Pemilihan Umum 2024, Pattiasina menjadi anggota Partai Buruh dan menjadi calon utamanya dalam pemilihan DPR-RI di daerah pemilihan Maluku, namun ia tidak terpilih.
Kasus Korupsi
Pattiasina disinyalir terlibat dalam kasus suap dalam pemilihan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Pada tahun 2010, ia didakwa menerima aliran dana Rp 500 juta dalam bentuk cek perjalanan (traveller's cheque) bersama 18 orang anggota Fraksi PDI-P dalam DPR-RI periode 1999-2004 lainnya.[4]
Setelah mengalami lebih dari satu tahun proses persidangan, pada tanggal 22 Juni 2011, Pattiasina bersama tiga orang anggota DPR-RI lainnya: Panda Nababan, M Iqbal, dan Budiningsih dinyatakan bersalah menerima traveller's cheque dan divonis penjara satu tahun lima bulan dan denda Rp 50 juta. [5]
Karya Tulis
Dampak-Dampak Kegiatan Penanaman Modal Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (1982)
Hukum Persaingan sebagai Alat Kontrol Konsentrasi Ekonomi: Suatu Dilema Pembangunan Nasional? (1985)