Pattasina adalah seorang ahli atau tehnisi perminyakan yang sangat terkenal di masanya. Figur yang tidak banyak dipublikasikan ini justru merupakan tokoh kunci pada masa awal berdirinya Pertamina.[1]
Setelah tinggal bersama orang tuanya, Marthen Pattiasina yang menjadi Mantri Jalan di Palopo pada zaman penjajahan Belanda. Dari Makassar Pattiasina menuju ke Jakarta dan bekerja sebagai teknisi di Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran Belanda.
Pendidikan dan karier
Johannes mengikuti Europeesche Lagere School (ELS) di Makassar yang diselesaikan pada tahun 1926. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Middle Technic School atau sekolah teknik menengah yang diselesaikan pada tahun 1930. Johannes masuk ke perusahaan kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Selain bekerja di KPM, ia juga mengikuti pendidikan radio technic dan mengikuti pendidikan minyak mentah. Setelah itu, Johannes bergabung dengan De Bataafsche Petroleum Mij (BPM) perusahaan minyak Belanda dan bertugas di Tasikmalaya, kemudian pindah ke Batavia (Jakarta). Tidak lama di Jakarta, ia dipindahkan ke Plaju dan Sungai Gerong, Palembang, Sumatera Selatan. Di BPM ini, Pattiasina menjadi salah satu teknisi kilang yang hanya diduduki beberapa orang pribumi pada masa itu. Di masa pendudukan Jepang, Pattiasina menjadi Kepala Pabrik Asano Butai di Palembang, setelah dimintai Jepang untuk memperbaiki kilang yang rusak.[2]
Dia juga terlibat dalam perang Lima Hari Lima Malam di Palembang yang meletus pada 1 Januari 1947. Pasukan pimpinan Pattiasina, antara lain, pada malam hari berhasil menyerang Ilir 16 yang berada di sisi Sungai Musi.[4] Namun, setelah gencatan senjata, pasukan Indonesia harus mundur 20 Kilometer dari Palembang, sehingga bergerilya dari satu tempat ke tempat lain. Pada masa gerilya ini, Laskar Minyak selalu membawa satu mesin bubut yang lebih dikenal “Mesin Bubut Pattiasina”, karena dari peralatan ini, laskar minyak membuat senjata rakitan satu buah setiap hari, termasuk membuat uang koin emas ketika berada di Lembong Tandai.[3]
Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, Pattiasina menjalani karier sebagai Kepala genie angkatan darat, tetapi Pattiasina memimpin PHB, Genie Tempur, Genie Bangunan, PLAD. Namun, Batalyon Genie Tempur II resmi dibentuk berdasarkan Perintah PanglimaTeritorium II Nomor :Nomor :457/II/OP/51 tertanggal 7 Agustus 1951. J.M. Pattiasina menjadi Komandan Batalyon Genie Tempur II pertama di Sumatera Selatan.[5]
Hasilnya, tepat pada 24 Mei 1958, minyak mentah pertama dari Indonesia resmi dimuat di kapal Shozui Maru. Kapal kecil berukuran sekitar 3.000 dwt hanya mampu mengangkut 1.700 tonminyak mentah dengan nilai jual sekitar $ 30.000. Kapal kecil ini sengaja digunakan, karena tidak bisa memastikan hambatan yang ada di bawah air, di sekitar Pangkalan Susu, karena khawatir akan rongsongkan material pada masa perang. Pengiriman ini merupakan catatan eksporminyak perdana pada masa Indonesiamerdeka.[7]
Selain Anak Buah Kapal (ABK), terdapat enam orang dalam Kapal Shozui Maru yang akan membawa minyak ke Jepang, yakni Mayor Harijono, Mayor Pattiasina, Basaruddin Nasution (Perwakilan Permina), Jimmy Perkins, Joe Gohier dan Harold Hutton serta Betty Hutton (Perwakilan Refican).[8]
Pattiasina masih aktif di Pertamina yang merupakan kelanjutan dari PN Permina sampai dengan tahun 1971. Pattiasina berhenti karena tidak cocok dengan pola pengelolaan PT. Pertamina. Pattiasina lebih fokus untuk mengurus olah ragatinju dan sepakbola yang merupakan kegemarannya. Pattiasina menjadi Manajer PersijaJakarta pada tahun 1974.Ketika itu, Persija masih menggunakan Stadion Menteng untuk berlatih dan bertanding.Ketika PSMS Medan dan Persija ditetapkan sebagai juara bersama terjadi pada masa kepemimpinan Pattiasina di tahun 1975.[9]
↑Sekretariat DPR-GR, Seperempat Abad Dewan Perwakilan Rakjat Republik Indonesia, Setjen DPR GR, Jakarta, 1970
12Anderson G. Bartlett III dan kawan-kawan, Pertamina, Perusahaan Minyak Nasional, Judul asli, Pertamina, Indonesia National Oil, Penerjemah, Mara Karma, Cetakan I, Inti Idayu Press, Jakarta, 1986.
↑Anderson G. Bartlett III dan kawan-kawan, Pertamina, Perusahaan Minyak Nasional, Judul asli, Pertamina, Indonesia National Oil, Penerjemah, Mara Karma, Cetakan I, Inti Idayu Press, Jakarta, 1986.