Kebijakan yang dilaksanakan adalah membentuk Desa Gaya Baru dari kerajaan-kerajaan Tradisional. Terkenal dengan motto: "Tanam, Tanam, sekali lagi Tanam!"[1]
Informasi seputar masa kecil El Tari cenderung sulit untuk didapatkan. Hal ini karena El Tari sudah yatim piatu sejak muda dan tidak ada sanak saudara dari masa kecil dan mudanya yang pernah mencatatkan perihal kehidupan awal El Tari. Ia lahir di Pulau Sabu,[4] pada tanggal 18 April 1926.[5] Di sana ia dilahirkan sebagai bungsu dari tiga belas bersaudara bagi orang tua bernama Loni Tari dan Bire Lay.[6] Secara adat Sabu ia diberi nama Bangngu Loni, dan saat dibaptis dalam agama Kristen ia diberi nama Elias Tari, yang selalu dipakainya secara resmi. El Tari juga memiliki seorang ayah angkat bernama Johanes Ngahu Manoe.[6]
Di tengah periode kedua jabatannya sebagai gubernur, kondisi kesehatan El Tari perlahan menurun oleh karena sakit yang telah lama dideritanya. Upaya pengobatan pun ditempuh hingga ke negeri Belanda.[10] Di sana El Tari sempat menerima tindakan operasi ginjal.[10] Namun, hasilnya tidak begitu memuaskan. Dalam kondisi yang demikian El Tari tetap berupaya maksimal dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai Gubernur. Bahkan ia juga berupaya mempersiapkan proses suksesi kepemimpinan provinsi NTT, yang akan dilangsungkan pada bulan Mei 1978. Menurut kesaksian Ben Mboi, di penghujung masa jabatannya beliau masih sempat menelepon Ben Mboi yang adalah salah satu calon gubernur pengganti El Tari, pada pagi dan siang hari, tanggal 29 April 1978, untuk membicarakan perihal pencalonannya.[10] Selain itu, beliau juga masih terlihat oleh masyarakat menghadiri kegiatan karnaval yang dilaksanakan siang itu di Kota Kupang. Namun kehendak Tuhan berkata lain. El Tari tidak sempat menyelesaikan masa jabatannya, yang direncanakan akan berakhir pada Juli 1978. Beliau wafat karena serangan jantung[11] pada sore hari tanggal 29 April 1978,[10] meninggalkan duka bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, Kupang pada tanggal 2 Mei 1978.
Keluarga
Pada 21 Juni 1951, El Tari menikahi sesama pejuang kemerdekaan bernama Jeanette Batseba Gah, yang akrab disapa Neta Gah.[12] Neta merupakan seorang keturunan suku sabu, sama seperti El Tari, yang bermukim di Pulau Sumba. Di kampung halaman Neta inilah mereka melangsungkan pernikahan, tepatnya di Melolo. Setelah itu Neta berpindah ke Denpasar mengikuti El Tari yang bertugas di sana.[12]
Pernikahan El Tari dan Neta tidak dikaruniai anak. Kendati demikian mereka memiliki dua orang anak angkat yang bernama Joseph Samapati "Yus" Tari dan Trisia Tari.[6]
Penghargaan
Tanda Kehormatan
Sebagai seorang prajurit yang terlibat dalam berbagai pertempuran dan ditambah pengabdiannya, El Tari dianugerahi berbagai tanda kehormatan. Berikut ini daftarnya.
Untuk mengenang jasa-jasanya, nama El Tari dijadikan nama dua fasilitas penerbangan sipil dan militer di Kupang, yakni Bandar Udara Internasional El Tari serta Pangkalan Udara TNI AU El Tari.[13][14] Selain itu nama El Tari juga diabadikan sebagai nama jalan-jalan utama di berbagai kota dan kabupaten di Nusa Tenggara Timur serta sebagai nama sebuah balai pertemuan di kantor gubernur, yakni Aula Utama El Tari.[15] Di bidang olahraga, nama El Tari juga disematkan pada ajang sepak bola tertinggi di provinsi yang ia pimpin hingga akhir hayatnya, yakni El Tari Memorial Cup.[16] Upaya mengenang El Tari juga terlihat secara fisik dengan pembuatan patung dirinya dalam berbagai ukuran. Di Kota Kupang patung utuh El Tari dapat dijumpai di Bundaran Patung Tirosa[17] dan di halaman kantor gubernur NTT.[18] Sementara patung dadanya dapat ditemukan di depan terminal bandara El Tari dan tangga depan aula El Tari.[15] Di luar itu ada pula satu patung utuh El Tari di Soe, TTS.[19]
Galeri
Potret wajah Gubernur El Tari
Potret Gubernur El Tari bersama sang istri, Ibu Jeanette Tari-Gah
Gubernur El Tari bersama para bupati asal NTT. (ki-ka: A.B. Langoday (Flotim), J. Nailiu (TTU), H.J. Gadi Djou (Ende), F.S. Lega (Manggarai), Umbu Hr. Kapita (Sumba Timur), El Tari, Umbu S. Pekudjawang (Alor), Laurens. Say (Sikka)
El Tari dan Umbu Hr. Kapita (bupati sumba timur) dalam sebuah jamuan makan malam
El Tari bersalaman dengan anak-anak saat berkunjung ke pelosok daerah NTT
El Tari berpidato dalam acara pelantikan bupati sumba timur
Salah satu patung El Tari yang terletak di Soe
Referensi
↑Administrator. "Gubernur Dalam Masa". nttprov.go.id (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-03-07.
↑Klinken, Geert Arend van (2014). The Making of middle Indonesia: middle classes in Kupang town, 1930s-1980s. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. Leiden; Boston: Brill. ISBN978-90-04-26508-0.
1234Mboi, Ben (2011). Ben Mboi: memoar seorang dokter, prajurit, pamong praja (Edisi Cet. 1). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN978-979-9103-77-2.
↑Hartiningsih, Maria; Adiprasetyo, Agung (2022). Nyanyian kehidupan Nafsiah Mboi: biografi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN978-623-346-507-6.
12Passar, Kanis (2005). Ensiklopedi Mereka dan Karya: Untuk Generasi Berlanjut NTT. Kupang: Yayasan Cinta Flobamora Abdi. hlm.83. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Therik, Jes A. (1997). Mengenal Nusa Tenggara Timur. Kupang: Pemerintah Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur. hlm.24. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)