El Fuerte de Samaipata adalah situs arkeologi yang namanya berarti "Benteng Samaipata". Situs ini mencakup peninggalan dari tiga kebudayaan besar, yaitu Chanè, Inka, dan Spanyol.[1]
Bagian pusat upacara terdiri atas batu monolit besar dari batu pasir merah dengan panjang sekitar 220 meter dan lebar 60 meter. Permukaannya diukir dengan berbagai bentuk seperti hewan, pola geometris, ceruk, dan cekungan yang memiliki makna religius. Pahatan ini mencerminkan tradisi keagamaan dan ritual penyucian yang berkaitan dengan pemujaan terhadap dewa serta hewan suci. Di bagian barat terdapat dua pahatan berbentuk kucing besar di atas dasar melingkar, satu-satunya contoh pahatan timbul tinggi di situs ini. Pada puncak bukit terdapat bagian yang disebut Coro de los Sacerdotes, berupa lingkaran dalam dengan ceruk segitiga dan persegi panjang di dindingnya. Di sebelah timur terdapat struktur yang diperkirakan menggambarkan kepala kucing besar, sedangkan sisi selatan batu menampilkan sisa-sisa kuil dan tempat suci. Di kaki bukit berdiri Casa Colonial, bangunan kolonial bergaya Arab-Andalusia yang kini hanya tersisa dinding bawahnya. Lokasi ini dikenal sebagai Plaza de las Tres Culturas karena ditemukan sisa struktur dari masa pra-Inka, Inka, dan kolonial. Area administratif dan politik terletak di tiga landasan buatan di selatan bukit. Kompleks ini mencakup beberapa bangunan penting, seperti Ajllahuasi atau rumah para wanita terpilih, Kallanka yang digunakan untuk keperluan militer, area perdagangan untuk pertukaran barang, serta Tambo sebagai tempat penyimpanan perlengkapan. Di sekitarnya juga ditemukan lahan pertanian bertingkat dan area pemukiman. El Fuerte de Samaipata dianggap sebagai salah satu contoh paling penting dari warisan arkeologi pra-Columbus di kawasan Andes dan Amazon. Pahatan batu raksasanya menjadi bukti perkembangan budaya dan keagamaan yang tinggi pada masa itu.[2]