Ukiran batu (bahasa Inggris:stone carvingcode: en is deprecated ) adalah suatu aktivitas di mana potongan batu alami yang kasar dibentuk melalui penghilangan material secara terkontrol. Karena sifat materialnya yang tahan lama, karya dari batu dapat bertahan hingga masa prasejarah atau periode sejarah awal umat manusia.
Pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat paleolitik untuk membuat alat batu lebih sering disebut sebagai pengetokan (knapping). Ukiran batu yang dibuat untuk menghasilkan huruf atau tulisan juga disebut sebagai lettering. Proses pengambilan batu dari dalam bumi disebut sebagai penambangan (mining) atau penggalian (quarrying).
Ukiran batu merupakan salah satu proses yang dapat digunakan oleh seorang seniman dalam menciptakan sebuah patung. Istilah ini juga merujuk pada aktivitas tukang batu (stonemason) dalam membentuk dan merapikan balok-balok batu untuk digunakan dalam bidang arsitektur, konstruksi bangunan, atau rekayasa sipil. Selain itu, istilah ini juga digunakan oleh arkeolog, sejarawan, dan antropolog untuk mendeskripsikan aktivitas yang terlibat dalam pembuatan beberapa jenis petrografi (petroglyphs).
Pengukiran batu
Pengukiran batu ('gravir' Jerman: gravieren, Prancis: graver — 'memotong pada sesuatu') adalah jenis pengerjaan batu di mana gambar (ornamen, teks, motif, potret) dibentuk pada batu melalui proses pengukiran.[1][2]
Ada berbagai jenis pengukiran batu: pengukiran batu secara manual, pengukiran batu dengan laser,[3] pengukiran batu menggunakan mesin frais, pengukiran batu dengan mesin CNC berdampak, pengukiran batu dengan sandblasting, dan lain-lain. Metode pengukiran batu yang paling umum di dunia adalah pengukiran batu dengan laser.[4]
Pengerjaan sandblasting – suatu proses teknologi yang meliputi pembersihan atau pembentukan permukaan apa pun menggunakan material abrasif dalam aliran udara atau cairan bertekanan.[5][6] Ada perbedaan besar antara pengukiran permukaan yang dangkal dan pembuatan monumen yang membutuhkan pengukiran lebih dalam. Di sini terdapat hubungan langsung antara ketebalan stensil untuk pengerjaan sandblasting dan kedalaman pengukiran. Untuk pekerjaan permukaan, stensil yang lebih tipis sudah cukup, sedangkan untuk pengukiran yang lebih dalam diperlukan rol stensil yang lebih tebal untuk menghindari robeknya stensil.[7]
Juga dikenal sebagai «pengolahan pensil», pengolahan abrasif berbutir halus cukup presisi untuk menulis langsung pada kaca, dan cukup halus untuk mengukir pola pada cangkang telur.
Pengukiran pada batu saat ini banyak digunakan dalam bidang ritual, khususnya pembuatan nisan.[8] Pengukiran batu paling sering dilakukan pada jenis batu seperti gabbro, granit, marmer, basal, dolerit dan lain-lain. Salah satu monumen arsitektur yang paling terkenal adalah Stela Hammurabi (abad ke-VIII SM). Di sini pengukiran batu dilakukan pada stela diorit. Pada stela tersebut terukir teks-teks.