ENSIKLOPEDIA
Ekonomi pendidikan
Ekonomika pendidikan atau ilmu ekonomi pendidikan adalah kajian tentang masalah-masalah ekonomi yang berkaitan dengan pendidikan, termasuk permintaan terhadap pendidikan, pembiayaan dan penyediaan pendidikan, serta efisiensi komparatif dari berbagai program dan kebijakan pendidikan. Dari karya-karya awal yang meneliti hubungan antara pendidikan dan hasil pasar tenaga kerja bagi individu, bidang ekonomika pendidikan telah berkembang pesat hingga mencakup hampir semua aspek yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan.
Pendidikan sebagai investasi
Dalam ilmu ekonomi, selain modal fisik, terdapat bentuk modal lain yang tidak kalah penting sebagai sarana produksi – yaitu modal manusia. Dengan adanya investasi pada modal manusia seperti pendidikan, tiga efek ekonomi utama dapat diharapkan:[1]
- peningkatan pengeluaran karena akumulasi modal manusia memerlukan investasi sebagaimana halnya modal fisik,
- peningkatan produktivitas karena individu memperoleh kemampuan yang memungkinkan mereka menghasilkan lebih banyak keluaran, dan
- pengembalian investasi dalam bentuk peningkatan pendapatan.
Biaya investasi
Investasi dalam modal manusia memerlukan biaya investasi, sama seperti bentuk investasi lainnya. Di negara-negara Eropa, sebagian besar pengeluaran pendidikan berbentuk konsumsi pemerintah, meskipun sebagian biaya juga ditanggung oleh individu. Investasi ini dapat menjadi sangat mahal. Pemerintah UE menghabiskan antara 3% hingga 8% dari PDB untuk pendidikan pada tahun 2005, dengan rata-rata sebesar 5%.[2] Namun, pengukuran belanja dengan cara ini saja sangat meremehkan total biaya karena satu bentuk biaya yang lebih halus sering kali diabaikan sepenuhnya: yaitu biaya peluang dari upah yang hilang, karena pelajar tidak dapat bekerja selama masa studi mereka. Diperkirakan bahwa total biaya pendidikan, termasuk biaya peluang, bisa mencapai dua kali lipat dari biaya langsungnya.[3] Dengan memasukkan biaya peluang, investasi dalam pendidikan di negara-negara UE pada tahun 2005 diperkirakan sekitar 10% dari PDB. Sebagai perbandingan, investasi dalam modal fisik mencapai 20% dari PDB.[4] Dengan demikian, keduanya memiliki besaran yang relatif sebanding.
Pendidikan publik tingkat K-12 di Amerika Serikat terutama didanai oleh pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal, sementara pemerintah federal memberikan sebagian kecil pendanaan melalui program hibah bagi remaja berisiko.[5] Pada tahun 2018, Amerika Serikat mengalokasikan sekitar 5% dari PDB-nya untuk pendidikan publik K-12, menempatkan negara tersebut pada urutan ke-7 tertinggi dalam hal pengeluaran per siswa dibandingkan dengan negara-negara OECD lainnya.[6][7] Sekolah-sekolah di AS mengeluarkan sekitar 17.000 dolar AS per siswa, tetapi pengeluaran pendidikan publik sangat bervariasi antarnegara bagian.[7] Pada tingkat perguruan tinggi, kenaikan biaya kuliah dan biaya pribadi telah meningkatkan total biaya kuliah. Biaya peluang untuk berkuliah juga meningkat akibat naiknya upah lulusan sekolah menengah.[8] Selama dekade terakhir, biaya kuliah dalam negara bagian untuk pendidikan 4 tahun meningkat sekitar sepertiga, meskipun tingkat inflasi biaya kuliah cenderung menurun dalam satu dekade terakhir.[9] Sebuah studi tahun 2014 oleh ekonom Jaison Abel dan Richard Deitz menemukan bahwa biaya peluang untuk menempuh pendidikan tinggi mencapai sekitar 120.000 dolar AS akibat kehilangan upah, dengan total biaya kuliah diperkirakan sekitar 150.000 dolar AS jika juga memperhitungkan biaya pribadi.[10]

Pengembalian atas investasi
Modal manusia dalam bentuk pendidikan memiliki banyak kesamaan dengan modal fisik. Keduanya memerlukan investasi untuk diciptakan, dan setelah terbentuk, keduanya memiliki nilai ekonomi. Modal fisik menghasilkan imbal hasil karena orang bersedia membayar untuk menggunakan peralatan atau fasilitas fisik dalam bekerja, sebab hal itu memungkinkan mereka menghasilkan lebih banyak output. Untuk mengukur nilai produktif modal fisik, kita cukup mengukur seberapa besar pengembalian yang diperolehnya di pasar.
Dalam kasus modal manusia, perhitungan imbal hasil jauh lebih rumit — karena kita tidak dapat memisahkan pendidikan dari individu untuk melihat berapa “harga sewanya”. Untuk mengatasi masalah ini, imbal hasil modal manusia umumnya disimpulkan dari perbedaan upah antara individu dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Hall dan Jones menghitung dari data internasional bahwa rata-rata pengembalian dari pendidikan adalah 13,4% per tahun untuk empat tahun pertama sekolah (kelas 1–4), 10,1% per tahun untuk empat tahun berikutnya (kelas 5–8), dan 6,8% untuk setiap tahun di atas delapan tahun pendidikan.[11]
Dengan demikian, seseorang yang menempuh pendidikan selama 12 tahun diperkirakan akan memperoleh pendapatan rata-rata sebesar 1,1344 × 1,1014 × 1,0684 = 3,161 kali lipat dibandingkan dengan seseorang yang tidak bersekolah sama sekali.
Tingkat pencapaian pendidikan yang lebih tinggi dapat meningkatkan pendapatan seumur hidup, yang berdampak pada tingkat pengembalian investasi (ROI) dari pendidikan. Di Amerika Serikat, pada tingkat perguruan tinggi dan universitas, setiap jenjang pendidikan yang lebih tinggi secara signifikan meningkatkan pendapatan seumur hidup.[12]
ROI seumur hidup jauh lebih tinggi pada tingkat pendidikan rendah dibandingkan tingkat pendidikan tinggi (1.200,8% untuk gelar Associate dibandingkan dengan 287,7% untuk gelar Sarjana).[12] Namun, meskipun tingkat pendidikan yang lebih tinggi dapat meningkatkan pendapatan, ROI cenderung menurun pada tingkat doktoral dibandingkan dengan tingkat magister.[12]
Dalam pendidikan tinggi, ROI juga sangat bervariasi tergantung pada bidang studi. Konsentrasi jurusan sangat berpengaruh ketika menilai ROI dari gelar Sarjana, dengan pilihan jurusan menyumbang sekitar setengah dari variasi ROI antarjurusan.[13]
Gelar perguruan tinggi dengan ROI tertinggi berada pada bidang teknik, kedokteran, bisnis, dan ilmu-ilmu alam.[13][14]
Meskipun hampir 40% program gelar tidak memberikan keuntungan finansial yang signifikan, gelar sarjana juga dapat memberikan manfaat sosial yang turut meningkatkan ROI, yang sering kali tidak diperhitungkan dalam kalkulasi ROI konvensional.[13][15]
Dampak terhadap produktivitas
Secara keseluruhan, pengaruh modal manusia terhadap pendapatan telah diperkirakan sangat signifikan: 65% dari upah yang dibayarkan di negara maju merupakan pembayaran kepada modal manusia dan hanya 35% kepada tenaga kerja mentah.[1]
Produktivitas yang lebih tinggi dari pekerja berpendidikan baik merupakan salah satu faktor yang menjelaskan mengapa negara maju memiliki PDB dan pendapatan yang lebih tinggi. Korelasi yang kuat antara PDB dan pendidikan terlihat jelas di antara negara-negara di dunia, sebagaimana ditunjukkan oleh grafik di kiri atas.
Tentu saja, korelasi tidak selalu berarti sebab-akibat: mungkin saja negara yang lebih kaya memilih untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk pendidikan. Namun, Hanushek menemukan bahwa nilai tes internasional yang mengukur prestasi siswa lebih baik dalam menjelaskan pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan sekadar jumlah tahun bersekolah.
Berbagai studi menemukan bahwa investasi pada pendidikan anak-anak miskin secara signifikan menurunkan risiko kemiskinan di masa dewasa dan meningkatkan harapan hidup mereka.[16]
Anak-anak dalam program Perry Preschool 1962 dan kelompok pembandingnya telah diikuti selama beberapa dekade. Peserta program Perry Preschool terbukti memiliki tingkat kehamilan remaja yang lebih rendah, lebih sedikit putus sekolah, tingkat kriminalitas yang lebih rendah, dan pendapatan yang lebih tinggi saat dewasa. Dampaknya bahkan bersifat lintas generasi: anak-anak dari peserta Perry Preschool juga memiliki lebih sedikit skorsing di sekolah, tingkat pendidikan dan pekerjaan yang lebih tinggi, serta keterlibatan yang lebih rendah dalam kejahatan dibandingkan anak-anak dari kelompok kontrol.[17]
Untuk membedakan bagian dari PDB yang dijelaskan oleh pendidikan dari faktor lain, Weil[1] menghitung seberapa besar seharusnya PDB suatu negara meningkat berdasarkan data rata-rata lama sekolah, menggunakan perhitungan pengembalian pendidikan dari Hall dan Jones. Hasil perhitungan PDB prediksi tersebut kemudian dibandingkan dengan PDB aktual, seperti dalam grafik di sebelah kiri, menunjukkan bahwa pendidikan menjelaskan sebagian — tetapi tidak seluruhnya — variasi dalam PDB.
Akhirnya, perlu dipertimbangkan juga soal eksternalitas. Biasanya, eksternalitas diartikan sebagai dampak negatif dari kegiatan ekonomi yang tidak tercermin dalam harga pasar, seperti polusi. Ini disebut eksternalitas negatif. Namun, ada pula eksternalitas positif — yaitu dampak menguntungkan yang dapat dinikmati seseorang tanpa harus membayar.
Pendidikan membawa eksternalitas positif yang besar: memberikan pendidikan kepada seseorang tidak hanya meningkatkan output pribadinya, tetapi juga meningkatkan produktivitas orang-orang di sekitarnya. Pekerja terdidik dapat memperkenalkan teknologi, metode, dan informasi baru kepada rekan-rekannya. Mereka dapat mengajarkan hal-hal baru dan menjadi panutan.
Eksternalitas positif dari pendidikan mencakup dampak dari jaringan sosial dan peran yang dimainkan pekerja berpendidikan di dalamnya.[18]
Eksternalitas positif dari modal manusia merupakan salah satu alasan mengapa pemerintah terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Jika dibiarkan sepenuhnya kepada individu, mereka mungkin tidak mempertimbangkan manfaat sosial pendidikan secara menyeluruh — misalnya peningkatan produktivitas dan pendapatan orang lain — sehingga jumlah pendidikan yang akan mereka tempuh cenderung lebih rendah dari tingkat yang optimal bagi masyarakat.[1]
Permintaan terhadap pendidikan
Pendekatan liberal
Model yang dominan dalam menjelaskan permintaan terhadap pendidikan didasarkan pada teori modal manusia. Gagasan utamanya adalah bahwa menempuh pendidikan merupakan bentuk investasi dalam memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang akan meningkatkan pendapatan, atau memberikan manfaat jangka panjang seperti apresiasi terhadap sastra (kadang disebut sebagai modal budaya).[19]
Peningkatan modal manusia dapat mengikuti kemajuan teknologi karena pekerja yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dibutuhkan untuk memahami proses produksi atau mengoperasikan mesin. Sejak tahun 1958, berbagai penelitian telah berupaya menghitung tingkat pengembalian dari pendidikan tambahan (yakni persentase peningkatan pendapatan akibat satu tahun tambahan pendidikan). Hasil penelitian berikutnya mencoba memperhitungkan perbedaan imbal hasil antarindividu atau berdasarkan jenjang pendidikan.[20]
Data statistik menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat pendaftaran dan kelulusan yang tinggi cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi lebih cepat dibanding negara-negara yang tidak.[21] Amerika Serikat telah menjadi pemimpin dunia dalam kemajuan pendidikan, dimulai dengan gerakan sekolah menengah antara tahun 1910 hingga 1950. Tampak pula adanya korelasi antara kesetaraan gender dalam pendidikan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi; perkembangan yang lebih pesat ditemukan pada negara-negara yang memiliki distribusi lulusan perempuan dan laki-laki yang relatif seimbang. Ketika meninjau korelasi dalam data, pendidikan tampak mendorong pertumbuhan ekonomi; tetapi, bisa juga hubungan sebab-akibatnya berlawanan arah. Misalnya, bila pendidikan dipandang sebagai barang mewah, rumah tangga yang lebih kaya mungkin mencari pendidikan tinggi sebagai simbol status, bukan karena pendidikan menghasilkan kekayaan. Kemajuan pendidikan juga bukan satu-satunya variabel yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi, karena hanya menyumbang sekitar 14% dari rata-rata peningkatan produktivitas tenaga kerja tahunan selama periode 1915–2005. Karena korelasi antara capaian pendidikan formal dan pertumbuhan produktivitas tidak terlalu kuat, beberapa ekonom berpendapat bahwa pada masa kini, banyak keterampilan dan kemampuan justru diperoleh melalui pembelajaran di luar pendidikan formal atau bahkan di luar sistem sekolah sama sekali.[22]
Model alternatif mengenai permintaan terhadap pendidikan, yang umum disebut sebagai model penyaringan, didasarkan pada teori ekonomi tentang sinyal. Gagasan utamanya adalah bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan berfungsi sebagai sinyal kemampuan seseorang.[23]
Kritik Marxis
Meskipun Marx dan Engels tidak banyak menulis secara langsung tentang fungsi sosial pendidikan, konsep dan metode mereka telah menginspirasi berbagai teori dan kritik terhadap peran pendidikan dalam reproduksi masyarakat kapitalis. Marx dan Engels memandang kegiatan ilmiah sebagai “ilmu yang revolusioner”, di mana pendidikan seharusnya menjadi sarana propaganda bagi perjuangan kelas pekerja.[24]
Paradigma klasik Marxis melihat pendidikan sebagai sarana untuk melayani kepentingan kapital, serta berupaya mencari bentuk pendidikan alternatif yang dapat mempersiapkan siswa dan warga negara untuk sistem sosial yang lebih progresif dan sosialis.
Marx dan Engels memahami pendidikan dan waktu luang sebagai elemen penting dalam membentuk individu yang bebas dan manusia yang berkembang secara menyeluruh. Karena itu, mereka menilai pendidikan harus menjadi bagian yang lebih esensial dalam kehidupan manusia, berbeda dengan masyarakat kapitalis yang disusun terutama berdasarkan kerja dan produksi komoditas.[24]
Pembiayaan dan penyediaan
Peran pemerintah
Pendidikan umumnya dianggap sebagai barang publik, sehingga dalam banyak negara, penyediaan dan pendanaannya ditanggung terutama oleh pemerintah. Argumen utamanya adalah bahwa pendidikan menghasilkan sejumlah eksternalitas positif, seperti peningkatan modal manusia, partisipasi warga dalam proses demokrasi, dan kemajuan sosial secara keseluruhan. Karena manfaat ini tidak sepenuhnya dapat dinikmati secara individual, pasar bebas cenderung tidak menyediakan pendidikan dalam jumlah yang memadai tanpa intervensi negara.[25]
Di sebagian besar negara, pendidikan sekolah pada umumnya dibiayai dan diselenggarakan oleh pemerintah. Pendanaan dan penyediaan publik juga memainkan peran penting dalam pendidikan tinggi. Meskipun terdapat kesepakatan luas mengenai prinsip bahwa pendidikan—setidaknya pada tingkat sekolah—sebaiknya dibiayai terutama oleh pemerintah, masih ada perdebatan yang cukup besar mengenai sejauh mana penyediaan pendidikan seharusnya dilakukan secara publik. Pendukung pendidikan publik berpendapat bahwa penyediaan publik yang bersifat universal dapat mempromosikan kesetaraan kesempatan dan kohesi sosial. Sementara itu, pihak yang menentang penyediaan publik menganjurkan alternatif seperti voucer.[26][27][28]
Ketimpangan dalam pembiayaan pendidikan
Sejak tahun 1960-an, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah umumnya meningkat, sementara pengeluaran untuk pendidikan di negara-negara berpendapatan tinggi relatif tetap.[29] Berdasarkan pendanaan pendidikan di negara-negara OECD, kompensasi bagi guru menjadi faktor utama yang mendorong pengeluaran pendidikan di semua jenjang pendidikan.[29][30] Pada tingkat perguruan tinggi dan universitas, pengeluaran untuk pengajaran menurun tetapi masih menyerap sebagian besar anggaran pendidikan.[29]
Karena sebagian besar pendidikan publik di Amerika Serikat didanai melalui pajak lokal, tingkat kekayaan suatu komunitas memengaruhi pendanaan distrik sekolah.[31] Komunitas yang lebih makmur mampu membayar lebih tinggi dalam bentuk pajak penghasilan dan pajak properti, sementara komunitas yang lebih miskin tidak, sehingga menyebabkan ketimpangan dalam pendidikan publik. Salah satu bentuk ketimpangan yang paling nyata akibat perbedaan pendanaan adalah kemampuan sekolah yang lebih kaya untuk mempekerjakan pendidik yang lebih berkualitas dan berpengalaman, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil ujian siswa.[31]
Di banyak negara Eropa, pendidikan didanai terutama melalui pajak pemerintah pusat, sehingga ketimpangan antar sekolah lebih kecil dibandingkan di Amerika Serikat, karena pengeluaran pendidikan lebih merata.[32] Distribusi sumber daya pendidikan yang merata dapat mengurangi variasi pendapatan dengan menciptakan sistem pendidikan yang lebih seragam, yang pada jangka panjang dapat memperkuat modal manusia.[32]
Pembiayaan pendidikan prasekolah
Dibandingkan dengan bidang pendidikan dasar lainnya, data global yang dapat diperbandingkan mengenai pembiayaan pendidikan prasekolah masih terbatas. Meskipun banyak program non-formal dan swasta yang mungkin belum sepenuhnya terhitung, dari tingkat penyediaannya dapat disimpulkan bahwa pembiayaan pendidikan prasekolah masih belum memadai, terutama jika dilihat dari manfaat yang diharapkan. Secara global, pendidikan prasekolah menyumbang porsi terendah dari total pengeluaran publik untuk pendidikan, meskipun banyak bukti telah menunjukkan dampak positif dari pendidikan dan pengasuhan anak usia dini yang berkualitas terhadap pembelajaran di masa berikutnya dan hasil sosial lainnya.[33]
Fungsi produksi pendidikan

Suatu fungsi produksi pendidikan merupakan penerapan konsep ekonomi dari fungsi produksi ke dalam bidang pendidikan. Konsep ini menghubungkan berbagai masukan yang memengaruhi proses belajar seorang siswa (seperti sekolah, keluarga, teman sebaya, lingkungan tempat tinggal, dan sebagainya) dengan hasil yang terukur, termasuk keberhasilan di pasar tenaga kerja setelah lulus, tingkat masuk perguruan tinggi, tingkat kelulusan, dan—yang paling umum—nilai tes standar.
Kajian awal yang memunculkan minat terhadap gagasan fungsi produksi pendidikan dilakukan oleh seorang sosiolog, James S. Coleman. Laporan Coleman yang diterbitkan pada tahun 1966 menyimpulkan bahwa pengaruh tambahan dari berbagai faktor sekolah terhadap prestasi siswa relatif kecil dibandingkan dengan pengaruh keluarga dan teman.[35]
Penelitian-penelitian berikutnya oleh Eric Hanushek, Richard Murnane, dan para ekonom lain memperkenalkan kerangka “produksi” dalam analisis hasil belajar siswa. Hanushek et al. (2008, 2015) melaporkan adanya korelasi yang sangat tinggi antara “tingkat pertumbuhan yang disesuaikan” dan “nilai tes yang disesuaikan”.[36]
Sejumlah besar penelitian lanjutan—yang semakin banyak melibatkan ekonom—menghasilkan temuan yang tidak konsisten mengenai dampak sumber daya sekolah terhadap kinerja siswa, sehingga memunculkan kontroversi besar dalam perumusan kebijakan.[37][38]
Penafsiran terhadap hasil-hasil penelitian tersebut sangat kontroversial, sebagian karena temuan-temuannya memiliki dampak langsung terhadap perdebatan kebijakan. Dua garis penelitian yang terpisah menjadi topik yang paling sering diperdebatkan. Pertama adalah pertanyaan umum mengenai apakah penambahan dana untuk sekolah benar-benar meningkatkan prestasi belajar siswa—perdebatan yang dikenal dengan sebutan “uang tidak berpengaruh” (*money doesn’t matter*). Isu ini bahkan sampai memengaruhi perdebatan legislatif dan pertimbangan pengadilan mengenai sistem pembiayaan sekolah.[39][40][41]
Selain itu, perdebatan kebijakan mengenai pengurangan ukuran kelas juga mendorong meningkatnya penelitian akademis mengenai hubungan antara ukuran kelas dan prestasi belajar siswa.[42][43][44]
Lihat pula
Sumber
Artikel ini mengandung teks dari karya konten bebas. Licensed under CC-BY-SA IGO 3.0 License statement: Investing against Evidence: The Global State of Early Childhood Care and Education, 15, Marope, P.T.M., Kaga, Y., UNESCO. UNESCO. Untuk mengetahui cara menambahkan teks berlisensi terbuka ke artikel Wikipedia, baca Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia. Untuk informasi tentang mendaur ulang teks dari Wikipedia, baca ketentuan penggunaan.
Catatan
- 1 2 3 4 Weil, David N. (2009). Economic Growth (Edisi Second). Boston: Pearson Addison-Wesley. ISBN 978-0-321-41662-9.
- ↑ Eurostat (2008). [(https://web.archive.org/web/20081230153900/http://epp.eurostat.ec.europa.eu/cache/ITY_OFFPUB/KS-SF-08-117/EN/KS-SF-08-117-EN.PDF) "5% of EU GDP is spent by governments on education"]. Statistics in Focus 117/2008. Diarsipkan dari [(http://epp.eurostat.ec.europa.eu/cache/ITY_OFFPUB/KS-SF-08-117/EN/KS-SF-08-117-EN.PDF) asli] tanggal 2008-12-30. Diakses tanggal 2013-09-18. ;
- ↑ Kendrick, J. (1976). [(https://archive.org/details/formationstockso0000kend) The Formation and Stocks of Total Capital]. New York: Columbia University Press. ISBN 978-0-87014-271-0.
- ↑ Eurostat (2008). [(https://web.archive.org/web/20140429045458/http://epp.eurostat.ec.europa.eu/portal/page?_pageid=2053,70407100&_dad=portal&_schema=PORTAL) "GDP expenditure and investment"]. Diarsipkan dari [(http://epp.eurostat.ec.europa.eu/portal/page?_pageid=2053,70407100&_dad=portal&_schema=PORTAL) asli] tanggal 2014-04-29. Diakses tanggal 2013-09-18. ;
- ↑ [(https://www.pgpf.org/budget-basics/how-is-k-12-education-funded) "How Is K-12 Education Funded?"]. [www.pgpf.org](http://www.pgpf.org) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-09.
- ↑ [(https://data.worldbank.org/indicator/SE.XPD.TOTL.GD.ZS?name_desc=true) "Government expenditure on education, total (% of GDP) | Data"]. data.worldbank.org. Diakses tanggal 2022-12-09.
- 1 2 [(https://educationdata.org/public-education-spending-statistics) "U.S. Public Education Spending Statistics [2022]: per Pupil + Total"]. Education Data Initiative (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-09.
- ↑ Abel, Jaison; Dietz, Richard (2019-06-03). [(https://libertystreeteconomics.newyorkfed.org/2019/06/the-cost-of-college-continues-to-climb/) "The Cost of College Continues to Climb"]. Liberty Street Economics (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-09.
- ↑ [(https://educationdata.org/college-tuition-inflation-rate) "College Tuition Inflation [2022]: Rate Increase Statistics"]. Education Data Initiative (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-09.
- ↑ Abel, Jaison; Dietz, Richard. [(https://www.newyorkfed.org/medialibrary/media/research/current_issues/ci20-3.pdf) "Do the Benefits of College Still Outweigh the Costs?"] (.PDF).
- ↑ Hall, Robert E.; Jones, Charles I. (1999). "Why Do Some Countries Produce So Much More Output per Worker than Others?". Quarterly Journal of Economics. 114 (1): 83–116. CiteSeerX 10.1.1.337.3070. doi:10.1162/003355399555954.
- 1 2 3 [(https://educationdata.org/college-degree-roi) "Is College Worth it? | Return on Investment Analysis of College Degree"]. Education Data Initiative (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-09.
- 1 2 3 Cooper, Preston (2022-05-12). [(https://freopp.org/is-college-worth-it-a-comprehensive-return-on-investment-analysis-1b2ad17f84c8) "Is College Worth It? A Comprehensive Return on Investment Analysis"]. Medium (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-09.
- ↑ [(https://cew.georgetown.edu/cew-reports/valueofcollegemajors/) "The Economic Value of College Majors"]. CEW Georgetown (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-09.
- ↑ Cuseo, Joseph B. (2016). Thriving in college and beyond : research-based strategies for academic success and personal development. Viki Sox Fecas, Aaron Thompson, Michele Campagna (Edisi 4th). Dubuque, Iowa: Kendall/Hunt. ISBN 978-1-4652-9095-3. OCLC 971134012.
- ↑ Olivier De Schutter (20 Oktober 2021). "To end poverty, invest in children". Social Europe (dalam bahasa Inggris). Wikidata Q109944317.
- ↑ James J. Heckman; Ganesh Karapakula (Juni 2019). "Intergenerational and Intragenerational Externalities of the Perry Preschool Project" (PDF). National Bureau of Economic Research Working Paper Series. National Bureau of Economic Research Working Paper Series (dalam bahasa Inggris) (25889). National Bureau of Economic Research. doi:10.3386/W25889. ISSN 0898-2937. Wikidata Q105874104.. See also David L. Kirp (2 Desember 2021). "A Way to Break the Cycle of Poverty". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Wikidata Q109944840.
- ↑ Burt, Ronald S. (2005). Brokerage and Closure. United Kingdom: Oxford University Press. hlm. 46–55. ISBN 9780199249152.
- ↑ Daniele Checchi, 2006. The Economics of Education: NYUMBANI Human Capital, Family Background and Inequality, Cambridge. ISBN 0-521-79310-6 ISBN 978-0-521-79310-0 [(http://www.cambridge.org/catalogue/catalogue.asp?isbn=9780521793100) Description.]
- ↑ David Card "returns to schooling," The New Palgrave Dictionary of Economics , 2nd Edition. [(http://www.dictionaryofeconomics.com/article?id=pde2008_R000240) Abstract.]
- ↑ Morrison, Michael C. (2006). Structural Determinants of Graduation Rates A Causal Analysis. Distributed by ERIC Clearinghouse. OCLC 1064128728.
- ↑ Kling, Arnold and John Merrifield. 2009. "Goldin and Katz and Education Policy Failings in Historical Perspective". Econ Journal Watch 6(1): 2–20. [(http://econjwatch.org/articles/goldin-and-katz-and-education-policy-failings-in-historical-perspective)]
- ↑ Johannes Hörner, 2008. "signalling and screening." The New Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition, [(http://www.dictionaryofeconomics.com/article?id=pde2008_S000129) Abstract.]
- 1 2 [(https://web.archive.org/web/20101123021601/http://gseis.ucla.edu/faculty/kellner/essays/marxianperspectivesoneducation.pdf) "Douglas Kellner, Marxian Perspectives on Educational Philosophy: From Classical Marxism to Critical Pedagogy"]. Diarsipkan dari [(http://gseis.ucla.edu/faculty/kellner/essays/marxianperspectivesoneducation.pdf) asli] tanggal 2010-11-23. Diakses tanggal 2011-05-22. ;
- ↑ Psacharopoulos, G. & Patrinos, H.A. (2004). "Returns to Investment in Education: A Further Update." *Education Economics*, 12(2), 111–134.
- ↑ William A. Fischel, 2008. "educational finance," The New Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition. [(http://www.dictionaryofeconomics.com/article?id=pde2008_E000237&q=education%20finance&topicid=&result_number=3) Abstract.]
- ↑ Caroline Hoxby, 2008. "school choice and competition," The New Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition, [(http://www.dictionaryofeconomics.com/article?id=pde2008_V000064) Abstract.]
- ↑ Daniele Checchi, 2006. The Economics of Education: Human Capital, Family Background and Inequality, ch. 5, "Education Financing."
- 1 2 3 Roser, Max; Ortiz-Ospina, Esteban (2016-06-22). [(https://ourworldindata.org/financing-education) "Financing Education"]. Our World in Data.
- ↑ [(https://www.edweek.org/policy-politics/data-breaking-down-the-where-and-why-of-k-12-spending) "Data: Breaking Down the Where and Why of K-12 Spending"]. Education Week (dalam bahasa Inggris). 2019-09-25. Diakses tanggal 2022-12-10.
- 1 2 [(https://www.ascd.org/el/articles/-unequal-school-funding-in-the-united-states) "A Research Synthesis / Unequal School Funding in the United States"]. ASCD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-10.
- 1 2 Herrington, Christopher (February 2013). [(https://economicdynamics.org/meetpapers/2013/paper_1233.pdf) "Public Education Financing Systems, Earnings Inequality, and Intergenerational Mobility"] (.PDF).
- ↑ Marope, P.T.M.; Kaga, Y. (2015). [Investing) against Evidence: The Global State of Early Childhood Care and Education (PDF). Paris, UNESCO. hlm. 15. ISBN 978-92-3-100113-0.
- ↑ Eric Hanushek; Ludger Woessmann (10 April 2015). The knowledge capital of nations: Education and the economics of growth (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-02917-9. JSTOR 10.2307/j.ctt17kk9kq. LCCN 2014039904. OCLC 893099341. OL 28159705M. Wikidata Q56849351..
- ↑ Coleman, James S. (1966). [Equality of Educational Opportunity (PDF) (Report). U.S. Department of Health, Education, and Welfare/U.S. Office of Education/U.S. Government Printing Office. Diakses tanggal August) 30, 2022. ;
- ↑ Hanushek, Eric A.; Jamison, Dean T.; Jamison, Eliot A.; Woessmann, Ludger (Spring 2008). ["Education and Economic Growth: It's not just going to school, but learning something while there that matters". Education Next. 8 (2): 62–70. Diakses tanggal 2016-10-13. ](http://educationnext.org/education-and-economic-growth/|access-date=2016-10-13}})
- ↑ Eric A. Hanushek, 2008. "education production functions," The New Palgrave Dictionary of Economics , 2nd Edition. [(http://www.dictionaryofeconomics.com/article?id=pde2008_E000238) Abstract.]
- ↑ Hanushek, Eric A. (1986). "The Economics of Schooling: Production and Efficiency in Public Schools". Journal of Economic Literature. 24 (3): 1141–1177. JSTOR 2725865.
- ↑ Gary Burtless, ed., 1996. Does Money Matter? The Effect of School Resources on Student Achievement and Adult Success. Washington, D.C.: The Brookings Institution. [(https://books.google.com/books?id=N3UIwF9P1WUC&q=Burtless,+Gary,+ed.+1996.+%22Does+Money+Matter%3F%22) Description] and scroll to chapter preview [(https://books.google.com/books?id=N3UIwF9P1WUC) links.]
- ↑ Greenwald, Rob; Hedges, Larry V.; Laine, Richard D. (1996). "The Effect of School Resources on Student Achievement". Review of Educational Research. 66 (3): 361–396. doi:10.3102/00346543066003361. S2CID 49575863.
- ↑ Hanushek, Eric A. (1996). "A More Complete Picture of School Resource Policies". Review of Educational Research. 66 (3): 397–409. doi:10.3102/00346543066003397. JSTOR 1170529. S2CID 2272181.
- ↑ Lawrence Mishel, and Richard Rothstein, eds., 2002. The Class Size Debate. [(http://edpro.stanford.edu/hanushek/admin/pages/files/uploads/classsizedebate.full%20volume.pdf) Link.] Lua error in mw.uri.lua at line 142: Invalid port number in string. Washington, DC: Economic Policy Institute.
- ↑ Ehrenberg, Ronald G., Dominic J. Brewer, Adam Gamoran, and J. Douglas Willms, 2001. "Class size and student achievement," Psychological Science in the Public Interest, 2(1), pp. 1–30.
- ↑ Nye, B.; Hedges, L. V.; Konstantopoulos, S. (2000). "The Effects of Small Classes on Academic Achievement: The Results of the Tennessee Class Size Experiment". American Educational Research Journal. 37 (1): 123–151. doi:10.3102/00028312037001123. S2CID 145543092.
Referensi
- Roland Bénabou, 1996."Heterogeneity, Stratification, and Growth: Macroeconomic Implications of Community Structure and School Finance," American Economic Review,86(3) p p. 584- 609.
- Mark Blaug, 1985. "Where Are We Now in the Economics of Education?" Economics of Education Review, 4(1), pp. 17–28. Abstract.
- Clive R. Belfield, ed., 2006.Modern Classics In The Economics Of Education, Elgar. Description.
- Eric A. Hanushek, 1986. "The economics of schooling: Production and efficiency in public schools." Journal of Economic Literature 24, no. 3 (September): 1141-1177.
- Eric A. Hanushek, 1992. "The Trade-off between Child Quantity and Quality," Journal of Political Economy, 100(1), p p. 84-117.
- Hanushek, Eric A.; Jamison, Dean T.; Jamison, Eliot A.; Woessmann, Ludger (Spring 2008). "Education and Economic Growth: It's not just going to school, but learning something while there that matters". Education Next. 8 (2): 62–70. Diakses tanggal 2016-10-13.
- Stephen A. Hoenack, 1996. "The Economics of Education in Developing Countries: An Assessment of the State of the Art," Economics of Education Review, 15(4), pp. 327–338. Abstract.
- Caroline M. Hoxby, 1999. "The Productivity of Schools and Other Local Public Goods Producers," Journal of Public Economics, 74(1), pp. 1–30 Abstract.
- _____, 2000. "Does Competition among Public Schools Benefit Students and Taxpayers?" American Economic Review, 90(5), p p. 1209- 1238.
- Geraint Johnes and Jill Johnes, ed., 2004. International Handbook on the Economics of Education, Elgar.
- George Psacharopoulos and Harry A. Patrinos, 2004. "Returns to Investment in Education: A Further Update," Education Economics, 12(2), pp. 111–134.
- Steven G. Rivkin, Eric A. Hanushek, and John F. Kain, 2005. "Teachers, Schools, and Academic Achievement," Econometrica, 73(2), pp. 417–458.
- Sherwin Rosen, 1987. "human capital," The New Palgrave: A Dictionary of Economics, v. 2, pp. 681–90.
Selected entries on education from The New Palgrave Dictionary of Economics, 2008), 2nd Edition:
- "education in developing countries" by Paul Glewwe. Abstract.
- "human capital, fertility and growth" by Oded Galor. Abstract.
- "intergenerational transmission" by Lance Lochner.Abstract.
- "local public finance" by John M. Quigley. Abstract.
- "population health, economic implications of" by David Canning and David E. Bloom. Abstract.
Bacaan lanjutan
- Sheehan, John (1973). The Economics of Education (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 9780415750516.
- Johnes, Geraint (1993). The Economics of Education (dalam bahasa Inggris). London: Red Globe Press. doi:10.1007/978-1-349-23008-2. ISBN 978-0-333-56836-1.
- Checchi, Daniele (2009). The Economics of Education: Human Capital, Family Background and Inequality. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 9780511492280.
- Brewer, D. J.; Hentschke, G. C.; Eide, E. R. (2010). "Theoretical Concepts in the Economics of Education". Dalam Peterson, Penelope; Baker, Eva; McGaw, Barry (ed.). International Encyclopedia of Education (Edisi 3rd). Elsevier Science. hlm. 193–198. doi:10.1016/B978-0-08-044894-7.01210-0. ISBN 978-0-08-044894-7.
- Hanushek, Eric (2013). Endangering Prosperity: A Global View of the American School. Brookings Institution. ISBN 978-0-8157-0373-0.
- Hanushek, Eric (2009). Schoolhouses, Courthouses, and Statehouses: Solving the Funding-Achievement Puzzle in America's Public Schools. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-13000-2.
- Bradley, Steve; Green, Colin, ed. (2020). The Economics of Education: A Comprehensive Overview (Edisi 2nd). Amsterdam: Academic Press. ISBN 978-0-12-815391-8.
- McCall, Brian P., ed. (2022). The Routledge Handbook of the Economics of Education. Abingdon, Oxon New York, NY: Routledge. ISBN 9781032158716.