Dari Paulus, rasul KristusYesus oleh kehendak Allah,
kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. (TB)[6]
Ayat 13
Di dalam Dia (Kristus) kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.[7]
Sebagai meterai, Roh Kudus dianugerahkan kepada orang percaya sebagai tanda kepemilikan Allah. Dengan mencurahkan Roh Kudus, Allah memeteraikan orang percaya sebagai milik-Nya (lihat 2 Korintus 1:22). Demikianlah, orang percaya mempunyai bukti bahwa mereka adalah anak angkat Allah dan bahwa penebusan mereka itu nyata jikalau Roh Kudus ada dalam hidup mereka (Efesus 1:5). Orang percaya dapat mengetahui bahwa mereka sungguh-sungguh menjadi milik Allah apabila Roh Kudus mengubah dan memperbaharui mereka (Yohanes 1:12–13; 3:3–6), membebaskan mereka dari kuasa dosa (Roma 8:1–17; Galatia 5:16–25), memberikan kesadaran bahwa Allah adalah Bapa mereka (Efesus 1:5; Roma 8:15; Galatia 4:6) dan memenuhi mereka dengan kuasa untuk bersaksi bagi-Nya (Kisah Para Rasul 1:8; 2:4).[8]
Roh Kudus dan tempat-Nya dalam penebusan orang percaya menjadi penekanan inti surat ini. Roh Kudus
(7) memperkuat orang percaya dengan kuasa di dalam batin (Efesus 3:16);
(8) mendorong kesatuan dalam iman Kristen dengan menjadi sepenuhnya serupa dengan Kristus (Efesus 4:3,13–14);
(9) berduka bila ada dosa dalam diri orang percaya (Efesus 4:30);
(10) rindu senantiasa memenuhi dan memberi kuasa kepada orang percaya (Efesus 5:18); dan
(11) menolong dalam doa dan peperangan rohani (Efesus 6:18).[8]
Roh Kudus adalah "jaminan" (Efesus 1:14), yaitu cengkeram atau panjar dari warisan kita. Pada zaman ini Roh Kudus dianugerahkan kepada orang percaya sebagai persekot dari apa yang akan dimiliki oleh orang percaya sepenuhnya pada masa yang akan datang. Kehadiran dan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya menjadi jaminan dari bagian warisan mereka pada masa yang akan datang (bandingkan Roma 8:23; 2 Korintus 1:22; 2 Korintus 5:5).[8]
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 9794159050.