Djamaʽa el Djedid (Bahasa Arab: الجامع الجديد, diromanisasi: Jamaa El Jedid, harfiah: “Masjid Baru”) adalah masjid di Aljir, ibu kota Aljazair.[2] Bangunan ini merupakan peninggalan periode Kesultanan Utsmaniyah di wilayah tersebut.[3][4]
Sejarah
Masjid ini diselesaikan pada tahun 1070 H (1659/1660 M) berdasarkan prasasti di atas pintu masuk utama. Pembangunan dilakukan oleh al-Hajj Habib, gubernur Janissari di Aljir yang diangkat oleh pemerintahan Ottoman di Konstantinopel. Pendirian masjid ini berkaitan dengan perkembangan administratif dan militer Ottoman di Aljir pada abad ke-17, ketika wilayah tersebut berfungsi sebagai pusat penting di pesisir Afrika Utara.[2] Pada periode Ottoman, masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus bagian dari jaringan institusi keagamaan di kota. Lokasinya yang berdekatan dengan pelabuhan memperkuat perannya bagi komunitas maritim setempat.[3] Pada masa kolonial Prancis, masjid ini dikenal sebagai Mosquée de la Pêcherie atau Mesdjed el-Haoutin. Penamaan tersebut merujuk pada kedekatannya dengan kawasan perikanan. Meskipun terjadi perubahan administratif dan lingkungan perkotaan, fungsi keagamaan masjid tetap dipertahankan. Beberapa penyesuaian dilakukan, termasuk penambahan elemen tertentu pada struktur bangunan oleh pihak kolonial. Dalam periode modern, masjid ini tetap digunakan sebagai tempat ibadah. Mohamed Charef tercatat menjabat sebagai imam dalam kurun 1908–2011, menjadikannya salah satu imam dengan masa pengabdian panjang di Aljir.[4]
Arsitektur
Bangunan menunjukkan pengaruh Utsmaniyah dengan unsur Andalusia dan Italia selatan. Kubah utama setinggi sekitar 24 meter ditopang empat pilar melalui struktur drum dan pendentif.[3] Pada sudut ruang utama terdapat kubah segi delapan. Ruang di antaranya ditutup kubah barel pada tiga sisi, sedangkan sisi yang menghadap kiblat memiliki kubah tambahan dengan tiga bukaan yang diapit lorong. Susunan ruang mencerminkan pola arsitektur Utsmaniyah.
Interior menampilkan variasi pengaruh. Ukiran dinding menunjukkan ciri Italia, sedangkan lengkungan mihrab mengikuti gaya Andalusia. Mimbar menggunakan marmer Italia sebagai pengganti kayu dengan bentuk yang mempertahankan karakter Afrika Utara.[4]
Bagian luar terbuat dari batu dan dicat putih, termasuk kubah, sehingga tampak seragam. Dekorasi terbatas pada garis ubin tipis pada dinding yang menghadap alun-alun. Menara berbentuk persegi mengikuti tradisi Afrika Utara. Tinggi awal sekitar 30 meter, kini sekitar 25 meter akibat perubahan elevasi lingkungan. Sebuah jam ditambahkan oleh arsitek Prancis Bournichon pada masa kolonial.[4]
Galeri
Lokasi
Masjid ini terletak di sisi timur Place des Martyrs, dengan dinding kiblat menghadap Boulevard Amilcar Cabral. Sekitar 70 meter ke arah timur terdapat Masjid Agung Almoravid Aljir dari abad ke-11. Bangunan memiliki lebar sekitar 27 meter dan panjang 48 meter. Kedekatan dengan pelabuhan perikanan memengaruhi penamaan informal yang digunakan secara lokal.[4]
12345Belakehal, Azeddine; Aoul, Kheira Tabet; Farhi, Abdallah (2015). "Daylight as a Design Strategy in the Ottoman Mosques of Tunisia and Algeria". International Journal of Architectural Heritage. 10 (6). Taylor & Francis: 42. doi:10.1080/15583058.2015.1020458.