Masjid Ali Bitchin (مسجد علي بتشينcode: ar is deprecated ) or Masjid Zawj Euyun (جامع زوج عيونcode: ar is deprecated ) adalah sebuah masjid bersejarah yang terletak di Aljir, Aljazair. Masjid ini dibangun atas perintah Ali Bitchin pada tahun 1622 dan berada di dalam Kasbah Aljir, yang merupakan Situs Warisan DuniaUNESCO.[1] Lokasinya berada di persimpangan antara Jalan Bab al-Wadi dan bagian bawah Kasbah.[2]
Sejarah
Interior Masjid Ali Bitchin (Aljazair)
Ali Bitchin dikabarkan berasal dari latar belakang non-Muslim dengan nama asli Piccini, Puccini, atau Piccinino. Ia memimpin armada Angkatan LautAljazair antara tahun 1630 hingga 1646. Pada tahun 1599, ia masuk Islam melalui Fathullah Khoja, pemilik kapal-kapal dagang, dan memilih nama Ali Bitchin setelah memeluk agama Islam. Pada tahun 1622, ia memerintahkan pembangunan sebuah masjid dengan gaya arsitektur Ottoman.[3] Masjid ini juga dilengkapi dengan menara setinggi 15 meter yang menampilkan ciri khas gaya Maghrebi yang merupakan bagian dari gaya Moorish.[4]
Selama pendudukan Prancis, tinggi menara masjid dikurangi menjadi 12 meter.[5] Masjid ini kemudian diubah menjadi pusat farmasi militer sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi gereja pada tahun 1843. Setelah perubahan tersebut, beberapa elemen khas arsitektur Islam hilang. Selain itu, penjajah Prancis juga merobohkan salah satu pintu Masjid Ketchaoua dan menggunakannya sebagai dekorasi untuk gereja yang baru dibangun.[2][4] Masjid ini merupakan salah satu dari 21 masjid di Kasbah yang mengalami modifikasi atau perubahan, seperti penghapusan tempat wudhu dan perubahan pada mihrab.[5] Setelah kemerdekaan, bangunan ini dialihfungsikan kembali menjadi masjid dan salib Kristen disingkirkan.[4]
Arsitektur
Pada awalnya, masjid ini memiliki luas 500 meter persegi[6][7] dan terdiri dari tiga lantai, tiga ruangan, sepuluh toko, sebuah toko roti, sebuah hamam (pemandian umum), sebuah penggilingan, dan sebuah penginapan. Penginapan tersebut digunakan oleh beberapa politisi dan pemimpin agama berpangkat tinggi. Hamam di dalam kompleks masjid sangat populer dan tetap beroperasi hingga dua tahun setelah dimulainya pendudukan Prancis. Masjid ini terletak di kawasan komersial Kasbah sehingga banyak toko berdiri di sekitarnya. Pada tahun 1703, masjid ini sempat berganti nama menjadi "Masjid Sidi al-Mahdi", sebagai penghormatan kepada gubernur yang menjabat saat itu.[8]
Kapasitas
Masjid ini awalnya hanya mampu menampung hingga 500 jamaah. Setelah direnovasi pada tahun 2010, kini masjid ini dapat menampung tambahan 300 jamaah.[9]