Djamaa Ben Farès (bahasa Arab: مسجد ابن فارس), juga dikenal sebagai Masjid Ben Farès, adalah sebuah masjid yang terletak di Place Randon di Aljir, Aljazair. Bangunan ini berada di kawasan Kasbah Aljir yang termasuk dalam daftar UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.
Bangunan tersebut awalnya didirikan sebagai sinagoge pada masa pemerintahan Napoleon III pada tahun 1865 dengan nama Synagogue de Rue Randon.[2] Setelah kemerdekaan Aljazair pada 1962, bangunan ini tidak lagi digunakan oleh orang Yahudi dan kemudian dialihfungsikan menjadi masjid dengan nama Masjid Ben Farès.
Sejarah
Pembangunan sinagoge besar di Aljir berkaitan dengan kebijakan pemerintah kolonial Prancis yang mendukung kehadiran institusi keagamaan utama bagi komunitas Yahudi di kota-kota besar seperti Aljir, Oran, dan Sétif. Tujuannya adalah menampilkan keberadaan orang Yahudi dalam ruang publik yang sebanding dengan katedral Katolik dan masjid besar di wilayah tersebut.[3]
Pada tahun 1839 pemerintah Prancis merobohkan sejumlah bangunan dan sinagoge di kawasan permukiman Yahudi dalam rangka penataan kota. Sebagai kompensasi, pemerintah menjanjikan dana sebesar 120.000 franc Prancis untuk pembangunan sinagoge baru. Proyek tersebut baru selesai sekitar dua puluh lima tahun kemudian dan diresmikan pada 19 September 1865 di lokasi bekas masjid tua di Place Randon.[2]
Pada 11 Desember 1960, kelompok pemberontak Aljazair yang menentang kekuasaan kolonial Prancis mengambil alih sinagoge tersebut sebagai bentuk protes terhadap kunjungan Charles de Gaulle. Insiden tersebut memicu bentrokan di sekitar bangunan. Para pemberontak mengibarkan bendera hijau-putih di atas sinagoge sebelum akhirnya pasukan Prancis memulihkan situasi setelah dua hari kerusuhan.
Setelah Kemerdekaan Aljazair pada tahun 1962, sebagian besar komunitas Yahudi meninggalkan negara tersebut. Sinagoge kemudian ditinggalkan dan dialihfungsikan menjadi Masjid Ben Farès.[4] Beberapa perubahan dilakukan pada bangunan, terutama penambahan menara segi delapan. Di bagian interior, simbol-simbol Yahudi dihapus dan tabut Taurat digantikan oleh mihrab.
Arsitektur
Bangunan ini dirancang oleh arsitek Prancis Pierre Guiauchain dalam gaya arsitektur Moor. Denah ruang utama berbentuk persegi dengan kubah besar di tengah serta lengkungan tapal kuda yang menjadi ciri arsitektur tersebut.
Ruang ibadah utama awalnya dapat menampung sekitar 900 laki-laki, sementara balkon di lantai dua disediakan bagi sekitar 200 perempuan. Sebuah lampu gantung besar digantung di bawah kubah utama, dengan pencahayaan tambahan dari jendela kaca patri.
Pada masa berfungsi sebagai sinagoge, dinding interior memuat plakat yang mencantumkan nama para dermawan komunitas. Pada tahun 1922 ditambahkan dua plakat besar di sisi tabut untuk mengenang anggota komunitas yang gugur dalam Perang Dunia I. Tabut tersebut sebelumnya menyimpan sejumlah gulungan Taurat, termasuk sebuah Sefer Torah yang berasal dari Spanyol dan dibuat beberapa abad sebelum pembangunan sinagoge.
Fasad bangunan menghadap ke alun-alun pasar dengan pintu utama besar yang diapit dua kolom serta dua pintu samping. Bagian depan dilengkapi tangga granit lebar yang menghubungkan bangunan dengan ruang terbuka di sekitarnya.[2]