Tionghoa dalam Keindonesiaan, Biografi AR Baswedan
Didi Kwartanada adalah tokoh sejarawan dan peneliti berkewarganegaraan Indonesia.[1] Penelitiannya difokuskan kepada sejarah dan kehidupan sosial etnis Tionghoa Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Selain dalam bahasa Indonesia, karya-karyanya juga dipublikasikan ke dalam berbagai bahasa seperti Mandarin, Jepang, Jerman dan Belanda.
Pendidikan dan karier
Didi Kwartanada dilahirkan pada tanggal 3 Februari 1968 di Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan program doktor di National University of Singapore. Dalam perjalanan kariernya, Didi Kwartanada banyak berkontribusi dalam berbagai proyek penelitian misalnya di LOCITA Research Center, Surabaya (1994-1997), Institute of Asia Pacific Studies, Waseda University (WIAPS), Tokyo (1998-2001), serta di Yayasan Nation Building (Nabil), Jakarta (2009-2017).[1] Saat ini ia berkecimpung sebagai sejarawan independen serta aktif dalam berbagai seminar maupun diskusi yang membahas tentang peranan etnis Tionghoa di Indonesia. Selain itu ia juga menuliskan sebuah buku biografi tokoh AR Baswedan.
Peranan etnis Tionghoa dalam Keindonesiaan
Didi Kwartanada dikenal akan kontribusinya dalam penelitian tentang peran etnis Tionghoa dalam politik serta kehidupan sosial di Indonesia. Dalam karyanya yang berjudul "Tionghoa Dalam Keindonesiaan", ia menuliskan tentang peran etnis Tionghoa yang tidak kecil dalam membangun Indonesia.[2] Kebijakan Orde Baru yang menghapuskan berbagai informasi penting tentang peran dan kontribusi etnis Tionghoa, membuat seolah-olah mereka bukan dianggap sebagai kelompok yang integral dalam bangsa Indonesia.[2] Salah satu fakta penting yang kurang diketahui adalah kontribusi empat tokoh Tionghoa, yakni Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, dan Tan Eng Hoa dalam proses penciptaan UUD 1945.[3] Keempat tokoh ini adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).[3]
Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War, EJ Brill, 2010), sebagai editor dan kontributor.
Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa, Yayasan Nabil, 2016, sebagai editor dan kontributor.
Jurnal
Mandarin Comes to the South Seas The Making of Chinese Education in Early Twentieth Century Java, Asian Culture 42, December, 2018.[4]
"Bangsawan prampoewan: Enlightened Peranakan Chinese women from early twentieth century Java", Wacana (Faculty of Humanities, Universitas Indonesia), 2017.[5]
Competition, Patriotism and Collaboration: The Chinese Businessmen of Yogyakarta between the 1930s and 1945. Journal of Southeast Asian Studies Vol. 33, No. 2 (Jun., 2002), pp.257–277. Cambridge University Press.[6]
The Making of the "Chinese Problem": Indonesian Local Agencies’ Perceptions of Ethnic Chinese and Communist China, 1950-1979. Lembaran Sejarah. Volume 16 Number 2 October 2020. Page 183—205.[7]
Penghargaan
Choice’s Outstanding Academic Title 2010 untuk Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War (EJ Brill, 2010)