Leo Suryadinata (lahir 21 Februari 1941, dengan nama Liauw Kian-Djoe atau Liao Jianyu; 廖建裕)[1][2] adalah sinologTionghoa Indonesia.
Kehidupan Awal
Suryadinata terlahir dengan nama Liauw Kian-Djoe (juga ditulis Liao Jianyu) di Jakarta. Ayahnya adalah pemilik pabrik bahan bangunan. Ia memiliki tujuh saudara.[3]
Pada tahun 1962 sampai tahun 1965, Suryadinata belajar sastra di Universitas Indonesia dan mendapatkan gelar sarjana. Ia berfokus pada sastra Tiongkok, lalu tertarik dengan etnis Tionghoa di Indonesia. Tesisnya membahas pers Peranakan Tionghoa akhir abad ke-19 dan gerakan pemberontakan awal abad ke-20 terhadap pemerintah kolonial Belanda.[3]
Setelah menamatkan pendidikan, Suryadinata menjabat sebagai peneliti di Institute of South East Asian Studies (ISEAS) di Singapura sejak 1976 sampai 1982. Pada tahun 1982, ia menjabat sebagai dosen senior Departemen Ilmu Politik National University of Singapore, asisten profesor tahun 1994, dan profesor penuh tahun 2000.[3]
Pada tahun 2002, Suryadinata menjadi peneliti sejawat senior ISEAS. Tahun 2005, ia meninggalkan ISEAS dan menjadi direktur Chinese Heritage Center di Nanyang Technological University.[3]
Publikasi
Hingga 2008[update], Suryadinata telah menerbitkan 50 buku dan monograf, 30 bab di buku tertinjau sejawat, 15 artikel di jurnal internasional, 11 artikel di jurnal Indonesia, enam makalah kerja, dan lebih dari 100 makalah konerensi. Semuanya diterbitkan dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Tionghoa. Aimee Dawis dari The Jakarta Post menulis bahwa "siapapun yang mempelajari etnis Tionghoa di Indonesia harus membaca karya-karya Leo Suryadinata."[3]
Penghargaan
Pada tahun 2008, Suryadinata (bersama peneliti Jerman Mary Somers Heidhues) memenangkan Nabil Award atas kontribusinya terhadap integrasi etnis di Indonesia.[2][3]
12"Somers dan Leo Dapat Nabil Award". Kompas.com (dalam bahasa Indonesian). 16 November 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-10-07. Diakses tanggal 15 August 2011.; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)