Upacara Dandan Kali sendiri tidak dijelaskan kapan pertama kali muncul, tetapi jelas sekali kalau Desa Kepuharjo adalah desa pertama yang melakukan tradisi ini. Saat itu Desa Kepuharjo sempat mengalami kemarau panjang hingga 8 bulan lamanya, untuk mensiasatinya wargadesa akhirnya melakukan sebuah ritual atau upacara berupa menyembelih kambing dan membawa berbagai macam sesajen ke Sungai Gendol. Tidak terlalu lama setelah pelaksanaan upacara, Desa Kepuharjo kemudian diguyur hujan lebat yang membuat desa itu kemudian menjadi salah satu desa yang subur.[1][2]
Tata Cara Upacara
Seperti halnya upacaraadat pada umumnya, upacara Dandan Kali juga memiliki aturan atau tata cara yang wajib dipatuhi. Salah satu syarat utama dalam upacara Dandan Kali adalah seluruh pesertanya harus diikuti oleh laki-laki, sementara perempuan tidak diperbolehkan. Tidak diketahui secara pasti kenapa perempuan dilarang untuk ikut, tetapi hal ini sudah menjadi aturan turun temurun warga Desa Kepuharjo dalam melaksanakan uapcara Dandan Kali. Walaupun perempuan dilarang untuk ikut dalam prosesi upacara Dandan Kali, tetapi biasanya perempuan tetap bisa terlibat diluar prosesi, seperti membuat dan mempersiapkan masakan untuk sesajen berupa nasitumpeng ataupun persiapan-persiapan lainnya.[1][2]
Setelah warga sudah berkumpul di lokasi upacara, maka selanjutnya adalah dilaksanakannya prosesi penyembelihan kambing yang sebelumnya telah dibawa dan dipersiapkan oleh masing-masing dusun. Di samping prosesi penyembelihan kambing, beberapa warga lainnya mempersiapkan bumbu dan peralatan masak lainnya guna untuk memasak dagingkambing yang telah disembelih. Masakan yang biasanya disajikan adalah gulaikambing atau istilahnya dalam Bahasa Jawa disebut sebagai becekan - dari sinilah nama 'becekan' berasal.[1]
12345678910Direktorat Jenderal Kebudayaan, Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2018) hal. 192-193