Kliwon adalah nama hari dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara, minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali. Hari ini sering dikaitkan dengan energi mistis, kepekaan batin, dan kekuatan gaib. Dalam berbagai primbon, Kliwon dianggap sebagai waktu ketika alam halus lebih aktif, sehingga cocok untuk kegiatan meditasi, tirakat, atau mencari ketenangan batin. Banyak ritual Jawa, seperti slametan atau bersih desa, memilih hari Kliwon karena dianggap membawa keseimbangan dan perlindungan. Meski memiliki nuansa mistis, Kliwon juga dimaknai sebagai hari yang mendukung intuisi, perenungan, serta keputusan yang memerlukan kejernihan hati dan pikiran.[1]
Hari Selasa-Kliwon dinamakan hari Anggara Kasih dan dianggap sebuah hari yang istimewa dalam budaya Jawa dan Bali. Lalu oleh Orang Jawa, terutama hari malam Jumat Kliwon dianggap hari yang keramat. Malam 1 Suro (yang bertepatan dengan hari Jumat Kliwon) di Keraton Yogyakarta & Surakarta, diisi dengan kirab pusaka, laku tapa, dan doa keselamatan. Selain itu, banyak masyarakat datang pada hari Jumat Kliwon ke Pantai Parangkusumo atau area pesarean untuk memberi sesaji. Hari pasaran Kliwon berkaitan dengan warna abu-abu dan letak posisi di tengah.[2]