Situs Warisan Dunia di Portugal. Dua situs di Azores ditunjukkan pada peta di bawah ini. Yang tidak ditunjukkan adalah Laurisilva yang meliputi sebagian besar pulau Madeira.
Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan Situs Warisan Dunia sebagai warisan budaya atau alam yang memiliki nilai universal luar biasa dan telah dinominasikan oleh negara-negara penandatangan Konvensi Warisan Dunia UNESCO, yang didirikan pada tahun 1972.[1] Warisan budaya mencakup monumen (seperti karya arsitektur, patung monumental, atau prasasti), kelompok bangunan, dan situs (termasuk situs arkeologi). Warisan alam didefinisikan sebagai fitur alam (yang terdiri atas formasi fisik dan biologis), formasi geologis dan fisiografis (termasuk habitat spesies hewan dan tumbuhan yang terancam punah), serta situs alam yang penting dari segi ilmu pengetahuan, pelestarian, atau keindahan alam.[2]Portugal meratifikasi konvensi tersebut pada 30 September 1980.[3]
UNESCO mencantumkan situs-situs berdasarkan sepuluh kriteria; setiap entri harus memenuhi setidaknya satu kriteria. Kriteria i hingga vi merupakan kriteria budaya, sedangkan kriteria vii hingga x merupakan kriteria alam.[4]
Kota ini didirikan pada akhir abad ke-15 selama Era Penjelajahan. Selama 400 tahun, hingga munculnya kapal uap, kota ini berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan bagi kapal-kapal yang menuju Afrika khatulistiwa serta Hindia Timur dan Barat, dan kembali ke Eropa. Sistem pertahanannya mencakup benteng São Sebastião dan São João Baptista. Terdapat beberapa gereja bergaya Barok di kota ini. Kota ini mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi pada tahun 1980, tetapi sejak itu telah dipulihkan secara signifikan.[5]
Baik biara maupun menara, yang terletak di distrik Belém, Lisbon, di sepanjang Sungai Tagus, secara simbolis terhubung dengan Era Penjelajahan ketika Portugal menjelajahi dunia. Biara tersebut didirikan untuk mengenang Pangeran Henry sang Navigator dan agar para biarawan dapat mendoakan raja serta para pelaut. Menara (yang tampak dalam gambar) dibangun untuk memperingati pelayaran Vasco da Gama dan melindungi pelabuhan. Kedua bangunan tersebut dibangun pada awal abad ke-16 dalam gaya arsitektur Manuelin. Penyesuaian batas minor pada situs ini dilakukan pada tahun 2008.[6]
Biara Dominikan Batalha dibangun pada awal abad ke-15 untuk memperingati kemenangan Portugal atas Kastilia dalam Pertempuran Aljubarrota pada tahun 1385. Biara ini merupakan mahakarya arsitektur Gotik, dengan tambahan-tambahan kemudian dalam gaya Manuelin. Selama lebih dari dua abad, biara ini berfungsi sebagai pusat penting bagi monarki Portugal, menjadi tempat penetapan ciri-ciri khas seni nasional.[7]
Biara ini didirikan pada abad ke-12 sebagai markas Ordo Templar. Ketika ordo tersebut dibubarkan pada abad ke-14, cabang Portugisnya diubah menjadi Ordo Kesatria Kristus, yang kemudian mendukung penjelajahan maritim Portugal pada abad ke-15. Dibangun selama beberapa abad, biara ini menampilkan unsur-unsur arsitektur Arsitektur Romanesque|Romanesque]], Gotik, Manuelin, Renaisans, Manieris, dan Barok.[8]
Kota Évora merupakan contoh terbaik kota pada masa keemasan Portugal (karena Lisbon sebagian besar hancur akibat gempa bumi tahun 1755). Kota ini memiliki berbagai monumen dari berbagai periode, termasuk Kuil Romawi (yang tampak dalam gambar), benteng peninggalan Moor, serta gereja dan istana yang dibangun setelah abad ke-15, ketika Évora menjadi tempat tinggal para raja Portugal. Ciri khas kota ini adalah rumah-rumah bercat putih dari abad ke-16 hingga ke-18, yang dihiasi dengan ubin bergambar (azulejo) dan balkon dari besi tempa. Monumen-monumen di Évora telah menginspirasi arsitektur kolonial Portugal di Brasil.[9]
Biara Sistersien ini didirikan pada abad ke-12 dan berkembang menjadi pusat budaya, keagamaan, dan politik regional. Gereja dan bangunan-bangunan biara dibangun pada abad ke-13 dengan gaya Gotik, sementara fasadnya direnovasi pada abad ke-18 dalam gaya Barok. Dapur biara juga berasal dari abad ke-18. Gereja ini menyimpan makam kembar Raja Pedro I dan Inês de Castro dari tahun 1360, yang merupakan contoh luar biasa dari seni pahat makam Gotik.[10]
[[Lanskap budaya[] ini terletak di Pegunungan Sintra. Pada abad ke-19, kawasan ini menjadi pusat arsitektur Romantisisme. Beberapa bangunan penting meliputi Istana Pena, yaitu biara yang hancur dan diubah menjadi kastel dengan perpaduan gaya yang eklektik, Istana Nasional Sintra (yang tampak dalam gambar), Quinta da Regaleira, Istana Monserrate, dan Kastel Moor. Taman-taman di sekitar istana menjadi rumah bagi berbagai spesies tumbuhan eksotik.[11]
Kota Oporto, atau Porto, terletak di muara sungai Douro. Awalnya merupakan pemukiman perdagangan Fenisia, kota ini telah dihuni secara terus-menerus sejak zaman Romawi. Monumen-monumen di kota ini berasal dari berbagai periode: Katedral dibangun dengan gaya Romanesque, Gereja Santa Clara bergaya Manuelin, dan Istana Bursa Efek dengan gaya Neoklasik.[12]
Properti ini terdiri atas dua situs dengan ukiran batu terbuka. Situs di Portugal, yang terdaftar pada tahun 1998, terletak di Lembah Côa[. Situs Siega Verde di Spanyol ditambahkan sebagai perluasan pada tahun 2010. Ukiran-ukiran tersebut, yang terutama menggambarkan hewan (lebih dari 5.000 figur), dibuat selama beberapa milenium, dari periode Paleolitikum Akhir hingga Magdalenian/Epipaleolitikum (22.000 hingga 8.000 SM).[13]
Hutan laurel di Madeira merupakan sisa dari jenis hutan yang dahulu menutupi sebagian besar wilayah Eropa Selatan antara 40 hingga 15 juta tahun yang lalu. Hutan ini terutama terdiri atas pohon dan semak hijau abadi dengan daun datar berwarna hijau tua. Ekosistem ini, yang sebagian besar merupakan hutan primer, menjadi habitat bagi banyak spesies tumbuhan dan hewan, beberapa di antaranya bersifat endemik.[14]
Sebagai tempat kediaman para adipati yang mendeklarasikan kemerdekaan pada abad ke-12, Guimarães merupakan kota penting dalam sejarah Portugal. Kota ini berfungsi sebagai ibu kota pertama negara tersebut. Perkembangan kota abad pertengahan terjadi di sekitar kastel dan kompleks monastik. Antara akhir abad ke-15 hingga abad ke-17, rumah bangsawan dan bangunan sipil dibangun di pusat kota bersejarah yang hingga kini masih terawat dengan baik. Teknik pembangunan khusus yang dikembangkan di Guimarães pada Abad Pertengahan disebarkan ke koloni-koloni Portugal di Afrika dan Amerika. Zona Couros dengan tempat penyamakan kulit ditambahkan pada tahun 2023.[15]
Lembah Sungai Douro dan anak-anak sungai utamanya merupakan lanskap budaya tempat produksi anggur telah berlangsung selama sekitar dua milenium. Lanskap ini dibentuk oleh aktivitas manusia, dengan kebun anggur bertingkat, quintas (perkebunan penghasil anggur), jalan-jalan, dan kapel. Sejak pertengahan abad ke-18, produk paling terkenal dari wilayah ini adalah Port wine.[16]
Produksi anggur di Pulau Pico dimulai pada abad ke-15. Untuk melindungi lahan pertanian dan kebun anggur dari angin dan air laut, para petani membangun jaringan tembok batu yang panjang di seluruh pulau. Bangunan yang berkaitan dengan budidaya anggur mencakup rumah-rumah bangsawan awal abad ke-19, gudang anggur, pelabuhan, dan gereja. Produksi anggur di pulau ini mencapai puncaknya pada abad ke-19 dan kemudian mengalami penurunan. Pada abad ke-21, produksi anggur tetap berlangsung tetapi dalam skala yang lebih kecil.[17]
Kota Elvas terletak dekat perbatasan dengan Spanyol. Setelah Portugal meraih kembali kemerdekaannya dari Spanyol pada tahun 1640, sebuah sistem pertahanan parit kering berpagar yang kompleks (benteng berbentuk bintang) dibangun mengelilingi kota ini. Benteng tersebut dirancang oleh imam Yesuit asal Belanda, Padre Cosmander, sesuai dengan tren pertahanan Belanda terbaru saat itu. Situs ini juga mencakup Benteng Nossa Senhora da Graça dari abad ke-18 dan Saluran Air Amoreira dari abad ke-16. Penyesuaian batas minor pada situs ini dilakukan pada tahun 2013.[18]
Universitas Coimbra didirikan pada akhir abad ke-13 di atas bukit yang menghadap ke kota (Alta). Pada tahun 1537, universitas ini dipindahkan ke Istana Kerajaan Alcáçova dan kemudian berkembang dengan sejumlah perguruan tinggi. Universitas ini menjadi model bagi lembaga pendidikan tinggi di dunia Lusofon. Kota Coimbra memiliki hubungan yang sangat erat dengan universitas tersebut. Beberapa bangunan pentingnya antara lain Katedral Tua dari abad ke-12, Perpustakaan Joanina bergaya Barok, Kapel São Miguel, dan perguruan tinggi di sepanjang jalan Sofia di kota tersebut. Penyesuaian batas minor pada situs ini dilakukan pada tahun 2019.[19]
Kompleks istana di Mafra dibangun atas perintah Raja João V pada awal abad ke-18. Kompleks ini mencakup sebuah basilika, istana raja dan ratu, biara, serta perpustakaan. Bangunan ini didirikan dengan gaya Barok Italia, khususnya terinspirasi oleh arsitektur Roma. Situs ini juga mencakup Taman Cerco yang berada di sebelah istana, serta kawasan perburuan kerajaan.[20]
Tempat suci ini terletak di lereng Gunung Espinho di atas kota Braga, dan merupakan contoh situs ziarah gunung suci. Bangunan utamanya dibangun dengan gaya Barok, dengan yang paling ikonik adalah Tangga Lima Indra (gambar).[21]
Daftar tentatif
Selain situs-situs yang terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia, negara-negara anggota dapat menyusun daftar sementara yang memuat situs-situs yang mungkin akan mereka ajukan untuk nominasi. Nominasi ke dalam Daftar Warisan Dunia hanya diterima jika situs tersebut sebelumnya telah tercantum dalam daftar sementara.[22] Portugal memiliki 11 situs dalam daftar sementaranya.[3]