Biasanya gagak ini diangap sebagai subspesies dari Corvus enca, tetapi bulunya yang hitam legam menyerupai gagak Piping secara keseluruhan. Banggai merupakan gagak yang berukuran sedang dengan panjang 39cm dan benar-benar hitam dengan iris mata yang gelap dan ekor pendek.[3]
Selama lebih dari satu abad gagak Banggai hanya ditemukan dua spesies yang ada di sebuah pulau tidak dikenal di kepulauan Banggai antara 1884/1885. Kunjungan ke kepulauan ini pada 1991 dan 1996 tidak temukan lagi burung gagak Banggai, sehingga orang menganggap burung ini telah punah. Selama survei yang dilakukan antara 2007-2008 yang sebagian dibiyayai oleh Zoological Society for the Conservation of Species and Populations (Jerman), burung ini berulang kali terlihat di pulau Peleng.[4] Dan ornitologis Indonesia Muhammad Indrawan memfoto dua spesies banggai tersebut.[5] Total penduduk di pulau ini diperkirankan sekitar 500 orang, tinggal di hutan pegunungan pada ketinggian di atas 500 m.[4] Penurunan populasi gagak Banggai disebabkan karena hilangnya habitat dan degradasi seperti pertanian dan ekstrasi.
Burung ini tetap menjadi teka-teki untuk waktu yang lama. Terdaftar sebagai spesies rentan pada 1994 pada IUCN Red List, burung ini berstatus sebagai rentan pada 2000. Dan pada 2006, gagak ini lebih lanjut terdaftar sebagai satwa mungkin punah. Untung hal ini tidak benar dan statusnya diganti lagi menjadi kritis pada 2007 Red List.[6]
Collar, Nigel J.; Andreev, A. V.; Chan, S.; Crosby, M. J.; Subramanya, S. & Tobias, J. A. (eds.) (2001): Banggai Crow. In: Threatened Birds of Asia: The BirdLife International Red Data Book: 2415-2416. BirdLife International.ISBN 0-946888-44-2HTML fulltextDiarsipkan 2007-09-30 di Wayback Machine.
Madge, Steve & Burn, Hilary (1994): Crows and jays: a guide to the crows, jays and magpies of the world. A&C Black, London.ISBN 0-7136-3999-7
Vaurie, Charles (1958): Remarks on some Corvidae of Indo-Malaya and the Australian region. American Museum Novitates1915: 1-13. PDF fulltextDiarsipkan 2007-06-22 di Wayback Machine.