Castanea mollissima atau yang lebih dikenal sebagai kastanya tiongkok, merupakan salah satu spesies kastanya asal Asia dari famili Fagaceae. Jika ditanam berdekatan dengan spesies kastanya lain, seperti kastanya jepang, kastanya amerika, atau kastanya eropa, tanaman ini dengan mudah melakukan penyerbukan silang dan menghasilkan hibrida.[2] Buahnya telah lama menjadi sumber pangan penting bagi berbagai jenis satwa liar.
Deskripsi
Tanaman ini merupakan pohon gugur yang dapat mencapai tinggi sekitar 20 meter dengan tajuk yang melebar. Daunnya tersusun berselang-seling, berbentuk sederhana, berukuran 10–22 cm panjang dan 4,5–8 cm lebar, serta memiliki tepian bergerigi. Bunganya muncul dalam bentuk bunga untai sepanjang 4–20 cm, dengan bunga betina berada di bagian dasar dan bunga jantan menempati bagian atasnya. Buahnya berupa kopula berduri yang padat, berdiameter 4–8 cm, berisi dua hingga tiga biji berwarna coklat mengilap; pada tanaman liar, ukuran bijinya berkisar 2–3 cm. Nama ilmiah mollissima merujuk pada permukaan pucuk dan daun muda yang diselimuti bulu halus dan lembut.[3][4]
Persebaran
Spesies ini berasal dari wilayah Tiongkok, Taiwan, dan Korea, dan telah dibudidayakan di Asia Timur selama ribuan tahun sehingga batas asli sebarannya sulit dipastikan. Di Tiongkok, tanaman ini ditemukan di banyak provinsi, termasuk Anhui, Fujian, Gansu, Guangdong, Guangxi, Guizhou, Hebei, Henan, Hubei, Hunan, Jiangsu, Jiangxi, Liaoning, Mongolia Dalam, Qinghai, Shaanxi, Shandong, Shanxi, Sichuan, Tibet, Yunnan, dan Zhejiang, serta meluas hingga Taiwan dan Korea. Di bagian utara, pohon ini tumbuh dari dataran rendah, sementara di selatan dapat ditemukan hingga ketinggian sekitar 2.800 meter. Kastanya tiongkok umumnya menyukai paparan matahari penuh, tumbuh baik di tanah asam dan bertekstur liat, serta memiliki laju pertumbuhan yang tergolong sedang.[3][4]
Ekologi
Kastanye tiongkok telah berevolusi selama waktu yang sangat panjang bersama jamur penyebab hawar kulit kayu Cryphonectria parasitica (sebelumnya Endothia parasitica), sehingga mengembangkan tingkat ketahanan yang umumnya lebih tinggi dibandingkan spesies kastanye lain. Meskipun tidak sepenuhnya kebal, pohon ini biasanya hanya mengalami kerusakan ringan ketika terinfeksi. Namun, ketahanannya tidak seragam, variasinya cukup besar, dengan sebagian individu tetap rentan sementara yang lain menunjukkan ketahanan hampir sepenuhnya terhadap penyakit tersebut.[5]
↑Sisco, P. H., et al. 2005 An Improved Genetic Map for Castanea mollissima/Castanea dentata and its Relationship to the Genetic Map of Castanea sativa. Acta Hort. 693. Abstract.