Sejarah
Sama seperti televisi lokal lainnya, CTV Banten lahir di tengah arus perubahan dengan keberadaan otonomi daerah. Pengusaha Bambang Santoso menyadari bahwa Provinsi Banten memiliki potensi di bidang pariwisata, industri hingga pertanian, ditambah lokasinya yang strategis karena dekat dengan ibukota Jakarta. Dengan aneka potensi itu, dibutuhkan suatu panduan informasi untuk masyarakat Banten maupun masyarakat luar secara global, sehingga bisa menjembatani hubungan antara masyarakat dengan pemerintahan daerah setempat.[5] CTV Banten didirikan dengan harapan membentuk keluarga yang bahagia lahir batin dengan program-programnya yang berbasis keluarga dan berakar pada kelokalan Banten.[6]
CTV Banten mengklaim dirinya menyajikan program-program acara berita, musik, infomersial, kesehatan, religi, features, hiburan, kuliner dan anak-anak dengan sajian acara yang informatif, menghibur serta mendidik. CTV telah memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki pengalaman di bidang media dan penyiaran. Pemancar, stasiun dan kantor operasional yang menyatu sebagai sebuah kesungguhan untuk menjadi media informasi dan hiburan bagi keluarga, yang membawa pencerahan dan kemajuan. Mulai 1 Januari 2004, CTV Banten siaran 18 jam nonstop setiap hari mulai pukul 06.00 WIB sampai dengan 00.00 WIB. Ada beberapa program berita, seperti Hallo Banten Pagi, Hallo Banten Malam, Banten News Room (BNR), Beja Ti Lembur (program berita dalam bahasa Sunda Banten), Saya Orang Indonesia (program feature), dan CTV Sport.[6]
Menanggapi munculnya televisi berjaringan sebagai dampak penerapan Undang-Undang Penyiaran 2002, CTV Banten dikembangkan dengan membentuk jaringan televisi bersama sejumlah stasiun televisi lokal daerah dengan nama CTV Network. Dengan sistem ini kerjasama dijalin dalam bidang program, SDM dan marketing, sehingga saling melengkapi. CTV Banten akan menyiarkan siarannya lewat satelit yang kemudian direlai oleh jaringannya. Televisi lokal yang berjaringan dengan CTV Banten, seperti Carlita TV, Cindai TV, Cendawan TV Pekanbaru, maupun yang masih dirintis seperti Cemerlang TV, Coklat TV, Central TV dan Kudus TV. Ditambah dengan siaran lewat internet, satelit maupun televisi kabel, manajemennya mengklaim bahwa CTV Network mendapat penerimaan yang luas di seluruh Indonesia.[6]
Layaknya stasiun televisi lokal lainnya, kinerja CTV Banten kemudian terseok-seok. Bagaikan "hidup segan mati tak mau",[7] jam tayangnya menjadi didominasi oleh home shopping (Jaco, Gogomall, Lejel, Tree, C Shop dan masih banyak lagi) dari pukul 08.00-17.00 WIB. Sisanya adalah acara produksi sendiri atau dari luar, tetapi acara produksi sendiri pun juga banyak bersifat infomersial dengan program "Solusi Sehat" yang membawa topik soal pengobatan alternatif.[6] Pada periode 2010-an, CTV Network seperti menawarkan diri untuk digandeng penyedia konten. Dua yang cukup signifikan adalah Bloomberg TV Indonesia dan MTV Indonesia. Kerjasama dengan Bloomberg diteken pada Februari 2014,[8] sedangkan dengan MTV kerjasama terbentuk pada November 2014. CTV Banten dan jaringannya kemudian merelai dua saluran tersebut.[9] Sayang, CTV Network-lah yang juga berperan dalam usia dua saluran itu yang singkat. Seperti misalnya dari klaim 18 saluran di berbagai daerah yang merelai Bloomberg dan MTV, ternyata hanya beberapa saja yang bersiaran, sementara sisanya tidak jelas keberadaannya[10] atau hanya sekadar siaran gelap.[11] Belum lagi nama CTV Network yang kurang dikenal[12] maupun penerimaan siarannya yang seringkali buruk dengan jangkauan siaran yang terbatas. Tentunya kelemahan itu ikut "mencoreng" citra kedua saluran yang dikenal bernuansa eksklusif karena dari luar negeri.[11][13]
Gagal dengan dua nama besar, CTV Network masih menawarkan diri untuk digandeng penyedia konten lainnya. Walhasil, acara seperti dari dua kanal milik Yusuf Mansyur (Tahfidz TV dan YMTV),[14] perusahaan pariwisata Travelgo,[15] maupun sejumlah penyedia konten bernuansa Kristen pun muncul di CTV Network. Ada dari Yayasan Yaski,[16] seorang pendeta,[17] Shekinah Ministries,[18] hingga yang terakhir, Jangkar Harapan Indonesia. CTV Network menjalin kerjasama melalui anak jaringan di Tomohon, Celebes TV yang kebetulan bersiaran di provinsi yang sama dengan lokasi JHI, yaitu Minahasa, Sulawesi Utara. Melalui kerja sama ini, siaran CTV melalui satelit diisi oleh Jangkar Harapan Indonesia sejak 7 Mei 2021.[3] Namun sayangnya, pada sekitar tahun 2022, kerja sama ini telah berakhir tanpa alasan yang jelas, layaknya kerjasama dengan penyedia konten-konten lain.
Setelah susah payah bertahan dengan pandemi ditambah upayanya yang gagal menahan penghentian siaran analog, pemilik CTV Banten pun menyerah, memilih melepas jaringan CTV Network.[7] Sejak 11 November 2023, CTV Network menjalin kerja sama dengan PT Djarum, melalui Mola, anak usaha dari Polytron. Melalui kerja sama ini, siaran CTV melalui digital terestrial diisi oleh Mola, dengan menggunakan nama CTV | MOS.[19] Kerjasama ini membuat acara belanja rumah yang biasanya menjadi mata acara utamanya dikurangi, dengan diisi program-program Mola.[7]