Bubur pedas terbuat dari beras sangrai dan kelapa parut yang dihaluskan. Kaldu dibuat baik dari daging tulang seperti tulang rusuk atau irisan ayam. Bumbu campuran termasuk bawang merah, bawang putih, serai, lada hitam, dan daun kunyit. Sejumlah sayuran, antara lain wortel, kangkung, daun pakis, daun kesum (daun laksa), kacang panjang, kecambah, atap bambu dan kentang dadu akan dimasukkan ke dalam panci saat bubur sedang dimasak. Bawang goreng, ikan teri, dan kacang-kacangan ditambahkan pada bubur pedas saat disajikan. Air jeruk nipis, kecap manis, dan sambal juga bisa ditambahkan sebagai bumbu.[6]
Meski mengandung kata pedas, rasa bubur ini tidak terlalu pedas. Nama bubur pedas adalah ungkapan masyarakat Sambas, karena bubur ini mengandung rempah-rempah. Tetapi bila ingin, kita dapat menambahkan cabai kering ke dalam bumbunya.
Sejarah
Pada masa Hindia Belanda, bubur pedas merupakan sajian yang umumnya dihidangkan di lingkungan Kesultanan Deli. Awalnya, di bawah kepemimpinan Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah, bubur pedas dihidangkan sebagai makanan buka puasa di kompleks istana Kesultanan Deli. Namun, jauh sebelum itu, kebiasaan buka puasa dengan hidangan bubur pedas ini sudah jauh lebih dulu dilakukan di Masjid Al-Osmani, Medan sejak tahun 1870-an.[7]
Varian
Di Kalimantan Barat, bubur pedas biasanya terbuat dari bubur nasi dicampur ikan teri sedikit, kacang, daun bawang, dan rempah-rempah. Juga tak lupa dengan saus dan kecap untuk menambah cita rasanya. Biasanya ditambahkan juga perasan jeruk limau. Di Sambas, makanan ini merupakan makanan rakyat. Di Pontianak, biasanya orang menjual bubur pedas menggunakan gerobak.
Bubur pedas dengan taburan topping anyang di atasnya.
Di pantai timur Sumatera Utara yang secara historis merupakan bekas dari wilayah Keresidenan Sumatera Timur milik Hindia Belanda, yang merupakan rumah bagi beberapa sub-etnik Melayu seperti Melayu Langkat, Melayu Asahan, Melayu Batubara dan Melayu Deli, bubur pedas memiliki corak tersendirinya berupa tambahan topping/taburan anyang.[7][8][9][10] Anyang merupakan campuran antara kelapa parut, pakis, dan taoge rebus, yang rasanya gurih serta mirip seperti urap.[11] Sayuran yang menjadi bahan pembuatan bubur pedas di Sumatera Utara juga cukup bervariasi, mulai dari jagung, timun, daun kesum, wortel dan kentang.[12]