Namun di waktu yang bersamaan, seseorang yang menganggap dirinya sendiri sebagai Nabi, Philippulus, memperkirakan bahwa kedatangan meteorit yang akan menabrak Bumi itu merupakan pertanda akan datangnya akhir dari dunia. Namun pada kenyataan meteorit tidak menabrak Bumi, tetapi sebagian kecil darinya jatuh di Samudra Arktik. Phostle menemukan bahwa potongan tersebut mengandung suatu material baru yang tidak pernah ada di Bumi sebelumnya dan dinamakan sebagai “Phostlite”, dan merencanakan suatu pelayaran ilmiah ke lokasi jatuhnya tersebut bersama-sama dengan para peneliti dari Eropa, bersama–sama dengan Tintin dan Milo, mempergunakan sebuah kapal laut yang dinakhodai Kapten Haddock.
Ekspedisi ilmiah ini dikenal sebagai “Ekspedisi Aurora”, di mana Aurora adalah nama kapal laut yang dipergunakan dalam ekspedisi ini. Ekspedisi ini mendapatkan pendanaan dari Badan Penelitian Ilmiah Eropa atau dalam bahasa Prancis dikenal dengan istilah Fonds Européen de Recherches Scientifiques (F.E.R.S.) yang tertera di badan pesawat terbang mereka, Arado Ar 196.[1]
Pedro Joãs Dos Santos - berkebangsaan Portugis dan
Paul Cantonneau - berkebangsaan Swiss (yang muncul dalam kisah 7 Bola Kristal).
Latar cerita ini terjadi pada tahun 1942 di mana pada saat itu Belgia sedang diduduki oleh bala tentara Jerman.[2]
Penerbangan
Dalam kisah ini ada satu pesawat terbang yang memainkan peranan utama dan memberikan keunggulan pada tim F.E.R.S. atas klaim meteorit yang jatuh di Samudra Arktik, yaitu pesawat Arado Ar 196 buatan Jerman.