Artikel ini berisi tentang bandara internasional di Batam. Untuk figur legendaris dari Pulau Bintan yang namanya dijadikan sebagai nama bandara ini, lihat Hang Nadim.
Bandar Udara Internasional Hang Nadim
Hang Nadim International Airportcode: en is deprecated
Sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan kota Batam dengan seluruh dunia, Bandara Hang Nadim beroperasi di area seluas 1.762 ha dengan luas terminal mencapai 30.000 m2. Dengan landasan pacu sepanjang 4.025 m dan lebar 45 m, menjadikan Bandara Hang Nadim sebagai bandara dengan landasan terpanjang di Indonesia dan nomor dua di Asia Tenggara.
Setiap harinya, Bandara Hang Nadim melayani rata-rata enam penerbangan. Kapasitas penumpang Bandara Hang Nadim ± 5 juta/tahun, dengan kapasitas saat jam puncak operasional mencapai ± 1.400 penumpang/hari.[3]
Sejarah
Pembukaan (11 Desember 1995–3 Juli 2019)
Bandar Udara Internasional Hang Nadim dibuka untuk umum dan dibuka penuh secara resmi dengan banyak kemeriahan oleh Presiden Republik IndonesiaSoeharto dengan ditandai oleh penandatanganan batu prasasti sebagai tanda resmi dibuka bandar udara internasional ikonik pertama di Kota Batam, dan Pulau Batam sejak pada Senin pagi, 11 Desember 1995.
Pangkalan Udara Hang Nadim (4 Juli 2019–sekarang)
Pada tanggal 4 Juli 2019, Pangkalan Udara Militer tipe C yang dibawah kendali Komando Operasi Udara I didirikan untuk memperkuat dan mengamankan wilayah NKRI. Pangkalan udara ini berbagi landasan pacu untuk penerbangan militer dengan penerbangan sipil di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, setelah sebelumnya bandara ini hanya melayani penerbangan militer selama 35 tahun.