Asparagus asparagoides adalah tanaman herba merambat yang termasuk keluarga Asparagaceae dan berasal dari wilayah AfrikaTimur dan Afrika Selatan. Meskipun kadang-kadang dibudidayakan sebagai tanaman hias, spesies ini telah menjadi gulma lingkungan yang signifikan di Australia dan Selandia Baru. Tanaman ini umumnya dimanfaatkan dalam rangkaian bunga atau sebagai hiasan interior rumah.
Deskripsi
Asparagus asparagoides berkembang sebagai tanaman herba merambat dengan kebiasaan memanjat atau merambat, yang dapat mencapai panjang hingga 3 meter.[2] Tanaman ini memiliki struktur seperti daun berwarna hijau mengkilap yang sebenarnya merupakan batang pipih, bukan daun sejati, dengan panjang hingga 4 cm dan lebar sekitar 2 cm.[3] Bunga putih berbentuk liontin muncul pada musim dingin hingga musim semi, dari Juli hingga September. Tanaman ini juga memiliki rimpang yang mengandung umbi berukuran hingga 6 cm kali 2 cm.[2]
Persebaran
Tanaman ini tersebar di seluruh wilayah Afrika tropis, menjangkau selatan hingga Namibia, serta terdapat di daerah fynbos di Afrika Selatan sampai sejauh selatan Cape Town.[2] Selain itu, spesies ini telah dinaturalisasi di beberapa wilayah California selatan dan Australia, yang di sana tanaman ini dikategorikan sebagai tanaman invasif.[4][5][6]
Invasi
Asparagus asparagoides merupakan salah satu gulma utama di Australia selatan dan Selandia Baru. Di Australia, spesies ini tercatat sebagai Gulma Signifikansi Nasional. Tanaman ini diperkenalkan dari Afrika Selatan sekitar tahun 1857 untuk dijadikan tanaman dedaunan, terutama dalam karangan bunga pengantin, yang menjadi asal nama umumnya. Namun, tanaman ini kemudian menyebar ke semak-semak liar, menutupi vegetasi asli dengan dedaunan yang tebal dan tikar umbi bawah tanah yang padat, sehingga menghambat pertumbuhan akar spesies lain. A. asparagoides diakui sebagai salah satu dari 20 gulma dengan signifikansi nasional. Penyebaran benihnya mudah terjadi melalui kotoran burung, kelinci, rubah, serta melalui tanaman yang memperluas sistem akarnya.[7]Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation atau CSIRO telah memperkenalkan beberapa kontrol biologis dalam upaya untuk mengurangi penyebaran dan dampak dari tanaman ini.[8]
Di Selandia Baru, Asparagus asparagoides tercatat dalam Kesepakatan Tanaman Hama Nasional Selandia Baru dan dikategorikan sebagai "organisme yang tidak diinginkan".[9]