Puyuh gonggong taiwan (Arborophila crudigularis) adalah spesies burung dalam famili Phasianidae. Burung ini hanya ditemukan (endemik) di Taiwan dan habitat aslinya adalah hutan berdaun lebar, terutama di pegunungan bagian tengah dan timur.[1] Burung ini merupakan satu-satunya puyuh gonggong (genus Arborophila) di negara tersebut.[2]
Meski puyuh gonggong taiwan memiliki wilayah sebaran yang kecil, tetapi mereka tidak dipandang terancam. Ukuran populasi mereka mungkin cukup kecil hingga besar, tetapi diperkirakan tidak mendekati ambang batas rentan.[3] Pada Juni 2025, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menggolongkannya sebagai spesiesrisiko rendah.[4]
Deskripsi
Burung ini memiliki ukuran rata-rata 27-28 cm dengan berat bisa mencapai 311 gram (jantan)[5] dan 212 gram (betina).[1] Bentuk fisiknya seperti bola dengan corak bulu yang halus. Tubuh bagian atasnya berwarna abu-abu zaitun dengan garis-garis hitam dan tiga garis abu-abu pada sayap bundarnya yang berwarna merah karat. Mahkota mereka berwarna abu-abu, dan kepala mereka memiliki sisi-sisi hitam, alis, dagu, dan bercak-bercak putih di bawah mata. Selain itu, tenggorokan mereka berwarna putih, dan mereka memiliki setengah kerah hitam. Paruh mereka berwarna biru-abu-abu, kaki mereka berwarna oranye-merah, dan mata mereka berwarna hitam. Burung betina berukuran lebih kecil dan memiliki lebih banyak bintik putih di bagian bawah.[5] Tanda wajah pada betina sedikit lebih lemah daripada jantan. Mereka mengeluarkan kicauan yang keras dan menggema, biasanya di pagi hari dan sore hari. Umumnya pemalu tetapi mudah didekati jika terbiasa dengan tempat makan.[3][2]
Habitat dan ekologi
Burung puyuh ini dapat ditemukan di ketinggian 700–3.000 m (2.300–9.800 kaki) di atas permukaan laut, terutama di ketinggian 1.500–2.000 m (4.900–6.600 kaki).[1] Mereka menyukai semak belukar dan semak belukar lembap di hutan cemara berdaun lebar, mencari makan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2-3 ekor burung. Makanan mereka meliputi cacing tanah, biji-bijian, buah buni, bibit tanaman, daun, dan serangga. Mereka berkembang biak pada bulan Maret-Agustus dan bertelur sebanyak 6-8 butir.[3]
Ancaman
Ada dugaan populasi burung ini menurun akibat hilangnya hutan untuk ekstraksi kayu dan konversi menjadi lahan pertanian, dan mungkin juga karena penggunaan pestisida.[3]