ENSIKLOPEDIA
Antisemitisme zionis
Antisemitisme zionis atau zionisme antisemit merujuk pada fenomena di mana pembenci Yahudi (antisemit) menyatakan dukungannya terhadap zionisme dan Negara Israel. Dalam beberapa kasus, dukungan ini mungkin didorong untuk alasan antisemit yang eksplisit. Dalam sejarahnya, jenis antisemitisme ini paling menonjol di kalangan zionis Kristen yang mengadopsi antisemitisme religius sembari secara terang-terangan mendukung pendudukan Yahudi di Palestina karena penafsiran mereka terhadap eskatologi Kristen. Pun demikian orang-orang dari spektrum politik sayap kanan, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat, mendukung gerakan zionis karena usaha mereka menendang orang Yahudi keluar dari negaranya dan melihat zionisme sebagai metode yang paling mudah (dibandingkan dengan pembersihan etnis atau genosida) untuk mencapai tujuan ini sehingga memenuhi hasrat antisemitisme rasial mereka.[1]
Upaya kolaborasi pemerintah Israel dengan politikus antisemit di luar negeri telah dikritik oleh para antizionis sebagai manifestasi antisemitisme zionis, karena ini berupaya menyoroti kebencian terhadap Yahudi untuk mendorong migrasi Yahudi ke negara haram mereka. Dalam konteks ini, para antizionis telah mengkritik dugaan keterlibatan gerakan zionis dengan atau penyerahan diri pada antisemitis sejak gerakan itu mulai berkembang pada abad ke-19, dan beberapa antizionis juga telah mengkategorikan zionisme sebagai jenis antisemitisme.
Latar belakang
Stereotip rasial cenderung memberikan perspektif Eropa tentang orang Yahudi, gagasan yang tidak hanya mengklaim ada ciri-ciri fisik khusus yang membedakan orang Yahudi dari orang lain, seperti kulit yang lebih gelap, hidung besar, rentan terhadap penyakit atau pincang dan sejenisnya,[2] tetapi juga bahwa mereka tidak memiliki akar dan merupakan kehadiran yang merusak di dunia Barat. Gelombang emigrasi besar-besaran ke arah barat oleh orang Yahudi Eropa Timur (dikenal sebagai Ostjuden dalam bahasa Jerman), yang dipicu oleh berulangnya pogrom di seluruh Eropa Timur sejak tahun 1880-an dan seterusnya, tidak hanya memunculkan prasangka dalam masyarakat di mana komunitas Yahudi mapan dan berasimilasi,[3] tetapi juga diterima oleh orang Yahudi sendiri, di mana itu dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari jati diri Yahudi.[4][5] Untuk memperumit masalah, stereotip Yahudi Eropa, terutama Jerman, tentang Ostjuden ini sering dimanfaatkan oleh antisemit sebagai dukungan atas prasangka mereka.[6] Stereotip antisemit ini memengaruhi persepsi kaum Yahudi dalam zionisme, dan dibuktikan juga dalam tulisan-tulisan para pembuat opini publik zionis perdana.[7]
Zionisme awal
Menurut akademisi Yordania Joseph Massad, yang menulis di Middle East Eye, ada kaitan sejarah antara gerakan zionis dan antisemit, seperti yang diakui oleh pendiri zionisme modern Theodor Herzl, keduanya memiliki setidaknya satu tujuan dasar: negasi terhadap Diaspora.[8] Sejak pertengahan tahun 1895, Herzl menggambarkan harapannya bahwa dalam mendukung emigrasi orang Yahudi, "antisemit akan menjadi teman yang paling dapat kita andalkan, negara-negara antisemit menjadi sekutu kita".[9]
Dalam membangun citra mereka tentang "Yahudi baru" atau "Ibrani", para zionis awal membandingkan citra ini dengan Yid, karikatur negatif orang Yahudi Eropa. Dalam melakukannya, mereka menggunakan istilah bernuansa antisemit. Misalnya, sarjana Yahudi-Rusia Zeev Jabotinsky, pencetus zionisme revisionis pada abad ke-20 menulis:
Yang kita harus lakukan pertama kali adalah menerima ciri khas Yid yang ada saat ini lalu membayangkan kebalikannya ... karena orang Yahudi itu jelek, sakit-sakitan, dan kurang sopan, kita akan memberikan gambaran ideal orang Ibrani dengan kerupawanan maskulin. Orang Yahudi diinjak-injak dan mudah takut, oleh karena itu, orang Ibrani harus bangga dan mandiri. Orang Yahudi dibenci oleh semua orang, oleh karena itu, orang Ibrani harus disukai semua orang. Orang Yahudi mudah tunduk, oleh karena itu, orang Ibrani harus belajar cara memerintah. Orang Yahudi ingin menyembunyikan identitasnya dari orang asing, oleh karena itu, orang Ibrani harus menatap dunia langsung dengan matanya dan bersorak: "Saya orang Ibrani!"[10]
Akademisi Amerika Amy Kaplan, yang menulis di MondoWeiss, mengatakan bahwa "antisemitisme dan prozionisme tidak pernah sepenuhnya eksklusif. Para pendukung negara Yahudi menggunakan stereotip tentang orang Yahudi – secara sadar atau tidak – untuk mendorong tujuan mereka. Herzl sendiri meyakinkan para pemimpin Eropa bahwa zionisme akan menjawab 'Persoalan Yahudi' dengan cara mengirim orang Yahudi ke tempat lain".[11] Dalam tulisannya untuk International Socialist Review, Annie Levin berpendapat bahwa tulisan Theodor Herzl, Max Nordau, dan pemikir zionis Eropa mula-mula lainnya "dipenuhi dengan deskripsi tentang orang Yahudi Eropa sebagai parasit, penyakit sosial, kuman, orang asing"...dan dia juga berpendapat bahwa pandangan antisemit ini "mengalir secara logis dari pandangan mendasar zionisme tentang orang Yahudi. Para zionis menerima pandangan abad ke-19 bahwa antisemitisme–bahkan semua perbedaan ras–merupakan ciri bawaan permanen dari sifat manusia. Karena alasan ini, tidak ada gunanya berjuang melawannya." Levin mengatakan bahwa orang Yahudi sering kali "memusuhi zionisme" karena gerakan tersebut karena "menyarankan penyerahan dalam perjuangan melawan antisemitisme."[12]
Dalam bukunya Conspiracy, sejarawan Amerika Daniel Pipes mencatat bahwa "sebagian antisemit mendukung negara Yahudi sebagai cara untuk mengurangi populasi Yahudi di tengah-tengah mereka." Pipes menyebutkan jurnalis Jerman Wilhelm Marr, agitator pembenci Yahudi yang menciptakan istilah "antisemitisme", sebagai contoh awal dari "antisemit prozionis". Marr mendukung migrasi orang Yahudi dari Eropa ke Palestina karena menguntungkan bagi orang Yahudi-Jerman maupun antisemit di Jerman. Pipes menggambarkan jenis antisemitisme ini kurang umum dibandingkan dengan antisemitisme konspirasi atau antizionis.[13]
Menurut ahli teori politik Michael Walzer, antizionis pertama pada abad ke-19 adalah para pemuka Yahudi Ortodoks yang percaya bahwa zionisme merupakan ideologi sesat; mereka berpendapat bahwa kembalinya orang Yahudi ke Tanah Israel dan pembentukan negara hanya akan terjadi setelah kedatangan Mesias dan hingga masa itu orang Yahudi harus menerima kenyataan hidup dalam pengasingan dan tunduk kepada penguasa non-Yahudi sambil menantikan penebusan. Kalangan zionis, yang umumnya sekuler, membenci kepasifan yang dianut orang Yahudi Ortodoks "dengan penuh semangat" sehingga mereka disebut sebagai antisemit oleh kaum antizionis Ortodoks.[14] Misalnya, pada tahun 1918, rabi antizionis Hongaria Baruch Meir Klein, Presiden Dewan Rabi New York, mengatakan bahwa "Goyyim di Amerika membiarkan kita menjadi orang Yahudi. Mereka tidak merusak Talmud dan Taurat kita. Mereka tidak mereformasi sekolah kita... Mereka tidak mengejek orang Yahudi yang pergi ke Mikveh atau Kloppen Hoyshaness... Sudah cukup bagi saya untuk berada di Galuth (disapora) bersama Goyyim. Saya tidak perlu berada [di Eretz Israel], di Galuth yang dipimpin Yahudi yang adalah zionis antisemit."[15]
Kesimpulan serupa juga diyakini di ujung spektrum politik Yahudi yang berlawanan, oleh beberapa tokoh liberal Yahudi. Misalnya, politikus Yahudi-Inggris dari Partai Liberal Edwin Samuel Montagu, satu-satunya menteri Yahudi di kementerian Lloyd George dan seorang antizionis yang lantang, "sangat menentang deklarasi [Balfour] dengan alasan bahwa... itu adalah penyerahan diri kepada kefanatikan antisemit, dengan usulannya bahwa Palestina adalah tujuan alamiah orang Yahudi".[16]
Penulis antizionis Yahudi-Austria Karl Kraus menganggap antisemitisme sebagai "esensi" dari gerakan zionis dan menggunakan label "antisemit Yahudi" untuk menggambarkan orang Yahudi yang mengidentifikasi diri sebagai zionis.[17] Ia mengecam orang-orang Yahudi-Jerman pembenci diri, dan mendapatkan ketenaran pada pergantian abad kedua puluh berkat pamfletnya A Crown for Zion dan Die demolierte Literatur (Sastra yang Dihancurkan). Dalam karya pertama, ia menyindir apa yang ia lihat sebagai aspek-aspek kebencian diri dalam masyarakat Yahudi Jerman dan zionisme Jerman, sementara dalam karya kedua, ia mengolok-olok beberapa anggota kelompok sastrawan di Wina. Dalam A Crown for Zion, Kraus menyatakan bahwa dalam upaya berasimilasi, orang-orang Yahudi Jerman telah menyerap stereotip dan kepercayaan bernuansa rasialis yang menyebar luas dalam masyarakat Jerman. Ia menggambarkan kaum zionis asimilasionis, dan khususnya Herzl, sebagai "antisemit Yahudi" yang senada dengan "antisemit Arya" karena keinginan mereka yang sama, yaitu untuk menghalau orang-orang Yahudi dari budaya Eropa.[18]
Dalam tulisannya untuk Socialist Worker pada tahun 2017, Sarah Levy menegaskan bahwa petinggi zionis awal "bermitra dengan kelas penguasa Inggris yang sangat antisemit untuk mengamankan pendanaan bagi proyek pendudukan mereka di Palestina".[19]
Dalam opini editorial tahun 2013 untuk Al Jazeera English, Joseph Massad menyatakan bahwa "Klaim Israel bahwa Israel mewakili dan berbicara atas nama semua orang Yahudi adalah klaim yang paling antisemit dari semuanya." Massad mengatakan bahwa "para penentang zionisme Yahudi" memahami bahwa orang-orang Eropa non-Yahudi "memiliki pandangan antisemitisme yang sama" dan bahwa kaum zionis dan antisemit memiliki keyakinan yang sama tentang "pengusiran orang-orang Yahudi dari Eropa." Massad mengatakan bahwa sebagian besar orang Yahudi Eropa sebelum Perang menolak "dasar antisemit dari zionisme", sementara negara-negara Eropa pada umumnya mendukung "program antisemit zionisme".[20][21][22]
Di Israel
Rasisme antara sesama Yahudi jamak terjadi di Israel.[23][24][25][26]
Pada tahun 2023, sebuah video beredar di media sosial yang memperlihatkan seorang aktivis partai Likud Itzik Zarka meneriakkan "semoga kalian terbakar di neraka" kepada para pengunjuk rasa penentang reformasi peradilan dan tidak menghormati korban Holokaus karena berujar "Saya bangga akan enam juta orang yang terbakar, dan saya berharap enam juta lainnya terbakar" sembari juga menuding kaum kiri sebagai pengkhianat.[27][28][29] Zarka kemudian dipecat dari partai atas perintah PM Benjamin Netanyahu, meski keanggotaannya akhirnya dipulihkan.[30]
Pada tahun 2025, pemerintah Israel menggelar konferensi tentang antisemitisme di Yerusalem. Konferensi tersebut memicu kontroversi karena mengundang politikus sayap kanan Eropa yang dikenal antisemit, rasis, dan menyangkal Holokaus. Presiden Kongres Yahudi Eropa (EJC), Ariel Muzicant, mencirikan undangan terhadap politikus sayap kanan sebagai "tikaman dari belakang" terhadap komunitas Yahudi Eropa dan menuduh pemerintah Israel "membantu musuh-musuh kita".[31] Mantan presiden EJC Michel Friedman, menyatakan bahwa "Tidak seorang pun yang mengadakan konferensi menentang antisemitisme dan pada saat yang sama mengundang antisemit yang menyebarkan racun prasangka dan kebencian." Beberapa individu dan organisasi mengundurkan diri dari konferensi sebagai bentuk protes, termasuk Jonathan Greenblatt dari Liga Anti-Fitnah (ADL) dan filsuf Bernard-Henri Lévy.[32] Mantan kepala ADL Abraham Foxman menyatakan bahwa undangan tersebut melegitimasi "partai politik neofasis otoriter" dan menuduh pemerintah Israel mengabaikan tugasnya untuk "membela orang Yahudi di seluruh dunia".[33]
Di Amerika Serikat
Di AS, kalangan Yahudi sayap kiri dan lainnya menuduh kaum zionis arus utama melayangkan tuduhan antisemitik terhadap kaum Yahudi progresif dan bersekutu dengan kaum antisemit dari kalangan Kristen dan konservatif.
Austin Ahlman dari The Intercept mengatakan bahwa organisasi zionis Democratic Majority for Israel (DMFI) menggunakan kiasan antisemit selama pemilihan umum 2020 setelah DMFI merilis iklan serangan yang mengkritik politikus Yahudi progresif asal California, Sara Jacobs. Iklan tersebut menekankan latar belakang Jacobs yang kaya, menggambarkan "kekayaan dan kehidupan istimewanya" yang berbeda dari orang Amerika biasa. The Intercept mengatakan bahwa "citra dan bahasa yang digunakan oleh banyak iklan tersebut mengingatkan pada kiasan antisemit yang umum", dengan mencatat bahwa DMFI sebelumnya mendukung kandidat non-Yahudi yang juga kaya. Rachel Rosen, juru bicara DMFI, membantah tudingan bahwa iklan tersebut bersifat antisemit.[34]
Pada bulan Agustus 2022, organisasi Yahudi sayap kiri IfNotNow mencuit bahwa AIPAC merupakan antisemit setelah AIPAC mengatakan bahwa "George Soros memiliki sejarah panjang dalam mendukung kelompok anti-Israel" dan bahwa "J Street & Soros berupaya melemahkan" pendukung Demokrat pro-Israel. IfNotNow mencuit bahwa AIPAC bukanlah organisasi Yahudi, tidak mewakili orang Yahudi, dan dianggap mempromosikan teori konspirasi antisemit tentang Soros, AIPAC telah menjadi bagian dari "kaum kanan ekstrem antisemit."[35]
Pawai untuk Israel, yang diadakan di Washington D.C. pada bulan November 2023, menghadirkan pendiri Christians United for Israel dan pendeta Evangelis John Hagee sebagai pembicara sementara tiada rabi Yahudi yang menjadi pembicara.[36] Hagee telah memicu kontroversi di masa lalu karena mengklaim bahwa orang Yahudi bertanggung jawab atas Holokaus karena "tidak patuh" pada Tuhan, bahwa Tuhan mengutus Adolf Hitler, dan bahwa Hitler berdarah Yahudi.[37] Para kritikus, termasuk organisasi Yahudi progresif, mengecam kehadiran Hagee. Rabi Jill Jacobs dari T'ruah mencuit bahwa ia dan anggota lain dari Progressive Israel Network percaya bahwa "dukungan Hagee terhadap Israel didasarkan pada antisemitisme."[38] Menulis untuk MondoWeiss, Rabi Jessica Rosenberg dan Pendeta Allyn Maxfield-Steele menulis bahwa kehadiran Hagee "sepenuhnya dapat diprediksi... oleh mereka yang telah menyadari persekongkolan lama antara zionis dan antisemit" dan bahwa dukungan terhadap Israel tidak serta merta menjadikan seseorang sahabat bagi orang Yahudi.[39]
Antisemitisme sayap kanan dan zionis Kristen
Atalia Omer menulis bahwa aktivis muda Israel "semakin menyadari bahwa keselamatan mereka bergantung pada keterkaitan perjuangan melawan antisemitisme dengan perjuangan keadilan sosial lainnya", dengan menyebutkan orang-orang seperti B'Tselem yang, "selama bertahun-tahun telah mengecam penggunaan antisemitisme sebagai senjata." Omer mengatakan bahwa "suara-suara kritis ini dibungkam dalam rezim ideologis yang mengakar yang diwakili oleh IHRA saat ia menyatu dengan antisemitisme nasionalis kulit putih dan zionis Kristen."[40]
Teroris domestik sayap kanan Norwegia Anders Behring Breivik adalah seorang neo-Nazi antisemit dan pendukung kuat Negara Israel. Filsuf Slovenia Slavoj Žižek menggambarkan ideologi Breivik sebagai "versi ekstrem" dari "antisemitisme zionis", dengan menulis bahwa Breivik "antisemit, tetapi pro-Israel" karena menurut pandangan Breivik, negara Israel adalah "garis pertahanan pertama melawan ekspansi Muslim". Žižek mencatat bahwa Breivik percaya bahwa Prancis dan Inggris memiliki "masalah Yahudi" karena populasi Yahudi mereka yang besar, sedangkan negara-negara Eropa Barat lainnya tidak, dan menggambarkan hal ini sebagai keyakinan Breivik bahwa "kehadiran orang Yahudi di diaspora boleh-boleh saja asalkan jumlahnya tidak terlalu banyak".[41] Jurnalis Michelle Goldberg menyebut Breivik sebagai "zionis yang bersemangat" yang "tidak memiliki apa-apa selain rasa jijik terhadap sejumlah besar orang Yahudi", dengan menyatakan bahwa "pelukannya terhadap Israel...jauh dari sesuatu yang unik, hanya merupakan gejala terbaru" bahwa "dalam konteks politik Eropa, fasisme dan zionisme yang agresif semakin sejalan." Goldberg menyebut Islamofobia sebagai persamaan antara Israel dengan "nasionalis kulit putih Eropa".[42]
Ketika perang Gaza sedang berlangsung, sejarawan Stephen F. Eisenman dari Universitas Northwestern, menulis di majalah CounterPunch bahwa adalah keliru untuk menyamakan semua bentuk antzionisme dengan antisemitisme, baik karena keberadaan Yahudi antizionis termasuk dirinya maupun "keberadaan zionis yang antisemit". Eisenman menyebutkan Alfred Balfour, Viktor Orbán, Vladimir Putin, Glenn Beck, Richard Spencer, dan Donald Trump sebagai contoh "zionis antisemit".[43]
Keinginan untuk mengusir diaspora Yahudi
Richard S. Levy, seorang sarjana antisemitisme, menulis bahwa "Antisemit tentu saja menganggap zionisme berguna" karena zionisme memberikan para "zionis antisemit" pembenaran mengapa orang Yahudi yang tinggal di diaspora harus diusir dari tempat mereka tinggal selama berabad-abad. Emigrasi paksa ke Tanah Israel didukung oleh para antisemit karena memberi mereka "solusi untuk masalah Yahudi".[44]
Arthur James Balfour menentang mandat Inggris atas Palestina, tetapi mendukung zionisme sebagai metode untuk mengurangi "entitas asing" Yahudi di masyarakat non-Yahudi, yang kehadirannya dianggap mengancam stabilitas.[45] Penulis Bari Weiss menganggap Balfour sebagai contoh zionis antisemit; meskipun Balfour berperan penting dalam menetapkan pembentukan entitas zionis, ia melakukannya karena ia tidak ingin orang-orang Yahudi yang beremigrasi dari Eropa Timur, yang banyak di antaranya melarikan diri dari pogrom, untuk berimigrasi ke Inggris. Weiss mengutip dukungan Balfour terhadap Aliens Act 1905, yang membatasi imigrasi Yahudi ke Inggris, sebagai bukti sikap antisemitnya.[46]
Pemerintah Polandia tahun 1930-an mendukung imigrasi Yahudi ke Israel karena alasan yang mirip dengan Balfour. Pemerintah Polandia selama periode ini adalah pendukung setia gerakan zionis, sambil juga menerapkan berbagai kebijakan dalam negeri yang semakin antisemit. Pemerintah Polandia secara aktif mendorong emigrasi ke Mandat Palestina karena akan secara efektif mengurangi populasi Yahudi-Polandia. Sejarawan Emanuel Melzer menulis bahwa sikap pemerintah Polandia terhadap zionisme dan emigrasi Yahudi "menunjukkan bahwa orang Yahudi adalah elemen yang berlebihan, asing, dan bahkan merusak" dan bahwa sikap ini "mungkin berdampak pada perlakuan sebagian penduduk Polandia terhadap orang Yahudi selama perang", tetapi mengakui bahwa Holokaus itu sendiri tidak hanya ditimbulkan oleh meningkatnya antisemitisme di Polandia antara tahun 1936 dan 1939.[47] Selama tahun 1920-an dan 1930-an, Serikat Buruh Umum Yahudi di Polandia secara vokal mengkritik zionisme antisemit ini. Mereka menerbitkan materi kampanye pemilihan umum termasuk istilah "zionis antisemit" dan "antisemit zionis", dengan alasan bahwa promosi emigrasi oleh zionis dengan bekerja sama dengan pemerintah Polandia justru memperkuat elemen antisemit dalam masyarakat Polandia itu sendiri.[47]
Jurnalis Yahudi-Prancis Alain Gresh mencatat bahwa politkus sayap kanan antisemit dan kaki tangan Nazi Xavier Vallat mengatakan bahwa "orang Yahudi tidak akan pernah berintegrasi ke Prancis dan mereka harus pergi ke Israel."[48] Dosen Universitas Glasgow Timothy Peace telah mencatat bahwa beberapa anggota sayap kanan Prancis dapat dianggap sebagai "zionis antisemit", karena mereka menginginkan orang Yahudi pindah ke Israel.[49]
Kaum ekstrem kanan AS
Umat Kristen Evangelikal sayap kanan di Amerika Serikat sering kali secara vokal mendukung zionisme, tetapi juga menunjukkan kebencian terhadap umat Yahudi. Umat Kristen konservatif merupakan salah satu pendukung terkuat Negara Israel di Amerika Serikat. Dengan 7,1 juta anggota, Christians United for Israel (CUFI) merupakan organisasi zionis terbesar di Amerika Serikat. Banyak zionis Kristen percaya bahwa pengumpulan orang Israel merupakan prasyarat bagi kedatangan kedua Mesias Kristen, yang setelahnya sebagian orang Yahudi akan bertobat dan mayoritas orang Yahudi akan mati dan dikutuk masuk neraka.[11] Ben Lorber dan Aidan Orly, yang menulis di Religion Dispatches, telah menggambarkan zionisme Kristen sebagai "salah satu gerakan antisemit terbesar di dunia saat ini".[50] Penulis Haaretz Joshua Shanes mengecam pendiri CUFI John Hagee karena mempromosikan "pandangan dunia yang apokaliptik dan sangat antisemit" dan mempromosikan beberapa "mitos paling berbahaya di era modern." Hagee telah mempromosikan teori konspirasi tentang keluarga Rothschild yang mengendalikan cadangan keuangan federal, mengatakan bahwa Hitler diutus oleh Tuhan untuk membunuh orang Yahudi yang menolak pindah ke Israel, dan menggambarkan Antikristus sebagai "seorang homoseksual keturunan setengah Yahudi."[51] Slavoj Žižek juga menggambarkan John Hagee dan Glenn Beck sebagai contoh "zionis antisemit" fundamentalis Kristen.[52] Žižek menambahkan bahwa zionisme sendiri telah "secara paradoks berubah menjadi antisemitisme" karena gerakan tersebut mempromosikan kebencian terhadap orang Yahudi penentang zionisme dengan menuduh mereka sebagai antisemit." Žižek mencontohkan bagaimana seorang Yahudi antizionis difitnah sebagai "orang Yahudi yang membenci diri sendiri" oleh puak zionis sebagai salah satu bentuk antisemitisme zionis.[53]
Para pemimpin dan organisasi zionis di AS telah dikritik secara luas, khususnya oleh golongan kiri Yahudi, karena dianggap meremehkan parahnya antisemitisme di Amerika Serikat dan karena dugaan keterlibatan dengan pemerintahan Trump untuk mengejar cita-cita zionis yang pro-Israel. Atalia Omer, seorang profesor agama di Universitas Notre Dame, telah menulis bahwa "bungkamnya Israel terhadap nasionalisme kulit putih dan pembenaran implisit atau eksplisitnya terhadap zionis antisemit" telah meyakinkan banyak orang Yahudi Amerika bahwa pemerintah Israel tidak menjaga keamanan orang Yahudi dan secara aktif membahayakan orang Yahudi yang tinggal di diaspora.[54] Sarah Levy mengkritik Morton Klein, presiden Organisasi Zionis Amerika (ZOA), di majalah Jacobin karena "diam seribu bahasa" tentang antisemitisme di masa pemerintahan Trump.[19] ZOA dibanjiri pesan dari para pendukung yang marah menyusul dukungan ZOA untuk Steve Bannon beserta pernyataan Klein bahwa Bannon tidak mungkin seorang antisemit karena "Dia kebalikan dari seorang antisemit. Dia adalah filosemit."[19][55][56] Natasha Roth-Rowland dari +972 Magazine mengatakan bahwa "bangkitnya antisemitisme zionis sebagai perilaku standar di antara sebagian besar pemilih Partai Republik dan ekosistemnya telah menjadi ciri khas pandangan dan modus operandi sayap kanan Amerika."[57]
Pada tahun 2017, Judith Butler mengecam manifestasi antisemitisme zionis dalam pemerintahan Trump. Butler menulis bahwa Bannon adalah seorang "zionis yang kuat" dan bahwa "antisemitismenya tampaknya tidak menghalangi dukungannya terhadap negara Israel, dan bahwa para pendukungnya di pemerintahan Israel tampaknya tidak keberatan." Butler berpendapat bahwa zionisme antisemit sayap kanan merupakan wajah lain dari supremasi kulit putih, di mana kelas penguasa Ashkenazi kulit putih di Israel membuat aliansi dengan politikus sayap kanan di negara lain atas dasar kesamaan pandangan rasisme anti-Arab, anti-Palestina, dan anti-Islam.[58]
Pada tahun 2019, jurnalis Yahudi-Amerika kelahiran Rusia Masha Gessen menggambarkan Donald Trump sebagai "antisemit prozionis". Gessen mencatat bahwa pemerintahan Trump telah menjalankan kebijakan pro-Israel sambil juga menyebarkan stereotip Yahudi, seperti pidato yang disampaikan Trump di KTT Nasional Dewan Israel-Amerika di mana ia menyatakan bahwa "Banyak dari Anda berkecimpung dalam bisnis real estat karena saya mengenal Anda dengan sangat baik...Anda adalah pembunuh yang brutal, sama sekali bukan orang baik." Menyebut komentar Trump sebagai "antisemitisme yang jelas dan mudah dikenali", Gessen mengatakan bahwa Trump memandang orang Yahudi Amerika sebagai "makhluk asing yang ia kaitkan dengan negara Israel."[59][60]
Jurnalis liberal Peter Beinart mengatakan bahwa antisemitisme zionis kemungkinan sedang meningkat di Amerika Serikat dan tidak jelas apakah kaum zionis cenderung tidak menyimpan sentimen antisemit dibandingkan dengan kaum antizionis. Menurut Beinart, "Sangat mudah untuk menemukan sentimen antisemitisme di antara orang-orang yang, jauh dari memusuhi zionisme, justru dengan antusias memeluknya."[61]
Selama penyerbuan Gedung Kapitol 2021 di tanggal 6 Januari, berapa penyerang mengibarkan bendera Israel. Dalam konteks ini, sejumlah organisasi termasuk Adalah Justice Project, Jewish Voice for Peace, dan Students for Justice in Palestine membuat unggahan media sosial yang menunjukkan adanya hubungan antara ideologi zionisme dan ekstremisme sayap kanan yang antisemit. Liga Anti-Ftinah (ADL) menggambarkan komentar-komentar ini sebagai bagian dari upaya yang muncul di kalangan aktivis anti-Israel untuk mengaitkan "bendera Israel dengan supremasi kulit putih, rasisme, kolonialisme pemukim, kekerasan, dan banyak lagi". ADL membantah kaitan ini dan mencatat bahwa organisasi yang mempromosikan tautan tersebut tidak menyebutkan berbagai macam bendera lain yang ada pada serangan Capitol, termasuk bendera Kanada, Kuba, Georgia, India, Korea Selatan, dan Vietnam Selatan.[62][63]
Sejarawan David N. Myers menulis bahwa "Para nasionalis kulit putih terkemuka seperti Richard B. Spencer dan Jared Taylor menyamakan gerakan mereka dengan zionisme, melihatnya sebagai model untuk jenis kemurnian monoetnis yang mereka kehendaki di [Amerika Serikat]." Myers menyatakan bahwa "kombinasi sikap pro-Israel dan antisemit" umum terjadi dalam politik Amerika karena pengaruh gabungan dari "umat Kristen Evangelis sayap kanan dengan teologi tujuan akhirnya", umat Katolik yang "sangat konservatif", dan ideologi politik Donald Trump.[64] Atalia Omer menandai "titik temu antara kekerasan supremasi kulit putih dan politik eksklusif sering kali muncul dalam bentuk antisemitisme zionis", menyebut "zionisme kulit putih" Richard Spencer sebagai contohnya.[65]
Ben Lorber, yang menulis untuk +972 Magazine, berpendapat bahwa dukungan nasionalis kulit putih Amerika terhadap "nilai-nilai supremasi negara Yahudi sangat cocok dengan antisemitisme yang mendalam" dan bahwa "zionisme Kristen yang filosofis membawa arus bawah anti-Yahudi yang dalam." Lorber menyebut fenomena zionisme sayap kanan yang sangat cocok "dengan arus antisemitisme yang membara" sebagai "zionisme antisemit".[66] Mengomentari dukungan Breitbart News yang terang-terangan terhadap zionisme pada tahun 2016, Steven M. Cohen, sosiolog di Hebrew Union College-Jewish Institute of Religion, mengatakan bahwa hubungan antara antizionisme dan antisemitisme cenderung lemah, meski sentimen antisemitisme dapat ditemukan di kalangan antizionis kiri maupun zionis kanan. Todd Gitlin, sosiolog di Universitas Columbia, mengatakan bahwa zionisme sayap kanan dan antisemitisme "memiliki jiwa yang sama... keduanya seirama" karena sama-sama merupakan turunan dari ultranasionalisme.[67]
Kepercayaan bahwa zionisme secara umum bersifat antisemit
Joseph Massad percaya bahwa pencampuradukan arti orang Yahudi dengan zionisme oleh zionis telah menjadi "konsensus antisemit" global.[68]
Pada tahun 2023, menurut organisasi zionis StandWithUs, profesor psikologi Universitas George Washington Lara Sheehi mengatakan bahwa zionisme sendiri bersifat antisemit;[69] ia menghadapi tuduhan antisemitisme (yang tidak didukung oleh universitasnya) atas komentar ini dan komentar lainnya.[70]
Referensi
- ↑ Beinart 2023.
- ↑ Gilman 2013.
- ↑ Aschheim 1982, hlm. 20–32, 37.
- ↑ Gilman 1993, hlm. 13–25,126–127.
- ↑ Gilman 1995, hlm. 43.
- ↑ Aschheim 1982, hlm. 31.
- ↑ Efron 2003, hlm. 259.
- ↑ Massad 2019.
- ↑ Theodor Herzl, Entry of June 12, 1895, The Complete Diaries Of Theodor Herzl, Volume I, halaman 83-84
- ↑ Rubinstein 2000.
- 1 2 Kaplan 2017.
- ↑ Levin, Annie (Juli–Agustus 2002). "The hidden history of Zionism". International Socialist Review (24).
- ↑ Pipes, Daniel (1997). Conspiracy: How the Paranoid Style Flourishes and Where It Comes From. New York: The Free Press. ISBN 9780684831312.
- ↑ Walzer, Michael (Musim gugur 2019). "Anti-Zionism and Anti-Semitism". Dissent.
- ↑ Greenberg, Gershon; גרינברג, גרשון (1985). "האורתודוכסיה האמריקנית ורעיון". Proceedings of the World Congress of Jewish Studies / דברי הקונגרס העולמי למדעי היהדות. ט. World Union of Jewish Studies / האיגוד העולמי למדעי היהדות: 125–132. ISSN 0333-9068. JSTOR 23529223.
- ↑ Hitchens 2004, hlm. 327.
- ↑ Reitter 2008, hlm. 79.
- ↑ Reitter 2008, hlm. 74–82.
- 1 2 3 Levy, Sarah (18 Maret 2017). "Ignoring Antisemitism's Threat". Jacobin.
- ↑ Massad, Joseph (21 Mei 2013). "Opinion: The last of the Semites". Al Jazeera English.
- ↑ Musa, Imad (21 May 2013). "Editor's Blog: In the Massad case, we should have done better". Al Jazeera.
- ↑ Winkler, Joe (22 Mei 2013). "Al-Jazeera publishes, pulls, then reposts Joseph Massad piece". Jewish Telegraphic Agency.
- ↑ Torstrick, Rebecca L., The limits of coexistence: identity politics in Israel, University of Michigan Press, 2000, p 32
- ↑ Madmoni-Gerber, Shoshana, Israeli media and the framing of internal conflict: the Yemenite babies affair, Macmillan, 2009, p 54-56
- ↑ Ruttenberg, Danya, Yentl's revenge: the next wave of Jewish feminism, p 178
- ↑ Littman, Shany (19 Mei 2023). "'In Some Respects, Mizrahi Identity in Israel Is Dominant, and Ashkenazi Jews Face Inequality'". Haaretz. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Januari 2024.
- ↑ "Likud seeks to oust member who said '6 million' anti-overhaul protesters should burn". The Times of Israel. 16 Juli 2023.
- ↑ Joffre, Tzvi (16 Juli 2023). "Likud activist distanced from party after saying 6 million more Ashkenazim should die". The Jerusalem Post (dalam bahasa Inggris).
- ↑ "Mocking Holocaust Victims Highlights Ethnic Tensions in Israel". Palestine Chronicle. 16 Juli 2023.
- ↑ "Likud court restores member who said '6 million more' Ashkenazim should burn". Times of Israel (dalam bahasa American English). 2023-09-22.
- ↑ "'Stab in the Back': European Jewish Leader Blasts Netanyahu Government for Embracing Far Right". Haaretz.
- ↑ "Israel's antisemitism conference kicks off amid criticism". Deutsche Welle.
- ↑ "ADL pulls out of Israeli conference on combating antisemitism". The Jerusalem Post.
- ↑ Ahlman, Austin (15 Mei 2022). "Jewish Progressives Sound the Alarm as Pro-Israel Groups Target Marginalized Communities". The Intercept.
- ↑ "In ridiculous claim, left-wing Jewish group calls AIPAC 'antisemitic'". The Jerusalem Post.
- ↑ "Jewish progressive groups fume over platforming of controversial pastor at pro-Israel DC rally". The Times of Israel.
- ↑ "March for Israel Rally Features Far-Right Pastor Who Once Blamed Jews for Holocaust". The New Republic. The New Republic.
- ↑ "Progressive Jews angered evangelical Pastor John Hagee will address Israel rally". The Forward. 14 November 2023.
- ↑ "The Jewish Federation is marching with Christian antisemites out of support for Israel". Mondoweiss. 14 November 2023.
- ↑ Omer 2021.
- ↑ Žižek 2011.
- ↑ Goldberg, Michelle (26 Juli 2011). "Norway Shooter Anders Breivik's Zionism in Line With Pro-Israel European Right". The Daily Beast.
- ↑ "More Reflections on the Current Mideast War". CounterPunch. 24 November 2023.
- ↑ Levy, Richard S., ed. (1991). Antisemitism in the Modern World: An Anthology of Texts. D.C. Heath. ISBN 978-066924340-6.
- ↑ Defries 2014, hlm. 52.
- ↑ Weiss 2019, hlm. 102.
- 1 2 Zimmerman 2003, hlm. 27.
- ↑ Gresh, Alain (22 Agustus 2017). "INTERVIEW: Alain Gresh: BDS reveals negative image of Israel". Middle East Eye (Interview). Diwawancarai oleh Mechaï, Hassina.
- ↑ "Un antisémitisme nouveau? The debate about a 'new antisemitism' in France" (PDF). European University Institute.
- ↑ Lorber, Ben; Orly, Aidan (27 April 2022). "Why did an antisemitic Christian Zionist have the chutzpah to declare that he'd be leading a Holocaust march?". Religion Dispatches.
- ↑ Shane, Joshua (22 Juni 2020). "Opinion: John Hagee Is A Muslim-Hating, Antisemitic, Annexationist Extremist. He's No Friend of Israel". Haaretz.
- ↑ Žižek 2012, hlm. 39.
- ↑ "Deconstructing Zionism: A Critique of Political Metaphysic". Universitas Notre Dame.
- ↑ Omer 2019, hlm. 242.
- ↑ "Opinion: Steve Bannon Is Bad for the Jews". The New York Times. 16 November 2017.
- ↑ "Opinion: An unlikely union: Israel and the European far right". Al Jazeera English. 17 Juli 2018.
- ↑ "An unholy alliance". +972 Magazine. 5 November 2020.
- ↑ Butler, Judith (2017). "Why Is Bannon's Antisemitism Considered Alright?". Jewish Social Studies. 22 (3): 182–185. doi:10.2979/jewisocistud.22.3.10. ISSN 0021-6704. JSTOR 10.2979/jewisocistud.22.3.10. S2CID 165074332.
- ↑ "The Real Purpose of Trump's Executive Order on Anti-Semitism". The New Yorker. Diakses tanggal 1 September 2022.
- ↑ "'Unabashedly Progressive, Unapologetically Zionist': How 'Progressive' Jewish Groups Enabled Trump's Executive Order". Palestine Chronicle. 17 Desember 2019.
- ↑ "Debunking the myth that anti-Zionism is antisemitic". The Guardian. 7 Maret 2019.
- ↑ "Anti-Israel Groups and Activists Link Capitol Hill Rioters with Israel and her Supporters". Anti-Defamation League. 13 Januari 2021.
- ↑ "The Anti-Israel Movement on U.S. Campuses, 2020-2021". ADL. 3 Mei 2022.
- ↑ Myers, David N. (2021). "The Perils of Naming: On Donald Trump, Jews, and Antisemites". Journal of Holocaust Research. 35 (2): 154–162. doi:10.1080/25785648.2021.1899511. S2CID 233731615. Diakses tanggal 1 September 2022 – via davidnmyers.com.
- ↑ "Video: The Politics of Defining: A Roundtable Discussion about the Jerusalem Declaration on Antisemitism". Harvard Divinity School. 17 Mei 2021.
- ↑ Lorber 2021.
- ↑ Zeveloff, Naomi (15 November 2016). "How Steve Bannon and Breitbart News Can Be Pro-Israel — and Anti-Semitic at the Same Time". The Forward.
- ↑ "The antisemitic deal of the century". Middle East Eye.
- ↑ "George Washington University Ignored Professor's Antisemitism, Says New Civil Rights Complaint". StandWithUs. 12 January 2023.
- ↑ "University clears anti-Zionist professor after discrimination claim". The Forward.
Sumber
- Aschheim, Steven E. (1982). Brothers and Strangers: The East European Jew in German and German Jewish Consciousness, 1800–1923. University of Wisconsin Press. ISBN 978-0-299-09110-1.
- Beinart, Peter (10 Januari 2023). "Antisemitic Zionists Aren't a Contradiction in Terms". Jewish Currents.
- Boyarin, Daniel (1997). Unheroic Conduct: The Rise of Heterosexuality and the Invention of the Jewish Man. University of California Press. ISBN 978-0-520-21050-9.
- Defries, Harry (2014). Conservative Party Attitudes to Jews 1900-1950. Routledge. ISBN 978-1-135-28469-5.
- Efron, Noah (2003). Real Jews: Secular Versus Ultra-Orthodox: The Struggle For Jewish Identity In Israel. Basic Books. ISBN 978-0-465-01854-3.
- Gilman, Sander (1993). The Case of Sigmund Freud. Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-4974-8.
- Gilman, Sander (1995). Franz Kafka: the Jewish Patient. Routledge. ISBN 0-415-91177-X.
- Gilman, Sander (2013) [Pertama kali diterbitkan 1991]. The Jew's Body. Routledge. ISBN 978-1-136-03878-5.
- Hitchens, Christopher (2004). Love, Poverty, and War: Journeys and Essays. The Nation. ISBN 1-56025-580-3.
- Kaplan, Amy (24 Februari 2017). "Opinion: History shows that anti-Semitism and pro-Zionism have never been mutually exclusive". Mondoweiss.
- Lorber, Ben (22 Januari 2021). "How the Israeli flag became a symbol for white nationalists". +972 Magazine.
- Massad, Joseph (15 Mei 2019). "Pro-Zionism and antisemitism are inseparable, and always have been". Middle East Eye.
- Omer, Atalia (2019). Days of Awe: Reimagining Jewishness in Solidarity with Palestinians. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-61607-0.
- Omer, Atalia (21 Januari 2021). "Weaponizing Antisemitism is Bad for Jews, Israel, and Peace". Universitas Notre Dame.
- Reitter, Paul (2008). The Anti-Journalist: Karl Kraus and Jewish Self-Fashioning in Fin-de-Siècle Europe. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-70972-7.
- Rubinstein, Amnon (2000). From Herzl to Rabin: The Changing Image of Zionism. Holmes & Meier. ISBN 978-0-841-91408-7 – via New York Times online archive.
- Weiss, Bari (2019). How to Fight Anti-Semitism. New York: Crown. ISBN 978-0-593-13626-3.
- Zimmerman, Joshua D. (2003). Contested Memories: Poles and Jews During the Holocaust and Its Aftermath. Rutgers University Press. ISBN 978-0-813-53158-8.
- Žižek, Slavoj (8 Agustus 2011). "Opinion: A vile logic to Anders Breivik's choice of target". The Guardian.
- Žižek, Slavoj (2012). The Year of Dreaming Dangerously. Verso Books. ISBN 978-1-781-68043-8.