Anas zonorhyncha merupakan spesies bebek paruh berbintik yang berkembang biak di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Dahulu, burung ini diperlakukan sebagai subspesies dari bebek paruh bintik India, dan keduanya bersama-sama dikenal sebagai bebek paruh berbintik (A. poecilorhyncha). Penamaan tersebut mengacu pada bercak kuning yang tampak pada paruhnya.
Deskripsi
Bebek ini berukuran mirip dengan itik melewar dan memiliki pola tubuh menyerupai sisik, disertai spekulum berwarna biru. Saat sedang beristirahat, ciri paling mencolok adalah lehernya yang panjang serta paruh hitam dengan ujung kuning. Panjang tubuhnya berkisar 55–63 cm dengan rentang sayap 83–95 cm, serta berat antara 790–1.500 g. Secara keseluruhan, warnanya dominan abu-abu, dengan kepala dan leher yang lebih pucat, serta sayap keputihan yang di bagian bawah menampakkan bulu terbang berwarna hitam. Dari atas, sayap menampilkan warna hijau yang dibingkai garis putih. Jantan tidak mengalami fase bulu gerhana. Burung muda tampil lebih kusam dan kecokelatan dibandingkan individu dewasa. Kaki dan tungkainya berwarna oranye cerah. Suara jantan dan betina serupa dengan itik melewar. Betina mengeluarkan lengkingan keras, sedangkan jantan bersuara lebih berat dan tidak terlalu nyaring.[2][3]Anas zonorhyncha tampak lebih gelap dan lebih kecokelatan dibandingkan bebek paruh bintik India, dengan pola bulu tubuh yang lebih menyerupai bebek hitam Pasifik. Spesies ini tidak memiliki bercak merah pada paruhnya dan menampilkan spekulum berwarna biru.[4]
Persebaran
Anas zonorhyncha merupakan spesies migran yang menghabiskan musim dingin di Tiongkok bagian selatan dan kemungkinan juga Asia Tenggara. Di luar masa kawin, burung ini cenderung bersifat sosial dan membentuk kelompok kecil. Populasi di Jepang serta Timur Jauh Rusia diketahui telah memperluas wilayah sebarannya ke arah utara lebih dari 500 km sejak awal abad ke-20, yang mungkin terkait dengan pemanasan global. Bebek ini hidup di danau dan rawa air tawar di kawasan pedesaan yang relatif terbuka, dan biasanya mencari makan pada malam hari atau menjelang malam, terutama dengan mengonsumsi berbagai bahan nabati. Waktu kawin berbeda-beda tergantung curah hujan dan kondisi perairan, tetapi umumnya berlangsung antara April hingga Juli. Sarangnya dibuat di tanah, di antara vegetasi dekat air, dan satu kali bertelur biasanya terdiri dari 7–9 butir.[5][6]
↑CRC Handbook of Avian Body Masses by John B. Dunning Jr. (Editor). CRC Press (1992), ISBN978-0-8493-4258-5.
↑Ali, Salim & S. Dillon Ripley (1978). Handbook of the Birds of India and Pakistan. Vol.1 (Edisi 2nd). New Delhi: Oxford University Press. hlm.157–160.