Kehidupan pribadi
Pada tanggal 22 Agustus 1996, Anang Hermansyah yang saat itu berusia 27 tahun menikah dengan Krisdayanti yang berusia 21 tahun, seorang penyanyi pop asal Kota Batu.[6] Untuk membiayai pernikahan tersebut, mereka berdua mencoba membuat demo album duet. Produser Handy Wijaya ternyata tertarik dengan demo tersebut dan bersedia memodali pernikahan mereka.[7] Album duet perdana Krisdayanti dan Anang dirilis dengan judul Cinta. Sebanyak 1.000 keping pertama album tersebut diberikan sebagai kado untuk undangan yang datang ke pernikahan mereka.[7] Album tersebut meledak di pasaran dan dilaporkan terjual hingga satu juta kopi.[8] Banyak hit yang lahir dari album ini seperti "Cinta", "Berartinya Dirimu", "Di Hati", dan "Dua Hati". Anang dan Krisdayanti juga berhasil meraih penghargaan "Album Pop Terbaik" dan "Lagu Pop Terbaik" pada Anugerah Musik Indonesia 1997.[9]
Yanti melahirkan anak pertamanya, seorang perempuan, yang diberi nama Titania Aurelie Nurhermansyah pada 10 Juli 1998. Untuk merayakan kelahiran putrinya, Krisdayanti merilis album duet bersama Anang yang diberi tajuk Buah Hati. Album ini mengangkat singel pertama berjudul "Timang-Timang" yang video klipnya digarap di rumah mereka bersama sang bayi.[10] Semasa kehamilannya, Krisdayanti juga merilis album solo bertajuk Sayang.[11] Untuk pertama kalinya, Krisdayanti memproduseri sendiri albumnya dan turut menulis dua buah lagu. Ia juga dibantu oleh beberapa musisi seperti Melly Goeslaw, Oppie Andaresta, Ari Bias, termasuk suaminya sendiri, Anang. Album ini menuai sukses dengan beberapa singel hit seperti "Ku Tak Sanggup", "Menghitung Hari", dan "Masih Ada Waktu" yang merupakan lagu tema untuk serial berjudul sama. Meskipun dirilis di puncak krisis moneter, album ini berhasil meraih penghargaan double platinum atas penjualannya di Indonesia.[12]
Pada tanggal 27 Juni 2000, Krisdayanti melahirkan anak keduanya, seorang laki-laki, yang diberi nama Azriel Akbar Hermansyah.[13] Selepas melahirkan putranya, Krisdayanti kembali menggarap album duet bersama Anang yang dirilis di penghujung tahun 2000 dengan judul Makin Aku Cinta. Pada album ini, Krisdayanti menjadi produser bersama Anang, serta dibantu oleh beberapa musisi di antaranya Pongki Barata, Denny Chasmala, Andra Ramadhan, dan Andi Rianto.[14] Didukung oleh singel hit "Makin Aku Cinta", "Jangan Tak Setia", dan "Ujung Umur", album duet ini kembali berhasil di pasaran dan memperoleh penghargaan platinum.[15] Krisdayanti dan Anang menggondol tiga piala Anugerah Musik Indonesia 2001 untuk kategori "Penyayi Duo/Group Terbaik", "Album Terbaik" dan "Lagu Terbaik".[16] "Makin Aku Cinta" juga dinobatkan sebagai "Lagu Terbaik" pada ajang Anugerah Planet Muzik 2002 di Singapura.[17]
Sepulang ibadah umrah pada pertengahan Agustus 2009, Krisdayanti memutuskan untuk mengakhiri 13 tahun pernikahannya bersama Anang.[18] Perceraian mereka kemudian menjadi sorotan luas di media masa, terlebih dengan munculnya rumor perselingkuhan. Krisdayanti resmi menyandang status janda secara hukum pada 22 Oktober 2009 dan kedua anak dari pernikahan mereka diasuh oleh Anang.[19]
Pada tanggal 25 Februari 2012 Anang resmi melamar Ashanty.[20] Akad nikah Anang dan Ashanty pun dilangsungkan pada tanggal 12 Mei 2012 bersama 2 anaknya dari Krisdayanti yakni Aurel & Azriel.[21]
Karier
Karier musik
Sejak SMA di Kota Surabaya, Jawa Timur, Anang telah tergabung dalam sebuah grup musik. Namun dirinya baru serius bermusik saat kuliah di Universitas Islam Bandung dengan bergabung dalam sanggar milik Doel Sumbang. Anang bahkan sempat membuat rekaman bersama Doel Sumbang, meski akhirnya tidak dipublikasikan.
Hermansyah bergabung dengan grup band Kidnap Katrina:[22] Pada tahun 1990, Anang memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan berkenalan dengan Pay Siburian, gitaris BIP yang saat itu masih memperkuat Slank. Melalui Pay, Anang pun masuk dalam lingkungan pergaulan Gang Potlot dan kemudian memperkuat grup Kidnap Katrina yang didirikan oleh Massto[23] (adik Bimbim Slank[24]) dan Koko (kakak dari Kaka Slank[25]). Bersama Kidnap Katrina, Anang menelurkan album self-titled[26] dengan hits nya yang bertajuk "Biru"[27] pada tahun 1993.
Menempuh jalur solo: Setelah lepas dari Kidnap Katrina, Anang memutuskan untuk menempuh jalur solo dan mengeluarkan 3 album, antara lain Biarkanlah, Lepas dan Melayang. Setelah 13 Tahun bercerai dengan Krisdayanti, ia merilis albumnya Separuh Jiwaku Pergi. Ia juga berduet dengan Syahrini dalam lagu Jangan Memilih Aku. Lagu ini berhasil mencetak sukses besar. Ia lalu juga menyanyikan lagu duet kedua yang berjudul Cinta Terakhir dengan Syahrini.
Tahun 2011 ia mengakhiri duetnya dengan Syahrini dan menggandeng Ashanty sebagai rekan duetnya yang baru. Hubungan mereka berkembang lebih dari sekadar teman duet menjadi sepasang kekasih dan akhirnya menikah. Pasangan Anang dan Ashanty mengeluarkan album yang bertajuk Jodohku dan melahirkan 2 hits Menentukan Hati dan Jodohku.
Selain sukses menyanyi, Anang juga menjadi pencipta lagu, aranjer sekaligus produser untuk beberapa penyanyi, termasuk untuk band Ungu (grup musik), sambil mengelola Studio Hijau, studio rekaman miliknya. Tak hanya di dunia seni tarik suara, Anang juga melebarkan sayap di dunia seni peran dengan memproduseri film berjudul "Susahnya Jadi Perawan". Film ini didukung oleh Restu Sinaga, Nova Eliza, Al Fathir Muchtar, Olga Syahputra, Tio Pakusadewo, Julia Perez.
Anang bersama sejumlah musisi beken, seperti Indra Lesmana, Abdee Negara, dan Triawan Munaf, bergabung untuk mendirikan portal musik. Portal tersebut diberi nama IM:port[28] (Independent Music Portal). IM:port bertujuan memberi kesempatan kepada semua musisi, baru dan senior, untuk 'menjual' karya-karya mereka secara lebih mudah ketimbang melalui prosedur label yang dikatakannya sebagai 'cukup ruwet.'
Kontroversi
Dalam sebuah acara reses dengan kader PAN yang diselenggarakan di Pendapa Kota Tegal, 7 Desember 2014, Anang Hermansyah, mengusulkan agar kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk memperoleh subsidi bahan bakar minyak BBM. Namun usulan tersebut memunculkan pertentangan di kalangan masyarakat. Seorang pemerhati masalah sosial sekaligus seniman Tegal, Joshua Igho, yang hadir dalam acara tersebut menentang pendapat Anang dengan mengatakan bahwa kartu BPJS berbeda dengan kartu subsidi. Semua warga negara Indonesia, kaya atau miskin, dapat memiliki kartu BPJS sesuai kemampuannya membayar premi.[31]