Kehidupan Awal
Albert Latuasan lahir di Peterhafen, Nugini Jerman, pada tahun 1916. Pada saat ia lahir, Nugini Jerman sedang diduduki oleh angkatan perang Australia dalam Perang Dunia I sejak tahun 1914.
Tidak diketahui kapan Latuasan pindah dari Nugini Jerman ke Hindia Belanda, namun ia tercatat mulai bersekolah di Koning Willem III School te Batavia, sebuah sekolah Hoogere Burgerschool elit di Batavia yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda. Salah satu teman seangkatannya adalah Max Maramis, yang belakangan menjadi seorang diplomat.[1]
Pada tahun 1935, Latuasan pindah dari kelas empat KWS III School ke Christelijke Europeesche Kweekschool, sebuah sekolah guru Kristen bagi calon guru yang akan mengajar murid-murid Belanda, dan kemudian pindah kembali ke Salemba Algemeene Middelbare School.[2]
Latuasan menikah dengan Helene Gertrud Alex dan memiliki lima anak.
Karier
Latuasan lulus ujian sebagai guru pada tahun 1938, namun ia masuk dalam dinas pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1940 dan menjadi seorang petugas bea cukai dalam Kantor Audit Umum (Algemeene Rekenkamer) di Batavia.[3]
Masa Pendudukan Jepang
Setelah pecahnya Perang Pasifik dan jatuhnya Ambon ke tangan Jepang pada tahun 1942 yang menyebabkan putusnya hubungan antara pelajar Ambon di Batavia dengan keluarga mereka, Latuasan pada bulan Februari 1942 turut mendirikan Ambonsche Studiefonds, sebuah lembaga yang membantu pelajar Ambon yang terlantar di Batavia.[4]
Selama masa pendudukan Jepang, orang-orang keturunan Ambon anggota keluarga serdadu Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) menjadi salah satu korban kekerasan Jepang. Untuk menolong sesama orang Ambon, Latuasan turut mendirikan Kerjasama Ambon Timor untuk menolong keluarga Ambon dan Timor yang terlantar. Belakangan, Kerjasama Ambon Timor berpisah, sehingga komponen Malukunya berganti nama menjadi Gerakan Pemuda Maluku di bawah lindungan Johannes Latuharhary.[5]
Masa Perang Kemerdekaan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Latuasan menjadi salah satu pemuda Ambon yang pada awalnya memihak pada kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 5 September 1945, Latuasan bersama rekan-rekan pemuda Ambon di Jakarta mendirikan organisasi Angkatan Pemuda Indonesia Ambon (API-Ambon). API-Ambon memiliki dua tujuan: melindungi orang Ambon dalam Masa Bersiap dan menyebarkan gagasan kemerdekaan Indonesia di kalangan Ambon di Jawa. API-Ambon berada di bawah bimbingan Johannes Latuharhary yang pada saat itu telah menjadi Gubernur Maluku in absentia di Jakarta.[5]
Belakangan, API-Ambon bubar akibat perpecahan antara sebagian pemuda yang memihak kemerdekaan Indonesia dengan sebagian pemuda lainnya yang berbalik mendukung Belanda.
Latuasan selama tahun 1946 bersikap ambivalen dalam konteks pertentangan revolusi antara Indonesia dengan Belanda.
Pada bulan Januari 1946, Latuasan menandatangani sebuah pernyataan yang menyerukan pada Sutan Sjahrir dan Hubertus Johannes van Mook untuk mencari solusi damai menuju kemerdekaan Indonesia. Pernyataan itu ditandatangani oleh Latuasan bersama beberapa tokoh lainnya, seperti Adipati Koesoemo Oetoyo dan Johan Rhemrev.[6] Kemudian, pada tanggal 7 Februari 1946, kelompok yang sama mengeluarkan sebuah petisi yang ditujukan kepada Panglima Pasukan Sekutu di Hindia Belanda (AFNEI) yang menyerukan agar pihak Sekutu "memulihkan hukum dan ketertiban" di Indonesia.[7]
Pada 10 Februari 1946, 500 orang serdadu dan warga sipil Ambon di Jakarta mendirikan Perkumpulan Kebangsaan Maluku (PKM), sebuah partai politik yang menginginkan kerja sama yang setara antara Ambon dengan Belanda. PKM diketuai oleh Rudolf Julianus Metekohy dan Latuasan dipilih menjadi Sekretaris Pertama PKM.[8]
Latuasan pernah menjadi salah satu calon anggota Dewan Maluku Selatan pada tahun 1946 yang dicalonkan oleh Julius Tahija, namun ia gagal ditunjuk oleh Belanda.
Negara Indonesia Timur
Pada tahun 1949, Latuasan tercatat sebagai Kepala Kabinet Kementerian Penerangan Negara Indonesia Timur (NIT) yang berkedudukan di Makassar di bawah Menteri Penerangan Izaak Huru Doko dan Sekretaris Jenderal P. H. Kremer.
Pada tanggal 30 Januari 1950, Latuasan dilantik menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan NIT pada masa pemerintahan Kabinet Tatengkeng di bawah Menteri Penerangan Izaak Huru Doko.[9] Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal pada masa pemerintahan Kabinet Diapari di bawah Menteri Penerangan W. J. Ratulangi dan Kabinet Putuhena di bawah Menteri Penerangan Henk Rondonuwu.
Latuasan merupakan Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan NIT yang terakhir sampai NIT dilebur ke dalam Republik Indonesia Serikat pada tanggal 17 Agustus 1950. Selama menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, Latuasan yang juga telah diangkat oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia Serikat di Jakarta ditugaskan mengawasi proses peleburan Departemen Penerangan NIT ke dalam dinas-dinas penerangan provinsi setempat. Pada tanggal 15 November 1950, Latuasan sebagai wakil Kementerian Penerangan Republik Indonesia secara resmi menyelesaikan tugasnya.[10]
Kementerian Penerangan RI
Pada tanggal 7 November 1950, Latuasan dilantik menjadi wakil Kementerian Penerangan Republik Indonesia untuk Provinsi Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. Pada tahun 1954, Latuasan tercatat menjadi Kepala Bagian Perbendaharaan/Pembukuan dan Pengawasan Kementerian Penerangan.[11] Ia kemudian tercatat sebagai Kepala Bagian Keuangan Kementerian Penerangan.
Pada November 1956, Latuasan pensiun dini dari Kementerian Penerangan untuk bekerja dalam industri pertambangan di Bangka.[12]